
Malam itu terasa begitu panjang bagi Faysa. Beberapa kali ia mencoba untuk memejamkan matanya namun selalu gagal. Ia begitu takut jika Gathan akan menyentuhnya ketika ia terlelap.
Faysa memberanikan diri menoleh kesamping dan melihat Gathan yang sudah terlelap dengan dengkuran halus.
Perlahan Faysa mencoba bangkit dari tidurnya agar Gathan tidak terbangun.
" Jangan pergi, tidur aja. Gue nggak akan nidurin loe kecuali loe yang mancing gue," ucap Gathan sambil menahan tangan Faysa.
" Ka....kak bukannya tadi sudah tidur?" tanya Faysa kaget.
" Gue bangun karena gerakan loe. Udah tidur lagi, lagian loe bangun mau kemana?"
" Aku nggak bisa tidur Kak, tolong antarkan aku pulang."
Gathan yang mendengar Faysa masih menolaknya untuk diajak bermalam pun langsung bangkit dari tidurnya lalu melepas semua pakaiannya dengan buru-buru.
" Kakak mau ngapain?" tanya Faysa takut saat Gathan mendekatinya dengan hanya memakai ****** *****.
Gathan langsung melepas kerudung Faysa dan merobek piyama Faysa dengan kasar.
" Ampun Kak, kumohon jangan melakukan apa pun padaku...hiks...hiks," Faysa meronta sambil menangis memohon pada Gathan.
" Gue udah berulang kali bilang sama loe untuk tetap disini semalam tapi loe keras kepala terus maka gue akan nglakuin ancaman gue!" bentak Gathan.
" Kak lepasin aku kak!" teriak Faysa saat Gathan sudah menindihnya diranjang.
Tubuh Faysa sedikit bergetar ketika Gathan melancarkan aksi ciumannya. Sebagai seorang wanita dewasa yang pernah menikah, jujur saja aksi mantan suaminya itu sedikit mempengaruhi respon tubuhnya.
" Ahhh...Kak," tanpa sadar Faysa mendesah saat Gathan bermain dilehernya.
__ADS_1
*Nggak! Nggak boleh seperti ini, ini salah.
Aku harus kuat menahannya, aku nggak boleh menikmatinya*.
Gumam Faysa dalam hati dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Gathan yang menindihnya.
Brukk
Gathan yang sedang terbuai pun jatuh dari ranjang karena dorongan Faysa. Sementara itu, Faysa segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang.
" Kenapa loe dorong gue?" tanya Gathan dengan nada tinggi.
" Kak, sampai kapan kamu akan memperlakukan aku seperti seorang ******? Semenjak bertemu lagi kamu sudah dua kali ini melecehkan aku. Aku masih menghormatimu sebagai ayah dari kedua anak kita Kak, tapi kenapa kamu tetap memandang rendah tubuhku sampai sekarang?" ucap Faysa emosional dengan deraian air matanya.
" Bahkan disaat pertemuan terakhir kita kamu memperlakukan aku seperti wanita penghibur yang tidak punya harga diri. Dengan teganya kamu meninggalkan aku begitu saja setelah memperkosaku. Kamu sama sekali nggak mikirin luka fisik dan hati yang aku rasakan Kak, hiks....hiks...hiks," tangis Faysa semakin pecah saat mencurahkan seluruh isi hatinya.
Gathan hanya diam mendengarkan perkataan Faysa yang menusuk hatinya. Benarkah sampai saat ini ia hanya mengingikan tubuh Faysa meskipun dulu ia pernah mengutarakan perasaannya pada Faysa?
Gathan memakai bajunya kembali lalu berjalan mendekati Faysa. Ia memberikan ponsel Faysa yang disitanya tadi.
" Ini masih terlalu malam, istirahatlah kembali. Besok pagi akan ada petugas hotel yang nganterin baju buat loe dan loe bisa pulang diantar supir gue. Gue pergi," pamit Gathan.
Namun langkah Gathan kembali terhenti saat mendengar isakan tangis Faysa yang belum berhenti. Gathan kembali mendekati Faysa lalu mencium kening Faysa cukup lama tanpa ada penolakan dari Faysa.
" Maaf," ucap Gathan pelan hampir tak terdengar.
****
Gathan yang sedang stress pun pergi ke klub untuk menghilangkan pikirannya yang sedang kalut.
__ADS_1
Sampai disana, ia langsung duduk di meja bar sambil menikmati minuman keras sebagai pelampiasannya.
Gathan minum banyak hingga ia tak kuat lagi menahan tubuhnya.
Dari meja seberang tampak seorang wanita seksi yang memandang Gathan secara intens.
" Win loe lihatin apa sih ampek melotot gitu?"
" Den, cowok yang duduk dimeja bar itu kayaknya bos gue deh."
" Bos? Maksudnya bos loe itu ninggalin loe sendirian dipesta trus pindah pesta kesini dan ketemu loe lagi gitu."
" Iya, kurang ajar banget dia ninggalin cewek secantik gue dipesta. Loe tunggu sini ya, gue mau nyamperin dia."
Windy pun berjalan mendekati Gathan yang teler sendirian.
" Bapak kenapa mabuk?" tanya Windy.
Gathan mengangkat kepalanya dan melihat Windy seolah-olah adalah Faysa. Gathan mengusap lembut pipi Windy.
" Kenapa loe disini? Loe nggak pantas berada ditempat seperti ini. Maafin gue....maafin, gue emang lelaki brengsek yang nggak pantas loe cintai," ucap Gathan lalu kepalanya terjatuh diatas meja.
" Wah Bapak mabuk berat karna galau ya? Tenang Pak, saya akan menyembuhkan luka Bapak," ucap Windy lalu membawa Gathan kelantai atas untuk booking kamar.
bersambung.....
visual windy arisya
__ADS_1