
Angela masih terpatung disana tidak merespon,
"Tunggu apa katamu? Apa aku tidak salah dengar?"
Viola hanya menghela nafas lelah, lalu berkata,
"Anda tidak salah dengar, Nona Angela, aku adalah Istri, Arka. Jadi ada baiknya Nona tidak mengaggu Arka lagi,"
Angela menunjuk Viola dengan tampang tidak percaya lalu menatap Arka dan bertanya,
"Dia? Wanita jelek ini Istrimu, Arka? Jangan coba berbohong padaku, ini tidak mungkin Arka menikah dengan wanita seperti ini!! Arka katakan kalau dia bohong??"
Arka akhirnya sadar, lalu menatap Angela, lalu berkata,
"Yang di katakan Viola benar, dia adalah Istriku. Dan jangan bicara sembarangan soal Istriku!!"
Angela sekali lagi menatap kearah Viola, melihat dari bawah keatas, ke pakaian kerja yang di pakainya yang terlihat seperti laki-laki itu, juga luka bakar di wajahnya.
"Dia?? Si Jelek ini? Astaga, Arka jika kamu ingin menipuku, lakukan yang lebih baik, dan jangan meninpu dan mengaku memiliki Istri yang seperti ini,"
"Angela!! Jaga bicaramu!! Sudah aku bilang kalau Viola adalah Istriku? Apa yang harus aku lakuin untuk membuktikannya kalau dia...mhmhhmmmm"
Belum selesai Arka menyelesaikan ucapannya, Viola menarik Arka kearahnya, lalu mulai menciuminya, kali ini ciuman yang lebih dalam agar Tuan Mudanya itu berhenti bicara omong kosong lagi seperti sebelum.
Lalu Viola melepaskan ciuman itu, dan menjukan ekpersinya yang biasa,
"Seperti yang ada lihat Nona Angela, Arka sekarang adalah Suamiku, apakah perlu kami berdua menunjukan....."
"Cukup!! Cukup!! Kamu Arka!! Dasar Laki-laki Brengsek!!!" Kata Angela lalu langsung menampar pipi Arka dengan kejam.
Arka sendiri yang masih melamun sambil memegangi bibirnya seperti orang linglung itu, masih tidak mengerti apa yang terjadi.
Hingga tamparan Angela menyadarkannya, pipi Arka dua-duanya sakit sekarang, terlihat semuanya hampir memerah.
Satu adalah tamparan Clara, yang satu adalah tamparan Angela l.
Angela sendiri lalu langsung pergi dari Ruangan Arka itu setelah menampar Arka, meninggalkan dua orang itu disana sendiri.
Viola yang angkat bicara,
"Sekarang saya lebih paham kenapa Tuan Muda membutuhkan seorang Istri kontrak semacam ini, dengan berbagai jenis wanita aneh yang selalu mendekati Tuan Muda, pasti sangat sulit untuk Tuan Muda mengurus mereka, baiklah sekarang saya yang akan mengurus orang-orang itu jika mereka datang, toh sudah menjadi seperti ini..."
Ucapan Viola terputus, seteleh dia menatap Arka yang masih mematung dan memegangi pipinya itu, melihat pipi Tuan Mudanya itu lecet, Viola tiba-tiba cemas.
"Ya ampun, Tuan Muda Arka? Apakah pipi Tuan Muda masih sakit? Ini sampai memar, ya ampun para wanita itu sungguh ganas, bagaimana jika ini meninggal bekas pada wajah tampan Tuan Muda? Astaga...." Kata Viola panik sambil menatap Arka dari dekat, dan tangannya mengelus pipi Arka untuk memeriksanya.
__ADS_1
Mendapatkan sentuhan Viola tiba-tiba, Arka langsung mundur beberapa langkah, wajahnya masih super merah karena malu, masih memikirkan ciuman sebelumnya.
"Viola.... Viola.... Kamu.... Kamu...."
Viola yang melihat Tuan Mudanya itu mundur, hanya menatapnya binggung lalu tetap mendekat kearah Tuan Mudanya itu, mencoba memperpendek jarak antara mereka, sampai Arka tidak bisa mundur lagi karena terpojok oleh dinding.
"Ada apa Tuan Muda? Apakah ada yang salah?"
"Vi.. Viola apa maksud ciuman tadi?"
"Ah, itu bukanlah itu untuk mengusir Nona Angela? Dari pada urusannya semakin panjang, sama seperti Nona Clara, jadi saya percepat saja,"
"Viola... Kamu... Kamu tidak tahu malu!!"
"Bukankah tadi Tuan Muda yang mencium duluan? Kenapa sekarang jadi marah? Saya kira itu cara paling mudah untuk mengusir mereka, lihat nanti berapa lagi yang datang? Masih ada Nona Erika, Nona Nia, Nona Merlin, Nona Marika, Nona Rosalina..... Siapa lagi ya....."
Kali ini Viola sedang menyebutkan daftar nama-nama gadis-gadis muda yang belakangan dekat dengan Arka.
Wajah Arka menjadi semakin tidak karuan,
"Kamu... Kenapa kamu bisa hafal nama-nama mereka? Aku saja bahkan tidak ingat,"
Viola sekali lagi menghela nafas panjang,
"Sebagai seorang Pelayan Pribadi dari Tuan Muda Keluarga besar, kami sudah di ajarin hal-hal dasar seperti ini, untuk memastikan dengan siapa-siapa saja Tuan Muda kami dekat, ya siapa tahu, beberapa wanita memiliki maksud tersembunyi, kami biasanya juga memeriksa latar belakang mereka, juga memastikan tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan. Untuk beberapa Tuan Muda yang memiliki kebiasaan yang cukup buruk, seperti Tuan Muda Galvin atau Tuan Muda Robet, aku denger Pelayan Pribadi mereka juga mendata dan menulis data tentang detail tanggal tidur mereka dengan beberapa wanita, untuk menghindari ada yang mengaku-ngaku hamil anak Tuan Muda mereka dan tentu saja memastikan keamanan hal-hal itu. Aku dengar Pelayan Pribadi Tuan Muda Louise juga cukup sibuk. Saya cukup bersyukur Tuan Muda Arka tidak perlu memberikan beberapa Tugas tambahan yang sangat merepotkan ini pada saya, saya sudah cukup sibuk namun tetap saja beberapa gadis-gadis yang mendekati Tuan Muda tetap harus didata,"
"Kenapa musti begitu ribet seperti itu?"
"Ini untuk menghindari ada kesalahan seperti Tuan Lucas agar tidak terulang kembali,"
"Ukhhh, karena masalah Paman? Hah, seperti banyak hal yang lebih tidak aku tahu, hal-hal gelap di balik layar,"
"Sebaiknya Tuan Muda memang tidak perlu tahu, biar saya saja yang mengurusnya untuk Tuan Muda,"
Lalu Arka teringat saat Viola memberikannya sesuatu pada saat pesta itu...
Itu...
"Kamu... Jadi malam itu di pesta kamu memberikan ku...."
Viola lalu mengeluarkan sebuah kotak tertentu dari kantong bajunya, dan menyerahkannya pada Arka, dari kotak kecil misterius itu ada tulisan ukuran L yang jelas, dan tulisan Extra tipis.
"Tentu saja saya selalu membawa ini untuk jaga-jaga, karena saya tahu Tuan Muda tidak akan memilikinya, jadi apakah ukuran ini tepat? Terlalu besar, atau terlalu kecil? Saya cukup binggung saat dulu membelinya karena tidak ada review soal ukuran Tuan Muda sebelumnya,"
Arka yang menerima kotak misterius itu hampir saja melemparkan benda itu, terlalu malu bahkan untuk menatapnya.
__ADS_1
"Ke... Kenapa kamu membawa-bawa benda itu!!"
"Kan sudah saya bilang, ini untuk berjaga-jaga saja,"
"A... Aku tidak membutuhkan hal-hal seperti itu!! Kamu buang saja!"
"Tapi Tuan Muda, ini penting untuk jaga-jaga,"
"Aku tidak memiliki rencana untuk tidur dengan wanita manapun, dan sekarang aku sudah menikah, jadi tidak akan melakukan hal-hal itu dengan wanita lain, jadi tidak diperlukan,"
Viola lalu mengambil kembali kotak itu,
"Benar juga, karena Tuan Muda sudah menikah memang sebaiknya lebih menjaga diri dengan baik. Baik aku akan menyingkirkan benda ini,"
"Benar, buang saja itu. Lagipula ukurannya salah, itu harusnya XL."
Ekspresi Viola sedikit berubah menunjukan keterkejutannya.
"Owh, jadi ukuran Tuan Muda XL? Baiklah lain kali saya membelinya, saya akan carikan yang ukuran XL,"
"Benar, yang XL jangan yang kecil."
"Jadi itu memang cukup besar, itu mungkin akan membuat kesulitan untuk pasangan Tuan Muda nanti menghandelnya,"
Sekarang Arka baru menyadarinya, soal hal omong kosong apa yang barusan dirinya dan Viola bicarakan!!
Wajahnya langsung memerah padam, dan memalingkan wajahnya.
"Sudah!! Berhenti bertanya soal hal-hal memalukan!!"
"Saya kan bertanya karena memang tidak tahu, tapi memang benar ukurannya XL? Tidak salah?"
Arka yang menjadi tidak sabar dan merasa Viola ini tidak tahu malu, mula berkata dengan kesal,
"Kamu tidak percaya? Kamu bisa melihatnya sendiri dan kamu bisa memberikan seputar Reviewnya sendiri soal ukurannya, kamu juga bisa mencobanya,"
"Maksud Tuan Muda?"
"Dasar Bodoh, hpmh," kata Arka kesal lalu langsung pergi dari hadapan Viola kembali ke mejanya sendiri, merasa dirinya barusan mengatakan terlalu banyak omong kosong memalukan.
Arka mencoba duduk tenang disana, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih tidak stabil itu.
Arka berusaha berbicara pada dirinya sendiri,
'Sabar, Akra... Sabar... Suatu saat kamu pasti bisa membuat Viola mencobanya sendiri biar dia tidak terlalu bicara banyak omong kosong,'
__ADS_1
####
Bersambung