
Sudah tiga hari ini Faysa mengurung diri didalam kosnya. Rosan yang sudah khawatir dengan keadaan Faysa pun pergi menemuinya meskipun mungkin saja Faysa masih marah padanya.
Tok tok tok
Rosan mengetuk pintu itu dengan perlahan sambil memanggil-manggil nama Faysa. Cukup lama Rosan bertahan didepan pintu hingga akhirnya pintu itu terbuka.
" Faysa," panggil Rosan saat wajah pucat Faysa terlihat.
" Boleh aku masuk? Kita harus segera menyelesaikan masalah ini Faysa."
Tanpa menjawab, Faysa membuka pintu lebih lebar agar Rosan bisa masuk. Rosan mengikuti Faysa yang mendudukkan diri diatas karpet. Keheningan tercipta diantara keduanya karna Faysa hanya menatap kosong kearah lantai.
" Faysa, malam itu aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi. Aku hanya merasa pusing dan entah bagaimana aku bisa berada dikosmu ini. Aku merasakan hawa panas dalam tubuhku dan saat melihatmu tiba-tiba saja gairahku naik dan saat ingin menyentuhmu. Aku juga tidak menyangka jika hal ini akan menimpa kita. Semua sudah terjadi Fay, kamu mau kan menikah denganku?"
" Baiklah, aku mau menikah denganmu tapi apa orang tua kamu setuju?"
" Kamu tahu sendiri kalau orang tuaku sangat menyukaimu. Sekarang kita pergi ya, aku yakin tempat ini pasti sudah tidak membuatmu nyaman. Sementara aku akan menyewakan apartemen untuk kamu sambil menunggu pernikahan kita."
" Aku setuju, aku akan membereskan barang-barangku sebentar."
" Tidak perlu Fay, kamu ambil yang penting saja biar nanti sisanya dibereskan orang suruhanku."
Faysa pun mengambil beberapa barang penting miliknya dan memasukkannya kedalam tas. Sebelum pergi, Faysa pamit kepada pemilik kos sambil menyerahkan kunci kamarnya.
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Rosan dan Gathan membelah jalanan kota menuju apartemen Janayan.
Rosan membawa Faysa masuk kelantai 8 menuju flatnya.
" Maaf Faysa kalau apartemennya tidak mewah karna yang kutahu kamu suka hal yang sederhana."
Faysa menuju kamar yang ditunjuk Rosan sebagai kamarnya. Faysa menikmati pemandangan dari atas balkon sambil menenangkan pikirannya.
" Faysa aku harus kembali kekantor lagi. Jika butuh sesuatu jangan ragu untuk menelfonku."
" Ya Pak berhati-hatilah."
" Ehmm Faysa, bisakah kamu memanggilku dengan sebutan mas seperti kemarin-kemarin."
" Ya sudah aku pergi dulu."
Faysa menatap kepergian Rosan hingga sosoknya sudah tak terlihat.
*Semoga keputusanku untuk menikah dengan Mas Rosan sudah benar.
Gafa, Dini semoga keputusan mama ini tidak membuat kalian kecewa dan membenci mama.
Mama sangat menyayangi kalian, semoga kelak kita bisa hidup bersama*.
__ADS_1
****
Malam harinya baru Gathan merasa lega karna akhirnya pekerjaannya di Yogya sudah selesai.
" Kamu sudah pesan tiket untuk penerbangan besok pagi kan Lan?"
" Sudah semua Tuan, besok pagi kita tinggal bersiap-siap."
" Baguslah aku benar-benar sudah tidak sabar untuk pulang," ucap Gathan terlihat senang lalu masuk kamar untuk beristirahat.
Keesokan paginya Gathan dan Alan sudah berada dalam pesawat.
" Apa Tuan ingin memesan sesuatu?"
" Tidak Lan, aku ingin tidur saja. Semalam aku kurang tidur."
Akhirnya Gathan menghabiskan perjalanannya dengan tidur dipesawat.
Setelah sampai, Gathan memilih membawa sendiri mobil yang dibawa supirnya.
Tanpa pikir panjang Gathan langsung menuju kos Faysa. Ia melirik kotak kecil yang berada disebelahnya sambil tersenyum. Itu adalah yang akan diberikan Gathan pada Faysa sebagai kejutan.
bersambung....
__ADS_1