Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 75: Rasa Malu


__ADS_3

Ini adalah pagi yang baru, berbeda dengan kemarin yang cuaca cukup mendung, hari ini cukup cerah.


Arka yang kebetulan bangun cukup pagi, menatap kearah sampingnya, Viola yang masih tertidur lelap.


Sejujurnya, dirinya masih merasa sangat canggung untuk bertemu dan berhadapan langsung dengan Viola sejak kejadian malam itu.


Kemarin siang saja ketika dirinya mengobrol dengan biola suasananya benar-benar menjadi aneh.


Entah kenapa dirinya juga merasakan jika sepertinya Viola bersikap tidak seperti biasanya.


Kemarin, Viola sepertinya mencoba menghindari dirinya, iya sendiri tidak tahu alasannya apakah itu karena malam itu dirinya memiliki kinerja yang baruk?


Tentu saja dirinya tidak berani bertanya pada Viola, terlalu memalukan untuk bertanya.


Apalagi malam itu, dirinya sangat menikmati hal-hal yang mereka lakukan.


Terlalu menikmatinya, hingga diriya meminta lagi pada akhirnya.


Akhhhh....


Dan sekarang melihat wajah polos Viola yang tertidur tanpa penjagaan itu, membuat Arka merasa malu.


Sekarang, dirinya tidak lagi mau mencium Viola diam-diam.


Jadi, dari pada canggung berada disini, akhirnya Arka memilih menyelinap ke luar dari tempat tidur, untuk olahraga pagi.


Malam itu, baru beberapa saat dan dirinya sudah menjadi lelah, dirinya harus lebih memiliki banyak stamina agar bisa bermain-main lebih lama dengan....


Akhhhhh....


Arka mulai memukul kepalanya sendiri, merasa pikirannya menjadi semakin sesat dari hari ke hari, mulai menjadi tidak murni lagi.


Huh, ini semua gara-gara Viola yang tidak tertahankan di tempat tidur.


Ya, bagaimana tidak?


'Tuan Muda cukup berbaring biar saya saja yang memulainya,'


Posisi Viola itu.....


Arka yang kepikiran terus, sekali lagi memukul kepalanya sendiri namun itu ternyata sakit.


Baru ingat kalau kepalanya masih terluka.


Arka lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum nantinya berganti ke pakaian olahraga.


Menatap kearah cermin, Arka merasa sedih.


Rambut-rambut yang indah dan berkilau itu sekarang tinggal separonya gara-gara di cukur saat operasi.


Penampilan ini benar-benar memalukan.


Jadi itukah kenapa Viola mematikan lampu?


Dirinya sudah tidak tampan lagi?


Arka benar-benar menatap cermin dengan ekpersi yang benar-benar sedih.


Lalu menatap jika sepertinya sudah ada beberapa bulu-bulu halus di sekitar dagunya.


Astaga!!


Melihat itu, Arka menjadi syok!!


Ya ampun, karena berada di Rumah Sakit begitu lama, dirinya lupa tidak bercukur dengan benar, dan sekarang hal-hal ini mulai tumbuh!


Sungguh, dirinya harus segera bercukur agar terlihat lebih tampan.

__ADS_1


Penampilannya sekarang sungguh terlalu memalukan bahkan untuk dirinya sendiri lihat.


Rambut botak sebagian, dan bulu-bulu halus di dagunya.


Belum lagi perban di dahinya.


Arka segera bercukur disana, lalu segera mengambil baju dan juga wig yang sudah Viola beli itu.


Sekarang menatap kembali penampilannya di cermin, Arka merasa sangat puas.


"Hmm, aku ini memang cukup tampan, namun kenapa Viola itu tidak terpesona pada penampilanku? Atau apakah ini masih kurang tampan?"


Arka berkaca sendiri sambil bergumam tidak jelas didepan cermin.


Namun pada akhirnya, dia memuji betapa luar biasanya penampilannya itu.


"Dan lihat otot-otot perutku yang terawat ini....."


Arka mulai membuka bajunya sendiri, menujukan penampilan setengah telanjang yang cukup memukau mata.


Dia berkaca dengan bangga di depan cermin itu.


Viola yang sudah bangun tidur itu cukup terkejut ketika membuka kamar mandi, melihat Arka sedang berpose aneh sambil menatap cermin dan memuji dirinya sendiri itu.


Arka yang juga menyadari pintu terbuka, menatap kearah Viola.


Apakah Viola melihatnya?


Sikap gilanya barusan?


Akhhhh....


Kenapa dirinya selalu terlihat memalukan seperti ini didepan Viola?


Viola awalnya sedikit terkejut menatap tubuh setengah telanjang Tuan Mudanya itu, terutama setelah melihat beberapa luka seperti goresan kuku di punggung mulus Tuan Mudanya itu, yang terlihat sedikit memerah, dan meninggalkan bekas.


Malam itu, dirinya sempat....


Memikirkannya saja membuat Viola malu sendiri, namun tetap mencoba menormalkan ekspresinya.


Dan berkata,


"Silahkan Lanjutkan, Tuan Muda, maaf mengaggu aktifitas pagi anda," kata Viola lalu segera menutup pintu dengan keras.


Karena berikutnya, wajah Viola menjadi merah sendiri karena malu.


Ingat juga bagaimana malam sebelumnya dirinya menyentuh bagian-bagian tubuh Tuan Mudanya itu....


Padahal biasanya dirinya juga membantu Tuan Mudanya untuk Mandi dan sering melihat tubuh setengah telanjang Tuan Mudanya itu, namun sekarang kenapa dirinya menjadi malu sendiri melihat Tuan Mudanya seperti itu?


Viola!!


Ada apa denganmu!!


Astaga....


Akhhh..


Tapi Tuan Mudanya Arka terlihat sangat lucu dan manis seperti itu...


Apa lagi di malam sebelumnya...


Akhhhh......


Tidak....


Otak, tolong jangan memikirkannya lagi, atau ini akan semakin canggung.

__ADS_1


Viola akhirnya memutuskan untuk ke Dapur dan menyiapkan minuman pagi untuk Tuan Mudanya itu, dari pada berpikir tidak jelas disana.


Arka sendiri didalam mencoba menetralkan nafasnya sendiri, barusaja menerima ledakan emosi yang tidak tertahankan.


Arka segera memakai baju Olahraga, dan keluar dari kamar mandi, dan ternyata sudah tidak menemukan Viola disana.


Ini aneh?


Kenapa Viola langsung pergi begitu saja?


Ah, mungkin dia sedang mengambil sarapan atau sesuatu?


Namun dirinya tidak ingin sarapan dulu, ingin pergi berolahraga.


Jadi segera, Arka menuju ke Dapur dan bertemu Viola sedang membuat susu di sana.


"Viola, nanti saja sarapannya aku mau olahraga dulu,"


Viola segera menghentikan mengaduk susu di gelas itu, dan menatap Tuan Mudanya.


"Baik, Tuan Muda. Jadi apa yang Tuan Muda inginkan?"


Arka terdiam, lalu berkata,


"Jus Jambu,"


"Baiklah, Tuan Muda. Akan saya siapkan,"


"Baik, aku pergi dulu,"


Dan begitulah akhirnya kecanggungan dipagi hari berakhir, dengan kembali mengikuti kegiatan mereka sehari-harinya.


Arka dengan mencoba man santai untuk lari pagi mengelilingi Halaman Rumah Keluarga William yang sudah cukup lebar.


Berkeliling beberapa kali sudah cukup untuk membuat lelah.


Jadi tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk lari pagi.


Arka mencoba menikmati udara segar dan cuaca hari ini.


Namun sayangnya, kedamaiannya itu berubah setelah mendengar suatu teriakan.


"ADA KUCING!! SIAPA YANG BERANI MEMBAWA KUCING KE RUMAH INI!!"


Arka jelas tahu itu suara siapa, itu jelas Suara Tantenya Aurora, yang Alergi Kucing.


Sepertinya Kucing di Rumah Utama melarikan diri semalam dan sekarang harus berhadapan dengan Tantenya Aurora yang tidak suka Kucing itu.


Ketika Arka datang, Arka melihat beberapa pelayan tengah mengepung seekor kucing kecil yang ketakutan di dekat pohon.


Jelas kucing kecil itu gemetar karena begitu banyak orang di sekelilingnya.


Arka tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Segera kesana, dan menerobos para pelayan kemudian kucing itu dengan patuh lansung berlari ke Arka, Arka lalu memeluk kucing kecil itu.


"Ini kucing milikku, memangnya kenapa?"


Tentu saja, Aurora menjadi murka setelah mendengar hal itu.


"Kamu itu, Arka beraninya memelihara Kucing di Rumah ini! Kamu tidak tahu jika aku alergi kucing?"


"Hah, memangnya aku tidak suka kucing?"


Arka lalu tertawa, dan segera berkata,


"Memang ada hubungannya itu denganku?"

__ADS_1


"Arka kamu sungguh berani!! Benar-benar anak tidak tahu diri!!" kata Aurora dengan penuh emosi.


__ADS_2