Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 32


__ADS_3

" Tambah lagi dong Fay, gue laper banget," ucap Gathan sambil menyodorkan piringnya.


Faysa meraih piring yang diberikan Gathan lalu mengisinya lagi dengan nasi beserta lauk dan sayurnya.


" Gue tunggu di kamar Fay," ucap Gathan lalu berjalan ke kamar.


Faysa menyusul Gathan ke kamar sambil membawa piring dan minuman.


Ceklek


" Suapin gue soalnya gue mau nglanjutin ngerjain ini."


Faysa mendudukkan dirinya diranjang lalu mulai menyuapi Gathan dengan telaten hingga habis. Dia pun mengambil air putih lalu menyodorkannya ke Gathan.


" Minum Kak."


Gathan segera meminumnya lalu menyerahkan gelas kosong ke Faysa.


" Masih banyak ya Kak pekerjaannya?"


" Gue lagi nyempurnain skripsi gue karna gue nggak mau ada kesalahan dan harus ngulang. Setelah ini gue juga mau ngecek laporan resto gue yang ada di Bandung. Kenapa?"


" Apa nggak sebaiknya Kakak istirahat dulu."


" Loe ngremehin gue ya? Apa loe lupa bagaimana kuatnya gue waktu kita bercinta tadi. Loe aja ampe nangis-nangis gitu. Kak udah saya nggak kuat, sakit Kak," jawab Gathan sambil menirukan ucapan Faysa saat bercinta dengannya.


" Ya udah kalau gitu saya mau siap-siap dulu siapa tahu petugas bentar lagi datang buat jemput,"ucap Faysa sambil beranjak dari ranjang.


" Loe nggak akan kemana-kemana karna loe bakal nginap 2hari disini. Loe beres-beres aja dulu trus tidur."

__ADS_1


"Ehmm Kak boleh saya minta sesuatu?"


"Apa?"


" Sa...saya ingin bertemu dengan Bayu," ucap Faysa takut-takut.


Bugg


Gathan meletakkan laptopnya dengan kasar dan menatap tajam kearah Faysa.


" Bayu...Apa maksudnya loe pengen ketemu Bayu? Loe kangen sama dia?" bentak Gathan sambil mencengkram bahu Faysa.


" Bukan gitu Kak, saya cuma..."


" Cuma apa? Loe bener-bener nggak tahu diuntung ya! Gue baik-baikin tapi loe malah nglunjak. Mau loe apa, hah!," bentak Gathan yang sedang dikuasai emosi.


" Kak sakit Kak, dengar dulu penjelasan dari saya," jawab Faysa sambil menahan sakit dibahunya.


Gathan mendorong Faysa dengan kasar.


" Keluar loe sekarang! Bentar lagi petugas bakal jemput loe," ucap Gathan lalu menutup pintu dengan keras.


Dok dok dok


" Kak buka dulu pintunya Kak. Saya ingin bertemu dengan Bayu karna saya hanya bisa mengetahui kabar ibu saya lewat dia."


Faysa terduduk lemas didepan pintu kamar karna Gathan tak juga membukakan pintu untuknya.


" Kak, percayalah saya nggak bohong. Saya sangat merindukan ibu saya tapi saya nggak ingin ibu melihat keadaan saya di penjara apalagi waktu itu saya mengalami penyiksaan. Saya nggak mau ibu saya bersedih karna melihat keadaan saya. Apalagi keadaan ibu saya saat ini sedang sakit-sakitan, Bayu yang membantu saya mengurus ibu. Cuma itu Kak."

__ADS_1


Gathan membuka pintu hingga Faysa yang bersandar di pintu menjadi terjatuh.


" Kalau cuma soal ibu loe kenapa loe nggak bilang sama gue. Kenapa loe ngandelin si Bayu kampret itu?" tanya Gathan kesal.


" Karna hanya Bayu satu-satunya teman saya Kak. Di kampus pun saya nggak punya teman."


" Jadi loe nggak menaruh hati sama Bayu?"


" Rasa sayang saya ke Bayu hanya sebagai teman Kak. Kalau pun itu terjadi maka saya harus segera menghapusnya karna status saya sekarang sebagai istri Kakak."


" Oke...Mulai besok gue akan kirim satu pembantu ke rumah loe buat jagain ibu. Jadi mulai sekarang loe nggak perlu lagi mengandalkan Bayu."


" Beneran Kak?" tanya Faysa dengan wajah sumringah.


" Gue nggak perlu ngulang omongan gue kan."


Grepp


Faysa langsung memeluk Gathan karna saking senangnya.


" Terima kasih ya Kak," ucap Faysa sambil mendongakkan kepalanya menatap Gathan.


" Loe seneng banget?"


" Tentu Kak. Saya senang karna ada yang menjaga ibu saya karna saya juga tidak enak kalau harus merepotkan Bayu terus."


" Apa ada hadiah buat gue?"


" Hadiah? Kakak sudah punya segalanya, jadi apa yang bisa saya beri. Kalau pun ada pasti saya hanya bisa memberi barang murahan yang tentu saja bukan selera Kakak."

__ADS_1


" Ya udah kalau loe nggak mau ngasih," ucap Gathan kesal lalu melepas pelukan Faysa.


bersambung....


__ADS_2