
Disalah satu ruangan tertentu, terlihat dua orang sedang mengobrol.
"Kak Galvin kenapa Kakak memberikan Proyek itu pada Arka?" Tanya Robet dengan penasaran.
"Dalam Proyek ini Perusahaan kita akan bersaing dengan CVL Group, kamu tidak tahu bukan soal Perusahaan mereka?"
"Memangnya kenapa dengan Perusahaan mereka?"
"Ayahku bilang, Perusahaan kita memiliki hubungan yang buruk dengan perusahaan mereka semacam saingan berat, Ayah memperingkatkanku agar menghindari untuk berurusan dengan Proyek yang berhubungan dengan mereka."
Robet menatap Galvin masih dengan penasaran.
"Namun, Kak bagaimana kalau nanti Arka itu sampai memenangi proyek dengan mereka? Apalagi ini Perusahaan saingan berat, kalau sampai ini terjadi pasti Kakek dan Nenek akan lebih berada dipihak Arka,"
Mendengar itu, Galvin malah tertawa,
"Ada dua alasan kenapa aku berani menyerahkan itu pada Arka, lagipula Arka itu bodoh, bagaimana dia bisa bersaing dengan Perusahaan CVL Group itu yang sering mengalahkan kita dalam proyek? Hal kedua, bahkan jika dengan 1% kemungkinan Arka itu bisa menang, Ayah bilang, Perusahaan CVL Group itu licik dan selalu memiliki Trik kotor, siapa yang tahu trik macam apa yang akan mereka siapkan pada Ketua Proyek jika mereka sampai kalah? Arka mau berhasil atau gagal, dia tetap akan hancur,"
Mendengar kata-kata Galvin itu, Robet terlihat juga ikut tersenyum.
"Wow, Kak Galvin cukup hebat bisa merencanakan semua ini,"
"Tentu saja, mari tunggu dan lihat saja. Arka itu, tidak akan aku biarkan dia bisa bertingkah seenaknya."
Mereka berdua terlihat sangat senang dengan rencana mereka, sungguh menantikan sebuah pertunjukan menarik.
####
Disisi lainnya, Arka akhirnya sampai di ruangan miliknya itu. Dia langsung duduk di kursinya dengan perasaan lega.
Lega karena akhirnya bisa bebas dari tatap orang-orang diluar.
Arka selalu benci mendapatkan tatapan seperti itu dari orang-orang.
"Tuan Muda Arka, bagaimana dengan dokumen proyek yang Tuan Muda Galvin berikan?"
"Sebenar aku akan mencarinya,"
Arka lalu membuka laci mejanya, dan mengeluarkan begitu banyak Dokumen didalamnya.
Viola menatap kumpulan dokumen itu dengan perasaan rumit.
"Ini.. Ini Tugas Tuan Muda sebelumnya, apakah Tuan Muda belum menyelesaikannya?"
Arka mengalihkan tatapannya dari Viola, lalu berkata dengan santai,
"Ya... Kamu tahu, aku memiliki banyan hal yang harus di urus soal pernikahan kita, jadi aku belum sempat mengurus hal-hal ini, kamu tahu?"
"Tuan Muda ini bagaimana! Harusnya pekerjaan-pekerjaan ini harus diselesaikan secepatnya, jika Tuan Muda benar-benar cuti selama satu Minggu, hal-hal menumpuk ini benar-benar bisa membuat Tuan Muda Arka semakin di jatuhkan oleh Tuan Muda Galvin,"
"Ukhh... Aku mengerti, aku mengerti aku hanya sedikit ceroboh,"
__ADS_1
"Baik, sebaiknya Tuan Muda segera menyelesaikan hal-hal ini, biar saya yang mengecek draft Proyek yang diberikan oleh Tuan Muda Galvin,"
Arka lalu mengabil map berwarna merah di deretan dokumen, lalu menyerahkannya pada Viola.
"Ini, jadi sebenarnya tentang apa Proyek ini?"
"Mari kita lihat,"
Mereka lalu membuka dokumen itu.
Ini adalah salah satu proyek konstruksi untuk pembagian Pusat Perbelanjaan di Kota B.
Ini sebenarnya Proyek yang cukup besar.
"Ini sebenarnya proyek yang sangat menguntungkan bagi Perusahaan jika kita berhasil memenangkannya, ini bisa membantu Tuan Muda meningkatkan beberapa reputasi,"
Namun ada sedikit keraguan ketika Arka membaca proyek itu.
"Tapi... Tapi apakah aku benar-benar bisa?"
"Aku akan membantu Tuan Muda, kita pasti bisa, Tuan Muda harus lebih semangat lagi, ini adalah sebuah kesempatan,"
"Namun juga Proyek ini sebaik itu, kenapa Galvin memberikannya padaku?"
"Mungkin karena ini adalah sebuah Proyek Besar yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, jadi Tuan Muda Galvin segaja memberikan ini pada Tuan Muda Arka, sehingga Tuan Muda akan gagal, dan dia bisa mengolok-olok Tuan Muda,"
"Hah, itu benar-benar terlihat seperti rencana Galvin,"
"Baik, mari segera selesaikan Tugas-tugas sebelumnya sehingga kita bisa segera memperlajari Proyek ini,"
Bukankah mereka harusnya pergi bersenang-senang dalam Acara Bulan Madu?
Sekarang malah harus menghadapi begitu banyak pekerjaan, seperti sampai malam belum selesai, pikir Arka dengan wajah lelah.
Dia mulai membuka dokumen itu dengan malas, sedangkan Viola kembali meja kerjanya di samping meja kerja Arka, mencoba mempelajari soal Proyek yang barusan mereka terima.
Sekilas ketikan Arka mengerjakan dokumen, dirinya menatap Viola yang sedang fokus dan terlihat serius dimejanya itu.
Melihat Viola yang terlihat begitu serius melakukan semua ini demi dirinya ini, membuat hati Arka merasa hangat.
'Ukhh, melihat Viola yang seperti ini, bagaimana aku tidak jauh cinta padanya? Namun... Dia hanya begitu serius soal pekerjaannya dan sangat berdedikasi, apakah dia pernah memikirkan soal cinta?'
Begitu melelahkan ketika Arka memikirkan ini.
Baik, dirinya sebaiknya lebih fokus pada pekerjaan yang dirinya lakukan.
Sepanjang pagi sampai siang, Arka masih berkutat dengan berkas-berkas yang entah kapan akan selesai itu.
Sampai-sampai, dirinya tidak sadar awalnya waktu berlalu.
"Tuan Muda, ini saya membawakan makan siang, sebaiknya Tuan Muda makan dulu,"
__ADS_1
Arka baru sadar jika itu sudah makan siang,
"Terimakasih Viola, owh iya bagaimana dengan Proyek yang kamu pelajari ini?"
"Ya, soal Proyek ini mungkin kita harus menemukan Arsitektur yang bagus, karena akan sangat penting untuk meningkatkan minat klaim ini pada Perusahaan kita, agar kita terpilih,"
"Arsitektur ya? Mari coba periksa Arsitektur milik Perusahaan mana yang akan bagus,"
"Sebentar, saya nanti akan mencoba menanyakan ini pada bagian personalia, apakah mereka punya Rekomenasi orang yang cocok,"
"Ya, tentu saja. Mari urus nanti saja, sebaiknya kita makan siang dulu," kata Arka lagi.
Kemudian Viola langsung menyiapkan makan siang di meja tamu disana, satu untuk Arka satu untuk dirinya sendiri.
Menikmati makan siang dengan tenang, hingga tiba-tiba Arka kepikiran,
"Viola, kamu benar-benar tidak ingin melakukan operasi plastik pada wajahmu?"
"Tuan Muda tahu, bahwa saya tidak suka dengan Rumah Sakit, dan untuk Operasi jelas ini akan memakan waktu berbulan-bulan, dan harus mengalami begitu banyak rasa sakit... Dan kenapa Tuan Muda membahas ini tiba-tiba? Apakah sekarang Tuan Muda juga malu memiliki saya di samping Tuan Muda?"
Arka memang ingat, kalau Viola sepertinya memiliki beberapa Trouma khusus tentang Rumah Sakit, mengujugi orang di Rumah Sakit mungkin bukan hal besar, namun jika masuk Rumah Sakit sendiri dan dirawat, itu hal yang lainnya lagi.
Ada baiknya tidak membahas topik-topik sensitif ini, Arka menyesali ucapannya barusan, melihat sepertinya Viola menjadi tidak nyaman.
"Maaf, Viola aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tentu saja tidak akan Malu, dimataku kamu tetap yang paling cantik, tidak akan malu denganmu, apapun yang orang lain katakan,"
"Apakah Tuan Muda sedang mengejek saya?"
"Viola ayolah, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja....."
Ditatap Viola dengan tatapan jnhj tahu itu, wajah Arka memerah, dirinya tidak bercanda soal ucapannya barusan.
Bagaimanapun penampilan Viola, itu tidak ada masalah, karena Viola tetap akan menjadi yang paling cantik didalam hatinya, satu-satunya wanita yang dirinya cintai.
Namun terasa memalukan jika mengatakannya sekarang.
"Hanya saja?"
Arka lalu memalingkan wajahnya, lalu berkata mencoba mengalihkan pembicaraan,
"Sudah-sudah, lanjut makan siang, masih banyak yang harus kita kerjakan setelah ini,"
"Baik, Tuan Muda."
Melihat Viola sepertinya tidak lagi terlalu mempermasalahkannya, Arka menjadi lega.
Jadi ketika makan siang ini, Arka diam-diam akan selalu menatap Viola...
Walaupun dirinya sering bersama dengan Viola, namun dirinya tidak akan pernah bosan untuk menatapnya....
Violanya...
__ADS_1
#####
Bersambung