
Arka masih tenggelam dalam ingatan kelamnya, tidak menanggapi panggilan Viola.
Hal-hal mengerikan yang seharusnya dirinya lupakan, kembali muncul dalam ingatannya.
Ingatan itu awalnya sedikit kabur, namun perlahan-lahan menjadi jelas.
Hari itu, dirinya dan Mamanya ada di Villa itu, masih menikmati pemandangan hutan dan taman yang indah di dekat Villa.
Arka kecil, sangat senang bermain disana dan berlari-larian, sampai tidak ingin untuk diajak kembali.
"Arka, mari kita pulang ke Rumah." Bujuk Mama Arka kala itu.
"Tidak Mau!! Arka masih mau disini,"
"Arka dengarkan Mamamu, besok Papamu harus kembali ke Kantor,"
"Tapi Arka masih ingin disini, di Rumah sangat membosankan, hpmh,"
Mama Arka tersenyum pada, Arka lalu lanjut berkata,
"Baiklah-baiklah, kita masih akan disini untuk Dua Hari kedepan oke? Papamu biarkan dia pulang dulu, tapi ingat, setelah ini Arka harus menjadi anak yang patuh dan baik oke?"
"Yey!! Masih disini? Benar Mama?"
"Ya, tapi hanya dua hari lagi lalu kita harus pulang, mengerti?"
"Tentu saja!! Arka sangat senang, Terimakasih Mama...."
Seolah-olah banyangan ketika dirinya yang masih kecil berada di halaman Villa itu terlihat.
Seorang anak kecil yang begitu polos merengek untuk tetap disini.
Arka yang seolah melihat versi kecil dari dirinya itu...
Ingin menarik anak itu, mencegah agar anak itu tidak meminta untuk tetap disana lebih lama....
Seandainya saja...
"Jangan.... Jangan disini.... Segera pergi dari sini...."
Sama seperti itu hanya sebatas bayang-bayang, hal-hal didepan Arka hilang, tidak ada siapa-siapa di Villa itu, dan pandangan Arka akhirnya pulih, setelah Viola menampar.
Memegangi pipinya yang sakit, dia memanggil wanita didepannya,
"Viola...."
"Akhirnya Tuan Muda sadar. Tidak apa-apa Tuan Muda, ini pasti ada orang yang segaja mengerjai kita agar kita sampai di Villa ini, tunggu aku akan segera mencari bantuan agar kita segera pergi dari sini,"
"Viola aku....."
"Tuan Muda harus tenang. Tidak ada apa-apa,"
"Viola ayo kita segera pergi dari sini.... Aku takut.... Kamu jangan meninggalkanku...."
Berdiri ditempat ini, perasaan Arka menjadi begitu ketakutan.
Perasaan ditinggalkan oleh Mamanya yang paling dirinya sayangi, sekarang melihat wanita yang dicintainya ini berada ditempat terkutuk ini membuat Arka menjadi lebih ketakutan, bagaimana kalau mereka disini lebih lama, hal buruk terjadi pada Viola?
Bagaimana jika Violanya...
__ADS_1
"Viola ada disini, tidak akan kemana-mana, akan selalu bersama Tuan Muda,"
Arka lalu langsung memeluk erat Viola.
Seolah tidak ingin melepaskannya.
Karena Viola adalah satu-satunya yang dimilikinya saat ini.
"Kamu berjanji padaku Viola?"
"Ya, aku berjanji Tuan Muda,"
"Hmm, bagus."
Viola lalu ikut memeluk Arka mencoba memberinya ketenangan.
Mereka berada berpelukkan dalam diam sampai Arka merasa sedikit tenang.
Begitu melepaskan pelukannya, Viola mencoba menelepon seseorang.
Namun sayangnya, teleponnya tidak ada sinyal.
"Apakah ponsel Tuan Muda ada sinyal?"
Arka segera mengambil ponselnya, menunjukannya pada Viola.
"Sepertinya tidak ada juga. Bagaimana ini Viola?"
"Tuan Muda tenang, tempat ini tidak begitu jauh dari Hotel, kita masih bisa mencoba berjalan kesana, karena sepertinya tidak ada kendaraan disini."
"Tidak, walaupun katamu itu dekat, itu masih sekitar 2-3 kilo meter bukan? Hutan ini juga cukup luas, seingatku Villa ini memang dibangun di tengah Hutan dekat Kawasan berburu, bagaimana kalau nanti malah bertemu dengan hewan liar? Lupakan soal hewan liar, berajalan sejauh itu aku rasa aku tidak sanggup."
"Didalam Villa.... Seharusnya ada mobil khusus berburu..."
Viola lalu menatap kearah Villa kosong itu.
Dari luar, Villa itu memang saat ini terlihat tidak berpenghuni, namun dilihat dari taman, dan rumput disekitarnya yang rapi, juga Villa yang terlihat segar dari jauh, ini pasti di rawat dengan baik oleh petugas kebersihan Villa yang akan sesekali berkunjung.
Namun masuk ke Villa itu.....
"Baik, saya akan coba masuk dan mengambil mobil itu,"
Viola hendak berbalik namun tangannya digenggam erat oleh Arka.
"Jangan.... Jangan masuk...."
"Tapi Tuan Muda ini kita tidak memiliki pilihan lain. Tuan Muda disini saja, biar aku yang masuk, tidak usah terlalu memikirkannya,"
"Kamu.. kamu mau meninggalkanku sendirian disini?"
Viola melihat sekelilingnya, selain jalanan yang rapi, disini adalah Hutan.
"Lalu Tuan Muda mau bagaimana? Mau jalan Kaki? Benar seperti kata Tuan Muda, kita tidak tahu apakah akan ada hewan liar atau tidak."
"Aku.. aku akan menemanimu masuk."
"Tidak, Tuan Muda jelas tidak baik-baik saja hanya dengan menatap pintu Villa ini, bagaimanapun Tuan Muda bisa masuk?"
"Aku rasa ini saatnya aku mencoba melupakan ketakutanku."
__ADS_1
"Tidak. Tuan Muda disini, saja aku yang akan masuk ini tidak akan lama."x
"Tidak, kamu tidak boleh pergi Viola," kata Arka sambil mempererat pegangan tangannya pada Viola.
Akhirnya Viola mengehela nafas, mengambil keputusan.
"Baik, Tuan Muda akan ikut masuk, saya juga khawatir meninggalkan Tuan Muda sendiri disini. Tolong pegang tangan saya dan jangan pernah lepaskan,"
"Ya...."
Viola membalas gandengan Arka, dan mempererat ikatan tangan mereka.
Tangan Arka masih sedikit gemetar, namun Arka berusaha untuk kuat menghadapi semua ini.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda,"
Sekali lagi Viola mencoba menenangkannya.
Mendengar suara lembut Viola itu, rasa gemetar dan cemas di hatinya sedikit mereda.
Itu benar sekarang di sampingnya ada Viola, dirinya tidak bisa menunjukkan sisi lemahnya di depan wanita yang dirinya cintai yang juga sekarang merupakan istrinya.
Kemudian mereka perlahan memasuki halaman villa itu.
Mereka lalu memastikan dan mencoba membuka pintu villa itu.
Anehnya villa itu tidak dikunci.
Saling menatap dalam diam, Arka mengangguk dan memberi Viola persetujuan.
Mereka berdua lalu memasuki pintu masuk villa itu, Viola segera menyalakan lampu.
Menatap ke dalam, Villa itu terlihat bersih, memang sepertinya terlambat dengan baik namun tidak ditempati siapapun.
Arka melihat jika dekorasi dalam villa itu sudah sangat berubah dari ketika dirinya terakhir ke sini. namun memang ada beberapa dekorasi yang sepertinya tidak berubah.
Seperti lukisan di Ruang Tamu.
Arka ingat lukisan ini, ini adalah lukisan yang Mamanya sukai.
Mamanya memang memiliki hobi dan kesukaan pada Lukisan.
Ketika menatap lukisan ini tiba-tiba beberapa kenangan masa lalu muncul.
"Arka, lihat lukisan ini? Ini terlihat indah bukan?"
"Wooahhh benar, Lukisan ini sangat mengagumkan, Arka ingin juga bisa melukis seperti ini,"
"Pfffff.... Kamu ini... Hari setelah kita pulang dari liburan Mama akan mengajarimu melukis,"
"Mama bisa melukis?"
"Tentu saja,"
"Janji ya, Mama akan mengajari Arka?"
"Tentu saja sayang,"
Memikirkan janji kecil yang dirinya buat dengan Mamanya kala itu, hati Arka tiba-tiba menjadi begitu sedih.
__ADS_1
Sebuah janji yang tidak bisa ditepati.