Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 104


__ADS_3

Rosan tampak memberesi barang-barang ibunya sebelum mereka pulang dari rumah sakit.


Ceklek


" Siang ibu, sudah siap pulang ya?" tanya Nisa.


" Iya dokter, terima kasih ya sudah merawat ibu sampai ibu sembuh."


" Itu sudah tugas saya bu."


" Kapan-kapan kalau ada waktu, dokter Nisa main ke rumah ya. Ibu sangat ingin mengundang dokter makan malam di rumah."


" Terima kasih untuk undangannya bu, nanti akan saya usahakan."


Rosan yang sudah selesai bersiap pun segera menelfon supirnya untuk menjemput mereka.


" Ayah sama ibu nanti pulang duluan ya soalnya Rosan ada rapat setelah ini."


" Baik nak, ayo bu kita tunggu dibawah," ucap ayah Rosan sambil mendorong kursi roda istrinya.


Mereka berempat pun turun kebawah. Rosan membantu ibunya masuk kedalam mobil karna kondisi badan ibunya yang masih lemah.


" Jaga kesehatan ya bu, semoga lekas sembuh," ucap Nisa yang ikut mengantar.


" Iya dok, jangan lupa main ke rumah."


Nisa melambaikan tangannya hingga mobil yang membawa Yuli tak terlihat lagi.


" Nis boleh minta waktunya sebentar, aku ingin bicara hal penting padamu."


" Baiklah mas, kita ke ruanganku saja."


Mereka berdua berjalan hingga tiba diruangan Nisa.


" Duduk mas. Mas Rosan mau bicara hal penting apa?"

__ADS_1


Rosan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Nisa. Ia duduk dibawah sambil menggenggam tangan Nisa.


" Mas, apa yang...."


" Ssstttt...." Rosan menempelkan jarinya dibibir Nisa saat gadis itu ingin bicara.


" Nisa, jujur saja semenjak kita bertemu lagi perasaan cinta yang dulu aku coba kubur kini tumbuh lagi dihatiku Nis. Ternyata aku masih sangat mencintai kamu Nis."


" Mas apa yang kamu bicarakan? Ingat mas, kamu ini sudah punya istri!" jawab Nisa marah sambil berusaha melepas tanganya namun tak berhasil.


" Nisa aku tahu. Aku akan segera menceraikan istriku dan kita bisa bersama lagi."


" Kamu gila mas! Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang!"


" Tenang Nisa. Hubunganku dengan istriku memang sedang bermasalah tapi itu bukan karna kamu. Ada hal yang tidak bisa kumaafkan dari istriku."


" Lalu kamu mendekatiku lagi sebagai pelampiasan mas? Maaf mas aku tidak bisa."


" Kamu bukan pelampiasanku Nis. Kamu tahu sendiri dulu cintaku bagaimana. Sungguh aku mencintaimu Nisa."


Rosan menghampiri Nisa dan tanpa sungkan ia memeluk Nisa dari belakang sambil menciumi aroma rambut Nisa yang harumya tidak berubah.


" Nisa percayalah padaku. Aku tidak pernah berbohong kepadamu."


" Baiklah mas selesaikan dulu urusanmu dengan istrimu baru kamu boleh mendekatiku."


Rosan memutar tubuh Nisa hingga menghadap kearahnya. Ia merapikan anak rambut yang menutupi dahi Nisa dengan lembut.


" Iya dan kita bisa menjalin cinta kita seperti dulu lagi. I love you Nisa," ucap Rosan sambil memandang lekat wajah Nisa.


Perlahan Rosan mendekatkan wajahnya hingga bibirnya kini mendarat dibibir Nisa. Rosan mendiamkannya hingga ia mulai memberikan *******-******* kecil dibibir Nisa hingga ciuman itu berubah menjadi ciuman panjang.


****


Windy tertawa puas saat ia berhasil mendapatkan dokumen penting dan rahasia milik perusahaan.

__ADS_1


Ia segera pergi dari rumahnya menuju rumah pacarnya untuk memberikan dokumen tersebut.


Setelah sampai ia segera masuk dan mencari keberadaan pacarnya yang ternyata baru selesai mandi.


" Om aku berhasil mendapatkannya!" teriak Windy riang sambil menunjukkan dokumen ditangannya.


" Wow kamu sangat hebat sayang jadi aku tidak salah memilihmu."


" Iya Om dan aku sudah tidak sabar menyelesaikan ini semua dan kita pergi dari sini untuk memulai hidup baru."


" Aku juga sayang. Apa ada hadiah yang kamu minta sebagai penghargaan atas keberhasilanmu?"


Windy meletakkan tasnya dimeja lalu berjalan melenggok bagai model. Ia mendekati kekasihnya dan membelai dada bidang yang membuatnya candu.


" Aku ingin ini Om," ucap Windy sambil membelai milik kekasihnya yang hanya berbalut handuk.


" Untukmu aku selalu siap sayang," jawab pria itu dan langsung menyerang Windy.


Mereka melakukan kegiatan panas disiang hari yang cukup terik itu. Keringat deras membasahi kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.


" Om cukup aku sudah lelah," ucap Windy dengan nafas tersengal.


" Hahaha....sayang sepertinya lain kali kamu harus meminum obat kuat untuk melayaniku."


" Om jangan meremehkanku. Oh ya om setelah ini apa yang akan kita lakukan?"


" Dua hari lagi tua bangka itu akan pulang bersama istrinya dan disaat itu aku akan menculiknya. Kita jadikan itu untuk mengancam Gathan agar ia mau menandatangani surat pengalihan perusahaan."


" Hahaha....kamu benar-benar pengkhianat yang menawan om tapi om jangan coba-coba mengkhinanatiku."


" Itu beda cerita sayang, oh ya tadi om lupa pakai pengaman!"


" Tidak masalah om, aku sudah siap jika benih om tumbuh diperutku."


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2