
Minggu pagi itu Faysa tengah sibuk membuat puding dan kue brownis pandan untuk bekal pergi jalan-jalan dengan kedua anaknya.
Faysa berencana mengajak mereka ke danau yang letaknya berada dipinggiran kota. Setelah selesai semua baru Faysa pergi mandi dan bersiap-siap.
Faysa memakai lipteen warna soft pink agar terlihat lebih cerah. Faysa memandang pantulan wajahnya dicermin dan memperhatikan warna bibirnya.
" Kak Gathan marah nggak ya kalau aku pakai lipteen? Kan dia nggak suka aku dandan. Ahh biarin, ini kan hak aku."
Tin tin tin
Suara klakson yang berbunyi membuat Faysa keluar kamarnya dan menengok dari jendela. Ternyata itu adalah mobil Gathan yang sudah menunggunya.
" Pagi Tante Faysa," sapa Dini dan Gafa bersamaan.
" Pagi juga sayang," jawab Faysa lalu duduk dibelakang bersama kedua anaknya.
" Tante kita mau kemana sih?" tanya Dini.
" Kita mau ke danau sayang, kalian suka nggak?"
" Kalau perginya sama Tante kita pasti suka."
Faysa yang senangpun mencium pipi kedua anaknya. Mereka pun menikmati perjalanan dengan saling berbagi cerita hingga perhatian Dini jatuh pada kotak bekal makanan yang dibawa Faysa.
" Tante bawa apaan sih ini?" tanya Dini.
" Oh tante bawa puding rasa mangga vanila, Dini dan Gafa mau?" tanya Faysa yang dijawab anggukan kepala kedua anaknya.
Faysa mengambil puding lalu mulai menyuapkannya pada Dini. Pada saat ingin berganti menyuapi Gafa, tampak putranya itu malah menutup mulut hingga membuat Faysa heran.
" Kenapa? Gafa nggak suka puding ya?"
" Suka Tan cuma Gafa ndak mau kalau disuapin, Gafa kan udah gede," ucap Gafa yang membuat Faysa tersenyum.
__ADS_1
" Iya, tapi sekali-kali nggak apa-apa dong sayang. Tante kan belum pernah nyuapin Gafa, sekarang Gafa buka mulut ya," pinta Faysa dan Gafa langsung menerima suapan Faysa.
" Ehmmm, enak ya segar lagi! Papa mau pudingnya?" ucap Gafa menawari Gathan yang sedang menghentikan mobilnya dilampu merah.
" Ehmm boleh sayang kalau Tante Faysa nggak keberatan," ucap Gathan.
" Itu papa aku mau Tante, boleh kan?"
" Ah iya sayang boleh," ucap Faysa lalu menyerahkan kotak pudingnya pada Gathan.
" Kok papa aku ndak disuapin Tante?" tanya Gafa heran.
" Kan papa udah besar sayang jadi bisa makan sendiri," elak Faysa.
" Tante bilang tadi kalau sekali-kali ndak apa-apa, kan Tante belum pernah nyuapin papa," ucap Dini.
Aduh gimana sih kok malah aku jadi kejebak omongan aku sendiri.
Dengan berat hati Faysa pun lebih mendekat ke Gathan lalu mulai mengarahkan tangannya kemulut Gathan. Mereka pun saling memandang untuk sesaat sampai akhirnya Gathan membuka mulut menerima suapan dari Faysa.
" Iya manis seperti mukanya," ucap Gathan tanpa sadar.
Tin tin tin
Suara klakson dari mobil belakang membuat Gathan kembali menjalankan mobilnya. Tak terasa mobil yang mereka naiki sudah sampai ditempat tujuan.
Danau itu tak begitu ramai dan terasa begitu sejuk dengan banyaknya pohon yang tumbuh besar.
Gafa dan Dini langsung berlarian dipinggiran danau yang cukup luas itu sementara Faysa menggelar tikar untuk bersantai.
" Sayang hati-hati nanti jatuh lutut kalian bisa sakit?" teriak Faysa memperingati.
Dini dan Gafa pun menghentikan permainan mereka lalu berjalan mendekati Faysa.
__ADS_1
" Tante kita naik sepeda air yuk! Kayaknya asyik deh."
" Ya udah yuk tante temani kalian."
Gathan pun memperhatikan kedua anaknya yang tampak gembira bersama Faysa. Bahkan Gafa yang biasanya lebih pendiam pada orang yang baru dikenalnya pun bisa langsung dekat dengan Faysa.
Lamunan Gathan terhenti ketika mendengar suara tangisan Dini yang cukup keras. Gathan melihat Dini berada dalam gendongan Faysa sedang berjalan kearahnya.
Gathan pun buru-buru menghampiri Faysa lalu mengambil Dini dari gendongan Faysa.
" Loh kamu kok nangis sayang, kenapa?"
" Lutut Dini berdarah Pah tadi jatuh pas mau turun dari bebek air, huu....huu...huu, " ucap Dini sambil menangis.
Gathan pun mendudukkan Dini ditikar diikuti Faysa.
" Biar aku ambilkan kotak P3K dulu Kak," ucap Faysa.
" Ambilin di mobil," jawab Gathan sambil menyerahkan kunci mobil.
Faysa pun segera mengambil kotak P3K di mobil Gathan. Faysa membersihkan lutut Dini dengan air agar bersih sebelum diobati.
" Tahan ya sayang, ini sakitnya dikit kok," ucap Faysa sambil meneteskan obat merah.
" Hua...hua...perih Pah," tangis Dini kembali kencang saat Faysa meneteskan obat merah.
" Iya tahan sayang ini baru diobatin," ucap Gathan menenangkan Dini.
Faysa pun selesai mengobati Dini lalu membawa Dini kedalam pelukannya.
" Maafin Tante ya tadi Tante kurang hati-hati jagain Dini," ucap Faysa sedih.
" Lain kali kalau lagi sama anak-anak loe harus lebih fokus Fay! Jangan kebanyakan ngelamun mikirin bos loe itu," ucap Gathan kesal.
__ADS_1
bersambung.....