
Hari minggu ini Gathan bersiap-siap untuk menjemput Faysa yang sudah diperbolehkan pulang. Sebelum pergi, Gathan pergi ke kamar anaknya yang baru saja dimandikan.
"Hallo sayang," sapa Gathan sambil membelai pipi putrinya yang terasa halus dan kenyal.
Namun putrinya itu malah menguap sambil menggerakkan kedua kakinya.
" Wah putri papah masih ngantuk ya? Masih mau tidur ya?".
Pandangan Gathan pun beralih keputranya yang sudah selesai diberi baju. Gathan mendekati putranya lalu mencium pipi Gafa dengan hati-hati.
" Biar saya gendong dulu Mbak," ucap Gathan pada pengasuh anaknya.
Gathan menggendong Gafa dengan hati- hati lalu menimang-nimangnya.
" Kamu ganteng ya nak, nanti kalau udah besar pasti gantengnya kayak papa."
Belum lama menggendong Gafa, terdengar suara tangisan Dini yang begitu keras. Gathan menyerahkan Gafa pada pengasuhnya lagi kemudian masuk lagi ke kamar anaknya dengan terburu-buru.
" Dini kok nangis? Dini juga mau digendong papa ya?" ucap Gathan sambil menggendong Dini.
Setelah digendong dan diberi susu, baru Dini bisa tenang. Gathan pun menidurkan Dini di box bayi dengan pelan agar tidak terbangun.
" Tidur yang nyenyak ya sayang, papa mau jemput ibu kalian dulu."
Setelah selesai, Gathan mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu segera pergi. Satu jam Gathan sudah sampai di rumah sakit.
Gathan masuk keruangan Faysa dan melihat Faysa yang sedang merapikan barang bawaannya.
" Udah selesai semuanya?" tanya Gathan tiba-tiba yang membuat Faysa kaget.
" Kak Gathan ngagetin aja! Ini udah selesai kok."
Gathan mendekati Faysa lalu ia mengangkat tubuh Faysa dan mendudukkannya diranjang.
" Kenapa Kak?" tanya Faysa bingung.
Gathan hanya diam dan hanya memperhatikan wajah Faysa yang tak sepucat kemarin-kemarin. Kini wajah Faysa sudah terlihat segar dan semakin manis dengan polesan bedak tipis.
" Kak Gathan," panggil Faysa sambil menangkup kedua pipi Gathan karena Gathan terlihat melamun.
__ADS_1
Namun bukannya menjawab, Gathan malah melepas tangan Faysa dari pipinya dan menuntun tangan Faysa untuk memeluknya.
" Fay gimana perasaan loe sama gue?" tanya Gathan pelan seperti orang berbisik.
Gathan terus menatap Faysa yang tiba- tiba menunduk.
" Gimana Fay?" ucap Gathan mengulang pertanyaannya.
" Sa...saya belum tahu Kak," ucap Faysa ragu.
Faysa teringat dengan ucapan Bayu yang mengatakan jika Gathan itu tidak pernah mencintainya. Jika Gathan mencintainya maka dia akan memperlakukan dirinya dengan lembut, dia akan mencabut tuntutannya dan mengeluarkan dirinya dari penjara, dan dia akan menikahi dirinya secara resmi. Segala ucapan Bayu itu terasa benar dilogika Faysa.
" Nggak tahu, apa maksud jawaban loe Fay?" tanya Gathan dengan sedikit geram.
" Kemarin Kakak bilang kalau Kakak cinta sama aku tapi apa itu bohong Kak?"
Gathan yang marah dengan ucapan Faysa pun langsung melepas pelukannya dengan kasar.
" Maksud loe apa bilang kalau gue pembohong?"
" Kalau Kakak cinta sama aku kenapa Kakak sering memperlakukan saya dengan kasar, kenapa Kakak tetep memenjarakan saya, kenapa Kakak tidak segera menikahi saya secara resmi. Kenapa Kak?"
" Kak Gathan tidak pernah mencintai saya. Bagi Kakak, selamanya saya hanya pemuas nafsu Kakak saja."
Plak plak
Tanpa sadar Gathan menampar kedua pipi dengan keras hingga ia melihat darah diujung bibir Faysa.
Faysa hanya menangis sambil meraba pipinya yang terasa panas dan perih.
" Gue nggak mau kasar sama loe Fay tapi loe bener- bener nggak bisa jaga omongan loe dan loe juga nuduh gue sebagai pembohong!"
" Lalu hal apa yang bisa membuat saya percaya sama Kakak? Baru tadi saja saya bicarakan dan benar Kakak sudah berbuat kasar lagi sama saya. Sekarang saya benar- benar percaya dan yakin dengan ucapan Bayu kalau Kakak itu nggak akan pernah mencintai saya."
Prok prok prok
Gathan bertepuk tangan sambil tertawa dengan nada sumbang.
" Ohh jadi sibrengsek itu udah nyuci otak loe dan loe lebih percaya sama dia dibanding gue."
__ADS_1
" Tapi kenyataannya seperti itu Kak."
Gathan sudah melayangkan tangannya ke udara namun ia mencoba menahannya.
" Kakak mau menampar saya lagi? Sekarang saya sudah tidak heran lagi karena bagi Kakak saya ini bukan istri tapi hanya pemuas kakak saja."
" Yah loe emang pemuas nafsu gue dan sekarang saatnya loe bekerja."
Dengan kasar Gathan mendorong Faysa hingga terlentang diatas ranjang. Gathan melepas ikat pinggangnya dan mengikat kedua tangan Faysa keatas.
" Kak lepasin saya, saya nggak mau nglayani Kakak," ucap Faysa sambil berusaha melepaskan diri.
Gathan yang sudah dipenuhi amarah itu pun hanya menatap faysa dengan sorot mata yang menghunus.
Gathan melepas semua pakaiannya dan merobek pakaian Faysa dengan kasar.
" Waktu itu loe pernah lolos dari gue tapi nggak untuk sekarang!"
Tanpa pemanasan, Gathan langsung menghujamkan senjatanya kemilik Faysa hingga membuat Faysa menjerit. Gathan menurunkan kepalanya kedada Faysa dan memainkannya dengan kasar hingga pucuk dada Faysa sedikit berdarah karena Gathan menggigitnya.
Faysa hanya bisa menangis dengan pemerkosaan yang dilakukan suaminya itu. Sementara Gathan begitu menikmati permainannya karna memang dia begitu rindu dengan kehangatan tubuh Faysa.
Gathan yang memang sedang marah dengan Faysa juga memuncratkan air maninya kewajah Faysa hingga membuatnya seperti ******.
Gathan yang sudah selesai pun langsung mandi dan meninggalkan Faysa yang masih tergeletak diatas ranjang.
Gathan keluar dari kamar mandi dan mendekati Faysa yang masih lemas. Gathan memperhatikan tubuh Faysa yang penuh kemerahan karena ulahnya.
Gathan memegang dagu Faysa dan dihadapkan kearahnya.
" Thanks buat servis terakhir loe dan detik ini juga gue talak tiga loe dan detik ini juga kita bukan suami istri lagi. Sekarang juga cepetan loe beres- beres, orang gue bakal nganterin loe ke rutan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Gathan berdiri dan berjalan menuju pintu.
Gathan kembali menoleh dan mengucapkan sesuatu.
" Dan satu lagi, semoga kita nggak berjumpa lagi dan jika itu terjadi anggap kita nggak pernah kenal."
bersambung....
__ADS_1