Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 32: Bersiap ke Pesta


__ADS_3

Hari sangat cepat berganti, kali ini sudah minggu malam.


"Tuan Muda, apakah Tuan Muda lupa jika hari ini ada Pesta?" Tanya Viola pada Arka yang saat ini masih bermain dengan ponselnya.


"Ah, ya ampun. Aku hampir lupa, sudah jam berapa ini?"


"Masih jam setengah tujuh, Pesta masih dimulai jam 8 malam,"


"Masih aman kalau begitu, mari siap-siap, Pestanya di Hotel Y kan?"


"Benar, Tuan Muda,"


"Pesankan Kamar Sekalian, tempat itu jauh, nanti pasti bakal tengah malam selesainya, terlalu malas bolak-balik,"


"Sebentar, saya akan coba pesankan,"


Sambil menunggu Viola selesai memesan, Arka segera pergi ke Kamar mandi untuk mandi dengan air hangat yang sudah di siapkan.


Di Kamar Mandi, Arka masih merenung, soal hal-hal yang dikatakan Louise kemarin, cara untuk mendekati Viola.


Sepertinya memang sebaiknya ambil saat yang pas ketika Bulan Madu nanti deh.


Walaupun ini tanggal merah, tapi tetap saja masih ada beberapa hal yang harus di hadiri seperti Pesta Malam ini.


Sebenarnya sangat malas untuk ikut, namun demi lebih kenal banyak orang penting, dirinya harus tetap ikut.


Tadi Viola juga sudah menyiapkan, beberapa bahan pembicaraan yang sempat dirinya hafalkan untuk pesta.


Topik-topik begitu banyak sampai membuat dirinya pusing hanya membacanya.


Namun mau tidak mau, Arka harus tetap menghafalnya.


Tidak lama kemudian, Arka selesai mandi kemudian keluar dari sana, menuju ke ruang ganti pakaian.


Ketika dia Keluar dari Kamar mandi, dirinya tidak melihat Viola.


Apakah Viola bersiap-siap juga di kamarnya?


Mungkin saja.


Bagaimanapun juga ini merupakan Pesta Pertama yang mereka hadiri sebagai Pasangan Suami Istri.


Membayangkan ini membuat Arka berdebar sendiri.


Lalu, Arka mulai mengambil Set Pakaian yang sudah di siapkan Viola sendirian.


Melihat set pakaian berwarna biru muda itu, Arka cukup puas.


Segera, Arka melepaskan handuknya, membuat Arka tidak mengenakan apapun, dia bersiap mau memakai ****** ***** yang juga sudah di siapkan disana.


Menatap celana berwarna biru tua, ekpersi Arka menjadi lebih rumit.


Setelah memikirkannya kebelakang, ini benar-benar terlau memalukan.


Apakah Viola yang menyiapkan ini juga?


Akhhh...


"Tuan Muda...."


Panggilan Viola yang tiba-tiba memasuki ruang ganti itu membuat Arka kaget sampai melepaskan celana itu ke wajah Viola, dia segera refleks menutupi bagian tertentu dibawah sana dengan tangannya.


"Viola!! Kamu kalau masuk ke sini ketuk pintu dulu!! Jangan masuk tiba-tiba,"


Viola awalnya memasang ekpersi kaget melihat tubuh Tuan Mudanya yang tidak mengenakan apa-apa itu, terteguh sejak, lalu segera menormalkan ekpersinya kembali.


Lalu mengabil celana yang barusan jatuh kelantai setelah mengenai wajahnya.


"Saya kira Tuan Muda membutuhkan bantuanku untuk memakai baju. Dan soal Celana ini, saya akan segera ambilkan gantinya, ini sudah jatuh dan kotor,"


"Akhhh!! Tidak usah, tidak usah. Aku akan memilih celana sendiri, pergi-pergi sana," kata Arka merasa malu.


"Tuan Muda tidak perlu malu, tidak ada bagian dari Tuan Muda yang belum pernah aku lihat."


"Kamu... Kamu..... Kamu belum melihat semuanya!! Sudah aku tidak peduli! Cepat keluar! Lain kali ketuk pintu dulu!" Perintah Arka dengan nada panik.

__ADS_1


Viola yang melihat sikap aneh Tuan Mudanya itu, lalu segera keluar dengan tenang.


Setelah beberapa masalah selesai, akhirnya Arka keluar dari kamar ganti, dengan pakaian rapi.


Sepintas, ketika Viola menatap Arka dengan set pakaian berwarna terang itu dirinya cukup terteguh.


"Apa? Apa?"


"Tuan Muda sangat tampan," kata Viola dengan jujur secara refleks.


Mendengar pujian tiba-tiba dari Viola itu, Arka jadi merasa malu sendiri, telinganya sedikit memerah.


"Hmhp, tentu saja aku Tampan, apa kamu baru menyadarinya?"


Namun Viola bukannya membalas ucapan Arka, namun malah mendekatkan dirinya kearah Arka, membuat Arka merasa berdebar-debar tiba-tiba.


Jarak wajah mereka sudah cukup dekat tinggal beberapa centimeter.


"Lihat, Dasi Tuan Muda sedikit salah, saya akan membenarkannya,"


Melihat Viola hanya ingin membenarkan dasi miliknya, perasaan Arka tiba-tiba kecewa.


Sial apa yang barusan dirinya pikirkan?


Apakah dirinya harus memikirkannya bahwa Viola ingin mencium dirinya karena dirinya sangat tampan dengan pakaian ini?


Akhhh...


Menatap wajah wanita di depannya ini, tetap saja detak jantung Arka masih tidak stabil.


Lalu tiba-tiba pemikiran lain muncul,


"Aku pikir, salah satu Tugas Istri juga menyiapkan pakaian untuk Suaminya seperti ini,"


Viola yang sudah selesai itu, lalu menatap Tuan Mudanya, cukup kaget dengan kata-kata Arka barusan.


"Itu benar, saya sekarang Istri Tuan Muda, apakah saya harus melakukan beberapa hal sebagai seorang Istri untuk Tuan Muda?"


Tanpa banyak berpikir, Arka lalu berkata,


Viola lalu menghela nafas panjang,


"Apakah ini kerja tambahan lagi?"


"Hey! Kenapa kamu mulai mengeluh?"


"Tidak, saya tidak mengeluh. Jadi apa Tugas Tambahan ini yang harus saya lakukan?"


"Tugas seorang Istri?"


"Ya, apa Tuan Muda?"


Tiba-tiba pikiran Arka melayang jauh, memikirkan sesuatu seperti 'Melayaniku di Tempat tidur,'


Namun tentu saja Arka tidak akan mengatakannya, atau mungkin dirinya akan dapat Tamparan dari Viola.


"Sudah lupakan saja, sebaiknya kita segera pergi dari sini,"


"Tentu saja,"


Lalu Arka baru ingat sesuatu, menatap Viola.


"Ada apa, Tuan Muda?"


"Kamu memakai set ini?"


Viola saat ini memakai set Jas seperti ketika bias Viola bekerja.


"Saya hari ini hadir sebagai Asisten Tuan Muda,"


"Tidak, Tidak Viola. Kamu harus hadir sebagai Pasanganku, sebagai Istriku,"


"Tapi Tuan Muda...."


"Tidak ada tapi-tapian!!"

__ADS_1


"Tapi saya tidak menyiapkan gaun untuk malam ini...."


Arka jadi ingat, memang Viola tidak memiliki gaun-gaun untuk pesta seperti kebanyakan wanita di Luar sana.


Namun dirinya tidak bisa membiarkan Viola datang seperti Asistennya.


Hah....


Harusnya dirinya membelikan banyak gaun untuk Viola.


Tapi Viola selalu tidak suka, dari dulu seperti itu


Tapi mulai hari ini, barbeda, karena Viola adalah Istrinya, hal-hal itu akan di butuhkan dimasa depan, jadi Viola tidak akan bisa menolak.


"Sebentar, ayo ikut aku,"


Arka tiba-tiba memiliki sebuah ide dalam kepalanya.


Lalu mengajak Viola berkeliling, sampai akhirnya tiba disalah satu Ruangan.


Ketika memasuki kamar itu, Viola sedikit terteguh, apalagi ketika Arka mulai membuka pintu lemari dalam ruangan itu.


"Walaupun gaun-gaun ini sudah lama, tapi aku rasa ini masih terlihat sedang Tren sekarang, kenapa kamu tidak memilih satu?"


"Tapi, Tuan Muda... Ini milik Almarhum Ibu Tuan Muda...."


Menatap kamar ini, selalu membuat Arka ingat dengan semua kenangan Almarhum Mamanya yang sudah meninggal.


Ini adalah perasaan yang rumit.


Namun itu dibutuhkan.


Arka lalu tersenyum dan menjawab,


"Beberapa gaun-gaun ini masih ada yang baru dan belum pernah di pakai. Mamaku selalu memiliki hobi mengoleksi gaun-gaun indah, lagipula di masa depan tidak ada lagi yang akan memakainya,"


Terlihat ada ekpersi kesedihan ketika Arka mengatakan hal-hal itu.


Lalu Arka kembali melanjutkan,


"Dan karena ini kondisi darurat, kamu bisa memakainya dulu, besok-besok aku akan membelikan mu gaun-gaun yang tidak kalah indah dengan gaun-gaun ini,"


Melihat ekpersi Tuan Mudanya, akhirnya Viola berkata,


"Baik, Tuan Muda."


Lalu Viola mulai melihat-lihat gaun-gaun itu.


Violaa selalu merasa kalau dirinya tidak cocok dengan gaun-gaun indah seperti ini, apalagi dengan wajah ini...


Sedikit memalukan jika memakai gaun indah dengan wajah ini, pasti akan sangat tidak cocok.


Dirinya takut membuat malu Tuan Mudanya.


Namun....


"Viola, lihat gaun biru muda ini? Ini pasti terlihat cantik ketika kamu memakainya, ini juga akan serasi dengan baju yang aku pakai, mari di coba," kata Arka sambil tersenyum terlihat sangat senang dengan pilihannya.


Melihat senyuman itu, tentu saja Viola tidak jadi mengatakan hal-hal yang dirinya pikirkan sebelumnya, karena itu pasti akan membuat Tuan Mudanya marah.


Senyuman yang begitu hangat, dan selalu menghagatkan hatinya.


Sama seperti pertemuan pertama mereka dulu sekali....


Pertemuan dalam ingatannya yang jauh dan sedikit samar-samar...


Seolah, dalam hidupnya yang selalu hitam putih itu, ada cahaya warna-warni yang muncul.


Dan ada keinginan untuk selalu melindungi cahaya itu agar tetap berkilau warna-warni, dan tetap indah....


"Tentu saja, apapun yang Tuan Muda inginkan,"


Ya, dirinya sudah lama bertekad untuk tidak ada yang akan membiarkan ada orang yang menyakiti Tuan Muda nya.


####

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2