
Faysa membawa susu hangat keruangan Rosan sesuai permintaan bosnya itu.
Ceklek
Bughh
Faysa langsung terjatuh saat Rosan tak sengaja menabraknya. Gelas susu yang dibawanya langsung pecah dan tumpah dibaju Faysa.
" Maaf Faysa, saya benar-benar tidak sengaja."
" Iya Pak saya tidak apa-apa. Bapak kenapa kelihatan terburu- buru?"
" Saya baru saja mendapat kabar kalau ayah saya masuk rumah sakit karna diserempet motor, makanya saya jadi panik."
" Bapak tenang ya, jangan sampai panik begitu. Takutnya nanti Bapak tidak fokus menyetir," ucap Faysa menasehati.
Rosan menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
" Faysa bisakah kamu menemani saya ke rumah sakit?"
" Tapi Pak..."
" Ayo cepat ikut saya," ucap Rosan sambil menarik tangan Faysa keluar ruangan.
Rosan terus menggandeng tangan Faysa hingga keluar dari gedung kantor tanpa menghiraukan pandangan para karyawannya.
Hampir empat puluh lima menit Rosan mengendarai mobilnya hingga ia tiba di rumah sakit Selaras.
Rosan membawa Faysa naik ke lantai 3 tempat ayahnya dirawat.
__ADS_1
" Ibu," panggil Rosan saat melihat ibunya keluar dari ruang perawatan.
" Gimana Bu keadaan ayah?" tanya Rosan panik.
" Syukurlah luka yang dialami ayah kamu tidak terlalu parah. Sekarang ayah kamu lagi tidur setelah minum obat."
" Alhamdulillah bu kalau begitu. Oh ya Ibu mau kemana tadi?"
" Ibu mau kebagian administrasi nak."
" Sudah Ibu masuk saja, itu nanti biar Rosan yang urus."
Mereka pun masuk dan duduk dikursi yang terletak disebelah ranjang pasien. Yuli mulai memperhatikan gadis berseragam office boy yang sejak tadi dibawa putranya itu.
" Siapa nak gadis ini?" tanya Yuli.
" Oh maaf Bu, aku sampai lupa. Perkenalkan bu, ini Faysa dia bekerja diperusahaan kita. Aku cukup baik mengenalnya jadi bila diluar kantor dia sudah seperti temanku."
" Kamu cantik sekali naik dan terlihat sangat sopan. Tidak salah jika Rosan menjadikan kamu sebagai teman baiknya," puji Yuli yang membuat Faysa tersipu malu.
" Nyonya berlebihan, saya hanya karyawan biasa. Rasanya kurang pantas kalau menjadi teman baik pak Rosan."
" Jangan panggil saya nyonya, panggil saya ibu seperti Rosan. Oh ya kenapa baju kamu kotor dan basah begitu?"
Pertanyaan Yuli membuat Faysa sadar akan bajunya yang jadi kotor karna terkena tumpahan susu tadi.
" Ya ampun Faysa, maafkan saya karna panik saya jadi tidak memperhatikan kamu. Pulang nanti kita mampir toko untuk mengganti baju kamu," ucap Rosan.
" Tidak perlu sampai seperti itu Pak! Ini nanti saya sikat sebentar pasti juga sudah bersih," tolak Faysa.
__ADS_1
" Faysa saya tidak suka kamu menolak permintaan saya."
Setengah jam kemudian Rosan memutuskan kembali ke kantor karna ayahnya masih belum siuman.
Sesuai rencana Rosan tadi, mereka mampir ditoko baju. Rosan pun memilihkan kemeja warna biru cerah untuk Faysa karna wanita itu tidak mau turun.
" Faysa ini bajunya. Kamu ganti didalam mobil saja biar saya tunggu diluar. Panggil saya kalau sudah selesai."
" Iya Pak terima kasih, kalau gitu saya ganti baju dulu."
Rosan kembali menjalankan mobilnya namun tiba-tiba perutnya merasa lapar.
" Faysa apa kamu punya tempat rekomendasi untuk sarapan? Tadi pagi saya tidak sempat sarapan karna ada meeting."
" Ada sih pak, nasi uduk. Cuma saya khawatir kalau Pak Rosan kurang cocok."
" Tunjukkan saja saya tempatnya dan kita sarapan disana."
Faysa pun memberi petunjuk arah warung nasi uduk yang terletak dijalan x. Rosan memarkirkan mobilnya dipinggir jalan lalu masuk kewarung tenda bersama Faysa.
" Faysa kita duduk dimana?"
" Gimana kalau diluar Pak biar segar."
" Oke, ayo kesana."
Mereka menikmati sarapan nasi uduk sambil bercerita dan tak terlihat kalau mereka adalah atasan dan bawahan.
Disudut lampu merah tampak sebuah mobil mewah berhenti menunggu lampu hijau. Gathan mengedarkan pandangannya dan tanpa sengaja ia melihat wanita yang begitu dikenalnya sedang makan dengan seorang pria dan terlihat sangat akrab.
__ADS_1
" Faysa kenapa loe suka banget bikin gue cemburu."
bersambung.....