Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 20: Mimpi Buruk


__ADS_3

Hari ini akan ada rapat dengan calon Klaien Proyek yang akan dilakukan oleh Arka.


Ini akan membahas soal desain atau hal-hal yang akan Klaien ini harapkan.


"Tuan Muda tidak boleh gugup, saya sudah menentukan daftar pertanyaan yang nanti akan Tuan Muda ajukan. Nanti bertanya saja sesuai yang saya sarankan, atau coba mengembangkan pertanyaan yang sudah saya tulis,"


Arka menatap lembaran kertas di tangannya.


"Tentu saja, aku kurang lebih sudah mengerti maksud pertanyaan-pertanyaan ini."


"Baik, saya juga akan menemani Tuan Muda didalam, jadi jangan gugup,"


Arka lalu tersenyum,


"Tentu saja,"


Dengan itu mereka berangkat menuju lokasi rapat yang akan diadakan.


Itu terletak di salah satu ruang pertemuan disalah satu hotel milik Klaien.


Yang mengejutkan Arka saat sampai disana, hanya ada satu saingan yang sepertinya hadir disana, bukankah seharusnya akan ada beberapa Perusahaan lagi yang akan ikut Tender?


Kenapa sepertinya hanya ada dua termasuk Perusahaannya?


Arka memasuki ruangan, lalu duduk dengan tenang disana, sekilas menatap seorang wanita yang duduk di kursi yang berlawanan arah dengannya, terlihat seperti dia adalah pemimpin proyek ini.


Wanita didepannya cukup cantik, naik entah kenapa memancarkan aura dingin yang mengerikan.


Arka tidak berani menyapa, hanya bisa tersenyum, dia lalu berbisik pada Viola,


"Viola, kamu pikir dia perwakilan dari Keluarga Cavel?"


"Saya rasa begitu, tapi Tuan Muda harus tetap hati-hati, saya melihat seperti orang didepan cukup berbahaya,"


Itu benar, Arka juga bisa melihat jika wanita didepannya ini dikawal oleh rombongan pria berjas hitam, mereka tadi menunggu diluar, tadi Arka kaget saat melihat wajah-wajah mereka.


Karena terlihat seram dibalik kacamata hitam, dengan beberapa orang sepertinya memiliki tato.


Yang paling mencolok, sepertinya beberapa tato memiliki bentuk yang sama, namun berada di lokasi yang berbeda.


Ada sebuah tato yang berada ditanga salah satu pengawal itu.


Apakah itu gambar sebuah naga?


Entah kenapa dirinya merasa gambar naga ini terlihat sangat familiar?


Namun dimana dirinya pernah melihatnya?


"Tuan Muda Arka?"


"Ya, ya. Aku akan fokus,"


Arka tahu ini bukan saatnya dirinya memikirkan soal tato Naga yang dilihatnya barusan.


Tidak lama klaien penting itu datang, dan mulai membuka rapat.


"Selamat datang, semua. Saya akan memulai rapat kali ini,"


Dengan itu rapat dimulai dengan tenang, Arka juga mengajukan beberapa pertanyaan, disisi lainnya, tim lawan juga sempat beberapa kali bertanya.


Namun masalah sesungguhnya baru dimulai sekarang,


"Sebenarnya saya sudah menentukan Arsitek mana yang ingin saya tujukan, namun orang ini cukup sulit untuk dibujuk, dia sebenarnya bukan dari Perusahaan Arsitek besar, hanya saya harap salah satu dari kalian kalau bisa membujuk orang ini, namun kalau memang gagal, yah mau bagaimana lagi, hanya jika memang mendapatkan orang ini, jelas pertimbangan saya akan meningkatkan,"


Dia lalu mulai mengeluarkan sebuah data, disana ada gambar seorang lelaki parubaya.


"Baik Pak Presdir, saya akan mendapatkan kerja sama dengan orang ini," kata Arka dengan Impulsif, itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari saingan juga dari Pak Presdir itu.

__ADS_1


"Ahaha.... Kamu sangat bersemangat sekali, kamu perwakilan dari William Group kalau tidak salah kamu cucu tertua mereka, Arka William,"


"Benar, seperti Bapak Presdir cukup tahu,"


"Saya suka dengan gayamu yang penuh semangat ini,"


"Terimakasih banyak Pak Presdir, saya tidak akan mengecewakan Bapak," kata Arka sambil tersenyum.


Disisi lainnya, wanita perwakilan CVL Group itu lalu juga angkat bicara.


"Perwalian dari William Group sepertinya hanya suka banyak bicara, aku dengar perwakilan kali ini adalah Tuan Muda tidak berguna dari Keluarga William, namun aku lihat seperti gosip yang beredar tidak punya kemampuan dan hanya banyak bicara. Tentu saja saya dan Tim saya yang akan mendapatkan Kerja Sama dari Arsitektur itu,"


Arka yang awalnya tersenyum itu, lalu melotot kearah wanita itu.


"Jaga bicara anda, Nona..." Kata Arka terputus lalu melihat kearah dokumen dimeja tertulis nama wanita itu, Marsela Cavel.


"Ah maksud saya, Ibu Marsela, saya akan membuktikan tentang kebenarannya apa yang saya katakan,"


"Kamu! Kamu tidak sopan! Siapa yang kamu panggil Ibu? Aku ini masih muda! Dan kamu, kamu tidak tahu siapa aku Hah? Aku adalah calon Pewaris CVL Group," Kata wanita itu dengan nada penuh emosi.


Arka tentu saja sengaja memanggilnya seperti itu, ya Arka memang paling bisa membuat orang emosi.


Namun mendegar balasan omongannya barusan itu, Arka lalu tertawa,


"Ah? Begitukah? Kalau begitu, kamu seharusnya juga tahu kalau aku juga merupakan calon Pewaris William Group,"


Melihat ejekan dari Arka itu, wanita itu juga kembali mengejek Arka,


"Kamu? Menjadi Pewaris William Group? Memang, sepertinya sekarang William Group sudah sangat terbelakang sampai menjadikan Tuan Muda tidak berguna seperti mu sebagai pewarisnya,"


Arka yang emosi itu lalu berdiri,


"Diam kamu! Dan berhenti memanggilku tidak berguna!!"


"Aku hanya mengatakan kenyataan saja,"


Lalu Viola ikut berdiri dan berkata,


"Maafkan ketidak sopanan kami, Tuan Muda Arka memang masih baru dalam proyek jadi beliau memang masih bersemangat untuk perencanaan proyek ini, maaf jika sifat beliau menyinggung Nona Marsela, jangan terlalu diambil hati, mari Perusahaan kita akan bersaing dengan adil dalam hal ini,"


Viola berkata dengan sangat sopan, dan meminta maaf, dengan baik, dan akhirnya membuat Marsela mau tidak mau kembali duduk, karena memalukan juga jika bertengkar didepan calon klaien.


Namun sebenarnya, Marsela cukup ketat ketika melihat wajah orang yang berdiri itu.


Dia memiliki wajah terbakar di sebagian wajahnya, namun disisi wajah yang tidak terluka, wajah itu cukup familiar.


Ini seperti wajah seseorang yang Marsela kenali.


'Sedikit memiliki kemiripan dengan wanita sialan itu?'


Ya, Marsela tiba-tiba teringat wajah Ibu Tirinya.


'Lupakan, mungkin ini hanya perasaanku saja,'


Dengan itu, rapat itu berkahir dengan tenang.


Arka memutuskan untuk keluar duluan bersama dengan Viola.


Namun sekali lagi, ketika tiba dipintu dia melihat rombongan berbaju hitam itu, dengan tato naga yang familiar.


Marsela yang juga keluar dengan Asistennya, melihat Arka menatap bodyguardnya itu lalu berkata,


"Astaga, Apakah Tuan Muda ini takut pada para pengawalku?"


Arka lalu mengalihkan tatapannya pada wanita itu, lalu berkata dengan dingin,


"Siapa yang takut? Aku hanya melihat bagaimana para pengawal mu ini memiliki tato naga yang begitu jelek, sangat jelek benar-benar merusak mataku hanya dengan melihatnya,"

__ADS_1


Tentu saja Marsela marah, Tato Naga itu adalah simbol dari Keluarga Cavel, bagaimana itu bisa dikatakan jelek?


"Apa katamu?"


"Sudahlah, ayo Viola kita segera pergi. Tidak ada gunanya berbicara dengan wanita tua itu,"


Marsela juga menjadi emosi, namun ditenangkan oleh Asistennya.


"Nona Marsela, jangan terbawa emosi sekarang, jika Nona memang membenci Tuan Muda itu, kita akan bisa memberinya pembalasan nanti,"


"Hpmh. Kamu benar, aku ingin Tuan Muda sombong itu diberi pelajaran, benar-benar berani menghina Keluarga Cavel kami,"


####


Ketika sampai di mobil, Viola mulai marah dengan Arka,


"Tuan Muda, sudah saya bilang sebelumnya untuk tidak bersikap Impulsif dan membuat masalah, namun apa barusan? Tuan Muda benar-benar membuat masalah dengan saingan kita,"


"Hphm, hanya wanita barusan begitu Sombong aku tidak menyukainya, lagian dia dulu yang menyingungku, aku sangat kesal dan marah,"


"Sudah saya bilang agar Tuan Muda lebih bisa mengendalikan emosi,"


"Tapi Viola aku benar-benar tidak tahan!"


Viola hanya bisa menghela nafas lelah melihat kelakuan Tuan Muda nya ini.


Hanya bisa berharap jika tidak ada hal-hal buruk yang terjadi berkat provokasi berani dari Tuan Mudanya ini.


Dan hari itupun berakhir dengan cepat.


Ketika malam tiba, hujan diluar sangat deras, membuat Arka yang baru pulang dari Kantor itu merasa tidak nyaman.


"Aku benci hujan...."


Memikirkan Hujan, Arka akan selalu teringat hal-hal buruk.


Seperti hari kematian Mamanya, itu adalah hari hujan dengan badai petir seperti ini.


Melihat hari hujan ini, ketika Arka tidur itu terbawa dalam mimpinya.


Mimpi paling buruk yang Arka alami....


Dalam mimpinya, dirinya berada dalam ruangan gelap, hanya ada satu lubang kecil untuk mengintip.


Dalam mimpinya, itu terdegar suara hujan yang begitu deras juga suara kilat yang menyambar.


Arka yang seolah kembali kedalam tubuh kecilnya itu, hanya bisa meringkuk ketakutan dalam ruangan kecil itu.


Dari balik lubang, juga hanya ada kegelapan....


Lalu adegan paling menakutkan terlihat dari sana....


Mamanya terduduk dilantai dengan lemah, lalu seorang Pria misterius menodongkannya pistolnya....


Dor


Suara pistol itu begitu keras, bersama dengan munculnya kilat memperlihatkan saat dimana peluru pistol itu menembak Mamanya, bersama dengan darah yang mengucur keluar begitu deras, dan tubuh Mamanya mulai terjatuh perlahan kelantai.


Dari kilat-kilat yang menyambar membuat Arka kecil yang ketakutan itu melihat sedikit kearah para pria misterius, dalam kegelapan salah satu tangan dari pria-pria Misterius itu terlihat dalam bayangan samar....


Itu adalah simbol Naga....


"Tidak..... Mama....."


####


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2