
Gathan sudah duduk dikursi kebesarannya dengan Windy yang berdiri disampingnya seperti biasa untuk membacakan agenda kerja Gathan.
" Apa ada yang ingin Bapak ubah jadwalnya?"
" Tidak ada, cuma ada yang saya tanyakan kekamu soal tadi malam pas di club?"
" Ohh...Bapak mau tanya apa?" jawab Windy sedikit gugup.
" Kata Vicky kamu mau membawa saya ke kamar pas saya lagi mabuk berat. Kenapa kamu nggak telfon Alan untuk membantu saya pulang?"
" Maaf Pak, semalam saya panik melihat keadaan Bapak sampai saya tidak terpikir hal itu."
" Saya lagi mabuk berat apa kamu nggak takut kalau saya mungkin memperkosa kamu jika kamu membawa saya ke kamar?"
" Ahh...itu tidak mungkin, saya percaya Bapak tidak mungkin melakukannya."
"Oh ya?" jawab Gathan tiba-tiba berdiri lalu mendekati Windy dan memojokkannya ke dinding.
Gathan memepetkan tubuhnya hingga tak ada jarak diantara mereka. Mereka saling menatap dan lama kelamaan bibir Gathan sudah berada tepat didepan bibir Windy hingga gadis itu memejamkan matanya menanti ciuman Gathan.
Gathan kembali membuka matanya dan melihat Windy yang begitu pasrah saat ia ingin menciumnya.
Gathan menjauhkan tubuhnya lalu kembali duduk kekursinya. Sementara Windy terlihat bingung karna tiba-tiba Gathan menjauhinya.
" Kenapa Pak?" tanya Windy kecewa.
" Kamu tidak keberatan kalau saya mencium kamu?"
" Ehmm...tidak Pak, justru saya senang karna saya mencintai Bapak."
__ADS_1
" Bagaimana kalau kamu telanjang agar ciuman kita nanti semakin panas."
Mendengar permintaan Gathan, tanpa ragu Windy langsung melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya hingga polos. Windy berjalan mendekat Gathan lalu duduk diatas pangkuan Gathan dengan melingkarkan kakinya.
Kini pemandangan indah benar- benar terpampang didepan wajah Gathan.
" Kamu berani sekali," ucap Gathan.
" Sekarang Bapak bisa mencium saya dibagian manapun yang Bapak inginkan," ucap Windy menggoda.
" Mungkin dulu waktu masih muda saya akan dengan senang hati menikmati tubuh indah kamu tapi tidak untuk sekarang jadi turunlah dan pakai kembali baju kamu."
Windy turun dari pangkuan Gathan dengan perasaan marah karna merasa dipermainkan.
" Apa maksud Bapak? Bapak mempermainkan saya?"
" Saya bilang pakai kembali baju kamu. Setelah ini bereskan barang-barang kamu dan pindahkan kekantor divisi marketing."
" Kamu tipe orang yang pandai merayu jadi saya pikir divisi itu cocok untuk kamu tapi kalau kamu tidak mau, kamu bisa keluar dari perusahaan ini sekarang juga."
Dengan kesal Windy memakai kembali bajunya lalu keluar dari ruangan Gathan.
" Mau menjadi penggoda tapi sayangnya itu nggak akan mempan ke gue karna tubuh gue ini cuma milik Faysa seorang. Cuma dia yang boleh nyentuh gue," ucap Gathan lalu kembali fokus kepekerjaannya.
Siang harinya Gathan menepati janjinya untuk menjemput Gafa dan Dini ke sekolah.
Tampak mereka berdua masuk kemobil Gathan dengan wajah ceria.
" Wah kalian berdua kelihatannya seneng banget, ada apa ini?"
__ADS_1
" Tadi kita ulangan bahasa Inggris Pah, terus kita dapet nilai seratus," ucap Dini sambil menunjukkan kertas ulangannya.
" Wah anak- anak papah emang hebat, terus kalian mau minta kado apa nih?"
Kedua anak itu tampak berpikir sambil memainkan jari kedagu mereka.
" Ahaa...gimana kalau kita minta jalan-jalan lagi sama tante Faysa, kamu setuju kan Din?" tanya Gafa.
" Iya setuju banget! Boleh ya Pah, nanti bilang ke tante Faysa ya Pah."
" Kenapa harus tante Faysa? Kalian kan kenal belum lama tapi kok suka gitu sama tante Faysa?"tanya Gathan.
" Tante Faysa orangnya baik, lembut trus pokoknya Dini suka didekat tante Faysa."
" Ya udah nanti coba Papah tanyakan, sekarang kita pulang ya karna kerjaan Papah dikantor masih banyak."
" Oke Pah!" jawab keduanya kompak.
Sore harinya Gathan mengetik pesan diponselnya untuk Faysa.
**Anak-anak pengen jalan-jalan lagi sama loe. Loe ada waktu? Gathan
Benarkah? Aku mau, bilang ke anak-anak kalau aku ingin mengajak mereka ke danau hari minggu nanti. Faysa
Oke...loe masih marah sama gue? Gathan.
Aku tidak ingin membahasnya Kak. Sudah ya Kak, aku mau melanjutkan tugasku dulu. Faysa.**
Gathan menyimpan kembali ponselnya. Sungguh ia tidak berniat berbuat kasar pada Faysa dan ingin menakutinya saja agar Faysa menurut. Namun justru ia benar-benar tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh Faysa yang terpampang malam itu karna dia merobek piyama Faysa.
__ADS_1
Dia benar-benar rindu momen kebersamaan mereka, ia rindu bercinta dengan Faysa meski banyak drama didalamnya. Menyesalkah dia yang sudah menceraikan Faysa?
bersambung....