
Gathan melepaskan tautan bibirnya dan membiarkan Faysa menghirup oksigen. Setelah beberapa detik Gathan kembali ingin ******* bibir Faysa namun gerakannya terhenti saat Faysa menahan dadanya.
" Cukup Kak, aku nggak mau kita terlalu jauh karna sama-sama tidak bisa mengendalikan diri?" ucap Faysa.
Gathan mengangguk meskipun ia terlihat kecewa.
" Sekarang loe ikut gue ke rumah ya buat nemuin anak-anak," ucap Gathan.
" Ke rumah Kakak? Tapi...."
" Tenang aja, di rumah gue cuma ada gue, anak-anak sama para pelayan karna gue udah punya rumah sendiri. Memang sih sementara adek gue nginep dirumah gue karna ortu gue lagi di Singapur," jelas Gathan.
Akhirnya hari itu juga Faysa pergi ke rumah Gathan untuk pertama kali. Setelah satu jam, barulah mereka sampai disebuah kompleks perumahan elit.
Rumah Gathan terlihat begitu besar dan megah bak istana hingga membuat Faysa kagum.
" Ayo masuk," ucap Gathan lalu membawa Faysa naik ke lantai dua menuju kamar anak-anaknya.
Faysa melihat kedua anaknya yang tengah belajar ditemani dua orang pelayan.
" Halo sayang, lihat siapa yang papa ajak kemari."
" Tante Faysa," panggil Dini dan Gafa dengan girang lalu berlari memeluk Faysa.
Melihat pemandangan itu membuat hati Gathan terasa begitu damai.
" Ya udah yuk kita ajak tante Faysa naik."
Gathan mengajak Faysa naik ke lantai 3 dimana terdapat taman bunga dan aneka mainan.
" Ayo kita duduk disini, ada sesuatu yang mau papa kasih tahu kekalian."
__ADS_1
" Apa itu Pah?"
" Kalian ingin bertemu dengan mama kalian?"
" Iya Pah, emang sekarang mama ada dimana Pa?"
" Sebenarnya Tante Faysa ini adalah mama kalian."
Dini dan Gafa langsung memandang kearah Faysa yang sudah berurai air mata.
" Mama," panggil Gafa dan Dini.
" Iya sayang, ini mama sayang," ucap Faysa lalu merentangkan kedua tangannya.
Gafa dan Dini masuk kedalam pelukan Faysa.
" Kenapa mama nggak bilang dari awal kalau mama adalah mamanya kita,huu...huuu," tanya Dini sambil menangis.
" Iya dong ma! Hore sekarang kita mama, ye ye ye," ucap kedua anak itu sambil melompat-lompat gembira.
Faysa bangkit perlahan dari ranjang setelah menidurkan kedua anaknya malam itu. Faysa berjalan mendekati Gathan yang tertidur disofa yang ada dikamar anak-anaknya.
" Kak bangun," panggil Faysa sambil menggoyangkan bahu Gathan.
" Ya, kenapa?" jawab Gathan yang bangun dari tidur ayamnya.
" Aku mau pulang Kak."
" Kenapa nggak nginep sini aja, besok pagi-pagi baru gue anterin pulang."
" Nggak ah Kak, anterin aku pulang sekarang aja."
__ADS_1
" Ya udah yuk."
Gathan mengambil jaket lalu keluar untuk mengantar Faysa.
" Kak ada hal yang mau aku tanyakan?"
" Soal apa?"
" Apa orang tua Kakak tahu kalau aku adalah ibu kandung dari Gafa dan Dini?"
Gathan begitu kaget dengan pertanyaan yang diajukan Faysa hingga ia menepikan mobilnya dipinggir jalan.
" Kak kok diam aja?"
" Ya kalau mama gue nggak tahu Fay tapi kalau papa gue, dia tahu semuanya."
" Aku inget waktu Kakak dibawa kerumah sakit, aku dibawa sama seorang om om berjas dan para anak buahnya kesuatu tempat. Aku diinterogasi dan tiba-tiba salah satunya menyayat lenganku untuk mengambil darahku. Ternyata saat itu Kakak sedang butuh donor darah dan kebetulan darah aku cocok. Dari situlah aku dengar kalau papanya Kakak sangat membenciku karna telah melukai Kakak. Apa papanya Kakak nggak marah waktu tahu kalau Kakak punya anak dari aku?"
" Jadi loe orang yang udah donorin darah buat gue Fay? Jadi dalam diri gue mengalir darah loe yang udah nyelametin gue dari masa kritis?" ucap Gathan dengan sedikit emosi.
" Ya Kak, tapi aku ikhlas mendonorkan darahku karna Kakak memang butuh, lagi pula aku ingin menebus kesalahanku yang tanpa sengaja melukai Kakak sampai kritis bahkan koma."
Gathan langsung memeluk Faysa dengan erat, tak peduli Faysa menolak atau tidak.
" Maafin gue Fay, maafin gue. Gue adalah orang utama yang membuat hidup loe menderita. Padahal kejadian dikampus itu adalah murni kesalahan gue karna gue mau memperkosa loe. Bahkan walaupun gue jahat, loe tetep mau nolongin gue Fay. Maafin gue Fay, dosa gue udah terlalu banyak sama loe. Harusnya gue merasa beruntung karna bisa memiliki wanita permata seperti loe tapi malah dengan bodohnya gue malah nglepasin loe dengan cara yang tidak terhormat."
" Kak, aku udah mengikhlaskan semuanya. Aku hanya takut jika papanya Kakak masih membenciku, beliau akan memisahkan aku dan anak-anak. Aku nggak akan sanggup lagi Kak."
" Loe tenang aja karna gue nggak akan membiarkan hal itu terjadi."
bersambung.....
__ADS_1