
Sore itu, Arka dan Louise yang pergi bermain-main seharian baru saja pulang. Saat ini mereka baru saja turun dari Mobil mereka, dan memasuki taman di Rumah Keluarga William.
Mereka membicarakan banyak hal juga merencanakan banyak hal.
Arka yang merasa lelah, mulai duduk di bangku kamar.
"Kak, Arka besok ada Pesta di Rumah salah satu kolegan Keluarga Kita, Kakak datang?"
"Ada pesta seperti itu? Sepertinya Viola lupa bilang padaku,"
"Ya, ada Pesta seperti itu. Ini sangat baik Kak untuk lebih mengenal beberapa orang penting, nanti juga bisa menjadi kesempatan bagus,"
"Hmm, aku rasa begitu aku juga akan datang,"
Ketika mereka mengobrol santai, tiba-tiba ada kucing yang lewat dan langsung mengelus Louise, dan ingin taik kepangkuannya.
Arka hampir kaget melihat mahluk berbulu itu.
"Astaga, kenapa ada Kucing disini? Kamu kan tau kalau ada yang Alergi Kucing di Rumah ini? Kalau tidak salah Tante Aurora, dia bisa marah besar kalau melihat kucing,"
Louise memegang kucing kecil itu ke pangkuannya dan mengelusnya.
"Ah ini... Tempo hari aku dan Kyla menemukan kucing ini di sekitar jalanan, sepertinya ini di buang oleh pemiliknya, Kyla sepertinya sangat menyukai kucing ini, jadi kami memutuskan untuk memeliharanya,"
"Kyla? Kamu dekat dengan dia? Aku baru tahu,"
"Ahaha... Ceritanya panjang,"
"Tapi ingin memelihara kucing ini, bukankah ini akan menjadi masalah dengan Tante Aurora?"
"Yahh.... Itulah kenapa aku yang memeliharanya..."
"Kamu benar berani, bagaimana kalau ini ketahuan Tantu Aurora?"
"Aku meletakkannya di Ruanganku, harusnya dia tidak bisa berkeliaran kecuali..."
Kemudian, Louise melihat di ujung balik dinding, sepertinya ada wajah familiar yang mengintip.
"Kyla, keluarlah. Tidak perlu ada yang ditakutkan, Kak Arka ini bukan orang jahat,"
Kemudian, ketika Arka melihat kearah yang Louise lihat, keluarlah seorang gadis remaja dengan wajah yang cukup lembut dan cantik, namun memakai pakaian yang cukup sederhana dan kumuh.
Melihat itu Arka cukup terkejut.
Itu adalah Kyla William Saudara Tiri Galvin, dia berumur hanya sedikit lebih muda dari Louise.
Dirinya jarang melihat gadis itu karena sepertinya dia tidak pernah keluar dari tempat tinggalnya.
Dia baru di bawa ke Rumah Keluarga William sekitar dia umur sepuluh tahun.
Arka dengar sebelumnya dia berada di Panti Asuhan dan di telantarkan oleh Ibunya.
Kasus perselingkuhan Pamannya Lucas, terbongkar lalu keberadaan anak itu mulai dicari.
Demi kebaikan Keluarga agar tidak di marahi lebih banyak oleh Kakek dan Nenek Arka, Paman Lucas terpaksa membawa anak ini pulang sebagai bentuk tanggungjawab.
Soal Ibu dari anak itu....
Itu benar-benar hal yang cukup rumit, pikir Arka.
Melihat gadis itu sepertinya masih menunduk, Arka lalu mulai menyapanya,
"Hey, jangan takut. Aku tidak akan melakukan hal-hal buruk padamu,"
"Itu benar, Kyla. Kamu tidak perlu waspada pada Kak Arka, dia orang yang baik,"
Kyla lalu berkata dengan sedikit ragu,
"Tapi... Aku sering melihat Kak Galvin dan Kak Robet ketika mereka pulang marah-marah dan terluka setelah di pukuli Kak Arka,"
Mendengar hal itu, Arka hanya tersenyum masam.
"Ahaha... Itu cerita berbeda kamu tahu? Kan tahu sendiri Kakakmu Galvin itu kurang ajar, sangat menyenangkan untuk menghajarnya jika aku sedang memiliki mood buruk. Tidakkah menurutmu, Galvin seperti itu juga Kyla?"
Kyla masih menunduk dengan takut-takut lalu menjawab,
"Ya... Kak Galvin juga cukup menyeramkan, jadi aku pikir ketika mendegar Kak Arka yang bisa memukuli Kak Galvin sampai dua marah itu, lebih menyeramkan,"
Ekspresi Arka menjadi cemberut mendegar kata-kata sepupu kecilnya itu, lalu berkata dengan tegas.
"Ya, ampun, dari mana dari wajah ini yang menyeramkan? Aku sangat Tampan,"
Kyla lalu mulai memberanikan menaikan wajahnya, dan menatap dua bersaudara itu bolak-balik.
Louise adalah pemuda yang memiliki penampilan lembut, dan cukup tinggi, dengan wajar yang profesional, dengan hidung mancung, kulit putih, dengan mata hitam yang terlihat cerah, lebih banyak tersenyum sosoknya seperti Charming Price yang di gilai para Wanita.
__ADS_1
Melihat kesampingnya, ke arah Arka, ini memiliki spesifikasi yang hampir sama, dengan wajah yang sangat Tampan, namun ekpersi sedikit galak dan terlihat dingin.
Ketika dua orang itu berdiri bersama, Kyla akhirnya tahu bahwa mereka berdua memiliki wajah yang hampir mirip, terlihat sama-sama tampan dan berkarisma.
Kyla mulai berpikir, sepertinya gen wajah Tampan ini berasal dari Ayah mereka, Anderass William.
"Aku pikir Kak Arka mirip dengan Kak Louise,"
Arka lalu tertawa kemudian menatap kearah adiknya itu.
"Memang, banyak orang yang bilang begitu juga, benar bukan Louise? Bagaimanapun kita masih berasal dari Ayah yang sama,"
Louise lalu terdiam sejenak dan menatap Kakaknya itu.
"Tidak, tidak. Kulit Kak Arka jelas lebih putih dan halus, kamu lihat tangan bersih dan halus ini? Apakah kamu benar-benar bisa berpikir tangan ini sebenarnya di pakai untuk memukuli orang?" Kata Louise sambil menunjukan tangan Arka yang memang terlihat putih halus dan lembut itu, sampai-sampai warna biru pembuluh darah sedikit terlihat dari laporan kulit itu, karena begitu bersinar.
Arka langsung menarik tangannya itu, lalu berkata dengan ekpersi marah,
"Sudah berhenti bicara omong kosong soal kulitku,"
Kyla lalu menatap kearah tangannya sendiri, yang sepertinya masih kalah putih dari pada tangan Arka.
"Ah, benar Kulit Kak Arka memang terlihat lebih putih,"
"Sepertinya itu bawaan dari Ibu Kandung Kak Arka. Dan lagi, Kak Viola selalu merawat Kak Arka dengan baik, kamu lihat, betapa rapinya dan teraturnya dia padahal dua sangat suka berkelahi namun tidak ada bekas luka di wajahnya, atau tangannya, itu benar-benar berkata Kak Viola,"
"Eh... Kalau tidak salah Kak Viola ini... Istri Kak Arka?"
"Ya, ya kamu tahu dia kan?"
"Tahu. Kak Viola selau sangat baik, bahkan padaku,"
"Kamu tahu, Viola?" Tanya Arka.
"Umm, ya. Kita kadang bertemu disekitar sini, dan di tempat Khusus dulu ketika masih sekolah,"
"Kamu ikut khusus apa? Aku pikir Viola tidak pernah ikut apapun deh," kata Arka sambil sedikit berpikir.
"Itu... Dulu Kak Viola pernah menjadi pelatih seni Bela diri dari tempat khusus ku, aku pikir dulu karena sering di jahili, aku mencoba belajar seni bela diri, disana aku melihat betapa Kerennya Kak Viola, aku ingin menjadi seperti dia, namun siapa tahu aku memang tidak berbakat,"
"Kyla, kamu jangan bersedih. Tidak apa-apa, setidaknya kamu pernah mencoba," kata Louise mencoba menengangkannya.
"Viola pernah menjadi pelatih?" Tanya Arka kaget.
Louise lalu memandang Arka dengan ekspresi kaget juga,
Arka memikirkan, namun Viola dari dulu memang tidak pernah bercerita soal kehidupan Pribadinya padanya, hanya yang dirinya tahu, Viola memang sering pergi-pergi saat itu, hanya bilang padanya, memiliki beberapa urusan atau pergi ke tempat khusus, tidak pernah bercerita apapun soal bagaimana dia disana, atau apapun.
Kembali memikirkan ini, perasaan Arka tiba-tiba menjadi sedih.
Sepertinya, Viola tidak ingin bercerita soal kesehariannya dan terbuka pada dirinya?
Apakah jarak mereka masih begitu jauh?
Bahkan, Louise saja tahu namun dirinya tidak.
"Jadi bagaimana kamu bisa tahu?"
"Ah itu... Ada murid dari tempat Khusus yang juga merupakan temanku dan aku kebetulan mengantarnya kesana, lalu bertemu dengan Kak Viola. Lalu setelah melihat betapa Kerennya Kak Viola, aku pikir aku juga ingin belajar Seni Bela diri, mana tahu aku sama sekali tidak berbakat. Kyla jangan sedih, aku juga sama sepertimu,"
"Ada kejadian seperti itu?"
"Aku pernah cerita kan pada Kakak saat aku masuk kelas seni bela diri?"
"Owh, aku ingat, saat kamu pulang-pulang habis dipukuli itu kan? Aku kira ada anak-anak nakal yang memukulimu,"
"Kakak ini, aku anak kecil? Kakak selalu memperlakukanku seperti itu,"
"Sudah aku bilang, kamu akan selalu menjadi adik kecilku," kata Arka sambil mengelus rambut Louise.
Kyla yang melihat kejadian itu cukup takjub.
"Ternyata hubungan Kak Arka dan Kak Louise cukup baik, tidak seperti Rumor yang beredar,"
"Rumor itu? Jika Aku dan Louise ini ingin saling menjatuhkan untuk harta warisan? Astaga, jangan percaya rumor omong kosong,"
"Aku rasa begitu," kata Kyla sambil mengaguk setuju, rumor dan gosip memang tidak bisa di percaya!!
"Aku memikirkannya, dulu Kakak tidak pernah Belajar Seni Bela diri?"
"Viola melarangku. Katanya, aku tidak perlu berlajar hal-hal seperti itu, jika ada yang membuat masalah, dia akan melindungiku, sesuatu seperti itu,"
Louise sedikit tertawa,
"Memang, sepertinya Kak Viola selalu memanjakan Kak Arka, sungguh sangat so sweet sekali,"
__ADS_1
Mengigat hubungannya dengan Viola yang sangat datar itu, Arka hanya bisa meratap sedih.
Kemudian mereka mulai bercakap-cakap aneka hal, sampai membahas soal kucing.
Sangat masalah jika sampai ketahuan Tante Aurora, Arka mulai memberikan usul.
"Bawa saja ke tempatku, bahkan jika ketahuan pun, paling-paling Tante Aurora hanya bisa marah-marah, aku sudah biasa mendegar kata-kata cerewet dari Tante Aurora sejak dulu, dia hanya akan kesal dan tidak akan memarahiku begitu parah sekarang, karena tahu aku hanya ingin membuatnya marah, dan semakin dia marah, aku akan senang,"
Louise lalu tertawa,
"Memang, Kak Arka ini tidak ada duanya, itukah kenapa orang-orang menyebutnya Trouble Maker dari Keluarga William,"
"Halah, itu hanya orang-orang saja yang syirik denganku,"
Setelah beberapa percakapan, mereka lalu berpisah.
Kucing sementara ada di tempat Louise, jika ketahuan Arka bilang, agar bilang kalau kucing itu miliknya, jika ada yang mau protes suruh datang padanya.
"Ya, ya, suruh datang saja padaku jika ada yang membuat masalah, aku pergi mencari Viola dulu,"
Arka lalu pergi dari sana meninggalkan Louise dan Kyla.
"Aku... Aku rasa aku juga harus segera kembali,"
"Kenapa begitu buru-buru? Lihat, aku memiliki oleh-oleh untukmu," kata Louise menyerahkan satu kotak kecil kue.
"Ini...."
"Ya, aku membelinya tadi cafe yang belakangan viral. Rasanya enak, cobalah,"
Kyla menerima kue itu, lalu membukanya, melihat kue yang begitu indah itu, Kyla terlihat sangat senang, lalu tersenyum ramah pada Louise.
"Terimakasih Kak, Louise ini sepertinya enak,"
Melihat senyuman sederhana itu, tiba-tiba Louise, berdebar-debar.
"Hmm, cobalah."
Louise lalu mengabilkan sendok dikotak kue, agar Kyla mencobanya.
Kyla terlihat sangat senang dan menikmati kue itu, sampai-sampai ada krim di wajahnya.
Louise yang melihat Kyla makan dengan lahap, terlihat sangat menikmati juga menikmati menatapnya seperti itu.
Lalu, tangannya yang tidak tahan langsung menuju sisi bibir Kyla yang ada krimnya.
Tatapan mereka bertemu.
Menyadari tindakannya, Louise merasa malu.
"Ah... Ya... Itu ada krim di dekat bibirmu, palan saja makanya,"
"Benarkah? Terimakasih Kak,"
Louise yang tiba-tiba merasa gugup itu lalu mencari alasan untuk pergi.
"Aku sepertinya akan memandikan kucing ini dulu, kamu makanlah nikmati kuemu,"
Kyla yang melihat Louise mau pergi itu, kalau teringat sesuatu,
"Kak Louise... Sebenarnya ada yang ingin aku katakan, namun aku sedikit ragu,"
"Apa?"
"Itu... Apakah ada Pesta sekitar Besok malam?"
"Ya, ada undangan Pesta. Tapi bagaimana kamu tahu?"
"Itu sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja.... Sebelumnya aku mendengar Mama Kak Louise berbicara dengan seseorang di telepon... Aku tidak tahu pasti, namun dia menyebut-nyebut nama Kak Arka dan soal Pesta... Aku rasa..."
Louise paham,
"Ya, aku mengerti maksudmu. Aku akan hati-hati dan mengawasi Kak Arka,"
Lalu Louise pergi dari sana.
Kyla juga paham, akan hal ini.
Louise tidak mungkin mengatakan hal-hal seperti, Ibunya mungkin memiliki rencana jahat pada Arka, dia masih Ibu Kak Louise, namun dia juga tidak mungkin ingin melihat Kakaknya terlibat masalah.
Hubungan Ibu Louise dan Arka sangat buruk.
Sepertinya sangat sulit, menjadi Kak Louise.....
####
__ADS_1
Bersambung