
Alan memasuki kamar Gathan setelah mendapat perintah dari tuan mudanya itu.
" Info apa yang ingin kamu sampaikan Lan?" tanya Gathan sambil matanya tetap fokus pada laptopnya.
" Ini mengenai Faysa Tuan. Saya berhasil mendapat sedikit info kalau Faysa mengalami pembullyan secara fisik selama di penjara."
Gathan menatap Alan dengan serius setelah mendengar ucapannya.
" Apa kamu pikir ini ada hubungannya dengan Papa Lan?"
" Maaf Tuan muda, tapi jujur saya berpikir seperti itu. Saya melihat kebencian tuan besar pada Faysa karna telah mencelakai anda dan mengakibatkan anda mengalami koma. Saya berpikir tuan besar tidak terima hingga ingin membuat gadis itu mati perlahan karena tidak tahan dengan tekanan secara fisik dan mental," jelas Alan.
" Gadis itu tidak boleh mati sebelum aku menghukumnya sendiri Lan! Cari tahu orang suruhan papah Lan dan sisanya biar aku urus sendiri."
" Akan segera saya infokan dengan cepat Tuan muda, kalau begitu saya ijin undur diri."
"Hmmm," jawab Gathan singkat sambil memijat dagunya.
Dua hari kemudian Gathan pergi ke rutan candara untuk menemui Faysa. Dia langsung melajukan mobilnya kesana setelah kelasnya selesai.
Turun dari mobil, Gathan merapikan rambutnya didepan spion. Setelah merasa penampilannya sempurna, Gathan pun masuk ke kantor rutan.
" Siang bu, saya ingin menjenguk napi yang bernama Faysa."
" Oh ya, silahkan isi dulu daftar kunjungannya."
Gathan mengisi buku tersebut lalu mengikuti petugas yang membawanya keruang besuk.
" Silahkan tunggu dulu disini Mas."
__ADS_1
Gathan pun menunggu Faysa sambil memainkan ponselnya. Tak lama Gathan terusik dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba duduk didepannya.
" Ka...Kak Gathan," panggil Faysa dengan suara gagap karena kaget dengan kedatangan Gathan.
Gathan mengangkat wajahnya dan tampaklah dihadapannya kini seorang gadis dengan muka pucat dan tubuh yang terlihat kurus.
" Kak Gathan sudah sembuh? Alhamdulillah Kalau Kakak sudah sembuh," ucap Faysa dengan wajah sumringah.
" Alhamdulillah? Bukannya loe seneng kalau gue mati," ucap Gathan dingin.
" Nggak Kak, saya sungguh nggak sengaja. Saya benar-benar tidak ada niatan untuk mencelakai Kakak. Maafkan saya Kak."
" Loe mau gue maafin?"
Faysa hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
" Loe harus mau jadi budak **** gue!" ucap Gathan tegas.
" Yang ngehukum loe itu polisi bukan gue! Gue punya cara tersendiri untuk menghukum loe secara langsung," ucap Gathan tepat didepan muka Faysa
Faysa memundurkan wajahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
" Nggak, saya nggak mau Kak! Saya ini manusia bukan boneka mainan Kakak," teriak Faysa.
Gathan mencengkram tangan Faysa dengan kuat hingga membuatnya meringis.
" Gue tahu loe manusia makanya gue mau loe jadi budak **** gue. Kalau loe nggak ma, loe jangan pernah menyesal kalau setelah ini loe akan menerima kabar buruk dari ibu loe. Loe tahu gue kan Fay kalau gue nggak pernah main-main dengan ucapan gue."
" Jangan Kak, tolong jangan celakai ibu saya," ucap Faysa panik.
__ADS_1
" Kalau gitu loe mau kan jadi budak **** gue?"
Dengan berat hati, Faysa menganggukkan kepalanya.
" Baik Kak saya mau tapi dengan satu syarat dan saya harap Kak Gathan mau mengabulkannya."
" Oh jadi loe berani ngajuin syarat. Tapi it's okay, gue akan memenuhinya jadi katakan apa permintaan loe?"
" Saya minta Kak Gathan menikahi saya secara siri. Saya hanya tidak ingin kita berbuat zina."
" Oke, gue akan ikuti tapi loe nggak boleh menuntut apapun ke gue."
Faysa kembali hanya bisa menganggukkan kepalanya. Entah keputusannya ini benar atau salah. Tujuannya kini hanya ingin melindungi ibunya dari orang-orang jahat.
bersambung.....
Ayo dukung karya ini dengan cara
@like
@komentar
@vote
@rate bintang 5
@favorit
@ hadiah
__ADS_1
Terima kasih semuanya.....