
Kyrana mendorong pelan tubuh Gafa yang menindihnya. Ia menatap Gafa dengan sedikit perasaan takut. Matanya mengeder mencari pakaian miliknya namun ternyata pakaian itu sudah tak berbentuk karna dirobek Gafa.
Kyrana ingin keluar tapi tak bisa karna ia tak mungkin pergi dengan tubuh telanjang. Akhirnya Kyrana hanya bisa menangis dengan suara pelan.
Gafa membuka matanya karna merasa ada suara berisik yang menganggu tidurnya. Ia lebih melebarkan matanya saat menyadari bahwa ruangan ini bukanlah kamarnya.
Gafa menolehkan kepalanya dan begitu kaget saat melihat seorang gadis tengah menangis dibawah dengan bergelung selimut. Gafa membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan mulutnya langsung menganga saat mendapati dirinya dalam keadaan polos.
" Siapa kau? Kenapa kita bisa telanjang ditempat ini?" Bentak Gafa.
Kyrana hanya diam dan semakin menangis saat mendengar bentakan Gafa.
" Aku bertanya kenapa kau diam saja?" tanya Gafa tak sabar.
" A...aku menolongmu saat pinsan tapi kamu malah mendorongku masuk dan mengunci pintunya. Dan kau..."
" Dan apa yang kulakukan padamu? Cepat katakan!"
" Kamu yang melecehkanku tapi kenapa kamu yang marah padaku!"
Gafa menyelimuti tubuhnya dengan selimut lalu beranjak untuk mengambil pakaiannya. Ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Pikirannya semakin kacau saat mendapati benda pusakanya terdapat bekas cairan yang telah mengering.
Ah sial. Mungkinkah aku telah melakukan itu dengannya. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Gafa keluar dari kamar mandi lalu perlahan mendekati gadis itu.
" Siapa namamu?" tanya Gafa lebih lembut.
__ADS_1
" Aku Kyrana. Aku teman sekelasmu?" jawab Kyrana menunduk.
" Hah benarkah? Mengapa aku tak pernah melihatmu?"
" Gadis miskin dan dekil seperti diriku tak akan ada yang sudi memperhatikan. Aku bekerja disini untuk menggantikan temanku. Kebetulan aku memang sedang butuh banyak uang untuk acara kelulusan."
" Maaf aku tak bermaksud menyinggungmu."
Gafa berdiri lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
" Aku mohon lupakanlah kejadian hari ini. Ini kompensasi karna aku sudah tanpa sadar melecehkanmu. Kau tak perlu khawatir nanti akan kuberikan lebih lewat rekeningmu," ucap Gafa santai.
" Kau...."
" Tak perlu bicara lagi karna kurasa urusan kita sudah selesai."
****
Pesan itu mengabarkan jika Tifana akan segera mengurus keperluannya yang ingin melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Gafa sendiri mengenal Tifana saat sekolahnya bertanding basket dengan sekolah Tifana yang berada di Bandung.
Sejak saat itu Gafa mulai mengenal Tifana yang menjadi anggota cheers sekolahnya.
Gafa tak membalas pesan dari Tifana. Pikirannya kini masih saja tertuju pada sosok gadis yang mungkin bisa menghambat masa depannya.
Ia memang sudah meminta Kyrana untuk melupakan kejadian itu dan gadis itu tampak menyanggupinya. Tapi...entah mengapa hati Gafa masih saja gelisah.
****
__ADS_1
" Kak bangun. Udah jam 6 loh. Ayo buruan mandi," ucap Faysa sambil menggoyangkan bahu Gathan.
Sementara yang dibangunkan hanya menggeliat saja dan enggan untuk bangun.
" Kakaaa....kkk." Panggil Faysa dengan suara yang lebih berat.
Gathan yang merasa istrinya mulai kesal pun segera bangun.
" Sayang...aku boleh kan membolos satu hari saja."
" Hah! Tumben banget Kak?"
" Aku ingin dirumah saja dan menghabiskan satu hari ini denganmu."
" Kakak ini kan pemimpinnya jadi harus kasih contoh yang bagus buat karyawannya," ucap Faysa tak terima.
" Sayang, kamu tidak lupa kan kalau bos tertinggi ya? Tidak akan ada yang memarahiku jika aku tak datang ke perusahaan. Aku bisa mengerjakan pekerjaanku dari sini."
" Ya sudah terserah pak bos aja. Sekarang aku mau ke dapur buat nyiapin sarapan."
Belum sempat Faysa melangkah, tangannya sudah ditarik Gathan hingga tubuhnya terjatuh keranjang.
" Kak ngapain sih?"
" Kamu mau nyiapin sarapan kan? Sekarang kamu dulu yang jadi menu sarapanku." Gathan menyeringai dan segera menerkam tubuh Faysa.
bersambung.....
__ADS_1