
" Gimana rasanya Pak?" tanya Faysa karna melihat Rosan makan dengan begitu lahap.
" Enak sekali, tidak salah saya mengikuti rekomendasi kamu," jawab Rosan sambil menoleh kearah Faysa lalu senyuman geli terukir dari bibir Rosan.
" Kenapa Bapak tertawa?" tanya Faysa heran.
" Ada sambal disamping bibir kamu. Kamu seperti anak kecil saja Faysa," ucap Rosan lalu mengambil tisu untuk mengelap bibir Faysa.
Pandangan intens dari Rosan membuat Faysa memalingkan wajahnya lalu mengambil tisu dari tangan Rosan.
" Maaf Pak, biar saya sendiri saja."
Dari sebrang jalan tampak Gathan yang semakin mengepalkan tangannya melihat adegan romantis yang baru saja terjadi.
Ingin sekali dia turun lalu mematahkan tangan laki-laki itu dan membawa Faysa masuk kemobilnya. Tapi itu tak mungkin, ini tempat ramai. Bisa hancur reputasinya jika sampai melakukan hal konyol itu.
Untung saja lampu sudah berganti hijau jadi ia tak perlu menyaksikan kedekatan Faysa dan bosnya itu tapi sungguh ia penasaran.
Gathan sampai dikantornya dengan wajah yang cukup menyeramkan bagi para karyawannya.
Ia membanting tasnya dengan keras diatas meja lalu mendudukkan pantatnya dengan kasar dikursi kebesarannya.
Tok tok tok
" Masuk!"
" Selamat pagi Tuan muda, ada hal apa sampai Tuan muda memanggil saya?" tanya Alan.
" Alan apa kamu tahu kalau ternyata Faysa yang selama ini sudah mendonorkan darahnya untukku saat aku kritis dulu?"
" Tahu Tuan, memangnya ada apa?"
" Kalau kamu tahu, kenapa dulu tidak memberitahuku Lan?" jawab Gathan marah.
" Maaf Tuan muda, saya tidak berpikir sampai kesana karna setelah itu juga Tuan muda koma hampir setahun," jelas Alan.
" Sudahlah Lan, biar aku sendiri yang bicara dengan papa kenapa dia tidak memberitahuku tapi tidak untuk sekarang karna mamaku sedang menjalani pengobatan disana. Kamu boleh pergi."
Malam harinya Gathan belum pulang dan masih berada dikantornya. Kejadian yang dilihatnya tadi benar-benar mengganggu konsentrasinya hingga membuat banyak berkas terbengkalai.
Gathan mengambil ponselnya lalu mengetik pesan untuk Faysa.
Tangan gue sakit Fay, bisa loe kesini? Gue masih dikantor.
__ADS_1
Tak lama ponsel Gathan bergetar tanda ada pesan masuk. Gathan membukanya ternyata balasan dari Faysa.
Emang tangannya sakit apa Kak? Apa parah? Aku mandi dulu nanti aku kesana.
Gathan tersenyum setelah membaca pesan balasan dari Faysa. Ia melirik tangannya yang masih meneteskan darah karna ia tadi meninju tembok.
Melihat Faysa dekat dengan pria lain saja bisa membuat hati Gathan sepanas ini, apalagi kalau harus melihat Faysa menikah dan menjadi milik orang lain. Gathan tak kuat jika membayangkan tubuh Faysa dijamah orang lain meskipun itu suaminya. Cinta dan semua yang ada dalam diri Fsysa harus tetap jadi miliknya.
Tak lama Gathan mendapat telfon dari Faysa dan mengatakan bahwa dirinya sudah didepan kantornya. Gathan kemudian menelfon satpam agar membiarkan Fsysa masuk.
Tok tok tok
Gathan berdiri dan membukakan pintu untuk Faysa.
" Kak Gathan kenapa?" tanya Faysa panik saat matanya melihat tangan Gathan yang lecet dan berdarah.
" Tadi nggak sengaja ninju tembok," jawab Gathan datar.
" Maksudnya apa sih? Masak ninju tembok bisa nggak sengaja?"
" Loe mau bantuin ngobatin luka gue atau mau ngintrogasi gue?" ucap Gathan lalu menarik tangan Faysa masuk kedalam ruang pribadinya yang berada satu ruang dengan kantornya.
Gathan duduk diatas ranjang dengan Faysa yang masih berdiri disampingnya.
Faysa membuka laci lalu mengambil kotak obat. Faysa duduk disamping Gathan lalu mulai membersihkan tangan Gathan dengan air.
" Auwww perih Fay," ucap Gathan meringis.
" Kakak tahan ya, ini aku juga udah pelan-pelan bersihinnya."
Faysa meneteskan obat merah ditangan Gathan hingga membuat Gathan kembali berteriak dan tangan sebelahnya mencengkram bahu Faysa.
" Ahh Kak sakit," ringis Faysa saat Gathan mencengkram bahunya.
" Emang bahu loe kenapa? Perasaan gue tadi megangnya nggak kenceng," tanya Gathan heran.
" Tadi nggak sengaja ketiban besi pas bersih-bersih."
" Hah kok bisa? Sini biar gue lihat."
" Nggak usah Kak! Ini tangan kamu aja masih belum selesai."
Faysa melilitkan perban ditangan Gathan setelah selesai memberi obat merah.
__ADS_1
" Udah selesai Kak, aku pulang ya," pamit Faysa namun tangannya dicekal Gathan.
" Tunggu dulu Fay, biar gue gantian ngobatin bahu loe dulu."
" Nggak usah Kak, nanti aku obati sendiri aja dirumah."
" Gue bilang duduk Fay biar bahu loe gue yang obatin!" bentak Gathan hingga Faysa kembali duduk.
Gathan meminta Faysa membuka sedikit bajunya agar dia bisa mengobati bahu Faysa.
" Ehmm Kak perih," ringis Faysa saat Gathan memberikan obat merah.
Gathan menurunkan lagi sedikit baju Faysa agar lebih leluasa.
" Cukup Kak jangan diturunin lagi."
" Ini kurang lebar Fay, lagian nggak masalah gue juga udah pernah lihat semuanya."
" Ahhh Kak," ringis Faysa agak mendesah saat Gathan sedikit menekan lukanya.
Gathan menutup mulut Faysa dan memajukan wajahnya dibahu Faysa. Gathan kembali membersihkan obat merah yang ia tuang tadi dengan lap basah.
Setelah bersih Gathan menciumi bahu Faysa yang luka itu.
" Kak," ucap Faysa dengan bergetar.
" Maaf Fay, kali ini gue nggak bisa menahan diri lagi. Hati gue terlalu sakit saat nglihat loe dekat dengan pria lain sampai gue nglukai tangan gue sendiri."
Lama-kelamaan baju yang dipakai Faysa dan Gathan sudah tanggal dari badan masing-masing dan kini Gathan sudah berada diatas tubuh Faysa.
" Kak jangan, aku mohon."
" Gue sayang banget sama loe Fay. Jangan pernah dekat dengan lelaki lain karna itu benar-benar membuat hati gue sakit," ucap Gathan lalu ******* bibir Faysa.
Ciuman panas mereka terlepas saat keduanya sudah kehabisan nafas.
" Kak aku ngantuk, ingin tidur. Aku akan nemeni Kakak disini sampai pagi."
" Baiklah," ucap Gathan lalu melepas celananya dan hanya memakai boxer.
Gathan membawa Faysa kedalam pelukannya yang telah memakai bajunya kembali.
Biarlah begini setidaknya Kak Gathan tidak meneruskan aksinya tadi. Aku juga mencintai kamu Kak, tapi kondisi tak memungkinkan kita bersama lagi.
__ADS_1
bersambung.....