
Sinar matahari yang begitu menyengat tak menyurutkan semangat Kyrana mencari pekerjaan. Peluh yang membasahi dahi dan pipinya pun hanya ia lap saja sekilas menggunakan telapak tangannya.
Sudah lebih dari 4 tempat yang Kyrana tuju, namun sama sekali tak ada yang mau menerimanya setelah melihat cv yang ia berikan.
Sejenak Kyrana mengistirahatkan diri dikursi yang terdapat dipinggiran jalan. Matanya sibuk memperhatikan para pegawai kantoran yang sedang menikmati jam istirahatnya diluar.
Kemana lagi aku harus mencari kerja?Jika aku tak segera mendapat pekerjaan, bagaimana nanti jika ayah meminta uang dan aku tak bisa memberinya. Nanti pasti ayah akan marah besar.
Gumam Kyrana yang mulai gundah hatinya.
Karena hari sudah semakin siang dan perutnya yang sudah mulai keroncongan, Kyrana pun memutuskan pulang kerumahnya.
" Kenapa sudah pulang? Baru jam segini," tanya Barun, ayah Kyrana.
" Ehmm Kyrana hanya kerja setengah hari karena restoran sedang sepi."
" Awas kalau kau bohong pada ayah! Berikan ayah 200 ribu sekarang."
" Untuk apalagi Yah? Bukannya dua hari lalu Kyrana baru memberi Ayah uang."
" Kau ini jadi anak cerewet sekali! Kau keberatan hanya karna memberi uang yang tak seberapa pada Ayah! Ingat ya, semenjak ibumu meninggal. Ayahlah yang berjuang sendirian membesarkanmu dan kau tahu tak sedikit uang yang ayah keluarkan untukmu!"
__ADS_1
Kyrana segera memberikan sisa uang yang berada didompetnya karna ia tak ingin mendebat sang ayah lagi.
" Kenapa hanya segini? Kau pikir ayah ini anak kecil yang meminta uang jajan!"
" Uang Kyrana hanya tinggal segitu Yah," ucap Kyrana memelas.
Barun yang kesal pun menghampiri Kyrana lalu menarik tangannya keluar dari rumah.
" Cepat sana pergi kerja! Minta lembur pada bosmu dan jangan pulang sebelum kamu membawa uang yang ayah minta!"
Kyrana mengelus dadanya. Ia tak habis pikir, kenapa ayahnya lebih mementingkan uang dari pada dirinya.
****
" Gimana Gaf, semua lancar?" tanya Gathan yang sedang bersantai sambil memberi makan ikan kesayangannya.
" Lancar Pah, minggu depan Gafa udah mulai masuk kuliah. Mama sama Dini kemana Pah?"
" Itu pada lagi ribet didapur. Dini minta diajarin bikin kue sama mama."
Gafa yang heran pun langsung pergi kedapur untuk melihat apa yang sedang dilakukan kedua wanita kesayangannya.
__ADS_1
" Siang Mah, lagi bikin apa?" tanya Gafa setelah mencium pipi Faysa.
" Mama ngawasin Dini yang lagi bikin kue lapis."
Gafa pun iseng mencolek pipi Dini menggunakan adonan kue lapis yang lengket.
" Apaan sih kamu Gaf! Jangan gangguin deh! Aku lagi serius nih!" Protes Dini.
" Yeh banyak gaya kamu. Dari tadi aku lihat kamu cuma ngublek-ngublek doang. Kamu nggak diterima jadi penerus usaha toko roti mama tahu!" Ejek Gafa.
" Mah, lihat Gafa gangguin aku nih! Mending Mama umpetin aja Gafa dikarung terus dijual!"
" Eh enak aja, mama sama papa nggak mungkin rela kehilangan anak setampan dan sepintar aku."
Faysa pun hanya menggelengkan kepalanya melihat dua anak kembarnya yang selalu ribut dan mengejek untuk saling bercanda.
" Udah-udah ributnya. Gafa mending kamu masuk kamar lalu mandi. Terus Dini selesaiin bikin kuenya, mamah mau nyiapin makan malam dulu."
Gafa pun masuk kekamarnya dan segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Selesai mandi, ia memeriksa ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari orang kepercayaannya.
Gafa menarik bibirnya keatas setelah membaca pesan tersebut.
__ADS_1
Ternyata kamu masih ingin mencoba bertahan dikota ini dengan berkeliling mencari pekerjaan. Silahkan kamu nikmati kesusahanmu karna tak mau mengikuti saranku.
Bersambung.....