Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 71: Kenyataan


__ADS_3

Pada akhirnya, Louise memutuskan untuk mengambil potongan kertas itu, memasukannya kedalam sebuah plastik khusus, dan menyimpannya di Sakunya.


"Ya, aku tidak tahu itu penting atau tidak, tapi aku rasa sebaiknya aku bawa," kata Louise pada Kakaknya Arka di ujung telepon.


Arka menatap adiknya sambil tertawa melihat betapa adiknya itu benar-benar menikmati semua ini.


"Ya, ya kumpulan saja itu, barangkali nanti mendapatkan potongan berikutnya,"


"Hah, Kak Arka jangan mengejekku. Ngomong-ngomong, Kak Viola kata disitu atau tidak?"


"Viola sedang keluar, ada perlu katanya. Ini tidak seperti aku selalu mengurungnya bersamaku setiap waktu,"


"Tapi, Kak apakah tidak apa-apa Kak Viola pergi keluar? Bagaimana jika dia diincar?"


Arka langsung menepuk dahinya karena baru menyadarinya.


"Astaga!? Benar juga! Aku sampai lupa!!"


Louise hanya bisa menghela nafas panjang,


"Hah, lupakan. Kak Viola pasti sudah mengerti hal-hal ini dan lebih waspada,"


"Ya, aku harap begitu. Lagipula tidak seperti dia akan pergi lama, dia hanya pergi sebentar,"


Setelah mengembalikan lukisan ke tempat asalnya, Louise segera melihat-lihat sekelilingnya lagi.


Lalu mencoba memeriksa laci-laci meja di Ruang Tamu itu.


Namun tidak menemukan apa-apa yang bagus.


Hanya ada beberapa barang yang terlihat sudah cukup tua, seperti majalah atau koran.


"Tempat ini tidak pernah di bereskan isinya?" Tanya Louise penasaran.


"Hanya di bersikan saja sih setauku, untuk barang-barang disana tidak pernah disentuh,"


"Baiklah-baiklah,"


Louise melihat-melihat sekeliling lagi, lalu segera menghubungi anak buahnya, mencoba mencari tahu apakah mereka menemukan sesuatu.


Namun sepertinya belum ada.


Melihat itu, Louise lalu langsung bertanya lagi pada Kakaknya itu.


"Di mana kamar kakek dan nenek mu?"


"Ada di lantai dua, di ujung ruangan,"


Setelah mendengar jawaban itu, tentu saja Louise segala naik lantai dua.


Sampai disana dirinya melihat sebuah lorong putih dengan beberapa pintu disana.


"Wow ternyata di sini memiliki banyak kamar," katanya dengan heran.


"Hah, aku juga tidak tahu kenapa ada banyak ruangan,"


"Apakah aku perlu memeriksanya satu-satunya?"


Arka terdiam sebentar, lalu berkata,


"Mari kita ke kamar utama terlebih dahulu,"


Mendengar usul Arka, Louise segera pergi ke Kamar Utama seperti yang Arka bilang.


Ada di ujung lorong.


Ketika Louise membuka kamar itu, tidak ada banyak hal mencolok disana, hanya kamar dengan dekorasi sederhana.


Ada sebuah meja di samping tempat tidur, yang diatasnya ada beberapa foto.

__ADS_1


Salah satunya adalah foto Arka yang masih kecil.


"Kak, lihat ternyata Kakak begitu lucu ketika masih umur segini,"


Arka kecil yang dalam foto itu terlihat bersembunyi di belakang Mamanya terlihat memerah dan malu.


Arka menatap foto itu menjadi malu sendiri.


Apakah itu benar dirinya?


"Diam, kamu Louise!! Hey... Apa yang kamu lakukan?" Kata Arka kaget melihat Louise mengabil bingkai foto ini.


Namun Louise tidak menjawab, dan hanya membuka bingkai foto sama seperti membuka bingkai lukisan di luar sebelumnya.


Arka disini mengerti, ini pasti Louise mencoba mencari petunjuk barang kali ada sesuatu di balik foto sama seperti sebelumnya.


Namun mana tahu, ternyata Louise malah memasukan foto itu ke plastik dan dimasukan saku bajunya.


"Hey!! Louise!!!"


"Ini untuk kenang-kenangan, foto ini sangat lucu, aku menunjukannya pada Kak Viola,"


"Aku kira kamu sedang memeriksanya!!"


"Hahaha... Mana ada hal-hal seperti itu di belakang foto seperti ini,"


Arka yang merasa tebakannya salah itu, tentu menjadi marah.


"Hah, tadi siapa yang membuka Lukisan didepan?"


Louise lalu menatap kearah kamera dengan heran.


"Bukankah petunjuknya sudah jelas? Jaman dulu juga sudah ada foto, kenapa mereka memanjang Lukisan? Bukankah artinya jelas, mereka membunyikan sesuatu dibaliknya,"


Arka terdiam sebentar memikirkan kesimpulan dari adiknya itu, kalau segera menujukan jempol ke adiknya itu.


"Jangan bicara omong kosong,"


Louise lalu memeriksa laci, dan memang tidak ada apa-apa disana.


Lalu berikutnya, almari, disana ada baju-baju tua yang dibungkus plastik, sepertinya agar tidak kotor.


Dia juga memeriksa laci-laci lemari, namun tidak menemukan apapun.


"Sepertinya tidak ada apapun disini," kata Arka dari ujung telepon, dari tadi adiknya berkeliling.


Namun pendapat Louise berbeda,


"Kak salah ini justru aneh, kenapa ada perhiasan atau hal-hal lainnya yang penting sini?"


Arka lalu terdiam, berpikir sebentar, lalu baru mengigat sesuatu.


"Owh, benar sepertinya Kakek kita sudah memindahkan semua barang-barang penting dan berharga ke Tempat penyimpanan Keluarga William,"


"Astaga kenapa kakak tidak memberitahuku? Jadi tidak ada gunanya aku kesini?"


"Kamu bilang ingin menemukan suatu petunjuk, kita sudah menemukan petunjuk penting yaitu kertas misterius sebelumnya,"


"Hah, benar-benar. Apakah tidak ada apa-apa di sini?"


Louise sekali lagi memindai seluruh ruangan, namun tidak menemukan apapun.


"Bagaimana jika ke Ruang Kerja Kakekku?"


"Itu ide yang bagus,"


Segera, Louise pergi menuju Ruang Kerja Kakek Arka itu di lantai bawah lagi.


Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada apa-apa disana, hanya ada sebuah foto Almarhum Ibu Arka diatas meja.

__ADS_1


Louise menatap foto itu dengan ekpersi aneh.


"Kenapa? Kamu ingin mengambil foto ini juga karena Mamaku sangat cantik?"


Louise memiliki ekspresi kesal sambil menatap Kakaknya itu.


"Untuk apa aku melakukan itu? Kakak pikir aku seseorang yang cukup mesum?"


"Siapa yang menuduhmu mesum?"


Arka tertawa dari balik telepon.


Mengabaikan Kakaknya, Louise sekali lagi membuka bingkai foto itu.


Arka menatap tidak peduli ketika Louise membuka hal itu.


Saat membukanya, Louise berkata,


"Foto ini berbeda dengan foto yang sebelumnya ada di kamar, aku melihat kalau foto Kak Arka itu, masih terlihat tidak pernah disentuh, benar-benar bersih, namun lihat foto ini! Ini terlihat ada lipatan, dan sedikit kusut,"


Dan benar saja, Louise menemukan sesuatu setelah membuka foto itu ada sebuah tulisan disana.


Arka cukup kaget ketika melihatnya.


Sungguh, adiknya Louise sangat pandai dalam hal-hal ini.


Jika ini pemburuan harta kartun, jelas Adiknya ini yang akan menang.


"Ayo segera baca apa isinya," kata Arka dengan penasaran.


Louise lalu segera menunjukkan isi dibalik foto pada Arka, lagu dirinya juga mulai membaik dah sesuatu yang ada di sana.


'Darah di balas dengan darah...


Mereka telah mengambil kamu dari keluarga kami, maka kami juga akan mengambil sesuatu yang berharga dari mereka....


Kamu tenang saja, aku akan membalaskan dendammu, Putriku.


Aku akan buat mereka membayarnya, dengan memgambil Putri mereka juga,


Dan aku akan pastikan mereka tidak akan mendapatkan, Harta tersembunyi itu,'


Itu hanya kata-kata yang singkat, namun semua petunjuk ada disana.


Louise yang membacanya itu tiba-tiba menjadi gemetar dan jantungnya berdetak lebih kencang.


Mungkin sedikit terguncang oleh hal yang barusan dirinya baca.


"Sungguh... Jadi.... Kakek dan Nenekmu tahu pelaku yang membunuh Ibu Kak Arka? Lalu mereka balas dendam, dan menculik seseorang dari musuh itu?"


Arka ada di balik telepon juga menatap dengan heran, tentu saja kaget dengan hal-hal ini.


Lalu dirinya ingat soal gadis kecil tertentu...


Gadis itu....


Bilang dia berasal dari Keluarga yang membunuh Ibunya?


Jadi....


Kakek dan Neneknya menculik gadis kecil itu?


Arka tidak tahu harus meresponnya seperti apa.


"Ini... Ini tidak mungkin...." Kata Arka dengan tidak percaya.


"Kak.... Ini benar-benar ada Harta Tersembunyi!!! Aku mulai bisa menebak ini.... Peta didepan... Itu potongan dari Peta yang Asli, mereka mengira jika Mama Kakak Arka memiliki hal itu, lalu...." Kata Louise masih dengan ekpersi tidak percaya.


"Louise.... Ini...."

__ADS_1


__ADS_2