
Begitu keluar dari kamar mandi, Faysa langsung kaget saat melihat aneka hidangan diatas meja.
"Wah kok banyak banget kak makanannya?"tanya Faysa heran.
" Udah cepetan duduk, kita makan. Bukannya tadi loe bilang kalau loe laper?"
Faysa langsung duduk di kursi lalu mengambil nasi dan aneka lauk yang terlihat enak. Ekspresinya pun terlihat bahagia begitu makanan itu masuk kedalam mulutnya.
" Enak banget Kak ! Terima kasih ya udah beliin semua ini untuk saya."
"Bukan untuk loe tapi untuk kita! Ya udah habisin dulu makanannya." Perintah Gathan yang langsung dilaksanakan Faysa.
Selesai makan,Gathan langsung memanggil petugas untuk membereskan bekas makanannya. Dia pun duduk diranjang sambil membuka laptopnya untuk melihat hotel yang dibangun papanya di Singapura.
Faysa memperhatikan layar laptop yang sedang dibuka suaminya itu.
" Apa Kakak akan kesana?"
" Gue belum tahu Fay. Papa ngasih waktu gue seminggu untuk mempersiapkan semuanya dan juga buat ngeberesin kerjaan gue disini sebelum gue pergi. Kalau gue nggak disini, kira-kira loe gimana?"
" Ehmmm...Yang pasti saya akan tetap menjalankan kehidupan saya disini sampai saya bebas Kak."
Gathan menyunggingkan senyum kecutnya mendengar jawaban Faysa.
" Jawaban loe datar banget tapi itu lebih bagus sih. Dengan loe tetap ada disini, maka itu artinya loe nggak akan kabur dari gue."
" Selama saya masih menjadi istri Kakak maka dapat saya pastikan kalau saya tidak akan kabur dari Kakak. Tapi kalau Kak Gathan sudah menceraikan saya maka saya akan pergi dari kehidupan Kakak."
Gathan langsung berdiri lalu menarik tangan Faysa hingga ikut berdiri. Gathan menatap Faysa dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
" Hah maksud loe apa ngomong kayak gitu?"teriak Gathan.
" Saya hanya menjawab pertanyaan Kakak kenapa marah?"
" Loe nggak berhak mengatur apapun karna gue yang punya permainan ini dan sekalipun gue berada dibelahan bumi manapun, loe akan tetap dalam pantauan gue. Jadi loe harus selalu ingat akan hal itu!"
Faysa hanya diam saja dan tak ingin lagi menjawab pernyataan Gathan.
" Kak saya kembali dulu," ucap Faysa pelan setelah Gathan melepas cengkraman tangannya lalu pergi meninggalkan Gathan didalam kamar.
****
" Jimmy lakukan sesuatu supaya Gathan segera meninggalkan Indonesia. Sudah cukup Gathan bermain-main dengan perempuan itu."
" Iya Tuan besar. Saya ada sesuatu yang saya yakin bisa membuat tuan muda Gathan lebih membenci wanita itu hingga meninggalkannya," jawab Jimmy dengan penuh keyakinan.
" Aku yakin kamu bisa melakukannya Jim. Aku tahu jika putraku itu sering bermain wanita tapi aku cukup khawatir jika membiarkan Gathan berlama-lama dengan wanita napi itu. Mau ditaruh dimana nama besar keluarga besar Alyariz jika sampai mempunyai menantu seorang napi. Aku ingin suatu hari nanti Gathan mempunyai istri yang berkelas dan tentunya bisa membuat kerajaan bisnis keluargaku bertambah besar."
" Ya pergilah dan laksanakan tugasmu dengan baik."
****
Bayu bangun dari tidurnya setelah ia mendapat siraman air yang tepat mengenai wajahnya.
" Heh bangun loh!"
Bayu pun sontak bangun lalu duduk disisi dipan. Bayu menatap heran pada orang yang kini ada dihadapannya itu karena memakai penutup wajah.
" Mas siapa? Kenapa tiba-tiba bangunin dan nglepasin ikatan tangan saya?"
__ADS_1
" Loe nggak perlu tahu! Yang jelas sekarang loe cepet pergi dari sini sebelum ada orang lain lagi yang datang kesini karna kalau sampai itu terjadi gue nggak mau nolong loe lagi" ucap lelaki misterius itu kemudian langsung pergi.
Bayu yang masih belum begitu paham dengan apa yang terjadi pun memilih cepat pergi dari bangunan rumah tua itu sebelum ada orang yang akan datang lagi.
Bayu berlari dengan cepat tapi ia sudah tak mendapati lelaki misterius yang tadi menolongnya. Setelah cukup yakin berada ditempat yang cukup jauh dari tempat ia disekap, Bayu berjalan dengan agak pelan sampai ia tiba di jalan raya.
Bayu berjalan lalu pandangannya tertuju pada sebuah warteg yang berada dipinggir jalan. Bayu meremas perutnya yang terasa melilit karna lapar.
Selama dalam masa penyekapan, dia hanya diberi makan sehari sekali dan sepotong roti dan kini rasa laparnya makin bertambah setelah dia berlari.
" Buk permisi, kalau boleh tahu ini daerah mana ya?"
" Oh ini daerah kampung rakupan, memangnya Mas ini darimana dan mau kemana?" tanya pemilik warteg karena melihat penampilan Bayu yang acak-acakan.
" Ehmm...Saya dari Jakarta Buk, karena kecopetan saya malah nyasar dan nggak bisa pulang. Dompet dan ponsel saya dibawa kabur sama pencopet itu."
" Owalah kasihan banget Masnya ini. La terus apa yang bisa saya bisa bantu ya Mas karna saya sendiri belum pernah ke Jakarta."
" Apa saya boleh kerja disini Buk sampai saya bisa ngumpulin uang untuk ongkos pulang ke Jakarta.?"
" Ya tapi nanti Masnya mau tidur dimana nanti karena rumah saya juga nggak cukup besar."
" Saya bisa tidur dikursi kok Buk."
" Ya sudah kalau begitu saya terima Mas kerja disini. Nanti tugasnya Mas bantuin racik-racik bahan makanan yang mau dimasak di dapur."
" Wah terima kasih sekali ya Ibuk karna sudah berkenan menolong saya. Semoga segala kebaikan Ibu mendapat pahala dari Allah."
" Amin... Ayo Mas kita masuk kedapur."
__ADS_1
Bayu pun mengikuti Ibu itu berjalan menuju dapur dengan hati yang gembira dan begitu bersyukur.
bersambung.....