
Disebuah ruang makan tampak keluarga Alyariz sedang menikmati makan siang bersama dengan suasana yang tenang.
Gathan yang sudah selesai makan segera mengelap mulutnya dengan tisu lalu beranjak dari duduknya.
" Gathan udah selesai, duluan ya!" ucap Gathan namun langkahnya terhenti saat mendengar suara sang papa.
" Mau kemana kamu Than?" tanya Toni.
" Mau nongkrong di kafenya Vicky yang baru buka kemarin Pah. Emangnya kenapa Pah?"
" Ada hal penting yang mau Papa bicarakan. Kamu tunggu dulu di ruang kerja Papa."
" Oke," jawab Gathan dengan agak malas lalu berjalan menuju ruang kerja Toni.
Gathan duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Sebuah senyum tipis terbit dari bibirnya saat melihat foto Faysa yang sedang tertidur. wajahnya terlihat cantik tanpa polesan make up dan begitu menyejukkan saat dipandang.
Ceklek
Suara pintu yang dibuka membuat Gathan kaget dan dengan segera ia memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
" Kenapa Than kok gugup gitu?"
" Nggak kenapa-kenapa Pah, ini cuma lagi chatingan sama Vicky. Oh ya Papah mau ngomongin hal penting apa?"
Toni berjalan menuju kursinya sambil meletakkan kopi yang ia bawa keatas meja lalu melambaikan tangannya supaya Gathan mendekat.
" Kamu kan sudah lulus Than, Papa ingin kamu mulai aktif di perusahaan."
" Loh bukannya selama ini aku udah bantu-bantu di kantor Pah dan aku juga membangun beberapa bisnisku sendiri," jawab Gathan sambil mengerutkan keningnya.
" Iya Papa tahu soal itu. Kamu tahu kan kalau Papa baru saja membangun usaha di Singapura? Ini usaha baru tapi proses pembangunannya sudah sampai ditahap akhir. Papa ingin kamu mengelolanya dari mulai perekrutan karyawan sampai nanti mulai beroperasi."
" Tapi Pah bisnisku disini gimana? Aku juga baru mulai merintis usaha baru di Bandung," protes Gathan.
" Kamu tenang saja Than, semua kerjaan kamu disini biar Alan yang mengurusnya dan disana nanti kamu bisa didampingi Raka. Dia keponakannya Jimmy, kamu bisa mengandalkannya."
" Tapi Pah, aku masih ingin mengurus sendiri bisnisku disini. Papa bisa mengutus orang kepercayaan kesana."
" Sudahlah Than, Papa tidak ingin berdebat dengan penolakan kamu. Lagi pula Papa sudah membicarakan hal ini dengan mamamu dan dia juga setuju."
" Tapi Pah....," ucap Gathan yang masih merasa berat.
" Cukup Than! Papa sampai heran apa yang membuat kamu berat melakukan ini. Papa ingin istirahat dan Papa tidak ingin membicarakan hal ini lagi," ucap Toni lalu keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
" Arrghhh! " geram Gathan sambil menjambak rambutnya sendiri.
****
Sudah beberapa hari ini Faysa merasa tubuhnya cepat lelah dan sering merasa lapar tapi apa daya Faysa harus menahan hasrat makannya karena adanya jatah makan.
" Uhh kenapa rasanya laper lagi ya? Padahal kan tadi udah makan siang," gumam Faysa sambil memegangi perutnya.
Faysa bangkit dari duduknya lalu membuka lemari kecil yang ada disebelah tempat tidurnya namun ia harus kecewa karna tidak menemukan camilan yang pernah diberikan Bayu.
" Faysa, tuan Gathan mencari kamu," ucap seorang petugas.
Mendengar hal tersebut entah mengapa dirinya merasa senang hingga ia berjalan dengan cepat menuju kamar khususnya dengan Gathan.
Faysa membuka pintu kamar dan mendapati wajah tampan Gathan yang terlihat murung.
" Kak Gathan kenapa? Kakak baik-baik saja kan," tanya Faysa khawatir.
Gathan tak menjawab dan malah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya itu.
" Kak...," panggil Faysa hati-hati sambil mengusap punggung suaminya itu.
Gathan menolehkan wajahnya kearah Faysa kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat.
Deg
Faysa merasakan dirinya sedih saat mendengar ucapan Gathan. Dirinya merasa takut jika Gathan meninggalkannya.
" Memangnya apa yang membuat Kak Gathan berat menerimanya? Kakak adalah anak laki-laki nomor satu jadi wajar saja jika papanya Kak Gathan meminta hal tersebut."
Gathan menoleh kearah Faysa dengan kening berkerut.
" Ya gue pengennya tetep disini Fay! Gue nggak mungkin kalau harus ninggalin el....," ucap Gathan yang memotong kalimatnya.
" El? El apa Kak?"
" Ya...ya maksudnya gue nggak mau kalau harus ninggalin bisnis gue yang ada disini. Apalagi gue baru aja bikin usaha penginapan di Bandung."
" Tapi pastinya papanya Kak Gathan sudah mengurus itu semua dan nggak mungkin membiarkan bisnis Kakak terbengkalai."
" Loe pengen banget ya kalau gue pergi dari sini dan nyerain loe hingga akhirnya loe terbebas dari pernikahan ini," ucap Gathan sambil menatap tajam Faysa.
" Ngg..nggak Kak! Saya sama sekali tidak mempunyai pikiran seperti itu. Saya hanya ingin Kak Gathan berbakti pada orang tua Kakak."
__ADS_1
" Jadi loe pengen gue ada disini atau loe pengen gue pergi ke Singapur?"
" Itu...itu terserah Kakak saja mau memutuskan apa," jawab Faysa dengan lesu.
Gathan mengangkat dagu Faysa hingga mata mereka kini saling memandang. Gathan memperhatikan wajah cantik Faysa yang sepertinya terlihat sedikit lebih berisi.
" Udahlah lupain dulu pembicaraan kita tadi. Ehmm sepertinya pipi loe lebih berisi yah," ucap Gathan yang membuat Faysa malu.
" Ehh itu Kak, sekarang saya banyak makan dan suka cepat lapar," jawab Faysa jujur.
" Hah benarkah? Apa sekarang loe merasa lapar?"
Faysa hanya menjawabnya dengan anggukan kepala yang malu-malu dan hal itu membuat Gathan ingin sekali menggigitnya karena gemas.
" Oke habis ini gue traktir makanan yang enak-enak tapi sebelum makan loe harus bayar dulu dengan ini," ucap Gathan sambil membelai bagian inti Faysa dengan lembut.
" Kak Gathan," pekik Faysa kaget.
" Gimana, mau kan loe?"
" Terserah Kakak," jawab Faysa sambil memalingkan wajahnya yang terasa panas.
Gathan memutar tubuh Faysa agar menghadap dirinya. Dia mulai melepaskan kerudung Faysa dan menarik ikat rambut Faysa hingga rambut panjang Faysa langsung jatuh terurai.
" Gue lebih suka lihat rambut loe begini."
Gathan memeluk Faysa sambil tangan satunya membuja kancing Faysa. Dia menarik penutup dada Faysa hingga kedua benda kenyal itu menyembul keluar.
" Gue pengen ini," ucap Gathan sambil berbisik ditelinga Faysa.
Faysa tak menjawab dan hanya menjawabnya dengan lirihan suara yang pelan karena tangan Gathan mulai memainkan pucuk dadanya.
Gathan mulai menenggelamkan wajahnya dikedua dada Faysa hingga ia mendenger jeritan kecil dari bibir Faysa saat mulutnya dengan sengaja menggigit kecil-kecil benda kenyal tersebut.
Faysa yang kaget pun mendorong tubuh Gathan tapi percuma tenaganya kalah dengan tenaga Gathan yang kuat.
"Kak udah Kak."
" Bentar Fay, tapi gue rasa bagian ini terasa lebih besar dan makin terasa manis."
" Tapi jangan digigiti Kak nanti jadi perih pas mandi," protes Faysa sambil melihat kearah dadanya yang sudah banyak tanda merahnya.
Namun Gathan tak memperdulikan larangan Faysa dan malah kembali menyerang benda empuk Faysa dengan semangat.
__ADS_1
bersambung.....