
Saat ini di sebuah rumah sakit, terbaring seorang pemuda dengan perban di kepalanya.
Pemuda itu terlihat terbaring dengan sangat lelap disana.
Ada seorang gadis yang duduk di kursi samping pemuda itu.
Viola mengegam tangan Arka dengan erat, merasakan tangan hangat itu, untuk membuatnya lebih tenang.
"Kak Viola sebaiknya Istirahat dulu, biar aku saja yang menjaga Kak Arka sementara,"
"Tapi aku.... Ini semua salahku..."
"Kak Viola, dengarkan aku, aku yakin Kak Arka tidak akan menyalahkan Kakak, ini bukan salah siapa-siapa ini murni kecelakaan,"
"Tapi... Gara-gara aku, Arka menjadi seperti ini... Dia belum juga bangun...."
Benar, saat ini mereka masih di Ruangan ICU, setelah kepala Arka terkena pukulan yang cukup keras, membuat pendarahan pada kepalanya.
Arka sebelumnya sudah melakukan Operasi dan pemeriksaan menyeluruh, dan sudah melewati masa kritisnya.
Hanya saja, Arka belum ada tanda-tanda untuk bangun.
"Kak Viola... Kak Viola harus percaya pada Kak Arka, dia pasti akan bangun, semua akan baik-baik saja, Kak Arka itu cukup kuat,"
"Tapi ini sudah hampir tiga hari sejak dia belum sadarkan diri...."
Louise juga menatap Viola yang masih terlihat frustasi itu, menatap Arka yang saat ini masih terbaring lemah di tempat tidur.
Tentu saja, dirinya juga merasa sedih, cemas dan begitu takut.
Takut Kakaknya kenapa-kenapa.
Namun dirinya tetap mencoba bersifat positif, kalau Kakaknya akan baik-baik saja.
"Kak Viola... Percayalah pada Kak Arka... Dia akan baik-baik saja, sebaiknya Kakak pulang dan Istirahat dulu, aku yakin jika Kak Arka sadar dan melihat Kakak seperti ini, dia akan sangat sedih,"
Memang, selama beberapa hari ini sejak kejadian hari itu, Viola terus berada di Rumah Sakit.
Louise sendiri ingat kejadian hari itu ketika dirinya yang mendapatkan panggilan darurat itu datang ke lokasi kejadian bersama pengawal lain dari Keluarga William.
Dirinya melihat Viola yang berlumuran darah...
Bukan-bukan, itu bukan darah Viola...
Itu darah dari orang-orang jahat yang sudah menyerang mereka sebelumnya.
Ekpersi dingin dan kemarahan Viola saat itu hampir membuat Louise merasa ngeri, Viola memukuli mereka benar-benar tanpa ampun.
Namun dirinya juga paham, melihat keadaan Arka yang terbaring lemas di tanah itu, pasti membuat Viola menjadi begitu marah dan sedih.
__ADS_1
Dan begitu bantuan datang, Viola langsung menyerahkan Arka padanya untuk dibawa ke Rumah Sakit.
Viola sendiri, lalu pergi menuju ke lokasi rapat penting itu sendiri bersama Arsitektur itu.
Hari itu, Louise tahu betapa khawatirnya Viola yang tidak bisa membawa langsung Kakaknya ke Rumah Sakit.
Karena Viola sudah berjanji sebelumnya pada Arka jika mereka akan mendapatkan proyek itu.
Karena janji itu, Viola datang kesana sendiri.
Dirinya dengar Viola sempat membuat kehebohan disana, namun pada akhirnya Perusahaan mereka, menang dan mendapatkan Proyek itu.
"Ya... Aku akan selalu percaya padanya... Arka... Segera bangunlah... Kita sudah berhasil mendapatkan proyek yang kamu inginkan, segeralah bangun, dan mari kita rayakan bersama,"
Namun sekali lagi, tidak ada balasan dari pemuda itu.
Terlihat Arka masih terbaring di tempat tidur itu tanda tanda-tanda membuka matanya.
Ekspresi tenang dalam wajah tidur itu, membuat Viola merasa sedikit takut.
Namun kehagatan tangan yang dirinya rasakan dari tangan Arka, pertanda jika pemuda di depannya masih ada, itu membuat Viola merasa lega.
Ya, itu benar.
Dirinya harus percaya pada Tuan Mudanya, pasti Tuan Mudanya akan segera sadar dan pulih siuman seperti biasanya.
Lalu mereka akan merayakan kemenangan mereka bersama, untuk mendapatkan proyek besar untuk pertama kalinya.
Dirinya harus percaya pada Tuan Mudanya.
Pasti.
Viola terdiam sebentar, lalu memutuskan,
"Baiklah, aku akan pulang sebentar dan Istirahat, pastikan kamu menjaga Arka disini selama aku pergi,"
"Ya, Kak Viola tidak usah khawatir, aku akan menjaga Kak Arka. Dan lagi, kami sudah menyiapkan pengawal di Ruangan ini, dan akan memastikan tidak akan terjadi apapun pada Kak Arka,"
"Ya, aku mengerti."
Akhirnya Viola memutuskan pergi dari Rumah Sakit itu dengan ekspresi yang begitu sedih.
Dia segera menaiki mobil Keluarga William, dan kembali ke Rumah Keluarga William.
Namun begitu sampai di sana, bukannya hal baik yang menunggu namun ini adalah hal buruk.
Viola bertemu dengan Ayah Arka dan Ibu Tirinya.
Ibu tiri Arka yang lebih dulu menyinggung Viola.
__ADS_1
"Aku dengar, Arka sampai masuk Rumah Sakit dan koma karena melindungimu? Astaga, setelah kamu menikah dengan Putraku Arka, dia benar-benar hanya terkena sial, benar bukan sayang?"
Andreas juga menatap Viola dengan ekpersi kesal lalu berkata,
"Memang, kamu ini pembawa sial!! Kamu ini hanya layak menjadi Pelayan! Namun beraninya mengoda majikanmu dan berani menikahi Putraku!! Kamu benar-benar tidak tahu diri! Lalu sekarang kamu membuat Putraku berbaring di Rumah Sakit!! Dasar tidak tahu diri dan Pembawa Sial!"
Lalu dia menampar pipi Viola sampai memerah.
Viola tidak berkata apa-apa dan tetap diam, dan malah berniat pergi dari sana mengabaikan mereka berdua.
Ibu Tiri Arka itu yang melihat mereka diabaikan itu, tentu saja menjadi marah.
"Kamu!! Pelayan Jelek sialan!! Sekarang kamu sudah berani mengabaikan kami!! Sungguh tidak tahu malu!" Kata Laura sambil menarik tangan Viola.
"Itu benar!! Hanya karena kamu sekarang Istri Putraku, kamu begitu sombong!!"
"Memang, wanita ini sungguh tidak tahu diri, apakah kamu tidak mengaca? Lihat wajahmu yang begitu Jelek ini, ini benar-benar sangat membuat malu Keluarga William hanya dengan memiki Menantu sepertimu!!"
Viola masih diam.
Melihat dirinya masih diabaikan itu, Laura menjadi semakin marah, lalu hendak menampar Viola.
Namun, Viola merangkap tangan Laura, dan mencengkramnya.
Dirinya saat ini tidak dalam mood yang baik untuk berkelahi atau bertengkar dengan mereka berdua.
"Maaf jika saya tidak sopan, Saya akan segera pergi dari hadapan kalian," kata Viola dengan sopan.
Laura yang tangannya di cegkrem itu, sekarang merasa kesakitan, dan komplain ke Suaminya.
"Lihat sayang, tanganku begitu sakit, semua gara-gara wanita sialan ini!!"
Andreas juga menjadi begitu marah melihat sikap dingin Viola itu.
"Kamu ini!! Lihat saja setelah Arka sadar! Aku akan membuat Putraku menceraikanmu! Kamu ini tidak layak untuk menjadi Istri Arka!! Dasar Pembawa sial!"
Viola masih diam, dirinya lah yang paling paham akan fakta ini, jika dirinya memang tidak layak.
Dan cepat atau lambat mereka juga akan bercerai, toh ini hanya Pernikahan Palsu, yang berisi kebohongan untuk menipu semua orang.
Namun....
Memikirkan hal-hal ini sekarang membuat perasaan Viola terasa tidak nyaman.
Memang dirinya yang membuat Arka menjadi seperti ini....
Sampai Arka terbaring di Rumah Sakit dan tidak tahu kapan akan sadar....
Apakah dirinya ini hanya pembawa sial untuk Tuan Mudanya itu?
__ADS_1
Ini semua memang gara-gara dirinya yang tidak becus....
Bagaimana ini....