
Mendengar pertanyaan dari adiknya, Yang sepertinya tahu identitas pria itu, jelas ini membuat dirinya penasaran.
"Memang siapa Pria itu?"
"Dia kan, CEO Baru Cavel Group, Apakah Kak Arka tidak tahu? Dia sudah menjadi CEO mereka sejak tahun lalu, Dia Lewis Cavel, Kakaknya Kak Viola,"
Setelah mendengar tentang identitas dari Pria yang menggandeng Viola itu, Arka merasa sedikit lega.
Dirinya sempat mengira jika itu mungkin tunangan Viola atau sesuatu.
Namun untunglah bukan, itu hanya Kakak Viola.
Namun waktu sudah berlalu begitu banyak...
5 tahun bukan waktu yang sedikit.
Tapi melihat bagaimana Viola memperlakukan dirinya dengan dingin seperti itu, membuat Arka jadi begitu sedih.
Sampai-sampai dirinya tadi sempat Blank, lupakan semua kata-kata yang ingin dirinya katakan pada Viola.
Hal-hal ini membuat Arka merasa sedikit takut untuk bertemu dengan dia lagi.
Ukhhh...
Dan lagi dalam pesta ini mungkin mereka akan bertemu lagi.
Dan begitulah mereka berdua lalu memasuki gedung Pesta itu.
Namun sangat beruntung, atau malah siap, Arka tidak bertemu dengan Viola lagi.
Atau lebih tepatnya, Arka hanya bisa melihat Viola itu dari jarak yang cukup jauh, tidak berani mendekat seperti sebelumnya.
Melihat secara diam-diam bagaimana dia mulai mengobrol dengan beberapa Klaien Penting di Pesta ini.
Perasaan Arka cukup rumit ketika melihatnya, melihat bahwa Viola benar-benar tampak sangat berbeda setelah Operasi Plastik.
Dia menjadi tambah cantik dan sangat memukau, bahkan daripada di video, penampilan asli yang dirinya lihat secara langsung bahkan lebih memukau.
"Kak Arka tidak coba untuk menyapa Kak Viola?"
Pertanyaan dari adiknya itu sekali lagi membuyarkan lamunan Arka.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin belum sekarang, aku masih butuh untuk menenangkan diriku sendiri. Memikirkan kata-kata yang ingin aku ucapkan padanya,"
"Baiklah jika itu mau Kakak. Toh di masa depan kita mungkin memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengannya,"
Jangan begitulah akhirnya pesta itu berjalan dengan lancar.
Dan Arka jelas sekali tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan Viola.
Dan sekali lagi hari-hari cepat berlalu.
Selama beberapa hari ini, ada juga beberapa pertemuan dengan Klaien-klaien penting, dan membahas project-project yang akan dikerjakan.
Seperti yang Louise katakan, Arka menjadi cukup sering untuk bertemu dengan Viola sebagai perwakilan dari masing-masing perusahaan mereka.
Namun sayangnya, seperti sebelum-sebelumnya, Viola terlihat menghindari semua tatapan Arka, bahkan berpura-pura Untuk tidak saling mengenal.
Arka sendiri, tidak memiliki keberanian untuk berbicara berdua dengan Viola.
Depan banyak orang tentu saja mereka tidak berbicara satu sama lain, lalu terlihat sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Namun jelas sekali, kalau Arka selalu mengintip kemana Viola.
Menatap wajah itu memang tidak bisa membuat dirinya bosan.
Astaga...
Namun dirinya tetap takut untuk menghadapinya secara langsung....
"Pak Arka, Bagaimana tentang project ini menurut Bapak?"
Pertanyaan dari klien itu membiarkan lamunan Arka, dirinya baru saja melamun dan memikirkan Viola, jadi dirinya tidak sempat mendengarkan apa yang klien di depannya ini bicarakan.
"Ah, maaf sebelumnya, Apakah bisa Bapak ulangi lagi apa yang anda katakan?"
Klien itu yang terlihat tidak diperhatikan, tentu saja merasa tersinggung.
"Saya sudah mengatakannya sebelumnya, namun Pak Arka tidak memperhatikan apakah anda menganggap saya ini tidak penting?"
Lihat kemarahan itu jelas Arka mencoba bersikap sopan dan meminta maaf.
"Lain kali Anda harus mendengarkan apa yang saya katakan. Lihat, sebelumnya saya sudah berbicara dengan Perwakilan dari Perusahaan Cavel, Clarissa itu, Dia benar-benar memiliki pendapat yang bagus tentang project ini, jika Bapak tidak benar-benar serius ingin memperhatikan mungkin project ini bisa jatuh ke tangannya,"
"Tidak, Pak. Ini saya akan mendengarkan dengan baik dan akan memberikan pendapat saya soal ini. Bapak lihat sendiri tentang project yang belakangan saya kerjakan, salah satunya adalah Pembangunan Pusat Perbelanjaan di Kota B. Proyek itu benar-benar sukses besar, sampai saat ini tempat itu menjadi sangat populer untuk beberapa kalangan baik yang muda atau dewasa,"
"Ya saya juga tahu kabar soal project itu, sejak peresmiannya dua tahun lalu project itu selalu menjadi bahan pembicaraan. saya Sebenarnya cukup tertarik dengan anda karena project itu yang sukses,"
"Tentu saja, Bapak tidak perlu terlalu khawatir, Bapak tidak salah pilih orang jelas, jika Bapak memilih bekerja sama dengan perusahaan kami, saya pasti akan bisa membuat proyek ini sesukses proyek saya sebelumnya,"
Dan begitulah Arka mulai meyakinkan klien itu tentang kompetensi yang dirinya dan perusahaannya miliki Dan mulai memberikan pendapatnya soal project yang dikatakan oleh Klaien itu.
Hal-hal yang Arka katakan sangat profesional dan membuat Klaein itu tertarik.
Viola yang berada di sisi lain meja yang saat ini sedang mengobrol dengan klien lain, sesekali akan menatap kearah Arka berada.
Melihat bagaimana dia sudah berubah, sekarang dia sudah tidak gugup di depan klien dan bahkan bisa berbicara dengan lancar untuk menarik hati klien.
Hal-hal benar-benar sudah berubah....
Lihat sosok itu jelas membuat hatinya sedikit bergetar.
Namun dirinya juga tidak tahu harus berkata seperti apa, hanya bisa lari dan menghindarinya....
Pada akhirnya pertemuan itu selesai tanpa Viola atau Arka saling berbicara satu sama lainnya.
####
Hari-hari sekali lagi berlalu, hari itu kebetulan adalah akhir pekan.
Arka merasa sangat bosan berada di rumah, karena terus kepikiran soal Viola.
Jadi daripada bosan, Arka berniat jalan-jalan mengunakan mobilnya untuk berkeliling kota.
Terlalu stress berada terus di rumah.
Jadi, tidak lama sampai Arka dah memasuki mobilnya itu dan mulai menaiki mobilnya untuk berkeliling kota.
Awalnya, tidak ada yang baru dari mengelilingi kota.
Suasana kota sungguh menyebalkan, Arka melihat disepanjang jalanan ada berbagai macam pasangan terlihat sedang bermesraan.
Itu tentu membuat dirinya merasa muak.
Ketika Arka berhenti di salah satu Taman, Arka juga tidak sengaja melihat sebuah Keluarga kecil yang terdiri dari Sepasang Suami Istri, lalu ada seorang anak kecil berumur sekitar enam atau tujuh tahun.
Juga, dirinya melihat sepasang Suami Istri itu mendorong masing-masing satu kursi dorong Bayi.
Si anak kecil, terlihat sangat asik mengobrol dengan orang tuanya, sambil sesekali akan melihat kedalam kuris bayi itu.
Arka tidak bisa berhenti untuk bertanya-tanya, apakah itu sepasang bayi kembar?
Pasti itu sangat lucu.
Dan anak kecil itu juga terlihat sangat lucu sekali.
Keluarga itu benar-benar terlihat lengkap, sangat bahagia tertawa satu sama lain menikmati kebersamaan dan kebahagiaan kecil mereka.
Hal ini membuat Arka merasa sedikit iri.
Arka mulai memikirkannya, jika seandainya Viola tidak pergi 5 tahun yang lalu...
Tidak, atau lebih tepatnya, jika mereka tetap tidak tahu soal Identitas Viola, Viola pasti masih akan berada di sisinya.
Saat itu adalah saat-saat paling indah untuk mereka berdua.
Cinta antara mereka baru saja tunggu.
Arka merasa, jika saat itu masih terus berlanjut, pasti cepat atau lambat, Viola akan jatuh cinta padanya.
Tinggal satu langkah lagi, mereka berdua menuju kebahagiaan.
Jika itu berlanjut lagi, dan akhirnya Viola jatuh cinta pada dirinya, mungkin setelahnya dirinya dan Viola akan menjadi sepasang Suami Istri yang bahagia.
Lalu berikutnya, mereka berdua pasti akan segera memikirkan untuk memiliki seorang bayi.
Bayi kecil yang mungkin akan mirip Viola jika perempuan, dan jika laki-laki mungkin akan mirip dengan dirinya.
Seorang bayi mungil anak mereka berdua.
Jelas itu pasti akan menjadi sesuatu yang sangat menggemaskan dan lucu.
Kemudian, mereka berdua hidup bahagia seperti itu, membesarkan seorang anak.
Dan setelah lima tahun berlalu, anak itu sudah cukup besar untuk bisa bermain sendiri.
Setelahnya, mungkin Keluarga mereka akan pergi ke taman seperti itu untuk menemani anak mereka bermain di akhir pekan seperti ini.
Seperti Keluarga Kecil yang terlihat bahagia itu.
__ADS_1
Seolah-olah bayangan dirinya dan Viola berada ditaman itu, bersama dengan anak mereka, mereka bertiga terlihat bahagia seperti itu, Keluarga Kecil yang bahagia.
Arka yang membayangkan nya awalnya tersenyum memikirkan itu semua pasti akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Namun berikutnya, ekpersi Arka jelas berubah menjadi kesedihan.
Karena dirinya sadar jika, kenyataan yang sesungguhnya tidak sebaik yang dirinya pikirkan.
Viola pergi darinya lima tahun lalu, meninggalkan dirinya sendirian.
Dia pergi tanpa mengatakan apapun, hanya meninggalkan selembar kertas perceraian.
Angan-angan indah dalam benaknya, hanyalah sebuah angan-angan yang saat ini tidak terwujud.
Dirinya dan Viola memiliki jalan mereka sendiri.
Dirinya sampai sekarang tidak tahu bagaimana perasaan Viola padanya.
Namun saat ini yang dirinya tahu, Viola lihat sekali menghindar dari nya.
Sekarang ketika memikirkannya hanya ada sebuah kenangan sedih.
Bahwa keluarga kecil yang dibuat oleh dirinya dan Viola benar-benar hanya dalam angan-angan.
Arka masih menatap kearah taman itu, dimana ada Keluarga Kecil disana, di merasa tidak tahan lagi.
Jadi, akhirnya Arka berniat untuk pergi dari sana, dia mulai menyalakan mesin mobilnya.
Disini membuat Arka merasa tidak nyaman apalagi dengan banyak pasangan keluarga atau pasang kekasih yang sedang menikmati kebersamaan mereka, yang benar-benar membuat dirinya iri.
Tapi Arka sangat bingung untuk pergi kemana.
Sampai dirinya tiba-tiba ingat sesuatu.
Bagaimana jika pergi ke Kota B saja?
Toh itu tidak begitu jauh dari sini.
Sebelumnya dirinya dengar ada Acara di Pusat Perbelanjaan yang dulu pernah menjadi Proyek di Perusahaannya, sedang mengadakan beberapa Event bagus, dan kebetulan dirinya di undang.
Tidak ada yang salah untuk coba menuju kesana....
Dengan begitu setelah menentukan tujuannya, Arka segera pergi ke Kota B.
####
Ternyata cukup memakan waktu juga perjalanan menuju kota B, kurang lebih sekitar dua jam Perjalanan.
Arka yang akhirnya tiba di Pusat Perbelanjaan itu, paling pertama mencoba mencari tempat duduk agar dia bisa bersantai.
Kebetulan, di dekat tempat Parkir ada sebuah stan minuman.
Disana kebetulan menjual beberapa jenis minuman dan es krim.
Sudah cukup lama dirinya tidak memesan es krim, mungkin untuk sesekali memesannya tidak apa-apa?
Setelah itu, Arka tentu saja segera memutuskan untuk memesan Es Krim dari Stan itu.
"Pelayan, saya pesan Es Krim Coklatnya satu, dengan ektra toping coklat dan cream,"
"Kakak, Aku pesan Es Krim Coklat dengan esktra toping coklat dan cream satu!!"
Arka awalnya yang memesan itu, cukup kaget mendengar ada seseorang yang memesan sesuatu yang mirip dengannya.
Dan ternyata ketika Arka mengegok dirinya melihat seorang anak lelaki kecil, yang kira-kira berumur kurang dari lima tahun, dia masih terlihat begitu kecil, namun dia sudah sangat lancar dalam memesan makanan sendiri?
Anak itu juga terlihat mengamati Arka yang memesan hal yang sama dengannya itu.
Mereka saling menatap satu sama lainnya, seolah mengamati lawan mereka dengan cermat.
Pelayan di toko minuman itu, sedikit tertawa ketika melihat dua pelanggan barunya itu.
Dan jika dirinya melihatnya lagi, sepertinya apakah itu sepasang Ayah dan Anak?
Untuk beberapa alasan raut wajah mereka sedikit mirip.
"Astaga, tentu saja aku akan segera mengambil kan pesanan kalian. Kalian sepasang Ayah dan Anak yang sangat lucu,"
"Dia bukan Ayahku!!" Kata anak kecil itu terlihat tidak terima.
"Dia bukan Anakku!" Kata Arka yang merasa tersinggung karena di tuduh itu.
Pelayan itu pacet melihat bagaimana dua orang itu saling memberontak.
Dirinya mulai berpikir, mungkin itu pertengkarkan Ayah dan Anak, anak-anak biasanya suka ngambek atau sesuatu pada Ayahnya.
Benar-benar sangat lucu.
Dirinya kembali menatap anak itu yang juga memiliki ekpersi binggung.
Arka lalu mulai melihat sekeliling, untuk mencari siapa orang tua dari anak ini.
"Adik kecil, mana orang tua mu?"
"Mama sedang mengalami ponselnya di Mobil, Mama benar-benar pelupa, musti kembali ke mobil segala, aku malas ikut Mama ke mobil, karena aku sudah sangat ingin makan es krim, jadi Mama membiarkanku memesan Es Krim duluan,"
Mendengar jawaban anak itu, Arka entah kenapa merasa ingin tertawa.
Padahal anak ini terlihat begitu kecil, namun sepertinya dia sangat pintar hingga Mamanya percaya untuk meninggalkannya disini sendirian.
Arka yang merasa tidak tahan melihat wajah lucu anak itu, segera mengelus rambut anak itu.
"Astaga, kamu terlihat begitu pintar, dan sangat lucu,"
Anak kecil itu yang di puji wajahnya menjadi sedikit memerah karena malu.
Arka melihat anak ini menjadi semakin gemas.
"Tentu saja, aku anak yang pintar!! Putra Kebanggaan Mamaku!!"
Dan tidak lama ketika Arka mengobrol dengan anak kecil itu, pesanan Es Krim mereka tiba.
Anak kecil itu terlihat begitu bersemangat ketika mengambil Es Krim itu, jadi tepat ketika anak itu sepertinya hendak mengambil uang di sakunya, Arka segera lebih dulu mengeluarkan dompetnya dan membayar pada Pelayan itu.
"Ini biar aku saja yang membayar Es Krim anak ini,"
Tentu saja Pelayan tidak menolaknya.
Anak kecil itu jelas merasa terkejut mendapatkan traktiran tiba-tiba.
"Paman aku membawa uang sendiri, jadi Paman tidak perlu membayarnya. Kata Mama, aku tidak bisa menerima hal-hal dari orang asing,"
Arka yang melihat anak itu menjelaskan hal itu dengan baik, tentu saja merasa cukup puas.
Sepertinya Ibu anak ini mengajarkannya dengan baik.
"Memang, tidak baik untuk menerima sesuatu dari orang asing, namun lihat ini, Paman hanya kebetulan membelikanmu es krim yang sama, karena ada diskon jika membeli dua,"
Anak itu yang sepertinya mencoba melihat kearah toko es krim lagi, mencoba mencari tulisan diskon.
Dirinya memang melihat beberapa hal tertulis disana, namun karena anak itu belum bisa membaca, jadi dia tidak tahu.
Hanya memikirkannya, mungkin saja benar, jika ada diskon.
"Baik, Terimakasih banyak Paman! Ini adalah es krim kesukaanku!!"
"Ini juga Es Krim kesukaan Paman. Mari duduk di kursi itu, sambil menunggu Mamamu, akan Paman temani,"
Setelahnya mereka duduk tepat didepan toko itu.
Anak itu terlihat sangat senang menikmati es krimnya, begitu pula dengan Arka.
Sambil menikmati es krim, Akra mencoba mengajak bicara anak itu, dan anak itu mulai menceritakan beberapa hal yang dia alami belakangan, seperti dirinya yang baru saja kembali dari luar negeri.
Dan bagaimana anak itu, bisa berbahasa Inggris juga berbahasa Indonesia.
Astaga...
Anak ini ternyata sangat pintar!!
Arka asik mendegarkan anak itu bercerita bahwa dia sangat suka berada disini, cuaca disini cerah dan indah.
Arka yang baru berbicara sebentar dengan anak itu entah kenapa menyukainya.
Sampai akhirnya Arka ingat kalau dirinya belum sempat menanyakan nama anak di depannya itu.
"Nama kamu siapa?"
"Aku, Arvio, Mama biasa memanggilku itu. Nama Panjangku, Arvio William,"
Mendengar nama itu Arka merasa sedikit terkejut.
Memang sebenanya, nama William cukup umum di manapun.
Hanya saja kebetulan sekali nama keluarga anak ini sama dengannya?
"Wahhh... Nama Paman juga kebetulan Arka William, kita memiliki nama belakang yang sama,"
Anak itu juga terkejut,
__ADS_1
"Benarkah itu Paman?"
Tidak lama setelah itu, ada seorang wanita yang datang, mereka berdua siapa melihat siapa orang yang datang itu.
Anak kecil itu langsung memeluk wanita yang datang itu.
"Mama, Mama sudah kembali? Lihat Mama, aku bertemu dengan Paman yang baik hati!!"
Anak itu lihat begitu ceria ketika bertemu dengan Mamanya itu.
Pandangan Arka jelas sekali bertemu dengan tatapan mata wanita itu, tatapan yang begitu dirinya kenal.
"Viola?"
"Tuan Muda Arka...."
Anak itu menjadi heran ketika melihat sepertinya mereka berdua saling kenal?
"Mama, Mama kenal dengan Paman itu?"
Viola menjadi terdiam tidak tahu harus berkata apa.
Dirinya tidak akan pernah menyangka jika bisa bertemu dengan Tuan Mudanya di tempat seperti ini apalagi dalam posisi dirinya membawa anaknya.
Arka dalam sepintas memiliki begitu banyak pemikiran, coba memikirkan segala sesuatu yang mungkin terjadi.
Nama anak itu kembali terngiang dalam benak Arka.
'Arvio William....'
Sekarang cukup masuk akal, kenapa dirinya entah kenapa memiliki perasaan yang begitu dekat dengan anak itu.
Namun...
Jika ini adalah Putranya....
Kenapa Viola selama bertahun-tahun menyembunyikan ini dari dirinya?
Arka disini juga bisa melihat jika Viola sekali lagi hendak menghindar dan pergi.
Namun Arka jelas menarik tangan Viola, lalu segera memeluk Viola.
Viola jelas merasa begitu kaget dengan pelukan tiba-tiba itu.
Arka lalu mulai segera berkata panjang,
"Viola.... Jangan pergi... Jangan pernah lagi pergi dariku... Aku masih begitu mencintaimu... Sangat mencintaimu, bahkan sampai detik ini perasaanku padamu tidak akan berubah..."
"Aku yakin kamu selalu memiliki penjelasan yang masuk akal kenapa kamu pergi... Aku selalu percaya padamu, aku percaya pada orang yang aku cintai. Dan lagi sampai sekarang kamu adalah Istriku, aku tidak pernah menceraikan mu, aku tidak pernah membawa surat itu ke pengadilan...."
"Karena aku masih sangat mencintaimu.... Berapapun waktu berlalu... Aku akan selalu menunggumu... Menunggu cintamu... Jadi jangan pernah pergi lagi dariku..."
Viola awalnya mencoba menahan perasaannya, karena memikirkan jika ini belum saatnya, ini riza memiliki masih berjalan dan belum selesai.
Hal-hal di Keluarga Cavel lebih rumit dari yang dirinya kira.
Belum lagi, awalnya ada hal-hal tak terduga yang terjadi soal Kehamilannya, yang membuat rencananya tertunda.
Berkat Alasan pergi untuk Operasi Plastik di Luar Negeri, dirinya bisa menyembunyikan soal Kehamilannya ini dari Keluarga Cavel, dan tentu saja ini semua berkat Kakaknya yang membantunya.
Sebenarnya dirinya juga tidak tahu bagaimana untuk menghadapi Tuan Mudanya ini...
Juga soal bagaimana dirinya harus menjelaskan semua ini...
Tentang hal-hal yang dirinya sembunyikan dari Tuan Mudanya...
Terutama soal Keberadaan Putra mereka.
Seorang anak yang selalu mengingatkan dirinya pada Tuan Mudanya itu, karena anak itu benar-benar mirip dengan sang Ayah.
Namun melihat bahwa bahkan tanpa penjelasan apapun, Tuan Mudanya masih begitu percaya pada dirinya, dan lagi masih sangat mencintainya, benar-benar membuat Viola merasa sangat terharu, hingga dirinya menangis, dan membalas pelukan hangat itu.
Dirinya sebenarnya sangat merindukan sosok Tuan Mudanya itu...
Hari-hari tanpa dia benar-benar sangat suram...
Berkat keberadaan putra mereka, yang juga memberi dirinya semangat untuk terus menghadapi semua ini...
Dengan sebuah harapan jika suatu saat nanti dirinya akan di persatuan dengan Tuan Mudanya itu.
Ya mungkin ini adalah cara takdir untuk menyatukan mereka.
Karena sudah menjadi seperti ini sepertinya tidak apa-apa untuk memberitahu semuanya.
"Tuan Muda... Aku... Sesungguhnya jika sangat merindukanmu... Aku tidak tahu bagaimana cara aku menjelaskan semua ini... Aku... Aku juga sangat mencintaimu... Aku sangat mencintai Tuan Muda Arka..."
Mendengar jawaban itu dari wanita yang dicintainya itu, Arka lepaskan pelukannya kemudian menatap langsung kepada mata Viola.
Mencari arti dari kata-katanya dari tantapan matanya.
Tatapan mereka berdua jelas sama-sama menunjukkan kerinduan.
"Viola...."
"Tuan Muda Akra...."
Seolah kata-kata tidak diperlukan lagi untuk keduanya saling mengerti.
Hanya dengan tatapan itu mereka berdua saling mengerti.
Jika perasaan mereka satu sama lainnya ternyata sama.
Arka yang merasa sangat bahagia itu, jelas langsung mencium Viola.
Itu adalah sebuah ciuman singkat, karena ada anak kecil yang langsung berada diantara mereka berdua.
"Paman? Apa yang Paman lakukan pada Mamaku?"
Dan kemudian akhirnya mereka berdua saling memandang, dan setelahnya pandangan mereka menuju kearah anak kecil itu.
Viola mengaguk, dan Arka jelas paham maksudnya.
"Arvio, ini adalah Ayahmu, Arka William,"
Arvio tentu saja menjadi terkejut menerima berita dadakan ini.
Dirinya selalu penasaran tentang sosok Ayahnya, namun Mamanya tidak pernah bercerita.
Hanya selau bilang, jika Ayahnya adalah sosok yang sangat keren dan hebat.
Dan sekarang ketika dihadapkan untuk bertemu dengan Ayahnya, tentu saja anak itu sangat senang, lulu sekarang memeluk Ayahnya.
Arka memeluk Putranya itu dengan penuh rasa haru, akan pernah mengira jika dirinya sudah memiliki seorang putra.
Dan sekarang keluargamu kecil miliknya berkumpul, dengan dirinya, Viola dan Putra mereka Arvio.
Jelas, Arka sangat sadar, dan saat ini masih jauh dari kata bahagia selamanya.
Karena dirinya juga sadar sepertinya Viola memiliki rencana sesuatu pada Keluarga Cavel.
Yang mungkin hal-hal itu menjadi rumit.
Namun kenapa Viola melakukannya?
Arka kembali menatap Viola, bahkan sebelum Arka mengatakan apa-apa, Viola sudah berkata,
"Tuan Muda... Aku akan segera menepati janjiku, tapi ini memang membutuhkan waktu,"
Arka hidungnya mengerti apa janji yang dimaksud itu.
"Jadi begitu, kamu melakukannya semuanya sendiri, demi aku. Sebelumnya aku mungkin memang bukan seseorang yang bisa kamu andalkan, namun sekarang aku berbeda, aku sekarang bisa kamu andalkan. Kamu tidak perlu sendirian lagi untuk melaksanakan rencanamu itu, aku akan berada di sampingmu dan membantumu melaksanakan semua rencanamu itu..."
Dan begitulah mereka bertiga akhirnya berkumpul seperti itu.
Dan dengan bersama-sama semua hal pasti akan bisa dipecahkan.
Kebahagiaan yang nanti akan mereka temukan.
Dengan cinta dan kepercayaan mereka sampai saat ini, mereka akan bisa mengatasi semua itu.
Untuk menemukan kebahagiaan mereka bersama-sama, menuju jalan bahagia mereka, bahkan walaupun itu akan menjadi jalan yang sulit.
Cinta yang abadi...
...****************...
...Tamat...
...****************...
Catatan Penulis: Terimakasih atas dukungannya bisa sejauh ini berkat kalian semua pada Pembaca Setia, yang selalu setia mendukung cerita ini sampai akhir, dan selalu membela Like, Komentar, Vote atau Gift nya.
Semoga kalian suka dengan endingnya, 😆
Mungkin kalau ada waktu bakal aku buat Bonus Episodenya, Episode ini segaja panjang, biar kalian cukup puas, 😆
Pokoknya, Terimakasih pada semuanya, sudah membaca cerita ini sampai sini.
Mari bertemu lagi di Karya ku yang lainnya,
__ADS_1
~22 September 2022~