
Louise yang dituduh itu, jelas tidak tahu harus merespon seperti apa karena dirinya memang jelas menyembunyikan kejahatan Ibunya.
"Aku tidak terlihat dalam rencana Mama, namun emang benar aku menyembunyikan ini aku mengaku aku salah,"
Abraham lalu segera menampar Louise.
Rasa tamparan itu, untuk Louise tidak begitu berat daripada rasa bersalah di hatinya yang dirinya rasakan kepada Kakaknya Arka dengan berbohong.
"Aku benar-benar kecewa padamu, Louise!!"
"Ayah!! Laura memang salah, namun jangan salahkan Louise, dia sungguh tidak tahu apa-apa," kata Andreass mencoba membela Putranya itu.
Tatapan Abraham lalu segera menuju kearah Putaranya itu.
"Kamu... Jadi kamu juga sudah soal hal ini?"
"Bukan begitu Ayah, hanya aku baru saja tahu tentang kejahatan Istriku, namun Louise Putraku jelas tidak terlibat apa-apa,"
"Cukup-cukup, aku begitu muak dengan mereka berdua!! Dan Andress, kamu bisa-bisanya masih membela Istrimu dan Louise, jelas Nyawa Putramu Arka yang dalam bahaya dalam hal ini!! Apakah kamu ini masih Ayahnya?"
"Tapi Louise juga Putraku,"
"Cukup!! Kamu diam, Anderass!!"
Lalu tatapan Abraham kembali menatap kearah Ibu dan Anak itu.
"Untuk kalian berdua, mulai sekarang kalian bukan lagi anggota Keluarga William!! Aku minta kalian berdua segera keluar dari rumah ini!!"
Jelas, Laura masih mencoba memberontak menolak hal ini, sedangkan Louise tidak tahu harus berbuat apa.
Apakah memang ini saatnya dirinya bisa pergi dari rumah ini?
Namun, diri nya masih memiliki begitu banyak penyesalan untuk pergi dari sini...
Bagaimana Kak Arka nantinya....
Louise bingung ketika memikirkan Kakaknya.
Namun pada akhirnya, tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk berpikir, karena Abraham udah segera membereskan pakaian mereka berdua ke dalam sebuah koper dan sekarang berniat mengusir mereka berdua dari rumah itu, Andress jelas tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya memberikan Putranya itu kunci rumah cadangan.
"Louise, kamu tenang saja aku akan mencoba meyakinkan Kakekmu. Untuk sementara aku meminta tolong padamu untuk mengawasi Mamamu, dan melakukan hal yang tidak-tidak. Atau begini saja, sebenanya aku sudah merencanakan untuk mengirim Mamamu ke Luar Negeri, karena aku sudah memperkirakan mungkin hal ini terjadi, Louise sementara jika kamu mau, kamu bisa pergi dulu Ke Luar Negeri, semuanya akan segera aku siapkan, karena mungkin tidak akan mudah untuk membujuk Kakekmu, namun waktu pasti akan membuat dia lebih tenang,"
"Ayah aku...."
"Tidak apa-apa, pergi saja dulu Ke Luar Negeri, semuanya pasti akan baik-baik saja,"
Tentu saja Louise, memiliki begitu banyak pertimbangan untuk mengikuti kemauan Ayahnya itu, hal yang paling dirinya khawatirkan jelas Kakaknya Arka.
Apalagi masih ada Galvin dan Robert yang entah akan membuat rencana apa nanti pada Kak Arka.
Dan lagi, Kak Viola juga sudah pergi, bagimana jika dirinya ikut pergi juga?
Tidak, punya belum memikirkan jika Kak Arka sampai tahu Kebohongan yang dirinya buat untuk menutupi kejahatan Mamanya.
Apakah, Kak Arka nanti akan membenci dirinya?
Dirinya benar-benar tidak ingin melihat itu, melihat Kakaknya Arka membenci dirinya.
Dan akhirnya, Louise menarik nafas, dan membuat keputusan,
"Baik, aku akan Pergi ke Luar Negeri bersama Mama,"
Setelah membuat keputusan itu, Louise kembali ke kamarnya, untuk mengatasi beberapa barang lainnya yang tertinggal.
Rasanya entah bagaimana dirinya memiliki perasaan yang sulit ketika harus pergi dari sini, usaha jelas dirinya sangat membenci Rumah ini...
__ADS_1
Namun, dika saatnya dirinya benar-benar pergi rasanya masih sangat menyedihkan...
Disaat beberapa orang terlihat sedih, jelas sekali ada beberapa orang yang terlibat senang.
Tentu saja beberapa orang terlihat menikmati pertunjukan ini, misalnya Galvin dan Robert, yang saat ini berada di gerbang melihat bagaimana Louise dan Ibunya itu di usir dari Rumah.
"Astaga, akhirnya anak Selingkuh dan Ibunya ini, pergi dari rumah ini," kata Galvin dengan ekpersi menghina.
"Hah, memang benar aku juga sudah dengar gosip yang beredar dari para pelayan tentang kejahatan mereka berdua, astaga... Lihat, bagaimana mereka ingin mencelakakan Kak Arka? Apalagi itu saudaranya sendiri, Louise itu tidak tahu malu dan berhati dingin sangat kejam," kata Robert menanggapi.
Louise jelas merasa sangat marah soal mereka berdua.
Itu, benar, setidaknya sebelum dirinya pergi dirinya harus membereskan dua orang itu.
Louise jadi teringat beberapa hal soal bukti-bukti yang dirinya temukan soal kejahatan mereka berdua.
Itu benar, dirinya harus membongkar hal-hal ini.
Robet dan Galvin yang melihat Louise itu mengabaikan kata-kata mereka, kan tidak melirik mereka itu membuat mereka sangat kesal.
"Mau apa lagi kamu Anak Haram kembali ke Rumah hah?" Kata Galvin dengan marah.
"Ada beberapa hal penting yang sempat aku lupakan," kata Louise bolu segera masuk dan kembali ke kamarnya.
Dan tentu saja, setelahnya dia bilang pada Pengawal yang mengawalnya dan mengikutinya yang memastikan agar dirinya benar-benar pagi dari sini.
"Pengawal, setidaknya sebelum aku pergi aku ingin bertemu dengan Kakek dan Nenek dulu,"
"Tapi Tuan Muda...."
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan pada mereka,"
Pengawal itu gak memiliki pilihan dan akhirnya mengizinkan Louise kembali ke tempat Kakek dan Neneknya.
Saat itu, Kakek dan Nenek Lousei sedang berdiskusi, Abraham jelas sedang menjelaskan kepada istrinya soal perbuatan sepasang ibu dan anak itu.
"Kenapa lagi kamu masih berada di sini?" Kata Neneknya terlihat tidak suka.
"Kakek, Nenek aku memang akan segera pergi namun sebelum aku pergi aku ingin menyampaikan sesuatu," kata Louise dengan ekspresi tenang, dia lalu menyerahkan beberapa dokumen didepannya dan di berikan pada mereka berdua.
"Apa ini?" Tanya Abraham dengan ekpersi binggung.
"Ini adalah hal-hal hasil dari penyelidikan yang aku lakukan, aku juga baru-baru ini saja menemukan semua ini, belum sempat menyampaikannya karena aku sendiri masih bingung harus aku apakan semua itu. Namun aku rasa sebaiknya, aku memberitahu kalian soal hal itu,"
"Hah, apa lagi ini? Apakah kamu mencoba membela diri dengan hal-hal ini?"
"Nenek dan Kakek sebaiknya baca dulu semua dokumen itu baik-baik, to terserah pada kalian untuk menyelidiki lebih langit soal hal-hal yang aku temukan,"
Mereka lalu segera membuka dokumen-dokumen itu.
Mereka benar-benar sangat terkejut tentang isinya.
Ini memang hal-hal yang Arka alami selama beberapa saat lalu.
Termasuk kegagalan dalam Rencana Bulan Madunya, dan terakhir bukti Insiden kecelakaan yang menimpa Arka itu ternyata bentuk kelicikan Galvin dan Robert yang bekerja sama dengan salah satu Anggota Keluarga Cavel.
Disana juga ada bukti lain, bagaimana Galvin mencoba menyabotase Proyek yang Arka dapatkan, Louise untungnya cukup puas pada dengan mereka dan mengawasi mereka baik-baik sesuai dengan kata-kata Viola sebelumnya, dan berhasil mengagalkan hal itu, bahkan sempat menemukan semua buktinya.
"Ini... Tidak... Tidak mungkin... Galvin... Robert...."
Abraham lihat tidak percaya ketika mendengar dua nama cucunya itu disebutkan.
"Apa yang aku temukan itu adalah fakta, jika Kakek tidak percaya, Kakek segera menyelidikinya. Aku hanya akan bilang, Kakek dan Nenek harus waspada pada Keluarga Paman, aku akan pergi, dan nanti Kak Arka akan sendirian apalagi Kak Viola sudah tidak ada di sini, aku harap Kakek dan Nenek akan bisa menjaga Kak Arka dari mereka,"
Mendengar kata-kata itu, Abraham dan Istrinya itu, tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Louise kamu...."
"Kakek dan Nenek tenang saja, aku akan ikut Mamaku pergi ke Luar Negeri, tidak akan lagi mengganggu Keluarga William,"
Dari arah samping ruangan itu, seseorang masuk, dia mendegarkan sebagian pembicaraan mereka, terutama bagian terakhir.
"Siapa?? Siapa yang akan ke Luar Negeri? Tolong katakan padaku?"
Itu adalah Suara dari Arka.
Semua tatapan langsung menatap ke arah Arka.
Louise terdiam tidak tahu harus merespon apa.
Arka yang sempat mendengar kata-kata itu keluar dari adiknya, segera langsung mendatangi Louise, memegang dua bahunya,
"Coba katakan sekali lagi apa yang barusan kamu katakan? Kamu akan Pergi Ke Luar Negeri? Kenapa sangat tiba-tiba?"
Tentu saja mendengar pertanyaan itu, Louise tidak tahu harus berkata seperti apa.
Kakek Arka yang masih merasa Louise masih bersalah tentang masalah sebelumnya, segera berkata pada Arka.
"Arka, kamu harus tahu apa yang telah adiknyamu lakukan. Dia selama ini menyembunyikan kejahatan yang telah Ibunya lakukan, dan yang paling akhir adalah kejahatan yang tidak ter maafkan, hampir saja membuat kamu meninggal di Rumah Sakit, dia menyanyikan fakta ini, dan mungkin saja dia malah bekerjasama dengan Ibunya itu,"
Arka yang mendengar itu jelas aja merasa sangat sok.
"Tidak.... Ini pasti adalah sebuah kebohongan, katakan Louise!! Katakan jika ini adalah bohong!!"
"Aku minta maaf, Aku memang menyembunyikan Kejahatan Mama... Tapi... Tapi aku bersumpah aku tidak tahu soal rencana itu pada awalnya.... Jika aku tahu..."
Arka yang mendengar itu langsung merasa sedikit lega.
"Ya, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu membuat alasan, aku tahu, aku sudah mengenalmu sejak kita kecil. Aku yakin kamu memiliki alasan sendiri, dan aku sudah bilang sebelumnya jika aku Percaya padamu? Kamu adalah adikku, tidak akan mengkhianati ku," kata Arka lalu memeluk adiknya itu.
Louise yang melihat bagaimana Kakaknya percaya padanya, bahkan tanpa menunggu penjelasan lengkap darinya, itu saja merasa tersentuh, dan perasaan lega tiba-tiba muncul.
Kakaknya percaya padanya...
Dirinya kira Kakaknya kan seperti Kakek dan Neneknya yang akan menutup dirinya.
Dan setelah melepaskan pelukannya itu, Arka segera berkata pada Kakek dan Neneknya, kira-kira sudah mulai memikirkan apa yang mungkin terjadi.
"Kakek dan Nenek, dengan mencoba mengusir adikku dari rumah ini. Dia jelas tidak bersalah, mungkin memang Ibu Louise itu, yang jahat, namun tidak dengan adikku, jika kalian tetap seperti itu, aku yang akan pergi dengan Louise!!"
"Arka kamu jangan seperti itu!!" Kata Abraham dengan cemas.
"Kakek!! Aku sendiri yang akan menjamin nya, Jika Adikku tidak bersalah!! Kalau ingin mencari orang jahat, kenapa tidak panggil itu Galvin sialan itu? Atau Robert? Aku benar-benar muak melihat mereka berdua yang sangat tergila-gila harta itu!!"
Jelas, ada beberapa pertengkaran besar di sana, dimana Arka jelas sekali membela adiknya itu.
Louise, yang melihat betapa Kakaknya membela dirinya, merasa sangat lega.
Lega, karena Kakaknya tidak marah....
Betapa senang rasanya memiliki seseorang yang percaya padamu dalam situasi apapun.
Ya, dirinya yakin dengan kepercayaan ini, mereka pasti akan bisa mengatasi hal-hal rumit di Keluarga William dimasa depan.
Dirinya tidak boleh mengecewakan Kakaknya lagi...
Dan soal Kak Viola....
Nanti biar mereka berdua sembari yang menyelesaikannya...
Dirinya juga percaya, bagaimana berita berdua pasti bisa mengatasi itu, cinta mereka pasti cukup buat bahkan walaupun waktu berlalu, berita berdua akan saling percaya satu sama lain terbatas dari ruang dan waktu....
__ADS_1
Itulah Arti dari sebuah kepercayaan.