
"Maaf Tuan Muda, saya hanya terbawa suasana saja, jadi tidak terlalu memikirkan tentang hal-hal yang saya katakan,"
Mendengar jawaban biasa dari Viola itu, Arka jelas mengerti.
Lalu segera Arka melanjutkan kegiatan memijat Viola itu.
Viola sendiri hanya bisa bertanya-tanya soal hal-hal ini.
Bahkan setelah selesai memijat, Tuan Mudanya itu malah menyiapkan air mandi untuknya.
Jelas, sebenernya diberlakukan seperti ini oleh tuhan mudahnya membuat Viola sangat senang.
Memiliki seseorang yang memperhatikannya seperti ini.
Selama ini dirinya memang tidak memiliki siapa-siapa yang benar-benar peduli atau memperhatikannya jadi mendapatkan perlakuan seperti itu dari Tuan Mudanya, membuat Viola merasa begitu betah bersama dengan Tuan Mudanya ini.
Sampai Viola selesai mandi, dan dirinya terkejut karena di depan meja makan sekali lagi berisi hidangan hidangan favoritnya.
Dan Arka dengan ekpersi cerianya, segera bertanya,
"Lihat, apakah kamu menyukai hal-hal ini?"
Jelas, Viola menjawab tanpa keraguan.
"Ya, terima kasih banyak untuk tuhan udah menyiapkan hal-hal ini untukku namun aku merasa haha ini terlalu berlebihan, Tuan Muda tidak perlu terlalu memperlakukan ku dengan begitu baik,"
"Tapi kamu adalah Istriku, jaki tentu saja aku akan memperlakukan untuk itu baik bukankah aku sudah pernah bilang ini sebelumnya?"
Viola terdiam mendengar kata-kata itu,
"Tapi Tuan Muda...."
"Viola...."
"Ya, Tuan Muda?"
"Apakah kamu pernah jatuh cinta?"
Viola yang tiba-tiba mendengar pertanyaan itu menjadi sedikit bingung.
Jatuh Cinta?
Dirinya merasa tidak pernah memiliki perasaan perasaan seperti itu.
Bukan berarti dirinya tidak tahu apa itu cinta namun untuk benar-benar merasakannya dirinya tidak tahu bagaimana caranya.
Lagipula dalam hidupnya ini hal-hal seperti itu tidaklah penting, banyak hal yang harus dirinya urus yang paling utama adalah untuk menjaga Tuan Mudanya tetap bisa tersenyum dan bahagia.
"Tidak. Aku tidak pernah merasakannya,"
"Kenapa?" Tanya Arka penasaran, namun juga di hati Arka ada rasa kesedihan, karena itu artinya Viola benar-benar tidak mencintai dirinya.
"Karena hal-hal itu tidak diperlukan,"
Mendengar jawaban yang cukup dingin itu sungguh membuat Arka merasa terganggu.
"Sungguh? Kamu mengagap hal-hal seperti Jatuh Cinta ini tidak penting?"
"Saya pikir memang begitu. Ini bukan hal-hal pokok dalam hidup, jadi tidak perlu untuk jatuh cinta, toh tanpa Jatuh Cinta saya masih bisa hidup dengan baik,"
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika ada seseorang yang Jatuh Cinta padamu?"
Mendengar pertanyaan itu jelas Viola menjadi terdiam.
"Saya belum pernah memikirkannya. Namun mungkin akan saya tolak."
Mendengar itu, jelas Arka menjadi sangat kecewa.
"Kenapa?"
"Karena itu adalah hal-hal yang merepotkan. Namun kenapa Tuan Muda mulai membahas hal-hal seperti ini?"
Arka terdiam, lalu segera berpikir sejenak, apakah ada baiknya mengetes Viola.
"Aku.... Aku sedang jatuh cinta..."
Sekarang ekpersi Viola yang berubah menjadi pucat.
"Tuan Muda... Ini... Bukankah ini terlalu cepat?"
Ya, mendegar Tuan Mudanya jatuh cinta, tiba-tiba perasaan Viola menjadi cukup rumit.
Jika memang Tuan Mudanya jatuh cinta, bukankah itu artinya mereka akan cepat bercerai dan berpisah?
Sejujurnya memikirkan hal-hal seperti sebuah perpisahan membuat hati Viola merasa rumit.
Dirinya tidak ingin Tuan Mudanya untuk jatuh cinta pada siapapun, setidaknya untuk saat ini jadi mereka masih tetap bisa bersama-sama.
"Viola, kamu harus tahu yang namanya jatuh cinta itu bisa datang kepada siapa saja dan bisa datang kapan saja aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta seperti ini,"
Perasaan Viola menjadi cukup rumit mendegar hal-hal ini, namun dirinya mencoba memberanikan dirinya bertanya,
"Dengan siapa anda jatuh cinta Tuan Muda?"
Ketika mengatakan itu, Arka mencoba menjaga ekpersinya agar tetap tenang.
Viola merasa dirinya pasti salah dengar, karena hal-hal itu jelas tidak mungkin.
"Tuan Muda, jangan bercanda,"
"Namun bagaimana jika aku tidak bercanda?"
"Ini jelas tidak mungkin, tidak mungkin Tuan Muda bisa jatuh cinta padaku,"
"Kenapa kamu berpikir begitu? Kan ini bisa saja,"
"Namun tidak ada yang cukup baik dari diriku yang bisa membuat Tuan Muda jatuh cinta padaku, wajahku seperti ini, dan aku hanya anak yatim-piatu dengan identitas yang tidak jelas, yang sekarang hanya anak angkat dari seorang Pelayan,"
Ekspresi Arka jelas menunjukkan kekesalan dan rasa sedih ketika mendengar itu bagaimana Viola mengagap dirinya terlalu rendah.
"Tapi, kamu sangat pintar, dan hebat dalam berkelahi, kamu juga sangat kompeten dalam bekerja, kamu bisa melakukan apapun, kamu juga begitu peduli dan baik hati, apakah itu tidak cukup alasan untuk membuat seseorang jatuh cinta padamu? Termasuk aku?"
Viola masih terdiam tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
Pasti Tuan Mudanya benar-benar membuat lelucon.
"Tuan Muda... Saya rasa Tidak Muda terlalu berlebihan. Tidak perlu bagi bercanda tentang hal-hal ini,"
Melihat bagaimana Viola menyangkal semua hal ini, Arka menjadi begitu emosional, lalu dia segera bertanya,
__ADS_1
"Lalu menurutmu? Kenapa aku mau menikah dengan mu?"
"Bukankah itu agar Tuan Muda tidak dijodohkan?"
"Lalu, menurutmu, kenapa aku begitu baik padamu? Dan bahkan sampai melindungimu hari itu saat penyerangan?"
Viola mengeleng-gelengkan kepalanya, karena dirinya masih tidak mengerti tentang arah pembicaraan Tuan Mudanya itu.
Memang dirinya sampai sekarang tidak mengerti alasan-alasan kenapa tuan muda hanya melakukan hal-hal itu.
"Lalu... Kenapa Tuan Muda melakukannya?"
"Jika aku menjawab itu karena aku jatuh cinta padamu, apakah kamu percaya?"
Viola tanpa ragu lalu berkata,
"Ya, saya tidak percaya,"
Sekarang tatapan Arka menjadi cukup rumit.
Pada akhirnya dirinya mengerti jika hasil akhirnya menjadi seperti ini.
Namun apa yang sebaiknya dirinya lakukan?
Ternyata, Viola dari awal memberikan batasan yang sangat jelas antara hubungan mereka.
Jadi apapun yang dirinya lakukan pada Viola, Viola akan selalu mengagap itu tidak mungkin ada hubungannya dengan dirinya jatuh cinta padanya atau sesuatu.
Atau bisa dibilang, jika alasan itu mungkin adalah hal terakhir yang akan Viola pikirkan.
Dan Viola jelas tidak akan pernah memikirkan untuk mencoba jatuh cinta padanya, karena Viola akan merasa tidak pantas memiliki perasaan seperti itu pada dirinya.
Hal-hal ini benar-benar rumit.
Sakarang, Arka akhirnya mengerti di mana letak kesalahan antara hubungan mereka berawal.
Ini karena garis hubungan yang sudah Viola gambar dari awal soal hubungan mereka.
Jika hubuangan mereka tidak mungkin lebih dari sekedar Majikan dan Pelayannya.
Juga, cara dirinya mendekati Viola juga salah, itulah juga kenapa tidak akan ada kemajuan dengan cara lama yang dirinya lakukan.
Bagaimana cara mendapatkan hati Viola?
Ini sebenarnya memiliki solusi yang lebih mudah dari pada yang Arka kira.
"Tapi Viola, aku benar-benar tidak bercanda soal ini, aku menikah denganmu karena aku jatuh cinta padamu, karena aku ingin membuatmu menjadi milikku, karena aku ingin mengikatmu selamanya denganku, aku ingin memiliki kamu seutuhnya, baik hatimu, tubuhmu, jiwamu..... Cintamu... Dan semuanya... Aku baik padamu karena aku sungguh-sungguh mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam,"
Mungkin ini terkesan sangat Implusif.
Namun, Arka pikir ini adalah cara terbaik untuk masalah ini.
Yaitu dengan jujur.
Walaupun mungkin nanti hasilnya tidak akan menjadi sesuai perkiraan nya dan bisa saja menjadi lebih buruk dan masih banyak rasa takut lainnya...
Namun apa yang salah dengan itu?
Dirinya adalah Arka William yang keras kenapa.
__ADS_1
Tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dirinya mau.
Termasuk dirinya yang tidak akan menyerah untuk mendapatkan Violanya...