
Faysa melihat kedua anaknya yang tampak antusias naik bus pertama kali, berbeda sekali dengan Gathan yang dari tadi hanya diam disebelahnya. Tiba- tiba Faysa melihat sepasang suami istri yang sudah tampak berdiri disebelahnya.
Faysa pun berniat memberikan kursinya pada orang tua tersebut.
" Kak kita berdiri yuk! Kasihan itu ada kakek nenek, biar mereka yang duduk disini," ucap Faysa pada Gathan.
" Nggak ah! Gue udah bayar mahal kursi ini," tolak Gathan.
" Kak kasihan mereka udah tua gitu, kita kan masih muda masih lebih kuat berdiri."
Dengan muka kusut akhirnya Gathan mengikuti keinginan Faysa untuk memberikan kursinya.
" Kakek, Nenek silahkan duduk disini."
" Wah trima kasih nak, ini kaki kaki kakek juga udah nggak kuat berdiri."
" Iya kek sama-sama,"ucap Faysa sambil tersenyum manis.
" Iya nak, kamu udah baik cantik lagi. Beruntung loh suami kamu ini mendapat istri seperti kamu."
" Iya nek, makanya saya nggak akan biarin orang lain deketin istri saya," ucap Gathan sambil meraih pinggang Faysa.
Faysa yang kaget pun mencubit kecil tangan Gathan yang merangkulnya.
" Auww sakit Fay!" ucap Gathan sambil berbisik ketelinga Faysa.
Makin lama semakin banyak penumpang yang naik bus hingga terasa semakin sesak.
__ADS_1
" Buseeettt, ini udah sesak masih aja naikin penumpang!" keluh Gathan lalu melihat beberapa orang yang menyenggol Faysa.
Gathan pun memepet Faysa kekursi dan melindunginya dari belakang.
" Loe nggak apa-apa kan?" tanya Gathan khawatir.
" Iya Kak, aku nggak apa- apa."
" Loe sih pakai nurutin maunya Dini jadi gini deh!" ucap Gathan kesal.
Faysa hanya diam tak menanggapi Gathan dan memilih mengawasi kedua anaknya yang tertidur.
Makin lama Gathan makin memepetnya hingga Faysa bisa merasakan bagian bawah tubuh Gathan yang menonjol tepat dipantatnya.
" Ahhh..." Gathan mendesah pelan namun masih bisa didengar Faysa.
" Jangan salahin gue! emang keadaannya kayak gini. Coba tadi kita masih duduk, nggak bakal kejadian kayak gini!"
" Kakak kan bisa mundur sedikit!"
" Mundur gimana? Dari tadi gue juga dipepet! Ahh gila Fay loe bener-bener bikin adik gue menderita," ucap Gathan frustasi.
Faysa pun akhirnya membiarkan Gathan karna memang tak ada pilihan. Dia sendiri tak tega jika harus menganggu istirahat anaknya yang baru saja tertidur.
Akhirnya keluarga kecil itu sudah sampai diterminal dan mereka turun disana. Gathan segera berlari mencari kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang hampir meledak didalam celananya.
" Papa kenapa sih kok lari-lari gitu?"
__ADS_1
" Ndak tahu, kebelet pipis mungkin."
" Ya udah kita tunggu papah disana aja ya," ajak Faysa.
Sementara itu Gathan terpaksa memakai kamar mandi yang menurutnya kotor dan berbau pesing itu.
" Brengsek! Sial banget sih gue hari ini, yah walaupun ada untungnya juga tapi tetep aja ini semua menyebalkan!" umpat Gathan.
Setelah urusannya selesai, Gathan segera keluar dari wc dan menghampiri Faysa dan kedua anaknya.
" Ehmm Papa udah telfonin sopir dan bentar lagi jemput kita tapi kalian pulang dulu ya karna Papa masih ada sedikit urusan."
Gafa dan Dini pun menganggukkan kepalanya dan tak lama datanglah dua mobil yang merupakan milik Gathan.
" Pak Rusdi anterin anak-anak pulang ya, terus kamu ikut mereka juga Irwan karna mobilnya mau saya pakai."
" Baik Tuan muda, akan kami laksanakan," jawab kedua sopir Gathan.
Mereka pun berpamitan dan kini tinggal Faysa dan Gathan.
" Ayo ikut," ucap Gathan sambil masuk mobil.
" Emang kita mau kemana Kak? Aku naik angkot aja pulangnya."
" Ayo ikut karna ada urusan yang belum selesai."
Faysa pun menurut karna kepalanya juga terasa agak pening.
__ADS_1
bersambung....