
Ruangan Kamar Louise menjadi hening seketika setelah diskusi mereka itu.
Masing-masing dari mereka, tentu saja memiliki pikiran sendiri-sendiri soal hal ini terutama soal Arka.
Kemudian, Louise mulai bertanya sekali lagi,
"Soal hal-hal yang kita bicarakan ini masih belum pasti. Namun yang jelas, pelaku dari Insiden itu sudah pasti Keluarga Cavel, sekarang apa rencana Kakak?"
Arka mengeleng-gelengkan kepalanya, dan berkata,
"aku belum memikirkan lebih lanjut tentang apa yang akan aku lakukan berikutnya setelah tahu hal-hal ini,"
"Ya, baiknya kakak tidak perlu terlalu memikirkan ini dulu. Sekarang kakak fokus dulu untuk memulihkan kesehatan Kakak, baru setelah itu memikirkan langkah selanjutnya, namun aku memberi saran pada kakak untuk sebaiknya membicarakan ini pada Kak Viola, aku tahu kakak mengkhawatirkan Kak Viola untuk terlibat hal hal ini namun jika kita merahasiakan ini darinya malah ini akan membuat diri kita sendiri repot,"
Arka tentu berpikir sebentar, memang hal-hal ini sepertinya perlu dibicarakan dengan Viola namun sekarang masih belum saatnya.
"Ya, aku juga akan mengatakan ini pada Viola, namun bukan sekarang, aku benar-benar masih pusing untuk memikirkan ini,"
"Aku paham, namun ingat kata-kataku, jangan gegabah dan melakukan apapun, Kakak harus selalu memberi Aku kabar jika Kakak ingin melakukan tindakan apapun. Dan ingat juga untuk tidak memprovokasi dulu Anggota Keluarga Cavel ini, kita masih belum jelas mengetahui pokok permasalahan dan inti dari semua ini,"
"Aku mengerti apa maksudmu aku akan mencoba menahan emosiku dulu,"
Setelahnya mereka berpisah dan arka kembali ke kamarnya.
Tentu saja di kamar sudah ada viola yang sedang membereskan barang-barang mereka.
Melihat Viola yang kerepotan itu padahal sudah dibantu beberapa pelayan Arka merasa tidak enak.
"Aku rasa tidak perlu untuk membawa semuanya. Bawa saja sebagian, kita masih akan sesekali pergi dan tinggal di Rumah ini, atau lain kali, kita bisa membawanya yang lain, pokoknya yang dibawa hanya hal-hal penting dulu soal jika ada yang tertinggal itu masalah gampang, toh Rumah ini tetap akan menerima kedatangan ku, tidak akan kemana-mana,"
Viola yang mendengar kata-kata Tuan Mudanya itu, segera mengiyakan dan menurutinya.
Malam itu, Arka tidak bisa tidur karena masih kepikiran dengan semua informasi yang baru saja dirinya dapatkan.
Sampai tiba-tiba, Arka kembali memimpin kan kejadian malam itu, bahkan kali ini menjadi begitu jelas terutama soal Tato Naga dan seorang Pria Dewasa yang lihat memimpin mereka semua.
Viola yang memang tidur lebih malam daripada Tuan Muda nya itu, jelas melihat ada yang salah ketika Tuan Mudanya tunjukkan wajah yang tidak nyaman saat tidur.
Dirinya tentu juga sadar sejak kembali tadi wajah tuhanmu tanya tidak menunjukkan semagat, seperti sedang memikirkan sesuatu namun dirinya juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Tuan Mudanya, Dia tidak bercerita apapun padanya.
__ADS_1
Memang, bukan berarti dirinya harus tahu semua aspek kehidupan Tuan Mudanya, cari jika tuhan mudahnya ini menyimpan beberapa Rahasia darinya, karena pada dasarnya hubungan mereka tidak lebih dari Pelayan dan Majikannya.
Ketika memikirkan ini, Viola lagi-lagi rasa ada yang mengganjal di hatinya perasaan yang tidak nyaman entah kenapa.
Dirinya benar-benar tidak menyukai perasaan ini...
Viola segera tersadar dari lamunan itu, dan segera membangunkan Tuan Mudanya.
"Akhhhh...."
Begitu Tuan Mudanya bangun, yang dirinya dengar adalah teriakan, dan sebuah pelukan yang tiba-tiba yang entah kenapa membuat hati Viola sedikit berdebar.
"Tuan Muda? Ada apa?"
"Biarkan aku seperti ini dulu untuk sesaat," kata Arka dengan nada yang sedikit sedih dan takut.
Viola lalu tidak bertanya apa apa lagi hanya membalas pelukan itu sambil mengelus rambut Tuan Mudanya itu, mencoba untuk menghiburnya.
"Baik. Tidak apa-apa, saja Tuan Muda tidak perlu khawatir. Paduan kuda tidak ingin bercerita saya tidak masalah sama sekali,"
"Ya, aku sangat senang ada kamu di sini Viola,"
Malam pelukan hangat itu tentu saja mimpi-mimpi buruk Arka segera digantikan oleh mimpi-mimpi indah.
####
Malam pun berlalu dan pagi tiba.
Ketika Arka bangun, dirinya melihat bagaimana Viola sudah menyiapkan minuman hangat untuk dirinya minum.
Perasaannya menjadi begitu hangat melihat bagaimana Viola bersikap begitu baik.
Dirinya mencoba merupakan soal hal-hal kemarin, dan fokus untuk merencanakan pindah rumah dulu.
"Mari segera bersiap setelah sarapan kita akan pergi ke rumah baru," kata Arka dengan penuh semangat.
Viola udah menjadi senang melihat Tuan Mudanya itu kembali bersemangat.
"Tentu saja, semuanya seharusnya sudah beres saya juga sudah menyuruh para pelayan untuk membereskan semua barang-barang yang tersisa kita tinggal berangkat habis sarapan,"
__ADS_1
"Hmm, kamu benar-benar memiliki kinerja yang baik, aku benar-benar tidak sabar sampai di rumah baru kita. Dan bagaimana dengan perabotan apakah semuanya sudah diatur?"
"Harusnya sih sudah diatur saya sudah dah meminta mereka untuk mengirim barang-barang itu ke Rumah Baru, dan meletakannya, ayah juga sudah menyuruh orang untuk mengatur dekorasi di sana, little kita benar-benar bisa langsung tinggal di rumah itu,"
Arka segera mengacungkan jempolnya,
"Sangat bagus,"
Selamat sarapan ini, Arka bercakap-cakap dengan Neneknya, merasa sangat senang dan wulan menceritakan soal rumah baru mereka yang terlihat sangat bagus.
Sekolah lupa dengan kejadian-kejadian kemarin arka benar-benar menikmati hari ini dengan senang.
Sampai, ketika mereka tiba di Rumah Baru, Arka menjadi kaget.
Terutama setelah sampai di kamarnya.
Dia melihat Viola malah memasukan barang-barangnya dikamar sebelah.
"Viola? kenapa kamu meletakkan barang barang mudi sebuah seharusnya kan di kamar ini ini kamar kita,"
Viola segera menatap Tuan Mudanya dengan ekspresi kaget, dan segera berkata,
"Itu kan Kamar untuk Tuan Muda. lagipula di rumah ini saat ini hanya ada kita berdua jadi tidak perlu untuk berpura-pura dan tidur didalam satu kamar. aku yakin tuhan muda akan lebih nyaman dengan ini itulah kenapa aku sengaja memilih Kamar sebelah untuk menjadi Kamarku,"
Setelah mendengar stronghold itu perasaan aneka menjadi begitu sedih dan menyesal.
Menyesal kenapa dirinya minta pindah rumah segala, halo tahu dirinya malah akan berpisah kamar dengan Viola, masih mending bertemu orang-orang sialan di Keluarga William setiap hari.
Sungguh, hal-hal ini benar-benar di luar perhitungannya...
Akhhh...
Sekarang bagaimana?
Mereka berdua harus berpisah kamar!!
Bagaimana sekarang dirinya mengajak Viola untuk tinggal satu Kamar lagi?
Memikirkan masalah ini membuat Arka menjadi pusing sendiri.
__ADS_1
Ini jelas sebuah masalah besar!!!