Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 96


__ADS_3

Pagi itu Gathan sudah terlihat rapi. Ia tampak menggunakan kaos oblong dan celana jeans yang sobek dibagian lututnya. Penampilannya yang santai semakin membuat Gathan tampak lebih muda


Gathan mendekati Windy lalu mengguncang kaki Windy untuk membangunkannya.


" Win bangun, udah pagi nih!"


Windy menggeliat sambil membuka kedua matanya secara perlahan.


" Sayang kamu sudah bangun?"


" Ayo cepetan siap-siap kita harus check out sekarang juga."


" Hah cepat sekali sayang! Kita bahkan belum menikmati kamar pengantin ini."


" Kalau mau nikmati saja sendiri! Aku mau pulang sekarang."


" Kamu menyebalkan sekali sayang. Ya sudah aku mandi dulu."


Cukup lama Gathan menunggu Windy bersiap-siap hingga orang yang ditunggunya keluar juga.


Gathan melajukan mobilnya menuju rumah pribadinya sebelum pergi kekediaman orang tuanya.


Mobil yang dikendarai Gathan pun akhirnya sudah sampai dirumahnya.


" Bik, antar Windy kekamarnya."Titah Gathan.


" Iya Tuan, mari non saya antar."


" Nggak perlu biar suamiku saja yang mengantar." Windy menarik tangan Gathan."Ayo sayang kamu saja yang mengantarku."


Gathan pun menuruti keinginan Windy.


" Kamu tunggu disini, aku mau ke rumah papa dulu ada urusan penting."


" Iya, tapi jangan lama ya kita kan belum melewati kebersamaan kita semalam."


Tanpa menjawab Gathan segera turun kebawah dan menuju rumah orang tuanya.


Sampai disana, Gathan langsung masuk dan mencari keberadaan papanya.


" Papa dimana bik?"


" Selamat pagi Tuan muda, tadi Tuan besar dibelakang sedang minum teh."


Gathan pun menghampiri papanya ke taman belakang rumah. Tampak papanya yang sedang bersantai sambil menikmati segelas teh.


" Pagi pah."

__ADS_1


" Ah kamu Than, pagi sekali kamu kesini."


" Kapan papa akan membawa kedua anakku pulang? Aku sudah sangat merindukan mereka.


" Tidak usah buru-buru, nikmati saja dulu masa pengantin baru kamu."


" Aku sudah menuruti keinginan papa untuk menikahi Windy jadi tolong jangan mempersulitku lagi pah."


" Baiklah, dua hari lagi papa akan membawa Gafa dan Dini pulang."


" Aku pegang janji papa, ya sudah aku pulang dulu."


" Kamu tidak ingin sarapan dengan papa?"


" Bukannya aku harus segera pulang untuk menemani menantu kesayangan papa." Sindir Gathan kemudian berlalu.


Tak lama Gathan sudah sampai dirumahnya. Saat ia membuka kamar, sepasang tangan langsung melingkar diperutnya.


" Sayang, kamu ingat janji kamu semalam kan," bisik Windy ditelinga Gathan.


" Iya, aku ingat."


" Aku ingin menjadi istri kamu seutuhnya sayang," ucap Windy lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Gathan.


Gathan membiarkan Windy memainkan bibirnya tanpa ada niatan untuk membalas ciuman Windy. Windy yang merasa kalau Gathan hanya pasif pun melepaskan tautan bibirnya dan menatap heran pada suaminya.


" Ini masih pagi Win lagi pula aku belum sarapan."


" Lalu kapan melakukannya? Aku sudah sangat menginginkan kamu sayang."


" Sudah ayo keluar dulu kita sarapan."


****


Pernikahan Faysa dan Rosan sudah berjalan satu tahun tapi belum juga ada tanda-tanda dia hamil.


" Sayang bagaimana hasil testnya?" tanya Rosan tak sabar.


" Maaf mas belum jadi," ucap Faysa dengan menunduk.


" Hah belum juga ya, padahal kita sudah sering membuatnya," ucap Rosan kecewa.


" Sabar mas, mungkin belum sekarang rejekinya."


" Atau mungkin karna milikmu sudah longgar jadi setiap ****** yang aku masukkan jadi tumpah keluar," ucap Rosan yang membuat Faysa sedih.


Tanpa memikirkan perasaan Faysa, Rosan langsung beranjak dari ranjangnya dan bersiap pergi kekantor. Faysa yang merasa diabaikan pun merasa sedih.

__ADS_1


Drrtttt


Faysa mengambil ponselnya dan ternyata ada pesan dari Gathan. Ia segera membaca pesan tersebut.


Bisa kerumah sekarang? Dini sedang demam, dia terus memanggil namamu.


Membaca pesan tersebut membuat Faysa menjadi panik. Ia segera mengambil tas kecilnya dan turun kebawah.


" Bik apa suamiku sudah pergi?"


" Iya non baru saja tuan pergi."


Faysa mencoba menghubungi Rosan namun tak juga diangkat. Faysa mencoba kembali namun lagi-lagi Rosan tak mengangkat telfon darinya.


" Ya sudahlah nanti saja aku bilang kalau mas Rosan sudah pulang."


Faysa pergi kerumah Gathan dengan menggunakan taksi. Ini adalah pertama kalinya ia kerumah Gathan setelah keduanya sama-sama menikah. Biasanya ia akan bertemu dengan kedua anaknya diluar.


Dengan ragu Faysa mengetuk pintu rumah Gathan hingga seseorang membukakan pintu untuknya.


" Ka...kak, bagaimana keadaan Dini?"


" Masuk saja Fay, Dini sudah menunggu kamu."


Faysa mengikuti langkah Gathan dari belakang sampai ke kamar Dini.


" Mama..." Panggil Dini dengan suara yang pelan.


" Sayang kamu sakit apa sayang? Mama jadi sedih lihat kamu seperti ini," ucap Faysa sambil membelai sayang wajah putrinya.


" Kepala Dini pusing mah, badan Dini juga lemes."


" Dini sudah minum obat?" tanya Faysa yang dijawab Dini dengan gelengan kepala.


" Kenapa Dini belum minum obat Kak?"


" Dini tidak mau makan juga tidak mau minum obat."


" Dini makan ya terus minum obat biar cepat sembuh. Mau mama buatkan bubur?"


Dini menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.


" Kak, boleh aku pinjam dapurnya untuk memasak bubur?"


" Boleh, mau aku temani?" tanya Gathan sambil memperhatikan wajah Faysa yang semakin cantik meski terlihat ada guratan kesedihan.


" Tidak perlu kak, kakak disini saja menemami Dini."

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2