
Arka duduk dikamarnya dengan kesal sambil menunggu kabar dari Viola yang masih mencoba menghubungi Agen Properti.
"Viola? Apa belum selesai?" Kata Arka dengan tidak sabar.
"Sudah, Tuan Muda. Saya sudah membuat janji pada Agen Properti untuk melihat-lihat Apartemen di Sekitar Kantor yang cukup bagus,"
"Ya, lebih cepat lebih baik,"
Viola melihat Tuan mudanya itu terlihat kesal, segera mencoba menenangkannya.
"Tuan Muda jangan terlalu memikirkan soal hal-hal yang tadi Ayah Tuan Muda katakan, beliau kan memang seperti itu,"
"Hah, kamu sepertinya sudah hafal juga dengan Ayahku, dia begitu menyebalkan, dia selalu saja menurut apapun yang di katakan Istri Barunya itu, dikira aku tidak tahu, jika Ayahku itu sudah memiliki Hubungan gelap dengannya sejak Mama masih hidup, aku sudah menemukan bukti-buktinya belakangan ini dan tepat ketika Mamaku sudah meninggal, dia benar-benar berani membawa masuk Selingkuhannya ini,"
"Tuan Muda harus bersabar soal ini,"
"Baik, lukan soal hal-hal itu, kenapa kita tidak fokus saja dengan pemilihan Apartemen?"
Kemudian Viola menujukan ponselnya yang berisi catalog Apartemen yang dikirimkan oleh Agen Properti.
Mereka ketua terlihat sangat serius membalik-balik foto di ponsel itu.
"Lihat, Apartemen ini terlihat cukup bagus, ini ada di Lantai Paling Atas sesuai yang kita mau,"
Viola menatap gambar yang Arka tunjukkan itu.
"Tapi ini terlalu besar untuk ditinggali hanya oleh kita berdua,"
Arka menatap Viola dengan ekpersi heran,
"Terlalu besar apa? Aku merasa tempat ini tidak sebesar itu, lagipula aku juga ingin tempat yang cukup leluasa, dan tempat ini mungkin cukup cocok,"
Viola terdiam sebentar, lalu menatap Apartemen lainnya,
"Bagaimana dengan yang ini?"
Apartemen yang Viola tujukan tidak begitu besar namun memang terlihat cukup nyaman.
"Tidakkah ini terlalu kecil?"
"Tapi, Tuan Muda, untuk apa besar-besaran? Ini hanya pemborosan,"
"Bukan begitu, besok kalau kita mempunyai anak atau sesuatu kan biar mudah untuk mengatur Kamarnya," kata Arka secara refleks.
Wajah Viola langsung berubah menjadi merah mendegar itu, Arka sendiri yang melintas Viola terdiam itu, jelas menyadari apa yang barusan dirinya katakan itu.
Apa omong kosong yang barusan dirinya katakan?
Anak apa?
Mereka berdua bahkan belum sampai di tahap apapun, baru awal mula, kenapa langsung memikirkan anak?
Walaupun mereka sudah memasuki tahap proses membuatnya...
Tapi itu hanya proses!!
Dan lagi dengan hal-hal pencegahan, Viola jelas tidak akan hamil dulu.
__ADS_1
"Ah Itu....."
Arka menjadi gugup sendiri ketika akan menjelaskannya, terlalu malu melihat wajah Viola.
Sampai tiba-tiba, Ponselnya berbunyi,
"Aku mengangkat telepon dulu," kata Akra lalu berdiri dari sofa, dan pindah ke tempat tidur.
Viola sendiri akhirnya merasa lega entah bagaimana ketika Arka pergi.
Karena teringat kata-kata aneh Tuan Mudanya malam itu.
'Viola aku akan melakukannya didalam,'
'Tuan Muda, jangan.... Tuan Muda tidak memakainya tadi,'
'Karena Aku ingin membuat bayi dengan Viola,'
Dirinya sudah minim obat KB sebelumnya, jadi seharusnya tidak masalah, hanya saja Tuan Mudanya entah kesurupan apa malam sebelumnya.
Apakah masih marah gara-gara insiden Tespek entah milik siapa itu?
Tidak.
Apa yang dirinya pikirkan?
Tuan Muda Arka kan memang pikirannya suka Random, suka mengatakan hal-hal tidak jelas dan memiliki mood berubah-ubah, jangan percaya omongan-omongan aneh Tuan Mudanya itu, itu mungkin hanya lelucon.
Tuan Mudanya kadang bisa bahagia karena hal-hal kecil, berikutnya dia menjadi marah karena beberapa hal lagi, mood nya benar-benar bisa berubah-ubah dan sangat random!
Viola mencoba kembali menenangkan pikirannya yang mulai ngacau itu.
Disisi lainnya, Arka saat ini mengagakat telepon yang ternyata berasal dari adiknya, Louise.
Arka sejujurnya merasa lega, adiknya menelepon, sehingga bisa menghindari percakapan canggung dengan Viola.
"Ya, ada apa kamu menelepon?" Tanya Arka pada adiknya itu.
'Aku dengar, Kak Arka ingin Pindah dari Rumah Keluarga William?'
Arka sedikit terkejut, lalu segera bertanya,
"Astaga, apakah Beritanya sudah menyebar dengan cepat?"
'Benar sekali, sepertinya Mamaku mengoceh sepanjang pagi setelah Sarapan hingga semua Pelayan tahu, dan mungkin kabar ini tidak akan lama sampai ke telinga Paman, Bibi ataupun Kak Robert dan Kak Galvin,'
Mendengar itu, Arka segera tertawa,
"Biar saja mereka tahu aku sih tidak benar-benar peduli, biar mereka tahu juga sekalian, aku pindah karena muak melihat wajah mereka semua,"
Louise dari ujung telepon ikut tertawa,
'Kak Arka benar-benar hebat,'
"Ya sudah, aku sibuk sekarang lain kali aja ngobrolnya,"
'Ih, tunggu dulu, Kak. Aku mau tanya, Kapan Kakak berencana pindah?'
__ADS_1
"Besok aku akan pindah,"
'Astaga, Kenapa begitu cepat?'
"Sungguh, aku udah begitu muak berada di sini ingin cepat-cepat segera pergi,"
'Baiklah, Baiklah, aku mengerti. Jadi Kakak berniat pindah kemana?'
"Aku belum tahu,"
'Lah, Kakak bagaimana?'
"Aku baru memikirkan Ide ini pagi ini. Dan sekarang Aku dan Viola sedang mencari Apartemen yang cocok,"
'Mau aku bantu cari?'
"Memang kamu tidak sibuk?"
'Aku benar-benar aman sekarang, sedang libur dari pada bosan,'
"Aku berencana melihat-lihat Apartemen setelah makan siang,"
'Ok, nanti tunggu aku di perkirakan, WA saja kalau Kakak sudah mau berangkat,'
"Tentu,"
Setelahnya, Arka menutup teleponnya itu.
"Viola, Louise adikku ingin ikut, apakah tidak apa-apa?"
"Tentu saja tidak apa-apa, akan membantu jika ada Tuan Muda Louise yang membantu memilih, dia biasanya memiliki keberuntungan yang baik,"
"Jadi menurutmu keberuntunganku jelek?" Kata Arka dengan ekspresi cemebutnya itu.
"Bukan begitu, Tuan Muda..."
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat, mari kita pilih Apartemen saja, ah benar juga, sekalian saja kita pilih perabotan untuk Apartemen ini,"
Viola menatap Tuan Mudanya, dengan ekpersi kaget.
Memang, sepertinya hari ini benar-benar akan menjadi hari yang panjang.
Langsung ingin pindah ke Apartemen Besok, padahal Apartemennya saja belum dapat, apalagi Perabotannya, dan apakah Tuan Mudanya akan minta Renovasi untuk Dekorasi juga dalam semalam?
Astaga, namanya Orang Kaya, apa-apa benar-benar bisa dilakukan dengan uang.
"Ya, apapun keinginan Tuan Muda,"
Pada akhirnya, sepanjang pagi, Arka dan Viola sibuk memilih berbagai hal seperti Perabotan dan Desain, dan tentu saja hal yang utama yaitu milih Apartemen.
Hingga akhirnya makan siang selesai dan, Arka bertemu dengan Louise di Parkiran.
"Jadi, Kak Arka kamana kita pergi?"
"Apartemen di Kompleks C,"
"Tempat itu? Kenapa tidak di Apartemen milik Keluarga William saja? Yang di Kompleks B,"
__ADS_1
"Aku melihat desain Apartemen Kompleks C cukup bagus, terutama Lantai Paling Atasnya, yang di Kompleks B sudah diisi orang lantai Paling Atasnya,"