
Tok tok tok
" Fay buka pintunya, ini aku Gathan!" teriak Gathan sambil mengetuk pintu.
Berulang kali Gathan memanggil Faysa namun pintu kamar Faysa tak juga terbuka.
" Cari Faysa ya Mas?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba menghampiri Gathan.
" Eh iya Bu, saya temannya. Faysanya kemana ya Bu? Ini kan hari minggu dia nggak kerja," tanya Gathan.
" Faysanya itu sudah pindah kos Mas."
" Hah pindah Bu! Sejak kapan dan pindah kemana Bu? Tolong beritahu saya," tanya Gathan yang panik karena Faysa menghilang.
" Pindahnya sih kemarin pagi cuma pindah kemana saya kurang tahu. Kemarin dia cuma ngembaliin kunci kamar sama pamitan."
" Apa dia ada masalah dengan salah satu penghuni kos sini Bu?"
" Nggak mungkinlah Mas, orang Faysa itu kalem dan baik gitu mana mungkin punya musuh. Tapi kemarin pas pamit itu mukanya pucet dan kelihatan sedih."
*Pucet, sedih? Apa jangan-jangan Faysa hamil gara-gara gue? Tapi nggak mungkin, lagian kan gue ngluarinnya diluar.
Ya ampun Faysa, kamu kemana? Tolong jangan tinggalin aku*.
" Mas kok ngelamun?"
" Nggak apa-apa kok Buk, ya sudah saya pamit dulu."
Gathan masuk kemobilnya dengan perasaan kecewa. Ia memandangi kotak kecil yang tadinya ingin ia berikan pada Faysa.
" Fay, gue trima kalau loe marah sama gue tapi tolong jangan tinggalin gue dan anak-anak," ucap Gathan lalu menyimpan kembali kotak kecil itu.
__ADS_1
Gathan melajukan mobilnya menuju rumah. Sepertinya ia butuh waktu istirahat sebentar untuk menyegarkan kembali pikirannya baru nanti ia bisa memikirkan cara mencari Faysa.
Ceklek
Gathan membuka pintu dan begitu terkejut ketika melihat papanya sedang duduk manis diruang tamu.
" Papah, Papah kok ada disini?"
" Papah baru kembali lagi tadi malam dan sekarang Papah ada disini karna kamu sudah pulang. Bukannya seharusnya kamu sudah pulang sekitar satu jam lalu?"
" Oh ini Pah, tadi aku mampir ke kafe dulu untuk ngopi jadi aku telat."
Toni tersenyum sinis mendengar jawaban yang diberikan Gathan.
" Kamu tidak usah bohong Than, kamu pergi menemui perempuan sial itu kan? Jawab jujur Than!"
" Perempuan sial? Maksud Papah Faysa? Kalau iya aku memang kesana Pa."
" Kenapa kamu berhubungan dengan dia lagi Than bahkan kamu sudah mengenalkan dia sebagai ibu kandung dari kedua anakmu!" ucap Toni marah.
" Than, kamu lupa apa yang sudah ia lakukan terhadap kamu. Dia membunuhmu bahkan membuat kamu antara hidup dan mati!"
" Pah, aku sudah sadar itu semua bukan kesalahan Faysa. Dia hanya berusaha membela diri karna aku ingin memperkosanya dan penusukan itu hanyalah kecelakaan Pa. Lagipula Faysa sudah membayarnya dengan mendekam dipenjara selama lima tahun, apa itu belum cukup Pah! Bahkan Papah membayar orang untuk menyiksa Faysa dipenjara, Papah juga menyembunyikan kenyataan kalau Faysalah yang sudah menolongku dari masa kritis berkat donor darah. Kenapa Papa masih saja membenci Faysa?" teriak Gathan tak kalah.
" Diam kamu Than! Jangan pernah lagi kamu meninggikan suara kamu didepan papa apalagi hanya karna Faysa. Jim perlihatkan videonya !"
Dengan patuh Jimmy memberikan ponsel yang berisi rekaman video Faysa saat diperkosa Rosan.
Dengan penuh rasa penasaran, Gathan memutar video tersebut dan betapa terkejutnya Gathan saat melihat video tersebut.
Air mata Gathan menetes saat mendengar teriakan Faysa yang meminta tolong saat laki-laki dalam video tersebut berusaha menjamah Faysa. Teriakan Faysa yang terdengar putus asa itu terus berdengung ditelinganya.
__ADS_1
Gathan yang sudah tak tahan melihat video tersebut langsung membanting ponsel tersebut kelantai dan menginjaknya hingga remuk.
Gathan menatap tajam kearah Toni sambil mengepalkan kedua tangannya.
" Apa yang Papa lakukan pada Faysa? " tanya Gathan dengan suara berat menahan luapan emosinya.
" Papa hanya memberikan pelajaran untuk Faysa, lagi pula laki-laki itu menyukai Faysa jadi dengan begini mereka akan cepat menikah," ucap Toni dengan enteng.
" Kenapa Papa tega melakukannya bahkan tanpa beban memasang kamera disana dan menonton Faysa yang sedang disakiti. Papah sungguh tak punya perasaan!"
Plak
Satu tamparan yang cukup keras mendarat dipipi Gathan hingga membuat tubuh itu oleng.
" Kamu turuti semua keinginan papa atau papa akan membuat hidup Faysa lebih menderita. Bahkan mungkin dia akan lebih memilih untuk mati daripada hidup dan satu lagi jika kamu menolak keinginan papa, maka papa akan pisahkan kamu dengan Gafa dan Dini," ucap Toni tegas.
" Kenapa papa melibatkan Gafa dan Dini dalam masalah ini?"
" Kamu harus menikah dengan Windy. Asal kamu tahu Than, Windy itu adalah anak dari teman papa dan papa sengaja mengirimnya menjadi sekretaris kamu agar kalian bisa dekat tapi kamu malah menurunkan posisinya."
" Tapi Pah, Windy itu...."
" Papa tidak mau dengar alasan apapun! Perbaiki hubungan kamu dengan Windy dan kalian menikah atau papa akan melakukan ancaman papa. Kamu tahu kan kalau papa tidak pernah main-main."
Toni segera pergi setelah berdebat cukup lama dengan Gathan.
Prank prank
Gathan membanting barang-barang yang ada dalam jangkauannya untuk meluapkan emosinya yang tertahan tadi. Bahkan dia meninju tembok hingga tangannya berdarah.
Gathan duduk bersimpuh dilantai terlihat putus asa.
__ADS_1
" Faysa maafkan aku yang nggak bisa menolong kamu. Kamu pasti takut kan waktu itu? Aku benar-benar merasa menjadi laki-laki yang tidak berguna untuk kamu."
bersambung.....