
Arka dan Louise masih mengobrol di taman belakang yang cukup tersembunyi itu.
Louise melihat sikap keras kepala Kakaknya itu menjadi binggung sendiri bagaimana cara membujuknya.
Saat ini, saja Kakaknya baru keluar dari Rumah Sakit.
Sial, dirinya harusnya berpikir lebih panjang agar tidak langsung segera bilang hal ini pada Kakaknya, dan menunggu Kakaknya pulih dulu.
Sekarang mengatakan ini pada Kakaknya malah menambah misteri tambahan yang harus diselidiki, dan lagi itu pasti menjadi beban pikiran pada Kakaknya itu.
Louise juga tahu, cedera di Kepala Kakaknya cukup berat sebelumnya.
Tidak boleh banyak beraktifitas atau banyak berpikir dulu agar cepat sembuh.
Hah...
Dirinya kurang bijak sana.
Dan sekarang malah Kakaknya ingin pergi keluar, dimana saat ini Di Luar Rumah Keluarga William cukup berbahaya.
Dengan keberadaan musuh yang entah masih mengintai dan tidak tahu kapan muncul.
Setidaknya jika ini di Rumah, mereka tidak akan berani masuk ke Rumah ini dan menyerang Kak Arka.
"Kak Arka jangan begitu, bagaimana jika musuh Kakak ini menunggu Kakak keluar dari Rumah Keluarga William agar bisa menyerang Kakak lagi?" Kata Louise dengan cemas.
Arka terdiam sejenak, lalu segera membalas kata-kata adiknya.
"Tidak, tidak. Aku rasa kamu berlebihan Louise,"
"Aku tidak berlebihan,"
Louise terdiam sejenak, masih memikirkan cara bagaimana cara membujuk Kakaknya ini agar tidak ikut.
"Tapi, Louise ini penting untukku juga, aku juga ingin menyelidiki tempat itu,"
"Aku mengerti, namun situasinya tidak pas,"
"Tapi Louise...."
"Lalu, apakah Kak Arka ingin Kak Viola tahu semua ini? Tahu jika Kakak berurusan dengan hal-hal berbahaya? Jika Kakak pergi keluar, jelas Kak Viola akan ikut, nanti jika terjadi insiden seperti sebelumnya jika itu Kak Viola yang kena...."
Sekarang wajah Arka yang menjadi pucat.
Jelas, melihat sifat Viola, jika dirinya pergi Viola juga akan pergi.
Dan musuh ini sepertinya tidak hanya mengincar dirinya sekarang, tapi juga Viola.
Jika Viola sampai menjadi korban...
Tidak...
Ini tidak boleh terjadi.
Namun dirinya juga ingin tahu soal hal-hal itu....
"Kak Arka percayalah padaku, aku yang akan menyelidikinya, aku sendiri yang akan kesana bersama anak buahku," kata Louise penuh keyakinan, setelah melihat Kakaknya yang mulai ragu-ragu untuk ikut itu.
Sudah dirinya duga, jika ini berkaitan dengan Kak Viola, Kakaknya Arka sudah tidak lagi menjadi keras kepala.
"Tapi Louise, kamu harus tetap hati-hati jika ada sesuatu hubungi aku,"
"Tenang saja, Kak. Aku akan baik-baik saja, aku bisa menjaga diriku sendiri, yang penting Kak Arka banyak Istirahat saja, dan kurangi aktivitas di malam hari, saat ini kondisi kesehatan Kakak masih kurang baik,"
Mendengar kata-kata adiknya, itu jelas Arka menjadi merasa malu memikirkan soal hal-hal dirinya dengan Viola semalam.
Walaupun lampu semalam dimatikan...
Padahal dirinya jelas ingin melihat wajah Viola, tapi dia terlihat cukup malu.
Jadi mau bagaimana lagi....
Namun setidaknya, dengan mereka melakukan hal-hal itu, dirinya berharap Viola akan pelan-pelan mulai menumbuhkan perasaan tertentu padanya.
"Louise, berhenti bicara omong kosong,"
"Tapi Kak, hal-hal seperti itu cepat membuat lelah,"
__ADS_1
"Itu kamu saja yang staminanya payah,"
"Kakak jangan bicara sembarangan, siapa yang bilang staminaku buruk? Aku sangat bisa menyenangkan wanita di atas tempat tidur,"
Arka lalu ingat sesuatu, soal Viola yang pernah memberinya review bintang satu.
Dan tanpa pikir panjang, Arka bertanya pada Louise,
"Jadi bagaimana caranya?"
Tentu saja Louise yang ditanyai itu tidak mengerti.
"Bagaimana apanya?"
"Itu cara menyenangkan Wanita di Atas Tempat tidur,"
Sekarang wajah Louise yang menajadi sedikit memerah gara-gara pertanyaan aneh Kakaknya itu.
"Kakak itu jangan bertanya hal-hal omong kosong,"
"Tadi kamu sendiri yang bilang, kalau kamu sangat bisa menyenangkan wanita di atas tempat tidur,"
"Sungguh? Kakak benar-benar bertanya ini padaku?"
Arka lalu memasang wajah seriusnya.
"Ya, memang siapa lagi yang bisa aku tanya soal hal-hal seperti ini?"
"Kakak aneh,"
"Ayolah, Louise, ini penting. Kamu tau tidak, tempo hari Viola memberiku review bintang satu karena kinerjaku ditempat tidur buruk,"
Arka yang keceposan itu segera menutup mulutnya, merasa malu sendiri.
Sedangkan Louise tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya saking tidak tahannya dengan kata-kata Kakaknya barusan.
Review?
Bahkan hal-hal seperti itu di Review segala.
"Astaga... Kak Viola memerikan review bintang satu? Ahahaha.... Astaga Kak Arka... Seberapa buruknya itu..."
Arka tentu saja menjadi sebal karena ditertawakan.
"Louise!! Jangan tertawa!!"
"Habis, ini lucu sekali, astaga.... Kak ini beneran?"
Louise masih menertawakan Kakaknya itu dengan senang hati.
"Diamlah, dasar adik tidak ada akhlak,"
Louise mencoba menghentikan tawanya, lalu sekali lagi bertanya pada Kakaknya itu,
"Baik-baik, aku akan mencoba memberikan beberapa petunjuk pada Kakak,"
Arka dahan antusias lalu bertanya,
"Apa itu?"
"Bagaimana ya, Kak. Aku pikir hal-hal ini adalah bakat alami,"
"Kamu mau bilang aku tidak berbakat soal hal ini?"
"Tentu saja tidak. Ini mungkin karena Kakak kurang pengalaman saja,"
"Ya, jelas aku bukan seperti kamu yang suka bermain-main,"
"Jadi solusilu, Kakak sebaiknya banyak-banyak berlatih atau menonton beberapa video,"
"Omong kosong,"
"Hah.... Ya sudah, sih aku kan tidak memaksa,"
Pada akhirnya mereka membicarakan berbagai macam hal pagi itu, sampai-sampai mereka lupa waktu.
"Hah, sudah jam segini, sebaiknya aku segera pergi," kata Louise kemudian.
__ADS_1
"Aku akan memberimu kunci Rumah itu, ambil saja nanti di kamarku,"
"Tentu saja, Kak,"
"Ingat untuk hati-hati, Rumah itu sudah lama tidak di tinggali, walaupun itu tetap dirawat,"
"Tapi aku tidak janji, jika memerlukan sebuah petunjuk,"
Arka lalu berpikir sebentar,
"Owh, benar, disana ada sebuah gudang, sepertinya ada beberapa hal lama yang di simpan disana, kamu bisa memeriksanya,"
"Tentu saja, aku akan cek. Apalagi yang menurut Kakak penting?"
"Mungkin ada semacam Ruang Rahasia?"
"Kakak benar, biasanya ada semau hal-hal seperti itu,"
"Hah, bahkan di Rumah Keluarga William itu ada semacam tempat seperti itu,"
Tiba-tiba, Louise kepikiran sesuatu.
"Tapi, Kak bagaimana jika malah ada petunjuk di Ruang Rahasia di Rumah Utama? Ini dekat,"
"Huss, kamu ini. Jika sampai ketahuan Kakek, kita bisa mati,"
"Tapi Kakak katanya pernah kesana?"
"Ada beberapa hal terjadi, hingga aku sampai masuk ke ruang rahasia itu,"
"Jadi Kakak tahu lokasinya?"
Arka sekali lagi, melihat sekelilingnya, dan segera berbisik ditelinga Louise.
"Ya, aku tahu itu dimana,"
Arka lalu melihat tatapan Antusias dari Louise itu.
"Aku tidak akan memberitahumu, aku tahu kamu sama nekatnya dengan aku, kamu yang selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pasti akan langsung kesana,"
"Ah, Kak Arka tidak asik,"
"Begini saja, jika memang kamu tidak menemukan petunjuk apa-apa di Rumah lama itu, mari kita menerobos Ruang Rahasia Keluarga,"
Louise sedikit tertawa, lalu berkata,
"Ini sepertinya tindakan ilegal, namun cukup menarik,"
"Hah, kamu ini terlihat sedang berburu harta karun saja,"
"Ya, mau bagaimana lagi, aku sangat suka memecahkan misteri-misteri seperti ini, yah akan bagus jika benar-benar ada harta karun yang bisa di buru,"
"Dasar, kamu ini,"
Berikutnya, ketika mereka kembali berbicara, Viola yang muncul entah dari mana menyapa mereka.
Membuat jantung Arka hampir copot.
"Viola! Jangan mengagetkanku seperti itu,"
"Maaf, Tuan saya hanya khawatir, karena Tuan Muda tidak kunjung kembali ke kamar," kata Viola tiba-tiba.
"Aku akan sudah bilang, hanya ada disekitar sini, mau kemana lagi?"
Viola menjawab dengan ragu,
"Ya, siapa tahu kalau Tuan Muda pergi,"
Louise yang melihat sikap posesif Viola itu sedikit tertawa,
"Rupanya aku hanya obat nyamuk, silahkan lanjutkan kemesraan kalian, aku pergi,"
"Siapa yang bermesraan?" Kata Arka dan Viola secara bersamaan.
Wajah mereka langsung memerah karena malu sendiri entah kenapa ketika mata mereka bertemu.
Teringat kejadian malam sebelumnya....
__ADS_1