
Ini adalah pagi yang baru, ketika membuka matanya, hal pertama yang Arka rasakan adalah kepalanya yang pusing, dan begitu lelah.
Ketika Arka berniat mengerakan badannya, dirinya bisa merasakan sebuah pelukan dari kulit hangat.
Tepat ketika Arka menatap kesamping, dirinya melihat wajah Viola yang memeluknya erat, saat ini wajah Arka ada ditempat yang nyaman namun tidak terkatakan.
Menyadari posisinya, dan merasakan kulit hangat, Arka akhirnya sadar, dan meminta ketujuhnya yang tidak mengenakan apapun, dan juga melihat Viola di sampingnya yang juga tidak mengenakan apapun.
Sepintas, Arka menjadi panik dan berteriak, Kaget
"Akhhhhhhh...."
Teriakan itu membangunkan Viola dari tidurnya.
Viola sendiri masih sedikit linglung dan tidak sadar, berkata,
"Tuan Muda, jangan membuat keributan dipagi, hari. Ada apa?"
Namun sebelum Viola menerima jawabannya, Dia menatap kearah Arka, yang saat ini tidak mengenakan apapun dan hanya memakai selimut.
Itu membuat Viola akhirnya ingat bagaimana semalam....
Dirinya kehilangan hal-hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Perasaan Viola menjadi cukup rumit, mengigat perlakuan Tuan Mudanya semalam...
Dirinya tidak akan pernah mengira akan ada hari, dimana dirinya dan Tuan Mudanya akan tidur bersama....
Memikirkan semalam soal tindakan Arka, tiba-tiba perasaan Viola menjadi rumit.
Arka yang panik, lalu berkata,
"Viola... Itu... Aku tidak tau soal semalam... Aku...."
Arka tidak tahu harus berkata apa.
Viola dengan nada marah lalu mulai bertanya pada Arka,
"Tuan Muda... Kenapa Tuan Muda melakukannya padaku? Kenapa.... Aku tahu, semalam Tuan Muda masih tidak terlalu mabuk, Tuan Muda masih ingat dan bisa menyebut namaku! Kenapa, Tuan Muda melakukan itu padaku? Kenapa?"
Mendapatkan pertanyaan beruntun dari Viola itu, otak Arka tidak bisa merespon dengan benar.
Tidak tahu harus menjawab seperti apa.
Selamam badanya terasa sangat tidak nyaman dan membuat dirinya tidak bisa menahannya, apalagi ada Viola, wanita yang begitu dirinya cintai.
Bagaimana cara dirinya harus menjawab ini?
Kalau Viola tahu, soal dirinya yang memiliki pikiran dan hal-hal seperti itu soal Viola...
Apakah Viola akan marah?
Kebingungan merasuki pikiran Arka.
"Tuan Muda! Tolong jawab aku!!"
"Viola... Aku... Semalam...."
"Semalam Tuan Muda menyebut namaku, tahu jika itu aku, namun kenapa Tuan Muda tetap memaksaku?"
"Aku...."
"Apa?"
Mendengar bentakan Viola, Arka menjadi semakin cemas.
"Kamu.... Kamu Istriku... Itu karena kamu Istriku, bukankah wajar jika kita melakukannya? Apa yang salah dengan itu? Anggap saja itu sebagai salah satu Tugas tambahanmu sebagai Istriku,"
Dengan kata-kata konyol itu, Viola langsung menampar Arka.
"Aku tidak pernah mengira kata-kata seperti itu bisa datang dari mulut Tuan Muda! Apakah Tuan Muda tidak ingat? Kita hanya pura-pura menikah!! Ini adalah Pernikahan Kontrak!!"
"Viola aku...."
Arka sekarang sadar jika penjelasannya malah membuat segalanya menjadi rumit.
Viola mengambil baju handuk di laci dan segera pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Meninggalkan Arka sendirian di tempat tidur dengan ekpersi begitu sedih dan terpukul.
Arka terus menyalahkan dirinya.
Kenapa dirinya semalam bisa seperti itu?
Harusnya dirinya lebih bisa mengendalikan diri.
Ini semua salahnya...
Harusnya tidak seperti ini.
Bagaimana jika...
Bagaimana jika Viola membencinya?
Bagaimana ini?
Arka begitu takut, lalu mencengkeram erat selimut itu, dan melemparnya karena marah.
Arka mulai melihat sekeliling, dimana ada baju-baju dirinya dan Viola yang berantakan, terutama baju Viola yang sobek.
Lalu menatap kearah tempat tidur, ada noda darah disana....
Semakin memikirkannya, membuyarkan Arka semakin bersalah.
Tentu saja Viola akan marah, terutama setelah kesuciannya dirinya ambil seperti itu.
Harusnya, malam pertama mereka bukan menjadi seperti ini...
Itu harusnya menjadi malam yang indah ketika mereka berdua akhirnya saling mencintai, dan saling berbagi cinta mereka.
Harusnya itu seperti itu....
Namun semuanya menjadi berantakan seperti ini.
Dirinya ini memang sampah!!
Bahkan tidak berani berkata jujur pada Viola dan malah mengatakan hal-hal tidak jelas yang membuat Viola marah.
Memikirkan tatapan kebencian dan kemarahan Viola barusan, Arka mulai sedikit menagis.
Kenapa dirinya bisa begitu cegeng?
Air mata seolah tidak mau berhenti.
Dirinya ini laki-laki!!
Kenapa menagis...
Tapi memikirkan jika Viola akan membencinya seumur hidup, membuta Arka begitu ketakutan.
Viola...
Bagaimana jika dia tidak ingin bertemu denganku lagi?
Waktu, terus berlalu...
Arka masih meringkuk di tempat tidur tidak bergerak.
Bahkan sampai tidak sadar kalau pintu kamar mandi sudah terbuka.
Viola sudah selesai mandi.
Selama dikamar mandi begitu lama, Viola memiliki banyak pemikiran rumit.
Soal bagaimana dirinya harus menghadapi Tuan Mudanya.
Dirinya masih merasa marah, bagaimana Tuan Mudanya yang begitu dirinya percayai bisa berbuat seperti itu padanya, dan memaksa dirinya semalam...
Ini...
Benar-benar menyakitkan untuk Viola.
Namun ketika Viola masih dalam pemikiran yang rumit, melihat Arka yang menagis di tempat tidur, perasaan Viola menjadi semakin kacau.
Ya.
__ADS_1
Harusnya dirinya paham, dan tidak bisa menyalakan Tuan Mudanya.
Dari awal dirinya tahu, jika ada seseorang yang mengincar Tuan Mudanya...
Berniat berbuat jahat padanya.
Tuan Mudanya selalu begitu malang sejak dia masih kecil.
Semua orang selalu ingin mencelakakannya.
Belum cukup, dulu ketika dia masih begitu kecil melihat Ibunya sendiri dibunuh didepan matanya....
Dan belum cukup, Ibu Tirinya diam-diam selalu mencoba membuat Tuan Mudanya menjadi bodoh dan gila.
Bahkan dulu sempat ada kejadian dimana Tuan Mudanya hampir mati terbakar.
Tuan Mudanya selalu takut dengan gelap dan ruangan sempit, namun beberapa orang selalu menggoda dan pernah memasukannya kedalam lemari untuk menakutinya.
Walaupun Tuan Mudanya selalu melawan, namun semua orang tetap selalu tidak pernah menyerah ingin menjatuhkan Tuan Mudanya.
Di setiap kesempatan, selalu ada hal-hal sial yang menyertai Tuan Mudanya.
Bahkan, beberapa orang di belakang Tuan Mudanya itu, selalu berbicara hal-hal buruk tentangnya.
Bahkan, hari itu ketika dirinya dan Tuan Mudanya harusnya bisa menikmati 'Bulan Madu' ada seseorang yang menjebak mereka untuk membuat Tuan Mudanya kembali ke Villa dimana Ibunya terbunuh.
Membuat Tuan Mudanya bermimpi buruk, dan teringat lagi hal-hal menyakitkan yang membuatnya Truma.
Dan malam ini, ada orang yang berniat menjebak Tuan Muda dengan Trik-trik murahan seperti ini, ini pasti untuk menjatuhkan nama Tuan Mudanya lagi.
Beberapa skema tersembunyi lagi.
Ini salahnya, tidak bisa menjaga Tuan Mudanya dengan baik.
Terutama melihat Tuan Mudanya seperti itu.
Dirinya sangat tidak menyukai melihat Tuan Mudanya menjadi seperti itu.
Dan setelah memikirkan beberapa pemikiran panjang, Viola menghampiri kembali Arka.
Arka yang masih menutupi wajahnya dengan bantal itu, tiba-tiba merasakan sebuah pelukan, membuat dirinya mulai menatap kearah orang yang memeluknya.
Tentu saja ini, Viola.
Melihat wajah Viola, Arka tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Viola... Kamu pasti membenciku..."
Viola mengeleng-gelengkan kepalanya, dan memeluk Arka lebih erat.
"Aku tidak bisa membenci Tuan Muda. Jadi Tuan Muda tidak perlu sedih lagi oke?"
"Tapi Viola aku...."
"Tidak apa-apa, hal-hal sudah terjadi."
"Viola... Maafkan aku... Maafkan aku..... Maaf..."
Arka kembali merasa bersalah, masih menyalahkan dirinya sendiri.
"Taun Muda tenang, tidak apa-apa,"
Pagi itu, Viola mencoba menenangkan Arka, sambil mencoba menstabilkan emosinya juga.
Jadi setelah malam sebelumnya...
Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti sebelumnya?
Viola juga tidak tahu.
Tiba-tiba memikirkan kejadian semalam, dirinya akhirnya sadar, jika Tuan Mudanya bukan lagi anak kecil yang lebih muda darinya, dia sekarang adalah seorang laki-laki yang sudah dewasa, dan dirinya adalah seorang Wanita.
Mereka tidak seharusnya...
Bisa seperti sebelumnya...
Ini...
__ADS_1
####
Bersambung