Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 83


__ADS_3

Acara hari itu dilalui Faysa dengan berkenalan dan mengobrol dengan keluarga besar Rosan. Yuli berjalan mendekati Faysa yang tengah bercanda dengan keponakan Rosan.


" Faysa, kamu masuk dulu sana. Istirahatlah diruangan Rosan."


" Tapi kan acaranya belum selesai tante?"


Yuli menoleh pada Rosan lalu melambaikan tangan pada anaknya yang tengah mengobrol dengan kakak iparnya itu.


" Rosan sini!"


" Ya bu," jawab Rosan sambil mendekat kearah ibunya.


" Ajak Faysa masuk suruh istirahat dulu."


Rosan pun mengajak Faysa masuk kedakam ruang kerjanya untuk beristirahat. Rosan mengajak Faysa duduk disofa sambil meletakkan dua gelas minuman yang ia bawa tadi.


" Ehmm Pak, boleh saya tanya sesuatu?"


" Memang kamu mau tanya apa Faysa?"


" Kenapa Bapak tadi tidak mengelak saat beberapa keluarga Bapak mengira kalau saya kekasih Bapak?"


Rosan tersenyum mendengar pertanyaan Faysa. " Ya anggap saja itu doa dari mereka. Saya malah senang mereka berpikir begitu."


" Hah maksud Bapak?" tanya Faysa bingung.


Rosan beranjak dari duduknya lalu duduk berjongkok didepan Faysa." Karena saya akan sangat bahagia bila hal itu benar terjadi Faysa. Jujur saja sejak pertama melihat kamu, hati saya selalu merasa nyaman dan bahagia kalau sedang didekat kamu."


" Ma....maksud Bapak?" tanya Faysa gugup.


" Saya mencintai kamu Faysa. Tidak sadarkah kamu dengan perlakuan saya yang berbeda? Saya ingin kita menjalin hubungan lebih dari seorang teman."


" Ta....tapi Pak, saya hanyalah seorang OB sedangkan Bapak seorang CEO. Bagaimana mungkin Bapak bisa mencintai wanita rendahan seperti saya?"


" Siapa bilang kamu wanita rendahan? Bagi saya, kamu adalah wanita berharga yang pantas mendampingi saya. Kamu mau kan Faysa menerima cinta saya?" tanya Rosan penuh harap.


" Saya butuh waktu untuk menjawab Pak."


" Baiklah, saya akan sabar menunggu jawaban dari kamu dan mulai sekarang jika diluar kantor jangan panggil Bapak tapi panggil mas saja biar tidak terkesan kaku."


" Ya Pak...ehmm maksud saya ya Mas."


Rosan tersenyum lalu mengusap lembut kepala Faysa yang tertutup kerudung.

__ADS_1


****


Gathan bergulang-guling diatas tempat tidur king sizenya itu. Entah mengapa malam ini ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Apa mungkin karna beberapa hari ini dia tidak bertemu Faysa?


Andai saja ia bisa tidur dengan memeluk tubuh Faysa seperti beberapa hari yang lalu pasti tidurnya akan sangat nyaman.


Akhirnya Gathan turun dari tempat tidur lalu mengganti baju tidurnya. Ia berjalan mendekati kamar kedua anaknya.


Ceklek


Dengan lampu remang-remang, Gathan masih bisa melihat kedua anaknya yang tengah tertidur pulas.


" Sayang, papa pergi sebentar ya," ucap Gathan lalu mencium kening Gafa dan Dini.


Gathan keluar kamar lalu menuju garasi. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari tapi ia tetap nekat pergi ke kos Faysa dengan membawa kunci cadangan yang pernah diberikan Alan.


Dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu yang terlalu lama bagi Gathan untuk sampai ke kos Faysa.


Kos itu tidak mempunyai pagar jadi ia bisa masuk dengan mudah. Gathan memasukkan kunci lalu memutarnya.


Ceklek


Gathan langsung menuju ruang kamar Faysa yang memang tidak terkunci. Dilihatnya Faysa yang tengah tidur dengan meringkuk karna selimutnya yang jatuh.


" Apa loe selalu memakai pakaian seksi ini saat tidur Faysa," ucap Gathan lalu melepas pakaiannya dan ikut bergabung diranjang Faysa.


Faysa sama sekali tak menyadari kedatangan Gathan yang tengah memeluk dirinya itu.


Gathan memperhatikan wajah Faysa dan terus turun kebawah memperhatikan lekuk tubuh seksi Faysa yang langsung membuat adiknya berdiri.


Tanpa ragu Gathan ******* bibir Faysa yang sedikit terbuka itu.


" Ahhh..." lenguh Faysa sambil membuka matanya.


Faysa begitu terkejut dengan kehadiran Gathan dikosnya itu. Gathan melepas ciumannya lalu menatap Faysa penuh damba.


" Gue kangen Fay, bener- bener kangen. Apalagi melihat loe dalam keadaan seperti ini, gue nggak janji bisa menahan diri lagi," ucap Gathan dengan suara parau menahan hasratnya.


" Kenapa kakak bisa masuk kesini?"


Gathan tak ingin menjawab pertanyaan Faysa dan kembali ******* bibir Faysa bahkan tanganya kini sudah bergerilnya ditubuh bagian atas Faysa.


" Kak lepasin!" teriak Faysa pelan saat Gathan sudah memainkan dadanya.

__ADS_1


Tubuh Faysa tak bisa menolak rangsangan yang terus dilancarkan Gathan hingga tanpa ia sadari kalau ia dan Gathan sudah dalam keadaan polos.


" Ehmm sakit Kak," jerit Faysa saat Gathan berusaha memasukkan senjatanya yang sudah puasa selama lima tahun itu.


" Sabar ya sayang, kamu tahan dikit nanti kalau sudah bisa masuk pasti sakitnya ilang," ucap Gathan menenangkan Faysa sambil terus berusaha membobol milik Faysa yang sempit karna lama tak digunakan.


Jlebb


Setelah berkali-kali akhirnya milik Gathan bisa masuk dengan sempurna. Gathan mendiamkannya lalu menghapus air mata Faysa yang menetes.


" Kamu menyesal?" tanya Gathan.


Faysa menganggukkan kepalanya.


" Aku nggak sayang dan maaf kalau aku nggak bisa menghentikannya," ucap Gathan lalu mulai menggerakkan pinggulnya.


Arghh...arghhh


Suara erangan Gathan yang pelan terus membahana dikamar kos Faysa. Gathan mempercepat gerakannya hingga ia merasa akan ada sesuatu yang keluar.


Gathan mencabut miliknya dan memuntahkannya dibawah ranjang. Gathan mendekati Faysa lalu memeluk tubuh polos itu dengan erat.


" Tenang sayang aku nggak akan membuat kamu hamil lagi."


" Kenapa kamu melakukan ini sama aku Kak?"


" Aku nggak tahu, aku hanya bingung harus berbuat apa karna aku nggak mau kehilangan kamu lagi."


" Auwww," jerit Faysa saat kaki Gathan tak sengaja menyenggol miliknya.


" Apa masih sakit?" tanya Gathan khawatir.


" Iya."


" Nanti kalau sudah terbiasa lagi pasti sudah tidak sakit," ucap Gathan lalu mencium kening Faysa.


Sebenarnya Gathan ingin melakukannya lagi tapi ia tidak tega saat melihat milik Faysa yang agak bengkak karna ulah adiknya itu.


****


Sebuah apartemen di Singapura


" Kurang ajar! Kenapa wanita itu harus hadir lagi dan mengusik kehidupan anakku yang sudah tenang! " teriak Toni penuh amarah.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2