
Arka membutuhkan waktu yang cukup lama di kamar mandi, ketika dia keluar hal mengejutkan yang Arka lihat adalah sebuah koper besar disana, terlihat Viola masih memasukan beberapa baju kesana.
"Viola... Apa yang kamu lakukan?"
Viola menatap Arka dengan pandangan binggung,
"Apakah Tuan Muda lupa? Nanti siang ada Bulan Madu yang akan kita lakukan, anggap saja ini sebagai liburan, ini sudah disiapkan oleh Kakek dan Nenek,"
"Bu... Bulan Madu? Aku tidak tahu ada hal-hal seperti itu!!"
"Tentu saja sudah, sebelumnya Nenek sudah menyiapkan bulan madu kita, pasti Tuan Muda tidak mendengarkannya."
"Ukhhh, seperti begitu."
Dengan itu, Arka dibantu oleh Viola menyiapkan koper dan barang bawaan yang akan mereka bawa.
Seperti biasa, koper milik Arka selalu membawa begitu banyak hal.
"Kemana kali ini kita pergi?"
"Ke Pulau Pribadi Keluarga William, Pesawat Pribadi sudah disiapkan,"
"Kenapa musti disana? Aku sangat tidak menyukai tempat itu."
Viola lalu menjadi teringat kejadian yang menimpa Arka saat kecil, itu terjadi di salah satu Villa di Pulau Pribadi milik Keluarga William.
Itu sudah sangat lama berlalu namun sepertinya kenangan buruk hari itu, belum bisa Arka lupakan.
"Apakah sebaiknya minta pada Nenek untuk mengganti tempat tujuan? Kalau tidak, tidak perlu pakai acara Bulan Madu segala tidak masalah, lagipula hal-hal ini tidak begitu penting,"
Arka lalu mencoba menenangkan dirinya,
"Tidak. Kita harus pergi."
Wajah Arka masih sedikit pucat ketika memikirkan soal Pulau itu.
"Tapi, Tuan Muda.... Jika Tuan Muda tidak sanggup jangan dipaksakan,"
"Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya, lagipula kita sebelumnya pernah kesana juga bukan?"
"Tapi saat itu Tuan Muda....."
"Saat itu kita juga masih cukup muda, sekarang aku sudah dewasa, sudah dua puluh enam tahun, sudah menikah pula, saatnya aku mengatasi rasa takutku,"
"Baiklah jika Tuan Muda memaksa. Lagipula ada aku yang akan selalu menemani Tuan Muda, tidak akan ada apa-apa disana."
"Ya, tentu saja. Akan ada kamu disampingku."
Arka akhirnya sedikit tenang, lalu melanjutkan persiapannya.
####
Arka dan Viola, akhirnya menaiki Pesawat menuju Pulau Pribadi milik Keluarga William.
Pulau Pribadi Keluarga William merupakan sebuah Pulau tepi pantai yang indah. Ini merupakan tempat wisata yang cukup populer di kalangan tertentu, karena memang suasananya sangat cocok untuk menenangkan diri, atau berlibur dengan Keluarga.
Di pulau itu, di bagian belakang Villa untuk para wisatawan menginap, yang paling disukai dari pulau ini adalah Villa tepi pantainya, membuat seseorang yang tinggal disana langsung bisa menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam.
Tempat ini juga merupakan salah satu tempat yang biasa dijadikan tempat Bulan Madu karena suasana Pulau ini begitu romantis.
__ADS_1
Itu juga alasan awalnya Nenek Arka menyiapkannya Bulan Madu Cucunya itu kesana.
Ketika sampai di bandara, dan turun beberapa orang mulai menyapa mereka.
"Selamat Datang Tuan Muda, Arka dan Nyonya Viola. Kami disini akan mengantarkan kalian berdua menuju Villa yang sudah disiapkan,"
"Baiklah." Kata Arka dengan cukup Cuek,
"Silahkan ikuti kami,"
Mengikuti pemandu itu, mereka sampai di sebuah mobil yang disisipkan.
Arka awalnya cukup cemas ketika sampai di pulau, namun Viola selalu mengegengam tanganya, mencoba membuatnya tenang.
Tenang, Arka....
Pulau ini sangat luas...
Tidak mungkin juga ke tempat itu.
Tenang...
Tenang, Arka...
Dalam mobil, melihat Arka yang terlihat cemas itu, Viola sekali lagi mencoba menengangkannya.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda disini kita hanya akan berlibur,"
Arka mencoba tersenyum, lalu pandangan menatap jauh kearah luar jendela, pemadangan tepi pantai mulai bisa dilihat dari sana.
Tiba-tiba melihat pantai yang familiar, ingatan Arka melayang jauh....
Dirinya pernah ke pantai ini juga bersama Ayah dan Ibunya ketika masih kecil.
Ketika mereka masih menjadi sebuah Keluarga bahagia....
Dirinya sangat suka bermain di Pantai, hingga dirinya meregek agar memperpanjang acara liburan mereka di pulau ini lebih lama....
Seandainya saja....
Hari itu, dirinya menuruti Ayahnya untuk segera pulang, dan pergi dari mulai ini...
Mungkin hal-hal itu tidak akan terjadi...
Tragedi yang membawa Ibunya dalam kematian....
"Tuan Muda... Tidak perlu memikirkannya lagi. Ini saat bersenang-senang,"
Viola makin mengegam tangan Arka lebih erat.
####
Tidak lama, sampai mobil itu tiba disalah satu Villa di pulau itu, diam-diam tanpa Arka dan Viola ketahui, sopir yang menyetir mobil itu tersenyum licik.
"Kita sudah sampai di tempat Tuan Muda dan Nona Viola untuk menginap."
Arka yang dari tadi tertidur di mobil segera terbangun oleh kata-kata supir itu.
Awalnya dirinya tidak begitu melihat lokasi mereka berada.
__ADS_1
Ini adalah sebuah Villa yang dekat dengan kawasan hutan, tempat untuk biasanya orang-orang akan berburu atau hanya berlatih berburu.
Jadi, tanpa curiga Arka dan Viola turun dari mobil itu.
Namun ketika tiba didepan Villa itu, Arka segera berteriak ketekutan....
"Tidak.... Tidak.... Tempat ini....."
Arka segera mundur, gemetar dan terjatuh ditanah.
Insiden hari itu, hari kematian Ibunya kembali menghantui Arka...
Villa ini adalah tempat kejadian itu terjadi, melihat Villa ini saja, Arka mengigat Trouma masalalunya, bagaimana ditempat ini Ibunya dibunuh oleh orang-orang tidak dikenal didapan Arka.
"Tuan Muda? Ada Apa?"
"Tidak.... Tidak..... Jangan...."
Arka tidak merespon panggilan Viola, hanya berjongkok ketakutan ditanah sampai menatap kearah Villa itu.
Arka mulai teriak histeris disana,
"Mama... Jangan tinggalkan Arka...."
Seolah kejadian hari itu tiba-tiba muncul kembali dalam ingatannya.
Kemudian menatap kearah, Villa itu Viola sadar.
Viola langsung memeluk Arka, lalu berkata dengan marah parah supir itu.
"Kamu!! Kamu pasti bukan suruhan Nenek? Siapa kamu sebenarnya?"
Namun Supir misterius itu, segera lari dari sana, dan menaiki mobilnya meninggalkan Arka dan Viola didepan Villa itu.
Viola mencoba menenangkan Arka.
"Tuan Muda... Jangan seperti ini...."
"Tidak... Mereka melukai Mama.... Mereka...."
Air mata Arka juga segera jatuh.
Viola benar-benar merasa ceroboh, Kenapa bisa-bisanya dirinya percaya dengan supir itu?
Harusnya dirinya lebih hati-hati untuk menjaga Tuan Mudanya.
Tuan Mudanya memiliki banyak musuh diluar sana yang ingin menjatuhkannya.
Mungkin mengambil kesempatan kunjungan mereka ke Pulau ini untuk membuat Arka mengigat lagi trauma itu.
Saat itu, Arka hanya seorang bocah kecil berumur sekitar lima tahun....
Namun dia harus melihat Ibunya meninggal didepan matanya....
Trauma yang begitu membekas di hati Arka yang tidak akan pernah dia lupakan....
####
Bersambung
__ADS_1