
Pagi itu Gathan mengantarkan sarapan pagi ketempat Faysa setelah ia mengantarkan kedua anaknya ke sekolah.
Tok tok tok
" Fay, aku bawain sarapan buat kamu," ucap Gathan dari balik pintu kamar Faysa.
Ceklek
Faysa membuka pintu dan Gathan melihat penampilan Faysa yang sudah rapi dengan rok hitam panjang dan kemeja warna krem.
" Kamu sudah cantik sekali, mau kemana?"
" Aku hari ini sudah mulai bekerja disalah satu perusahaan kak sebagai staff keuangan," jelas Faysa dengan wajah berbinar.
" Kerja? Kenapa nggak dirumah aja, aku sanggup membiayai hidupmu," ucap Gathan kurang suka.
" Kak Gathan sekarang aku harus kerja karna mas Rosan sudah tidak menafkahiku lagi pula dengan bekerja bisa membuat pikiranku jadi lebih segar dan juga ingat aku ini bukan istri kakak jadi kakak tidak wajib menafkahiku."
" Tapi kamu ibu dari anak kita. Lagian aku siap menikahimu untuk menggantikan Rosan," jawab Gathan santai.
" Kak jaga bicaramu, kamu mendoakanku bercerai dengan mas Rosan dan menjanda untuk kedua kali!" ucap Faysa sedikit marah.
" Aku tidak mendoakan tapi hanya berharap. Memangnya kamu masih mengharapkan? Sudah jangan dibahas lagi, sekarang kita sarapan dulu dan aku akan mengantarmu bekerja biar aku tahu."
" Terserah kakak saja."
Mereka menikmati sarapan berdua lalu Gathan mengantarkan Faysa ketempat kerjanya. Gathan menghentikan mobilnya didepan kantor PT. Cakara.
" Ini tempat kerjamu?" tanya Gathan sambil memperhatikan tempat tersebut.
" Iya, memang bukan perusahaan besar kak tapi aku senang bisa bekerja disini dan semoga aku betah. Aku turun ya kak, terima kasih sudah mengantar."
__ADS_1
****
Sepasang suami istri tampak turun dari sebuah pesawat pribadi.
" Akh akhirnya mama bisa pulang pa. Mama rindu rumah dan semuanya," ucap Sintia.
" Makanya mama harus sehat terus biar tidak kesana lagi untuk berobat."
" Iya pa, ya sudah pa kita harus cepat sampai rumah pasti anak-anak juga cucu kita sudah menunggu."
Dua orang itu terus berjalan hingga masuk kedalam mobil.
" Jim kamu ikut mobil satunya lagi, aku ingin menyupir sendiri dan berdua dengan istriku," ucap Toni.
" Tuan besar yakin?"
" Ya kamu ikuti saja dari belakang."
Dua orang pria berbaju hitam tampak turun dan mendekati mobil Toni.
Dok dok dok
Salah seorang pria dari mereka menggedor pintu mobil dengan benda keras.
" Siapa mereka pa?" tanya Sintia ketakutan.
" Papa juga tidak tahu ma," jawab Toni dengan panik.
" Buka pintunya!" teriak seorang pria sambil terus menggedor kaca mobil.
Perlahan Toni menurunkan kaca mobilnya dan tiba-tiba pria tersebut mengarahkan pistolnya kearah kaki Toni.
__ADS_1
Dor
" Arghhh...," erang Toni saat sebuah timah panas bersarang dikakinya.
" Papa....," teriak Sintia histeris saat melihat suaminya tertembak.
Tanpa berlama-lama, satu pria lagi langsung membius Sintia dan membawanya masuk kedalam mobil box sedangkan satu mobil lagi yang baru saja datang segera membawa Toni kesuatu tempat.
" Bos sudah beres semua." Lapor seorang anak buah.
" Bagus, kerjakan rencana selanjutnya."
Gathan yang sedang konsentrasi mempelajari berkas- berkas kerja sama pun merasa terganggu saat ponselnya berdering.
Dengan kesal Gathan mengambil ponselnya dan membukanya. Kening Gathan berkerut saat melihat nomor baru yang mengirimnya pesan.
Gathan membuka pesan yang ternyata berisi kiriman video. Gathan memutarnya dan betapa terkejutnya Gathan saat melihat isi video tersebut.
Tangannya terkepal, matanya memerah menahan gejolak amarah yang tertahan dalam dirinya.
" Papa, mama! Kurang ajar siapa yang berani mencelakai keluargaku!" teriak Gathan marah.
Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar dan Gathan segera membukanya.
*Bagaimana Gathan? Pasti saat ini kamu sedang marah.
Aku masih baik hati dengan merawat ayah brengsekmu itu dan jika kamu masih ingin melihat keluargamu selamat segera datang ke garasi xxx.
Ingat jangan libatkan siapa pun atau kau akan menyesal seumur hidup*.
Bersambung.....
__ADS_1