Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 42: Menjadi Atasan


__ADS_3

Seharian itu di Kantor tanpa Viola, Arka merasa sangat bosan sekali.


Apalagi pekerja menumpuk, terutama soal rancangan untuk Proyek yang akan dirinya ikuti itu.


Selain itu juga, karena tanggung jawab barunya sebagai Wakil Direktur Perencanaan dan Proyek, dirinya harus memeriksa berbagai Proyek yang saat ini tengah berjalan di Perusahaan.


Memeriksa beberapa dokumen laporan Proyek apakah mereka sesuai dengan rencana awal.


Arka mulai membaca serius dokumen di bawahnya yang berisi Proyek yang merupakan tanggung jawab Robet.


Arka segera memencet telepon di mejanya,


"Sekertaris, tolong kesini,"


Tanpa menunggu jawaban, Arka langsung mematikan teleponnya, kemudian tidak lama, Sekertaris di Luar segera masuk.


Itu adalah seorang Pria berkacamata seumur Arka yang terlihat cukup kopeten.


"Iya, Pak Wakil Direktur, ada apa anda memanggil saya?"


"Tolong lihat sebentar dalam laporan Proyek ini, aku menemukan bahwa laporan proyek ini sepertinya benar-benar tidak begitu cocok dengan perencanaan awal. Ini kenapa pembangunannya menjadi lebih lambat? Dan juga anggarannya sedikit membengkak, apakah aku benar?"


Sekertaris itu segera melihat dokumen yang Arka baca, dan mulai membandingkan dokumen itu.


"Sepertinya dalam pembuatan perencanaan ada kesalahan, mereka sepertinya salah perhitungan dalam penentuan Anggaran awal. Lihat, harga-harga yang tertera di perencanaan adalah harga barang sebelumnya, jika melihat Proyek-proyek dulu memang anggarannya cocok, namun saat ini ada kenaikan pesat dalam beberapa sektor, jadi anggaran jika melihat referensi dari Proyek-proyek sebelumnya bisa salah, saya merasa yang membuat ini tidak riset dan hanya melihat dokumen lama," kata Sekertaris itu dengan cekatan.


Arka mengaguk puas, melihat apa yang dirinya pikirkan ternyata sesuai dengan apa yang Sekertaris itu pikirkan.


"Baik-baik. Kalau begitu, segera panggil penanggung jawab Proyek ini. Aku perlu memberikan mereka beberapa nasihat," kata Arka dengan ekpersi penuh keyakinan.


"Baik, Pak. Saya akan segera memanggil mereka,"


Melihat Sekertaris itu keluar, Arka merasa sangat senang.


Ini adalah kesempatan baik untuk mengerjai Robet yang menyebalkan itu.


Dia lebih muda dari pada dirinya sekitar 2-3 tahun, namun anak itu sungguh tidak ada sopan santunnya.


Dia juga belum lama masuk ke Perusahaan, setelah menyelesaikan studinya, namun sikapnya sangat sombong sekali, persis dengan Galvin sialan itu.


Sayang sekali, perkerja Galvin cukup bagus, jadi tidak ada alasan memanggilnya, namun sungguh beruntung Robet itu cukup ceroboh.


Dengan ekpresi bangga, Arka merasa sangat puas setelah bisa memanggil Robet itu.


Dan tidak berlangsung lama hingga, pintu Ruangan Arka sekali lagi terbuka.


Terlihat ekpersi marah Robet disana, sedangkan Arka duduk dengan angkuh di kursinya, lalu berkata,


"Hey, kamu itu tidak sopan ya! Main masuk ke Ruangan Atasan tanpa mengetuk pintu dulu! Dimana sopan santunmu, hah?"


"Sudah, tidak usah basa-basi lagi, Arka! Apa maumu hah?"

__ADS_1


Arka mengeleng-gelengkan kepalanya dengan ekpersi kasihan.


"Kamu ini hanya pegawai biasa namun berani tidak sopan pada atasamu hah? Ingat Robert aku di kantor ini adalah atasamu!! Hormati atasamu! Atau aku akan memberikan beberapa teguran, yang akan di pajang di Papan Pengumuman Perusahaan,"


Wajah Robert menjadi merah karena begitu marah.


Dan ingat soal posisi Arka sekarang yang lebih tinggi darinya.


Mengigat kalau Arka ini sangat gila dalam melakukan sesuatu, Robet menjadi sedikit kerinding memikirkan kalau Arka benar-benar akan memajang hal-hal seperti itu di Papan Pengumuman Perusahaan, itu bisa membuat dirinya malu, juga dirinya pasti akan di marahi Ibunya.


Sialan!!


Awas saja itu Arka!!!


Mencoba menenangkan ekspresinya, Robet lalu berkata dengan suara tenang,


"Maafkan saya atas ketidak sopanan saya. Saya hanya terlalu buru-buru karena Sekertaris Pak Wakil Direktur memanggil saja buru-buru kesini, saya kira ada masalah besar, jadi saya masuk dengan tidak sopan,"


Mendengar kata-kata Robet menjadi sopan itu, ekpersi Arka menjadi puas.


"Baiklah-baiklah, sekarang aku akan memaafkanmu. Lain kali kamu harus bersikap sopan Pada Atasanmu ini! Kamu mengerti?" Kata Arka dengan ekspresi bangga.


Dengan ekspresi menahan amarahnya, Robet memaksakan tersemyum lalu berkata,


"Baik Pak,"


"Bagus, anak muda. Jadilah patuh. Dan silahkan duduk dulu."


"Jadi ada apa sebenarnya Bapak memanggil saya?"


"Ah, coba kamu lihat proposal anggaran yang kamu buat untuk Proyek C," kata Arka sambil meleparkan dokumen di depan Robet.


"Ya, saya yang membuatnya, kenapa dengan itu?"


"Apakah kamu tidak tahu jika anggaran yang kamu buat itu benar-benar sangat jauh dari Harga Asli? Ini membuat pelaksanaan Proyek terganggu karena Biaya Proyek membengkak, dan harus memulai lagi Acc anggaran baru agar Proyek terus berjalan. Ini kesalahan fatal!! Apakah kamu tidak mengerti?"


Robet menatap dokumen didepannya, disana ada perbandingan jauh antara harga dalam rancangan anggaran yang di buatnya dengan laporan realisasi proyek.


Melihat itu, ekpersi Robet menjadi pucat.


Bagaimana bisa menjadi seperti ini?


Dirinya merasa sudah membuat rancangan anggaran itu dengan baik sesuai arahan Galvin.


Galvin yang bilang, dirinya tinggal cek daftar Harta dari Proyek-proyek sebelumnya, namun kenapa bisa menjadi seperti ini?


Benar-benar berbeda dari harga realisasi.


"Kamu paham akan kesalahanmu sekarang bukan? Hah, kamu pasti hanya copypaste dari anggaran Proyek sebelumnya, dasar tidak berguna,"


Robet yang sudah di puncak emosi itu, lalu menjadi marah,

__ADS_1


"Arka!! Kamu jangan sembarangan menuduhku! Siapa yang copypaste? Aku jelas membuat semua ini sendiri,"


"Hah, kamu mulai tidak sopan lagi.


Lalu jika kamu membuat sendiri kenapa hal-hal dalam anggaran ini benar-benar bisa berbeda dengan realisasinya? Harusnya kamu itu melakukan riset harga, tapi kamu sepertinya tidak melakukannya, hanya memilih enaknya saja, dasar tidak berguna,"


"Arka!! Aku tahu ini! Kamu hanya mencari-cari kesalahanku!!"


"Aku mencari-cari kesalahanmu apa? Coba mari bawa ini ke Pak CEO, coba lihat apa pendapatnya soal Dokumen-dokumen ini, apakah kamu benar-benar melakukan kesalahan, atau ini hanya di buat-buat,"


Mendengar itu, tentu saja Robet menjadi pucat.


Jika sampai Kakeknya tahu, habis sudah riwayatnya.


Sangat susah mendapatkan dukungan Kakeknya, dan sekarang dirinya membuat kesalahan, jika ini sampai ke Kakeknya, Kakeknya jelas akan kecewa.


Namun bagaimana ini bisa terjadi?


Hal-hal ini sebelumnya sudah di teliti oleh Kak Galvin, dan dia juga yang membatuku membuat ini semua.


Jangan bilang Kak Galvin itu sengaja?


Sialan!!


Apakah dia mulai mencoba menjatuhkan reputasiku juga?


"Maafkan saya atas hal-hal ini, saya akan memperbaikinya secepatnya,"


"Hah, kamu ini benar-benar bermasalah. Cepat perbaiki semua kekacauan yang kamu buat, perbaiki perencanaan anggarannya, dan pastikan Besok semua sudah selesai,"


"Besok?"


"Ya!! Kamu pikir tahun depan? Proyek ini saat ini sedang berjalan, satu menit adalah Uang, kamu tidak bisa menunda hal-hal ini, semakin lama proyek ini tertunda, berapa banyak uang yang di keluarkan untuk biaya operasionalnya? Kamu hal-hal seperti ini saja tidak tahu? Apa yang kamu pelajari di Universitas hah? Apakah hanya bermain-main?" Kata Arka lagi dengan ekspresi puas dan bangga, seperti para tetua ketika mengajari bawahnya mereka.


Wajah Robert menjadi tambah pucat.


Bagaimana ini bisa selesai nanti sore?


"Tapi tapi...."


"Awas, aku akan menyuruh Sekertaris untuk mengawasi pekerjaanmu, tidak ada jeda, besok harus selesai!! Atau aku benar-benar akan lapor ini pada Pak CEO,"


"Baik-baik, saya akan melakukannya segera. Saya permisi dulu," kata Robet dengan buru-buru.


Robet begitu marah ketika keluar dari ruangan itu.


Kenapa bisa ini menjadi berantakan?


Dirinya harus menemui Galvin meminta penjelasan!!


####

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2