
Ini adalah pagi yang baru lagi, hari kedua setelah kepindahan Arka ke Rumah Barunya.
Arka benar-benar mencoba menikmatinya pagi hari yang damai.
Sebelumnya Arka berhasil membuat Viola tetap bersama dengan dirinya di kamar baru mereka, ini membuat Arka cukup senang.
Dan masih seperti pagi-pagi yang lainnya, Arka akan melakukan rutinitas paginya, yaitu mencium bibir Viola diam-diam.
Perasaan Arka hari ini benar-benar cukup senang, terutama setelah malam itu Viola mengungkapkan masa lalunya kepada dirinya.
Hal-hal yang tidak pernah dirinya benar-benar dengar dari mulut Viola langsung, akhirnya Viola katakan dengannya.
Ini artinya hubungan mereka menjadi sedikit lebih dekat
Dan mereka menjadi saling mengenal lebih dalam satu sama lainnya.
Jadi dengan penuh semangat, Arka segera mendekati wajah Viola, kemudian dirinya langsung mendekatkan bibirnya pada bibir Viola.
Rasa ciuman itu cukup lembut, jadi Arka tetap mempertahankan posisi ini selama beberapa detik, menikmati kehangatan bibir lembut itu lebih lama.
Bibir yang paling dirinya sukai.
Sampai tiba-tiba mata yang terpejam itu, membuka matanya secara tiba-tiba.
Dalam jarak itu, tatapan mata Arka bertemu dengan tatapan mata Viola.
Arka menjadi panik sendiri lalu segera menjauh dari Viola.
Sekarang ekpersi Arka jelas memerah karena begitu malu, malu karena ketahuan berbuat hal-hal nakal pada Viola!!
Bagaimana ini sekarang?
Apakah Viola akan menjadi marah padanya?
Sekarang apa yang harus dirinya lakukan?
Bagaimana cara dirinya menjelaskan hal-hal memalukan ini pada Viola?
Arka ingin sekali menggali sebuah lubang dan memasukkan dirinya ke sana.
Ini semua jelas karena ke ceroboh hanya.
Hanya karena biasanya Viola ketika tidur menjadi cukup nya nya bukan berarti dia tidak akan terbangun secara tiba-tiba seperti ini.
Namun sekarang sudah terlanjur dirinya tidak tahu juga harus bersikap seperti apa.
Namun yang membuat Arka kaget adalah fakta bahwa wajah Viola entah bagaimana sedikit memerah, walaupun itu hanya seper sekian detik dan ekspresi wajahnya kembali seperti biasanya.
Namun tetap saja ayolah ternyata menunjukkan desi malu-malunya.
Namun dirinya juga cukup malu tidak tahu juga harus berkata apa.
"Viola..."
"Tuan Muda...."
Mereka memanggil nama satu sama lain pada saat yang sama yang membuat mereka menjadi lebih canggung.
Arka halo segera memalingkan wajahnya dan berhenti menatap Viola.
Dirinya sebenarnya masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk menatap wajah itu.
Melihat tuan mudahnya menjadi terdiam, Viola telah yang pertama mulai membuka percakapan.
Sebenarnya didinya juga cukup terkejut karena ketika dirinya membuka matanya dirinya merasakan sesuatu yang hangat ada di bibirnya.
Sebenarnya sudah cukup nama dirinya merasakan kehangatan ini, hanya saja dirinya belum membuka matanya.
__ADS_1
Sejujurnya dirinya sedikit menikmati kehangatan dan kelembutan dibibirnnya itu.
Dirinya sedikit merasa jika itu kemungkinan hanya sebuah mimpi.
Sampai pada akhirnya, dirinya merasakan sebuah lidah yang sedikit kasar menjiat ke arah dibibirnya.
Akan itu cukup familiar namun terkesan asing.
My mengingatkan apa ada sebuah ciuman panjang dengan Tuan Mudanya disesi kegiatan malam mereka.
Ciuman Tuan Mudanya lalu terlihat cukup canggung, dan tidak berpengalaman, namun terkesan manis dan sedikit malu-malu.
Kehangatan itu tidak akan pernah dirinya lupakan, yang memberikan dirinya entah bagaimana terkadang membuatnyabmerasa sangat merindukannya.
Namun melihat wajah Tuan Mudanya ternyata tepat ada dihadapannya dan terlihat seperti Tuan Mudanya menciumnya ini jelas membuat Viola sangat kaget.
Dirinya sendiri juga tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
Dirinya juga merasa malu karena diam-diam menikmati ciuman kecil ini.
Namun sekarang ada sebuah pertanyaan yang mengganggu dirinya.
Kenapa Tuan Mudanya melakukan hal ini pada dirinya?
Sejujurnya dirinya masih tidak mengerti, kenapa Tuan Mudanya mencium dirinya seperti itu.
Dirinya tahu, beberapa Pria memang sangat menyukai mencium wanita.
Namun dirinya bukanlah seorang wanita yang cukup cantik.
Dengan wajah ini kenapa Tuan Mudanya masih ingin tetap mencium dirinya?
"Kenapa Tuan Muda melakukan?"
Jelas mendengar pertanyaan itu, Arka masih terdiam dan cukup bingung harus bicara apa dia mulai berbicara omong kosong lainnya karena merasa terlalu panik.
Alis Viola sedikit terangkat ketika tuan mudanya mengatakan hal-hal yang sedikit ambigu itu.
"Melakukannya?"
Arka yang sekarang baru menyadari jika kata-katanya sedikit ambigu lalu segera berkata,
"Bukan apa-apa, sudahlah aku ingin pergi keluar dan menghirup udara segar di halaman rumah," kata Arka tiba-tiba, lalu dia segera berlari Pergi dari ruangan kamar itu membiarkan Viola yang masih kebingungan berada di sana.
Arka langsung menuju ke halaman belakang seperti yang dirinya inginkan.
Dirinya mulai menikmati betapa segarnya udara di pagi hari yang tenang dan nyaman ini.
Dirinya juga mencoba Untuk melupakan hal-hal memalukan yang terjadi tadi pagi.
Sungguh hal-hal seperti ini terlalu memalukan.
Untuk mencari aman sepertinya di masa depan dirinya tidak akan melakukan hal-hal ini lagi.
Hah, telah memikirkan hal-hal itu Arka hanya bisa menghela nafas lelah.
Sampai tiba-tiba teringat soal hal-hal yang dirinya dengar dari Viola soal masalalunya itu.
Dirinya jelas harus membantu Viola untuk bertemu dengan keluarga kandungnya.
Tapi ini juga mengingatkan dirinya bahwa sejak Pesta Pernikahan mereka, dirinya dan Viola belum mengunjungi Dumah orang tua angkat Viola.
Baik lupakan soal mengunjungi rumah orang tua angkat Viola yang paling penting adalah menemukan jati diri dan identitas Viola yang sebenarnya.
Dirinya jelas tahu bahwa sepertinya Viola juga ingin mencari keberadaan keluarga kandungnya namun mungkin dia sedikit takut untuk menerima kenyataan jika saja keluarganya sudah tidak ada di dunia ini.
Dirinya bisa merasakan hal-hal ini, seperti perasaan sebaiknya untuk tidak tahu kenyataan dengan memiliki harapan bahwa orang-orang yang berharga itu masih hidup, daripada tahu kenyataan yang sebenarnya dan pasti jika mereka sudah pergi dan sudah tidak ada lagi di dunia ini.
__ADS_1
Namun kenyataannya harus tetap diketahui, bahkan walaupun itu menyakitkan.
Baik, mari mencoba menyelidiki tentang hal-hal ini dulu.
Namun sebelum itu, Arka berkeliling halaman Rumah dengan damai.
Memang, hari terlihat sangat indah tanpa melihat wajah-wajah menyebalkan orang-orang itu.
Untunglah dirinya memilih Rumah Mewah yang memiliki halaman cukup luas.
Ya, Keluarga William memang benar-benar sesuatu, soal pembelian rumah ini pun semuanya berjalan dengan cepat dalam satu hari.
Namun tiba-tiba dirinya menjadi kepikiran soal Apartemen Penthouse di Blok C, tempat itu masih terlihat bagus sayang sekali harus bertemu dengan orang dari Keluarga Cavel.
Ketika mengingat hal-hal soal keluarga ini Arka tiba-tiba menjadi marah.
Namun segera Arka mulai menenangkan pikirannya tentang hal-hal ini, yang paling dirinya tidak tahu adalah Apa motif sebenarnya dari Pembunuhan itu?
Dirinya memang sudah mendengar kurang lebih rincian yang adiknya jelaskan itu.
Dan Bagaimana keluarga Cavel seperti menginginkan sesuatu dari Ibunya.
Namun Apakah itu benar-benar potongan sebuah peta atau hal-hal lain?
Namun jika memikirkan ini lebih lanjut, soal dirinya akan benar-benar balas dendam atau tidak dirinya jadi teringat bagaimana Kakek dan Neneknya dari pihak Ibu, yang sebelumnya pernah mencoba ingin balas dendam pada Keluarga Cavel.
Kakek dan Neneknya itu menculik Putri Keluarga Cavel, dan terlibat suatu kecelakaan.
Hingga sampai detik ini keberadaan anak dari Keluarga Cavel dirinya temui ketika masih kecil itu tidak diketahui.
Memikirkan soal hal-hal ini membuat dirinya merasa cukup rumit juga.
Karena sepertinya acara balas dendam kakek dan neneknya itu walaupun sedikit berhasil namun mereka berdua malah terlibat sebuah kecelakaan yang tidak bisa dihindari.
Dirinya juga masih belum tahu apakah kecelakaan itu benar-benar resmi kecelakaan atau sengaja dibuat oleh seseorang.
Sudahlah terlalu pusing jika memikirkan itu sekarang yang lebih penting adalah untuk mencoba menemukan keluarga asli dari Viola.
Arka lalu segera mengambil pendaratan mulai menelepon seseorang.
Jelas, itu adiknya Louise.
"Louise, aku memiliki sebuah permintaan untukmu,"
Di ujung telepon, set sebuah keluhan ketika Arka selesai mengatakan itu.
'Kali ini apalagi yang ingin Kakak minta?'
"Kenapa kelihatannya kamu seperti tidak niat seperti itu?"
'Ayolah, bahkan kasus sebelumnya saja belum terpecahkan aku masih menganalisis soal peta kecil yang aku dapatkan itu dan masih mengira-girabapa yang benar-benar keluarga Cavel inginkan,'
"Lupakan dulu itu sesaat,"
'Kakak ini bagaimana, padahal aku sepertinya menemukan petunjuk tentang kemungkinan besar harta tersembunyi itu berada,'
"Dimana itu memangnya?"
'Aku sudah menyelidiki peta sebelumnya dan memperkirakan itu sepertinya ada di daerah Kampus milikku,'
"Kampusmu? Namun bagaimana itu bisa terjadi?"
'Bukankah Kakak Tahu, jika Kampus ini memperbesar wilayah kampus, beberapa puluh tahu lalu?'
'Awalnya, tahan di sekitar Kampusku, salah milik seorang Keluarga Kaya Raya, tapi mereka memberikan tanah itu kepada Universitas, alasan yang tidak diketahui sampai sekarang Ini benar-benar mencurigakan bukan?'
"Astaga, kamu benar-benar begitu teliti dan rajin sampai-sampai menyelidiki sejarah bangunan tadi Universitas mu itu,"
__ADS_1
'Mau bagaimana lagi aku semangat penasaran dengan ini,'