
Faysa tersenyum saat mendengar penjelasan dari dokter Safa yang mengatakan bahwa dirinya kini tengah mengandung janin yang kini masih berusia dua minggu.
Tangannya terulur untuk mengelus perutnya yang masih tampak rata. Pikirannya langsung membayangkan bayi kecil dengan wajah lucu dan pipi yang gembul terlihat menggemaskan.
" Sayang, bunda benar-benar nggak menyangka kalau kamu akan hadir diperut bunda. Semoga saja ayah kamu ikut bahagia dengan kehadiran kamu sayang. Maafkan bunda ya sayang karna kamu harus berada dilingkungan yang kurang baik tapi bunda akan selalu berusaha supaya kamu bisa tumbuh dengan sehat didalam perut bunda."
Sementara itu disebuah kamar mewah, tampak barang-barang berserakan disembarang tempat karna Gathan mengamuk. Dia segera mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi seseorang yang ikut andil dalam menyebabkan kekacauan hatinya saat ini.
" Halo bos," jawab seseorang yang merupakan orang suruhan Gathan.
" Heh bodoh, kenapa Bayu bisa kabur dari loe dan bodohnya lagi kenapa loe nggak ngasih tahu gue!" bentak Gathan dengan mata memerah.
" Mm...maaf bos, saya memang sengaja tidak memberitahu bos karna saya sedang mencari tawanan kita bos," jawab seseorang dari seberang telfon dengan gugup.
" Hah goblok loe semua! Nggak usah loe cari karna orang yang loe cari tadi udah nampakin dirinya didepan gue. Mulai sekarang gue pecat loe karna gue nggak butuh orang-orang nggak becus kayak loe!" bentak Gathan yang langsung mematikan telfonnya.
Gathan kembali menekan nama seseorang diponselnya lalu menempelkannya ditelinga.
" Selamat siang tuan muda,ada yang bisa saya bantu?"
" Bawa Faysa ke apartemen sekarang juga!" ucap Gathan lalu keluar dari apartemen mewahnya menuju apartemen satunya.
Sekitar satu jam Gathan menunggu Faysa di apartemennya sambil menonton televisi untuk sedikit menghilangkan pikirannya yang sedang kacau.
Ceklek
Faysa masuk kedalam kamar dan melihat Gathan yang tengah menonton televisi sambil rebahan diranjang.
__ADS_1
Faysa mendekati Gathan sambil terus tersenyum manis karna tak sabar untuk memberitahukan berita kehamilannya.
" Kak," panggil Faysa sambil ikut merebahkan dirinya disamping Gathan.
" Kenapa!" jawab Gathan ketus tapi membiarkan Faysa memeluk dirinya dari samping.
" Kak Gathan marah lagi?" tanya Faysa yang langsung mengangkat kepalanya untuk melihat raut muka Gathan.
Mereka saling memandang untuk sekian detik namun tangan Gathan yang mengepal karna menahan amarah pun langsung bangkit dan mengurung Faysa dibawahnya.
Kedua tangannya mencekik leher Faysa hingga memekik kesakitan.
" Kak apa salah saya?" tanya Faysa sambil kedua tangannya menahan tangan Gathan yang menekan lehernya.
" Gue suami loe tapi kenapa loe selalu membiarkan diri loe disentuh laki-laki brengsek itu!" ucap Gathan yang masih dikuasai amarah.
Gathan yang seperti sadar dengan apa yang dilakukannya terhadap Faysa pun langsung menarik tangannya dan bangkit dari tubuh Faysa.
Gathan melirik Faysa yang tengah mengusap lehernya dengan nafas yang tersengal. Faysa menjauhkan tubuhnya karena dia merasa takut dengan suaminya saat ini. Air matanya pun menetes karna merasa sang suami bersikap kasar dan tak mencintainya sama sekali.
Faysa pun merasa ragu untuk memberitahukan kehamilannya, padahal sebelumnya dia tadi merasa bersemangat untuk memberi Gathan kejutan.
Cukup lama sepasang suami istri itu saling terdiam hingga Gathan merasa kecewa karna menganggap Faysa tak ingin memberikan penjelasan.
" Besok senin gue berangkat dan mulai sekarang loe bebas mau melakukan apapun," ucap Gathan dingin.
" Tapi Kakak pulang kan dan kita bisa bertemu lagi?"
__ADS_1
Gathan tersenyum kecut mendengar pertanyaan Faysa.
" Apa loe pikir gue udah jatuh cinta sama cewek gampangan kayak loe? Kalau iya, maaf. Yah siapa tahu disana nanti gue ketemu cewek yang cantik, pinter dan yang pastinya pantas mendampingi gue."
" Tapi tadi Kakak menyakiti saya karna cemburu?"
" Itu karna loe nggak menghargai gue sebagai suami loe! Kenapa loe mau aja dipeluk dan dibelai orang lain!" bentak Gathan yang kini sudah berhadapan dengan dirinya.
" Tapi Kak itu bukan..."
" Bukan apa?Loe slalu aja beralasan!” ucap Gathan dengan tatapan tajam.
Gathan menghela nafas panjang lalu pergi dari hadapan Faysa.
" Sebentar lagi Alan bakal kesini buat jemput loe. Gue harus pergi sekarang dan slamat tinggal," ucap Gathan lalu pergi namun langkahnya terhenti saat dia merasa ada yang mencekal tangannya.
Faysa melangkah dan berdiri tepat dihadapan Gathan.
" Slamat jalan Kak dan berhati- hatilah. Akan ada seseorang yang sangat menantikan kehadiranmu dan maaf bila saya membuat Kak Gathan kecewa."
Faysa menangkup kedua pipi Gathan lalu menundukkannya. Dengan lembut Faysa ******* bibir Gathan dan memainkannya.Gathan yang merasa syok pun hanya bisa diam dan menikmati apa yang dilakukan Faysa terhadap bibirnya.
Faysa menjauhkan kepalanya saat mendengar bunyi bel.
" Itu pasti tuan Alan yang datang Kak, saya permisi."
Faysa pun segera pergi meninggalkan apartemen Gathan untuk kembali ke rutan. Sementara Gathan masih memegang bibirnya yang dicium Faysa tadi sebagai tanda perpisahan.
__ADS_1
bersambung....