
Hari berikutnya segera tiba, itu saja walaupun Hari berlalu, perasaan Louise masih menjadi buruk kejadian semalam.
Dan lagi-lagi dirinya diharuskan untuk menyembunyikan apa yang dirinya tahu dari Kakaknya Arka.
Ayahnya sangat marah pada Mamanya, dan saat ini di kurung di rumah, terlihat sekali hubungan mereka menjadi buruk akibat hal-hal itu.
Mereka sempat bertengkar hebat sebelumnya.
Namun Ayahnya, merasa sangat malu atas perbuatan Istrinya itu, agar menyembunyikan hal ini sementara dari orang lain, Ayahnya sendiri lah yang akan menghukum Ibunya, dirinya juga melihat bagaimana Ibunya mendapat beberapa pukulan.
Louise sendiri tidak tahu harus berkata seperti apa ketika melihat kejadian itu. Dirinya merasa jika Mamanya itu cukup layak mendapatkan hal itu.
Namun sebagai seorang anak, tentu saja dirinya masih tidak tega.....
Tapi mau bagaimana lagi?
Dirinya sendiri juga tidak tahu harus bagaimana.
Itulah juga alasan kenapa dirinya menyetujui perkataa Ayahnya untuk menyembunyikan ini sementara, karena Ayahnya tidak ingin masalah ini menjadi lebih besar dan mungkin saja bisa berimbas pada dirinya.
Jelas suasana hati Louise rasa tidak enak seharian itu, lihat sekali dari ekspresi wajahnya.
Arka yang kebetulan hari itu bekerja dengan adiknya itu untuk memeriksa keadaan proyek merasakan keanehan dari ekspresi adiknya.
Entah kenapa hal-hal ini membuat dirinya merasakan hal yang familiar.
Di mana sehari sebelum Viola pergi, Dia memiliki ekspresi yang hampir sama dengan adiknya saat ini.
Hal-hal ini jelas membuat Arka merasa cemas dan ketakutan, takut untuk sekali lagi ditinggalkan oleh orang-orang yang dirinya sayang.
Jadi saat jam makan siang dan mereka makan siang bersama, Arka mengambil kesempatan ini untuk bertanya,
"Jadi, ada apa Louise? Aku melihat kamu seharian ini bersikap aneh,"
Louise yang menikmati makan siangnya itu tentu saja menjadi terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Kakaknya. Jelas sekali dirinya mencoba mengelak dari pertanyaan Kakaknya itu.
"Tidak ada apapun, hanya beberapa tugas di kampus yang cukup banyak,"
"Begitu? Kamu tidak berbohong padaku bukan?"
Louise terdiam, karena dirinya memang berbohong.
Melihat adiknya itu terdiam, Arka sedikit menebak mungkin adiknya ini memang punya masalah yang tidak bisa dikatakan.
"Louise, apapun masalahmu kamu selalu bisa percaya padaku dan mengatakannya padaku,"
"Lalu bagaimana jika aku memang berbohong pada Kakak? Mungkin banyak dari diriku yang Kakak sebenarnya tidak tahu,"
__ADS_1
Mendengar hal itu, Arka lalu tersenyum, dan berkata,
"Tidak apa-apa jika kamu ingin berbohong padaku, kamu pasti punya alasan untuk itu. Dan aku yakin itu bukanlah hal yang buruk, karena aku hafal Bagaimana adikku ini, jadi tidak masalah sama sekali, aku akan selalu percaya padamu,"
Mendengar kata-kata tulus itu, Louise jelas merasa sangat tersentuh dan terharu....
Mungkin memang sebaiknya dirinya jujur....
Namun dirinya merasa, saat ini belum saatnya.
Mungkin menunggu waktu yang tepat ketika masalah sudah sedikit mereda.
"Terimakasih, Kak. Sudah Percaya padaku,"
####
Sore itu, di Rumah Keluarga William, saat ini sebuah laporan telah sampai di meja Abraham William, itu adalah sebuah laporan tentang Insiden yang menimpa Arka sebelumnya di Rumah Sakit yang membuat Arka hampir saja meninggal.
Dalam laporan tersebut, terlihat ada sebuah foto salah satu Menantunya itu sedang mengobrol dengan pelaku yang menyabotase Arka di Rumah Sakit, disisi lainnya ada juga laporan tambahan bagaimana Louise salah satu cucunya itu, mencoba menyembunyikan fakta ini.
"Sial, ternyata ini semua ulah mereka! Aku dari awal sudah tidak menyukai Istri Baru Andreass dan Putranya yang itu, dan sekarang sudah terbukti apa yang aku takutkan,"
Kemarahan Abraham terlihat jelas di sana sambil meremas surat yang ada di tangannya.
Dan tidak lama setelahnya, tentu saja dirinya langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa Laura ke hadapannya.
Jelas sekali, ketika anak buah Abraham sampai di Rumah Anderass, terjadi masalah disana.
"Maaf, Tuan Anderass, kami diperintahkan oleh Tuan Besar untuk membawa Nyonya Laura kehadapan beliau,"
Ketika Anderass mendengar hal itu tentu saja wajahnya menjadi pucat dirinya tidak bisa untuk tidak berpikir bahwa kemungkinan besar hal-hal yang telah dilakukan oleh Istrinya itu sampai ke telinga Ayahnya.
Dirinya sendiri juga tidak tahu harus bersikap seperti apa, tentu saja dirinya menjadi sangat benci pada Istrinya itu bahwa dia telah tiga ingin menyakiti Putranya Arka.
Namun disisi lainnya, harga tidak tega jika harus mengusir wanita yang dirinya cintai itu, apalagi ada Louise, yang paling membuat dirinya takut jika sampai mereka berdua bercerai, adalah tentang bagaimana nasip Louise kedepannya.
Jika Reputasi Ibu Louise begitu buruk di mata Ayahnya, Ayahnya yang hari awal tidak menyukai Putranya Louise itu jelas tidak akan segan-segan, selain mengusir Istrinya juga akan mengusir putranya itu.
Jelas, dirinya tahu jika Louise jelas tidak bersalah atas hal-hal ini. Walaupun kedua Putranya itu berbeda Ibu, dan sering sekali banyak perselisihan antara Ibu Louise dan Putranya Arka, namun dirinya juga tahu jika hubungan kedua bersaudara itu baik.
Sejujurnya dirinya juga takut karena hal-hal ini, akan memberikan konflik tambahan kepada dua Putranya itu, yang mana memang sudah ada begitu banyak percikan dan alasan untuk mereka berdua membenci satu sama lain.
Andreass saat ini tidak bisa berbuat apa-apa ketika anak buah Ayahnya itu mulai membawa paksa Istrinya itu dari Rumah mereka ke Tempat Ayahnya.
"Anderass!! Apakah apa anda telah ini kenapa mereka tidak sopan denganku!! Dan kamu Andreass kenapa kamu diam saja dan tidak membelaku?"
"Tutup mulutmu Loura, pikir hal-hal ini perbuatan siapa? Kamu yang dari awal melakukan hal-hal tidak berguna dan membuatmu menjadi seperti ini,"
__ADS_1
"Andreass!! itu benar-benar kurang ajar suami tidak tahu untung yang tidak mau membela Istrinya!!"
"Laura! Aku menjadi muak mendengar semua ucapanmu itu!!"
Namun pertengkaran mereka tidak berlangsung lama karena setelahnya Louise yang baru saja pulang dari kantor itu, lihat kejadian itu tentu saja dirinya panik melihat bagaimana Mamanya itu diseret keluar rumah.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan pada Mamaku?"
"Louise!! Tolong aku!! Biarkan orang-orang ini membawaku dengan paksa seperti ini!! Aku tidak suka diperlakukan tidak sopan seperti ini!"
Salah satu anak buah itu, lalu segera berkata,
"Ini adalah Perintah Tuan Besar untuk membawa Nyonya Laura kehadapannya,"
Ketika nama Kakeknya disebut itu, jelas perasaan Louise menjadi tidak nyaman.
Jangan bilang Kakeknya sudah tahu tentang semua itu?
Lalu bagaimana ini?
"Louise!! Jangan dengarkan mereka!!"
"Tuan Muda Louise, anda sebaiknya juga ikut kami, Kakek anda gak ingin berbicara dengan anda,"
Louise yang tidak bisa berbuat apa-apa itu akhirnya mengikuti mereka, begitu pula dengan Andreass yang merasa begitu cemas ketika di Istri dan Putranya itu akan diinterogasi oleh Ayahnya.
Dan lama sampai mereka semua sampai di ruangan Abraham.
Abraham yang melihat wajah mereka, lalu segera bertepuk tangan, dan berkata,
"Bagus, sekali, sepasang ibu dan anak penjahat ini akhirnya tiba disini,"
Laura sebenarnya merasa sedikit takut ah namun dia masih berpura-pura tidak tahu apa-apa kemudian bertanya,
"Apa sebenarnya yang Ayah Mertua ingin katakan padaku dan Putraku?"
Abraham yang masih melihat ting dari Menantunya itu jelas aja merasa sangat kesal.
Dia lalu mulai melemparkan beberapa bawang bukti yang ada di mejanya itu ke wajah Laura.
"Kamu jangan berpura-pura bodoh!! Aku sudah tahu semua perbuatan jahat mu itu, hal-hal yang coba kamu lakukan pada Arka, cucuku!!"
"Hal-hal apa? Aku tidak melakukan apa-apa," kata Laura masih mengelak.
"Cukup omong kosong ini, Laura!! jangan coba melakukan hal bodoh dan menghilang lagi aku jelas udah memiliki bukti-bukti atas perbuatan jahat mu itu!!"
Wajah Laura orang menjadi ketakutan tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Dan sekarang, tatapan Abraham menuju kearah Louise,
"Dan kamu, Lousei, aku tidak pernah mengira jika kamu berkomplot dengan Ibumu untuk mencoba mencelakakan kakakmu sendiri!! Aku benar-benar tidak percaya kamu sampai begitu tega!! Kamu sengaja menyembunyikan kejahatan Ibumu itu bukan? Jangan coba mengelak,"