
Namun begitu Arka tiba di rumahnya dia melihat wajah familiar yang lain.
Itu adalah adiknya, Louise yang juga terkejut melihat kedatangan Arka dari luar rumah.
Arka merasa ini cukup beruntung jadi dirinya segera menyapa adiknya itu ingin segera memberikan kabar yang barusan dirinya dengar itu.
"Louise, kebetulan sekali kamu berada di sini mari segera masuk Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"
Louise yang awalnya hanya ingin mampir dan melihat-lihat lokasi ini pun mengikuti Kakaknya,
"Ada apa Kak?" Tanya Louise dengan penasaran.
"Louise, sungguh hal-hal yang kamu bicarakan tempo hari benar-benar nyata,"
Louise tentu saja menjadi bingung setelah mendengar hal itu.
"Apa maksudmu, Kak?"
"Hal-hal soal harta tersembunyi ini benar-benar nyata ada,"
"Bagaimana Kakak tahu?"
"Aku barusan dengar hal-hal ini setelah menguping pembicaraan antara Marsela Cavel dengan bawahannya, mereka membahas soal keberadaan harta tersembunyi juga keberadaan kunci harta tersembunyi itu,"
"Apa? Bagaimana bisa Kakak menguping Pembicaraan mereka?"
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Mereka ternyata mereka tinggal di Kompleks Perumahan ini aku melihat Marsela sedang lari pagi dan membicarakan soal ini dengan bawahannya ini benar-benar sebuah kebetulan,"
"Apa? Keluarga Cavel tinggal didekat sini? Bukankah ini artinya sangat berbahaya?"
Arka lalu menjadi kesal karena Louise malah tidak mendengarkan penjelasan penting yang dirinya dengar namun malah membicarakan soal Keluarga Cavel yang tinggal dekat sini.
"Hah, Lousei kamu ini, Apakah kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi? Lagi pula kamu tidak perlu khawatir, soal Keberadaanku yang tinggal di rumah ini saat ini menjadi rahasia bahkan dari publik aku juga tidak tahu kenapa kakek nenek bahkan Viola menyembunyikanku dan mengurungku di tempat ini,"
"Tentu saja ini semua demi kebaikan Kakak, mereka benar-benar khawatir dan cemas jika Keluarga Cavel itu mengincar Kakak,"
"Aku tahu, sudahlah sebaiknya jangan membahas itu dulu yang paling penting soal informasi harta tersembunyi yang aku dapatkan,"
"Baik-baik, jadi Harta Tersembunyi itu benar-benar ada?"
"Benar, ini nyata, dan aku menebak mereka mengincar Keluarga William karena Keluarga William memiliki Kunci Harta itu,"
Mendengar hal-hal itu Louise sungguh terkejut,
"Jadi... Mereka benar-benar mengincar Keluarga Kita karena kunci itu?"
"Benar sekali, dan aku tidak tahu entah bagaimana sepertinya Keluarga Mamaku mungkin juga terlibat dalam hal-hal ini. Menurut apa yang aku dengar, sepertinya kunci dari harta karun itu dulunya pernah dipegang oleh Mamaku, yang kemungkinan besar juga mengarah pada insiden yang menimpa Mamaku itu,"
"Apa? Ini benar-benar sangat mengkhawatirkan. Lalu... Kunci itu... Berada dimana?"
"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas kita sudah mengkonfirmasi tentang hal-hal ini. Dan aku sudah memiliki rencana soal ini,"
"Rencana apa?"
"Aku yang akan mendapatkan Harta tersembunyi itu sebelum mereka. ini mungkin satu-satunya bentuk balas dendam terbaik yang bisa aku lakukan dengan cara mendapatkan apa yang paling mereka inginkan,"
"Astaga, sepertinya rencana Kakak ini cukup bagus Aku akan mencoba membantu Kakak sebisa mungkin. Dan juga sebenarnya alasan aku berada di sekitar tempat ini aku masih menyelidiki tentang peta yang aku dapatkan Dan menganalisisnya untuk memastikan Apakah itu benar-benar daerah ini atau bukan,"
"Jadi bagaimana hasilnya?"
"Peta itu memang sepertinya berada di daerah sekitar sini,"
"Jadi begitu, berarti kita satu langkah lebih dekat untuk menemukan hal itu,"
"Namun Kak, Bukankah penting juga untuk menemukan kunci itu sebelum mereka?"
"Ya, soal kunci itu aku juga masih belum tahu Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Apakah tidak ada petunjuk soal seperti apa kunci itu?"
Arka terdiam sejenak, lalu segera berkata,
"Tidak ada petunjuk apapun soal hal itu,"
"Hah, sungguh?"
"Baik, mari kita tenang dulu, Louise Mari kita pergi ke rumah keluarga William dan memeriksa semua barang-barang milik Mamaku,"
"Baiklah, kalau itu mau Kakak. Aku akan mengikutinya jika itu hanya pergi ke rumah keluarga William Tentu aja tidak masalah,"
Dan begitulah rapat mereka dimulai soal rencana mereka menemukan kunci dan harta tersembunyi itu.
####
Malam hari akhirnya tiba ketika Viola tiba di rumah.
Hal pertama yang dirinya lihat adalah tuan mudanya saat ini sedang duduk di sofa dan bermain-main dengan ponselnya.
Namun ketika Arka melihat bahwa Viola akhirnya datang dirinya tentu saja langsung menyapa Viola, memeluknya dengan senang hati, membuat Viola hampir kaget.
"Tuan Muda ada apa?"
Arka jelas masih menjalankan rencananya soal menjadi dekat dengan Viola.
Lebih banyak kontak fisik bisa membuat mereka menjadi selangkah lebih.
Itulah kenapa Arka mulai memeluk Viola lebih banyak jika memiliki kesempatan.
"Tidak ada, aku hanya kebetulan saja sangat merindukanmu,"
Viola lahiran dengan tingkah Tuan Mudanya itu,
"Kita baru saja bertemu pagi ini,"
"Ayolah, Viola... aku sendirian di rumah dan merasa sangat bosan sekali tidak ada kamu Aku bahkan dilarang untuk keluar-keluar rumah,"
"Tapi itu benar-benar membosankan jika tidak ada kamu, rasanya sangat sepi. Memangnya kamu tidak merasakan hal itu?"
Viola lalu terdiam sebentar.
Sejujurnya dirinya juga merasa cukup sepi dan bosan ketika di kantor.
Biasanya akan ada seseorang yang dirinya ajak bicara dengan bebas dan membuat lelucon yang membuat kehidupan di kantor menjadi lebih berwarna.
Ada Tuan Muda yang terkadang malah membuatnya marah atau membuat beberapa kesalahan kecil, dirinya harus memperingatkan Tuan Mudanya agar tetap patuh.
Namun tiba-tiba sekarang, dirinya harus pergi ke kantor sendirian.
Terlebih lagi di kantor itu tidak banyak yang dirinya kenal dengan baik, dan rasanya menjadi sangat hambar berada di sebuah ruangan besar sendirian.
Namun tentu saja Viola tidak berani untuk mengatakan hal-hal itu.
"Hah, itu terserah Tuan Muda saja,"
Arka lalu segera menyuruh Viola untuk duduk di sofa, membantu Viola melepaskannya Jas Miliknya.
Semakin kesini, Viola menjadi binggung dengan tingkah Tuan Mudanya itu.
"Bukankah kamu lelah, Viola? Mari aku akan membantumu untuk memberikan pijatan,"
"Tuan Muda tidak perlu repot-repot," tolak Viola dengan halus.
"Tapi aku ingin, ayolah...."
Mendengar permintaan aneh itu, Viola mau tidak mau menurut, lalu mengikuti Instruksi Tuan Mudanya untuk duduk.
__ADS_1
Bagian punggungnya dan bahunya memang terasa tidak nyaman karena kebanyakan duduk dan terlalu fokus bekerja.
Arka lalu segera melakukan aksinya itu, mencoba memijat Viola sedikit demi sedikit, berdasarkan teknik yang dirinya pelajari dari internet.
Dia mulai memijat sedikit bahu Viola.
Viola yang merasakan pijatan itu, juga merasa sangat rileks.
Dirinya tidak mengira, jika Tuan Muda ternyata bisa melakukan hal-hal ini.
"Ini sangat enak Tuan Muda, ya pelan-pelan sedikit...."
"Tentu saja aku akan pelan-pelan,"
"Benar, bagian itu sangat nyaman.... Lakukan dengan lembut,"
"Ya, aku akan melakukannya dengan lembut sehingga kamu akan merasa nyaman,"
"Ahhh... Ya... Sangat enak Tuan Muda...."
Mendengar bagaimana Viola mengatakan hal itu, otak Arka segera traveling kemana-mana.
Tunggu dulu!!
Karena Viola juga sampah mengatakan hal-hal serupa dalam situasi yang berbeda.
Akhhh...
Ini terasa memalukan ketika mengigatkannya.
Viola yang merasakan pijatan tangan Tuan Mudanya itu, segera sadar dan bertanya,
"Ada apa Tuan Muda? Apakah Tuan Muda Sudah Lelah hanya dengan segitu?"
"Omong kosong!! Aku masih memiliki stamina yang baik! Kamu tidak usah khawatir!!"
Viola hanya bisa merasa heran.
"Lalu kenapa Tuan Muda tiba-tiba berhenti?"
Arka dengan malu, lalu berkata,
"Kamu... Kamu jangan membuat suara-suara aneh,"
"Suara-suara aneh apa?"
"Sesuatu seperti tadi...."
Viola masih tidak mengerti maksud Tuan Mudanya.
Apa memangnya yang dirinya?
Pelan-pelan...
Disana enak...
Ini nyaman...
Tunggu!!
Memang ini ada yang salah!!
Kata-kata ini benar-benar terkesan begitu ambigu jika didengar oleh orang.
Sial, sekarang Viola menjadi malu sendiri.
Namun bukakah Tuan Mudanya saja yang terlalu banyak berpikir?
__ADS_1
Lagipula, ini memang aneh diperlakukan seperti ini oleh Tuan Mudanya, dan dirinya langsung terbawa suasana.
Ya, kenapa pula Tuan Muda menjadi begitu perhatian?