Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 46: Pertanyaan


__ADS_3

Tidak lama sampai Arka dan Viola sampai di kamar mereka.


Arka akhirnya langsung berbaring di tempat tidur karena begitu lelah.


"Hah, sungguh hari yang melelahkan,"


"Itu karena Tuan Muda terlalu asik berbelaja,"


"Ayolah, aku hanya memberikanmu beberapa hadiah oke?"


"Baiklah-baiklah, saya mengerti,"


"Ya, jangan lupa coba semua gaun yang aku beli,"


"Baik-baik, Tuan Muda,"


Lalu Arka bangun sedikit dari posisinya, merogoh sesuatu dari saku jasnya.


Dirinya baru ingat soal hal-hal penting ini.


"Viola, ini juga untukmu,"


Viola menatap sekantong plastik yang terlihat mencurigakan itu.


"Apa ini, Tuan Muda?"


"Ini obat untukmu. Apakah kamu sudah baik-baik saja, sekarang?"


Viola kembali menatap Arka dengan ekpersi binggung.


"Obat apa pula? Saya tidak sakit apa-apa,"


"Sudah, pokoknya buka saja,"


Viola lalu menurut dan membuka plastik itu.


Didalamnya memanah ada berbagai obat yang tidak Viola mengerti.


Lalu, dirinya mengabil salah satu kotak kecil, yang tertulis salep.


Dirinya tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya, salep apakah ini?


Viola segera membaca aturan pakainya.


Ekpersi Viola menjadi memerah setelah membaca hal itu...


Salep ini...


Arka yang menatap Viola itu lalu berkata,


"Ya, aku rasa kamu perlu memakainya? Apakah itu ada yang lecet? Kamu bilang semalam... Aku... Aku melakukannya dengan buruk.... Itu... Itu juga pertama kalinya untukmu jadi... Jadi...." Kata Arka dengan penuh keraguan dan memasang ekpersi malu, seolah tidak berani mengatakan lanjutannya.


"Su... Sudah cukup Tuan Muda, tidak perlu begitu membahasnya, saya benar-benar baik-baik saja, tidak ada masalah apapun, hanya tadi pagi saja sedikit pegal dan sakit, sekarang sungguh sudah tidak apa-apa,"


"Apakah benar?"

__ADS_1


"Ya, ya. Saya benar-benar baik-baik saja, tidak ada yang lecet atau sesuatu,"


"Kamu biasanya suka menutup-nutupi hal seperti ini agar aku tidak kawatir, namun itu justru membuatku kawtir,"


"Sungguh, saya tidak berbohong kali ini. Tidak apa-apa, benar. Kalau Tuan Muda tidak percaya, Tuan Muda bisa melihatnya sendiri,"


Ekpersi Arka menunjukan keterkejutannya dan syok ketika mendengar Viola mengatakan itu, Arka lalu berkata dengan gagap,


"Melihat apa? Ja... Jangan bicara omong kosong!!"


Viola sekarang menyadari perkataannya yang memalukan itu, wajahnya menjadi memerah sekarang.


Bagaimana mulutnya bisa menjadi diluar kendali dan mengatakan omong kosong ini?


"Ah, ya benar. Tuan Muda tidak perlu repot-repot memeriksanya, ini benar-benar baik-baik saja,"


"Ya, ya."


Lalu ada keheningan sesaat disana.


Viola lalu sekali lagi melihat isi kantong plastik itu.


Melihat lagi, dirinya melihat sebuah botol mencurigakan.


Menatap heran, Viola membaca fungsinya.


Ekspresi Viola menjadi gelap.


"Tuan Muda ini...."


Botol itu!!


Bukankah itu botol obat kuat yang ditawarkan Pelayan Apotek itu?


Bagaimana itu bisa di situ?


Apakah Pelayan Apotek itu salah memasukan obat?


Ahhkkkk...


Kenapa dari semua obat harus ada obat itu??


"Sungguh, percayalah padaku Viola, petugas Apotek benar-benar salah memasukan obat, jelas aku tidak membeli barang ini!! Sungguh, percayalah padaku! Aku tidak berbohong,"


Melihat ekpersi malu Tuan Mudanya itu, Viola lalu mengaguk.


"Itu benar, soal stamina saya rasa Reviewnya antara bintang 3-4. Saya rasa Tuan Muda tidak perlu menggunakan obat-obatan seperti ini,"


"Hanya bintang 3-4? Apakah tidak bintang 5?"


"Saya rasa tidak."


Arka juga langsung menjadi diam, tidak mau melanjutkan soal lelucon ini.


Viola beralih melihat lagi ini plastik itu, kali ini Viola sekali lagi menemukan barang mencurigakan yang membuatnya kaget.

__ADS_1


"Ini... Apakah ini salah beli juga?"


Arka lalu melihat alat Tes itu.


"Itu... Hanya untuk berjaga-jaga, sepertinya perlu meneriksannya nanti?"


"Saya rasa tidak perlu,"


"Hey, bahkan walaupun teknikku jelek... Aku melakukannya didalam... Itu... Hpmahahha...."


Viola segera membunkam mulut Tuan Mudanya itu sebelum mengatakan hal-hal memalukan lainnya soal malam itu.


"Baik-baik, nanti akan saya periksa setelah beberapa hari," kata Viola lalu melepaskan tangannya dari mulut Tuan Mudanya itu.


"Ingat untuk mengatakan padaku hasilnya, oke? Jangan menyimpan semuanya sendiri. Ini adalah hal-hal yang kita lakukan berdua, jadi tentu saja aku akan bertanggung jawab penuh atas kamu,"


"Saya mengerti," kata Viola dengan ekspresi tenang.


Ekpersi Arka lalu menjadi cemberut.


"Apa yang kamu mengerti? Aku benar-benar serius saat mengatakan ini,"


"Tapi kita sudah menikah, hal-hal seperti ini sebenarnya.... Hal yang wajar... Hanya saja...."


Sejujurnya, Viola juga merasa sedikit takut ketika memikirkan kemungkinan berikutnya.


"Ya, aku tahu maksudmu... Ini soal pernikahan kita bukan? Percayalah, kita tidak akan pernah bercerai jika kamu ingin, kita... Kita bisa mengagap Pernikahan ini sebagai Pernikahan yang sesungguhnya..."


"Tuan Muda itu... Itu tidak mungkin."


"Apa maksudmu?"


"Karena Tuan Muda harus menemukan pasangan yang benar-benar anda cintai,"


"Lalu jika aku melakukannya, bagaimana denganmu?"


"Apa yang Tuan Muda katakan? Aku tidak apa-apa, aku akan pergi. Aku hanya akan senang jika Tuan Muda bahagia,"


"Namun aku yang tidak senang,"


"Maksud Tuan Muda?"


Arka menghela nafas panjang, merasa ini masih bukan saat yang tepat.


Jika dirinya mengatakannya sekarang, jelas Viola juga akan menjawab hal yang sama lagi bukan?


Ini tidak mungkin.


Pasti Tuan Muda bercanda, atau sesuatu.


"Sudahlah, aku mau mandi dulu," kata Arka berdiri, lalu meninggalkan Viola dikamar itu sendirian.


####


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2