Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 16: Rapat Direksi


__ADS_3

Pagi itu, walaupun jam belum menunjukkan pukul tujuh, namun didepan gedung Perusahaan milik William Group terlihat cukup ramai dengan beberapa pegawai yang sudah berbaris rapi disana.


Hari ini ada acara penting, dan semua petinggi Perusahaan akan datang ke gedung ini, termasuk beberapa Direktur Perusahaan Cabang.


Dengan ramah, para pegawai itu menyapa tamu-tamu penting yang datang satu persatu.


Rapat dimulai jam tujuh pagi, jadi beberapa orang sudah mulai berdatangan.


Salah satu mobil sport merah yang familiar, muncul dari arah gerbang, masih agak jauh.


Tentu saja mereka tahu milik siapa itu, namun mereka cukup kaget melihat kedatangan mobil itu.


"Bukankah itu Tuan Muda Arka? Dia datang ke Rapat ini?"


"Sepertinya begitu,"


"Aku pikir dia tidak akan datang, aku dengar di Rapat Direksi sebelumnya, dia membuat masalah. Aku kira dia sudah tidak berani datang lagi,"


"Hussss... Ini adalah Tuan Muda Arka kesayangan Pak Presdir, dan Ibu Ketua Direksi, berhenti bicara omong kosong tentangnya,"


"Hah, memang hidup tidak adil, dia kesayangan Kakek dan Neneknya jadi benar-benar hidup seenaknya, aku tidak suka Tuan Muda itu,"


"Kalian diamlah, itu Tuan Muda Arka sudah datang,"


Mendengar peringatan penjaga keamanan, dua pegawai itu berhenti berbicara.


Dari arah mobil itu, keluar Arka dan Asistennya yang sudah berpakaian cukup rapi.


Terutama Arka, yang biasanya tidak terlalu memakai set lengkap, apalagi rambutnya sepertinya ditata cukup rapi, dan lagi tumben memakai sebuah dasi.


Melihat penampilan itu, beberapa karyawan itu sempat terteguh.


Terlihat sangat Tampan dan Profesional, benar-benar terlihat sangat cocok sebagai Tuan Muda dari Keluarga William, dari segi penampilannya saja.


Sudah seperti CEO, CEO dingin yang ada dalam drama-drama.


Memang, dari semua Tuan Muda Keluarga William, Tuan Muda Arka William terkenal yang paling Tampan dari semuanya, dengar-dengar itu merupakan gen dari Ibu Kandung Arka yang kabarnya merupakan kecantikan populer ketika masih muda.


Kulit putih pucat yang membuatnya seolah memiliki aura yang lembut dan halus.


Keindahan seperti itu benar-benar sempurna....


Sayang sekali kelakuannya minus.


Orang bilang, tidak ada yang sempurna didunia ini, dan memang iya, walaupun Penampilan Tuan Muda Arka sangat tampan, apa gunanya wajah tampan itu tanpa otak yang baik?


Itulah yang saat ini dipikiran oleh beberapa karyawan itu, dan tentu saja mereka hanya berani mengatakannya dalam hati.


"Selamat Pagi, Tuan Muda Arka,"


Dan masih seperti biasanya, Arka dan Viola melewati rombongan itu dengan santai.


Mereka lalu menuju lift khusus petinggi, untuk sampai diruang rapat, keluar dari lift, Arka segera berpisah dengan Viola.


"Saya akan menunggu di Luar, jika terjadi sesuatu didalam Anda bisa langsung menelepon saya, jangan membuat masalah seperti terakhir kali, tetap tenang, dan jangan pikirkan kata orang-orang, saya yakin Tuan Muda bisa, oke?" Kata Viola dengan nada yakin.


"Hmm, tentu saja. Aku tidak akan membuat masalah."


Arka lalu lanjut berjalan sendiri menuju ruang rapat, ya hanya boleh petinggi yang masuk, biasanya mereka tidak boleh membawa Asistennya kecuali memang ada keperluan khusus.


Didepan pintu ruangan rapat, sayangnya Arka masih harus bertemu wajah yang familiar.


"Owh? Aku terkejut Kak Arka masih berani datang setelah kejadian memalukan sebelumnya,"


Ini adalah Adik Sepupunya yang tiba tahun lebih muda, Robet William.


"Tutup mulutmu," kata Arka dengan kasar, namun mencoba tidak mencari masalah, dia langsung melewati Robet dan masuk kedalam, dengan ekpersi dingin membuat Robet yang diabaikan itu menjadi marah.

__ADS_1


Untungnya ketika Arka didalam, Kakek dan Neneknya belum sampai di Ruangan Rapat, hanya beberapa anggota Direksi dan beberapa Direktur Perusahaan yang datang.


Ada wajah familiar yang duduk diujung meja.


Itu adiknya Louise, saat ini Louise sudah terlihat sehat hanya ada beberapa plester luka di ujung dahinya.


Arka segera menuju tempat itu, berniat duduk disana, Arka cukup lega ada kenalan baik di tempat menyebalkan ini.


"Louise? Kamu sudah ke Kantor? Bukankah sebaiknya kamu Istirahat lebih lama?"


Louise hanya tersenyum lalu berkata,


"Aku sudah sehat. Ini bukan masalah sama sekali, lagipula itu benar-benar luka kecil. Dan lagi, kenapa Kakak sudah ke Kantor? Bukakan seharusnya Kakak pergi Bulan Madu?"


"Ceritanya panjang,"


Ketika mereka asik berbicara, pintu segera dibuka, dan dua orang yang akan memimpin rapat sudah datang.


Itu adalah Abraham William, CEO William Group, dan Isterinya Lisa William.


"Selamat Datang, Pak Presdir dan Ibu Ketua Direksi," salam semua orang setelah berdiri dan menundukkan memberi hormat.


"Ya, Selamat Pagi," kata Abraham William dengan tenang, lalu duduk ditempat yang disediakan. Sedangkan Lisa William duduk di kursi tengah sebagai pemimpin rapat kali ini.


Setelah duduk, Lisa mulai melihat sekeliling, bahwa semua Kursi telah terisi, termasuk cukup puas sudah melihat Arka duduk ditempat yang seharusnya.


"Baik, karena sepertinya sudah hadir, dan jam sudah menunjukan pukul tujuh, Rapat akan segera dimulai,"


Dengan begitu rapat dimulai, dari dimulai membicarakan tentang keuangan perusahaan, lalu lanjut ke proyek masa depan yang akan mereka lakukan.


Disana, Galvin terlihat sedang presentasi tengah Proyek yang sudah dia dapatkan, terlihat berbicara secara profesional, juga anggota Direksi disana terlihat cukup puas dengan Hasil Prestasinya itu.


Arka hanya menyimak rapat ini dengan nada bosan, dan perlahan mengantuk. Benar-benar membosankan.


Begitu Presentasi itu selesai beberapa anggota Direksi bertepuk tangan dan mulai menuji Galvin.


"Saya melihat, rencana ini terlihat sangat bagus,"


Mereka adalah anggota Direksi yang berada di pihak Ayah Galvin.


Tim Direksi ini memiliki kelompoknya sendiri-sendiri, soal memihak siapa. Ada yang memihak Putra Pertama Keluarga William, Andreas, biasanya mereka akan berada di pihak Louise karena Louise adalah anak kesayangan Ayahnya.


Ada yang berada di pihak Paman Arka Lucas, dan Tante Arka, Serrly yang diwakilkan oleh suaminya.


Disini juga ada pihak Direksi yang masih setia pada Abraham William dan tidak memihak siapapun dalam acara perebutan kekuasaan.


Jika membicarakan soal dukungan anggota Direksi, Arka tidak mendapatkan dukungan apapun dari mereka.


Nenek Arka, berusaha membuat Arka masuk kedalam Group agar dia bisa mendapatkan dukungan dari Tim yang saat ini masih netral, namun karena kinerja Arka memang kurang baik, ini membuat semua orang kecewa.


Terakhir kali, Arka gagal dalam presentasinya, itu karena Arka tidak diberitahu sebelumnya jika dia harus presentasi, hanya Galvin dan Robert mulai bertanya soal Proyek yang akan dikerjakannya yang memang belum disiapkan. Arka yang belum mempelajari Proyek itu, karena memang belum lama sejak itu berada ditangannya tentu saja binggung, dan itu membuat dia gagal dalam Presentasi dadakannya itu.


Anggota Direksi yang memang tidak menyukai Arka, memberikan kritik keras saat itu pada Arka, dan itu membuat Arka emosi, dan membuat keributan disana.


Kali ini Arka sudah berjanji pada Viola agar tidak membuat masalah lagi, jika sampai ada hal-hal seperti terakhir kali, dirinya akan segera menyuruh Viola masuk untuk membantunya.


Namun sepertinya tidak ada masalah soal ini, beberapa orang mulai presentasi satu demi satu.


Sekarang giliran Louise yang berada dalam Management Pemasaran.


"Tingkat produk penjualan kita sudah meningkat, akan lebih baik jika kita meningkatkan strategi pemasaran secara online......."


Louise mulai berpersepsi juga dengan lancar, dan tentu saja dia juga mendapatkan beberapa pujian.


Itu juga merupakan persentasi terkahir hari itu.


Arka yang mendengarkan rapat dari awal sampai akhir, merasa lega karena sepertinya rapat ini hampir selesai.

__ADS_1


Namun sebelum Rapat di tutup, Ketua Direksi, memberikan sebuah pengumuman,


"Hari ini saya akan memberikan pengumuman penting. Cucu Saya, Arka William mulai hari ini akan di Promosikannya sebagai Wakil dari Direktur Proyek dan Pengembangan,"


Tentu saja pengumuman ini membuat semua orang yang berada diruangan itu cukup terkejut, termasuk Arka yang tidak diberitahu apapun soal hal ini.


Terutama kelompok Paman-Paman dan Sepupunya terkejut, bahkan Ayah Arka pun terkejut.


Semua cucu Keluarga William memulai dari hal yang sama dibagian Mamajemen. Saat ini mereka masih berada di bagian Manajemen Proyek.


Dan lagi posisi Arka yang tiba-tiba dinaikan menjadi wakil Direktur itu membuat mereka tidak terima.


"Maaf, Ibu Ketua Direksi apakah ini tidak salah dengar?" Tanya salah satu anggota Direksi.


"Tidak ada yang salah. Keputusan ini sudah disetujui oleh Pak Presdir benar bukan?" Tanya Nenek Arka pada Kakek Arka yang dari tadi diam disana.


Ekpersi wajah Abraham William lalu berubah, dan mengehela nafas lalu berkata,


"Ya, aku sudah menyetujui ini."


Galvin jelas saja sangat tidak terima,


"Tunggu dulu, kenapa Arka bisa naik Jabatan? Apa Prestasi yang dia miliki? Aku tidak melihat apapun layak untuk Arka naik jabatan, tidakkah ini tidak adil?"


"Itu benar, kenapa Kak Arka naik jabatan? Ini benar-benar tidak adil," tambah Robert dengan kesal.


Lalu didukung oleh Paman Arka, Lucas,


"Itu Benar Pak Presdir kenapa kenaikan jabatan ini disetujui? Aku hanya merasa ini keterlaluan, kita semua tahu kinerja Arka seperti apa, bagaimana jika dia hanya membuat kacau saja?"


"Itu benar,"


"Ya, Saya setuju,"


"Pak Presdir dan Ibu Ketua Direksi, mohon pertimbangkan lagi soal hal-hal ini,"


Arka yang melihat bahwa semua orang sepertinya sangat tidak setuju itu juga menjadi marah, apalagi mereka terus merendahkannya.


Ini tidak seperti dirinya begitu ingin mendapatkan posisi dan kenaikan jabatan ini pula, namun tetap saja mendapat kecaman dari begitu banyak orang membuat Arka marah, namun dia mencoba menahan emosinya dan tetap hanya tersenyum.


Dirinya benar-benar berniat untuk tidak membuat masalah.


"Kalian semua cukup, ini sudah keputusan saya dan Pak Presdir. Soal jabatan baru ini, ini hanya Wakil Direktur, masih ada Pak Direktur Proyek dan Pengembangan, saya sudah berkoordinasi dengan beliau agar Beliau mau membantu dan mengembangkan potensi dari Cucu Saya Arka William. Dengan semakin banyaknya tanggung jawab diharapkan Cucu saya ini akan lebih bertanggung jawab, benar begitu?"


Lalu Direktur Proyek dan Pengembangan berkata,


"Ya, saya akan mengunakan kemampuan saya untuk membantu Tuan Muda Arka mengembangkan potensinya, jadi tidak perlu di khawatirkan,"


Masih ada saja yang mencoba menentangnya,


"Namun bagaimana jika malah Tuan Muda Arka membuat kekacauan? Bukankah sebelumnya di Rapat Direksi dia membuat keributan?"


"Itu benar sekali."


Lalu, Galvin mulai menambahkan,


"Itu Benar, aku merasa jabatan itu tetap kurang cocok untuk Arka. Dia bahkan belum memenangkan Proyek Besar apapun,"


"Aku cukup setuju soal itu,"


Banyak anggota direksi yang mulai ikut kompalin, membuat Abraham William juga manjadi pusing.


Sekarang melihat ruangan rapat sudah menjadi gaduh, Arka yang juga menjadi tidak sabar lalu berdiri berkata dengan Agresif dan penuh percaya diri,


"Aku akan membuktikan bahwa aku layak, saat ini aku tengah menjalankan rencana Proyek untuk pembangunan Pusat Perbelanjaan di Kota A. Dan aku pasti akan mendapatkan proyek ini. Aku pasti tidak akan mengecewakan Pak Presdir dan Ibu Ketua Direksi. Jika sampai aku gagal, aku akan secara sukarela mengundurkan diri dari Posisi Wakil Direktur ini."


####

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2