
Malam itu, Viola masih diam, dan tidak mengatakan apapun pada Arka, dirinya Masih memikirkan Bagaimana cara menghadapi ini.
Apa sekarang yang harus dirinya lakukan?
Dirinya adalah anggota dari Keluarga Cavel yang Tuan Mudanya benci.
Arka sendiri tentu saja sadar dan melihat bagaimana suasana hati Viola terlihat buruk, namun Arka tidak bertanya, dirinya tahu Viola masih belum terlalu terbuka padanya, jadi dirinya akan menunggu sampai Viola berbicara sendiri dengan dirinya.
Malam itu, ada keheningan antara mereka berdua, itu berjalan sampai besok kan paginya, dimana Viola belum berbicara banyak pada Arka, dan bahkan tidak memberikan Arka ciuman selamat pagi.
Arka merasa ini aneh, karena dia sudah tidak tahan akhirnya kembali bertanya,
"Kamu sebenanya kenapa Viola?"
Viola lalu menatap kearah Tuan Mudanya, tidak tahu harus menjawab apa.
Dirinya jelas tidak mungkin membicarakan ini kepadanya setidaknya untuk sementara sampai dirinya benar-benar yakin soal kabar yang diterimanya.
Memang, sebenanya bukti yang diberikan padanya itu sudah cukup namun, entah kenapa masih ada perasaan mengganjal dalam dirinya.
"Saya tidak apa-apa, hanya memang belakangan terlalu banyak pikiran karena terlalu banyak pekerjaan,"
"Baiklah, kamu emang sebaiknya hari ini istirahat saja tidak perlu ke kantor jangan memaksakan diri,"
"Tapi..."
"Sudah, dengarkan saja aku oke? Semua akan baik-baik saja Bukankah kemarin semua baik-baik saja?"
Viola yang memang dalam suasana kurang baik itu akhirnya menerima tawaran Arka untuk Istirahat di Rumah, dan membiarkan Arka pergi ke kantor.
Namun, berada di rumah sendirian jelas membuat Viola merasa sedikit bosan dan merasa kesepian.
Biasanya selalu ada Tuan Mudanya yang berada di sampingnya, dan memberikan warna dalam hidupnya dan membuat dirinya lebih ceria dengan semua tingkah dan perilaku Tuan Mudanya itu.
Benar-benar terasa sepi dan hampa jika tidak ada dia disisi Viola.
Viola yang merasa muak berada di rumah sendirian akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kompleks mereka tinggal.
Viola ingat, jika dirinya belum sempat melihat-lihat arena tempat mereka tinggal karena dirinya sangat sibuk dengan pekerjaan.
Ya mungkin ini benar kata Tuan Muda, dirinya butuh istirahat dan tidak memikirkan apapun butuh refreshing, dan bersenang-senang.
Dan itulah perjalanan pagi Viola akhirnya dimulai.
Awalnya, perjalan itu cukup menyenangkan berolahraga pagi hari di sekitar sana.
Cuaca hari ini cukup bagus, sangat menyegarkan untuk menghirup udara segar.
Viola menikmati momen ini sebentar.
Sampai tiba-tiba Viola melewati sebuah Rumah Mewah di ujung jalan.
Viola sedikit terteguh ketika menatap ke Rumah Mewah itu.
Rumah dengan dekorasi yang cukup klasik, dan entah bagaimana terasa familiar, padahal ini baru pertama kalinya dirinya melihat rumah itu.
Sampai tanpa sadar, Viola mendekati kearah Rumah itu, sampai di depan pintu gerbang.
Sampai, dia tidak sadar jika pintu gerbang itu terbuka.
__ADS_1
Dari dalam Rumah itu, terlihat wajah yang familiar.
Tatapan mereka terteguh satu sama lainnya untuk sesaat.
Viola tahu, siapa Pria di depannya ini.
Ini adalah Lewis Cavel...
Lewis juga terdiam, tidak bisa berkata-kata setelah menatap ke arah adiknya itu, dan tanpa sadar memanggil namanya.
"Clarissa....."
Viola lalu berjalan mundur, tidak bisa menerima sesuatu yang barusan dirinya.
"Aku bukan Clarissa!! Aku Viola... Aku.... Aku bukan anggota Keluarga kalian!!"
Lewis juga terteguh setelah mendengar kata-kata Viola.
Dirinya belum memberitahukan hal-hal ini pada gadis itu, namun kenapa dia bisa tahu?
Siapa yang memberitahunya?
Dan sejak kapan kabar ini bisa bocor?
"Tunggu.... Kamu... Bagaimana kamu tahu?"
Lewis berjalan mendekat ke arah Viola.
Namun Viola malah terus berjalan mundur, mencoba untuk menghindar.
"Tidak!! Aku tidak tahu apa-apa...."
Melihat ekspresi panik itu, jelas Lewis kurang lebih tahu apa yang terjadi.
Lewis lalu mengeluarkan sebuah kalung liontin yang mirip dengan milik Viola.
Viola juga menatap kearah kalung itu.
"Maaf... Maafkan Kakak.... Kamu harus tahu hal-hal ini di saat yang tidak tepat... Kakak tidak tahu siapa yang memberitahumu, namun percayalah, semua akan baik-baik saja,"
Viola masih menatap pria di depannya ini dengan ekspresi tidak percaya.
Dengan kalung liontin yang mirip dengan miliknya itu, Viola akhirnya sadar siapa pria yang ada di depannya itu.
Dia adalah anak laki-laki dalam foto di dalam Liontin itu, yang kemungkinan besar adalah Kakaknya.
Namun Viola malah tidak bisa menerima itu, mencoba menolak sekali lagi bahkan ketika sebuah bukti yang lebih valid terlihat jelas.
"Tidak.... Aku bukan...."
Viola mundur kebelakang, sampai dia tidak sadar jika ada mobil lewat.
"Viola, Awas...."
Viola yang tidak memperhatikan itu terseret oleh mobil, Lewis juga tidak sempat untuk menyelamatkan Viola.
Viola terjatuh dijalan dan mulai kehilangan kesadarannya.
####
__ADS_1
Dalam kegelapan, Viola melihat sebuah memory lama.
Gambar seorang anak laki-laki, dan seorang wanita dewasa yang sangat cantik, bermain-main dengan seorang gadis kecil.
Gadis kecil itu memiliki wajah yang sama dengan dirinya ketika masih kecil.
Gadis kecil itu, terlihat tidak memiliki ekpersi diwajahnya, walaupun dua orang didepannya mengajaknya bermain dan menghiburnya.
"Clarissa, jangan dengarkan Kakekmu, kamu hiduplah sesuai yang kamu inginkan...." Kata seorang wanita disana.
"Itu benar, Kakek memang suka berbicara yang tidak masuk. Jika kamu tidak suka kamu tidak perlu melakukannya, biar Kakakmu ini yang melakukan,"
"Itu benar, Clarissa, kamu memiliki Kakakmu yang akan selalu melindungimu,"
Berikutnya, ingatan itu kembali dalam kegelapan.
Beberapa memory kembali satu demi satu, sesuatu yang langsung membanjiri ingatan dan perasaan Viola.
Ingatan tentang masalalunya...
Ingatan di hari penculikan itu...
Kembali satu demi satu....
Dan ketika Viola membuka kembali matanya, dirinya berada di sebuah kamar yang terlihat familiar.
"Viola, kamu sudah bangun?"
Ada suara Pria tertentu disampaignya,
"Kak Lewis...."
Mendengar panggilan itu, ekpresi Lewis menjadi begitu kaget.
Suara panggilan yang terdengar familiar yang begitu lama tidak dirinya dengar.
"Viola kamu...."
"Aku sudah ingat... Aku adalah Clarissa Cavel,"
Lewis yang mendengar itu, segera memeluk adiknya yang begitu dia rindukan itu.
"Kamu... Kamu benar-benar adikku..."
"Ya, aku telah kembali, Kak Lewis,"
Dua persaudara itu tenggelam dalam pelukan mereka, melepaskan rasa rindu satu sama lain.
Viola yang mendapatkan kembali ingatannya, memilih perasaan yang cukup rumit, namun dirinya juga merasakan kehangatan ketika berada dalam pelukan ini.
Pelukan dari Keluarga Kandungnya, dari Kakaknya yang sudah sangat lama tidak dirinya temui, perasaan rindu yang tiba-tiba kembali...
Mereka cukup lama tenggelam dalam pelukan itu, sampai Lewis melepaskan adiknya itu, lalu segera bertanya,
"Sekarang, Apakah kamu sudah tidak apa-apa?"
Viola lalu segera bertanya,
"Kak Lewis, Mama... Aku ingin bertemu dengannya...."
__ADS_1
Sekarang, Lewis tidak tahu harus menjawab apa.
"Clarissa, dengarkan apa yang aku katakan ini baik-baik....."