
Setelah memilih baju untuk Viola, Viola segera ke ruang ganti dan berganti baju.
Berikutnya, Arka mulai mengambil kotak perhiasan di dalam almari.
Disana, ada beberapa perhiasan indah milik Almarhum Mamanya.
Mengigat beberapa perhiasan ini, perasaan Arka menjadi cukup sedih, teringat lagi dengan Mamanya itu.
Tidak, dirinya tidak boleh terlihat sedih.
Arka mulai menstabilkan emosinya.
Menatap salah satu liontin itu, Arka mulai bertekat,
"Mama tidak usah khawatir, Arka pasti akan membalaskan dendam Mama dan menemukan pelaku yang melakukan hal-hal itu pada Mama, aku pastikan mereka membayar hal itu dengan setimpal. Aku akan membuat Kakek dan Nenek berbicara dan jujur soal hal itu, agar Mama bisa tenang di sana,"
Dari deretan kalung itu, disana ada sebuah liontin berwarna biru, dari cyslal safir.
Desain kalung ini sangat mirip dengan Pusaka Keluarga William, hanya warnanya biru sedangkan pusaka Keluarga William, dengan Ruby merah.
Arka tidak bisa, untuk tidak bertanya, apakah ini sepasang?
Ketika Arka melamun sambil memegang liontin itu, Viola sudah kelihatan dari ruang ganti.
"Taun Muda, bagaimana? Apakah ini cocok?"
Arka lalu berbalik dan menatap kearah Viola, Arka merasa takjub dengan penampilan Viola malam ini.
Gaun Biru muda yang indah itu, sangat cocok dengan dan pas di pakai Viola, juga rambut Viola saat ini digerai, benar-benar terlihat anggun dan elegan, bahkan walaupun ada bekas luka di wajah Viola, yang terutup sedikit poninya,l, itu tetap sangat cantik di mata Arka.
Menahan itu kalung ditangan Arka jatuh.
"Tuan Muda? Apakah ini aneh?"
Arka yang masih menatap Viola tanpa berkedip itu, lalu tersadar, dan berkata dengan jujur,
"Kamu sangat cantik,"
Mendengar pujian Arka tiba-tiba itu wajah Viola sedikit memanas.
Dirinya selalu merasa dirinya tidak cantik, namun di puji seperti itu oleh Tuan Mudanya benar-benar membuat Viola diam-diam merasa senang. Pujian refleks dan sangat jujur.
Dengan wajah seperti ini, Tuan Mudanya masih menyebut dirinya cantik?
Tuan Mudanya benar-benar selalu aneh.
Namun perasaan ini sangat menyenangkan.
Arka lalu mengabil kalung yang jatuh itu, kemudian memakainya ke Viola.
"Tuan Muda ini..."
"Sudah, pakai lah semua Perhiasan yang cocok, kamu adalah Istriku Malam ini,"
Viola hanya menurut, dan berdiri diam, menunggu Arka memakaikan Liontin itu, namun tidak hanya Liontin, Arka juga membantu Viola memakai anting-anting, memakai jepit rambut, juga memilih gelang yang Viola pakai.
Rasanya aneh untuk di layani oleh Tuan Mudanya seperti ini, sedikit membuat dirinya berdebar.
Setelah selesai memakaikan Aksesori pada Viola, Arka menatap Viola dengan pandangan puas.
"Hmm, Istriku memang yang paling cantik,"
__ADS_1
Viola sedikit malu ketika mendengar Arka mengatakannya.
"Tuan Muda ini jangan aneh-aneh, mari segera ke mobil, atau kita akan telat, Tuan Muda Louise sepertinya sudah menunggu,"
Melihat Viola sepertinya menghindari tatapnya itu, Arka hanya bisa pasrah, lalu mengikuti Viola ke tempat Parkir.
Dan benar saja ketika menaiki Mobil Sport itu, sudah ada Louise di kursi pengemudi, namun yang membuat Arka heran adalah seorang gadis yang ada di samping Louise.
"Kyla? Kamu ikut?" Tanya Arka kaget.
"Itu... Kak Louise memaksa,"
Louise yang ada didepan lalu berkata dengan santai,
"Anggap saja dia pasanganku hari ini, aku hanya sangat lelah kalau harus menghadapi beberapa gadis muda yang merayuku di Pesta nanti, itu akan merepotkan, dan akan sangat panjang urusanya jika aku mengajak gadis random untuk Pesta ini,"
Arka merasa menyesal telah bertanya pada adiknya.
"Dasar Cassanova,"
"Diamlah, Kak. Kayak tidak saja, biasanya bukankah Kakak di kerumuni gadis-gadis?"
Viola lalu ikut berkomentar,
"Memang biasanya para gadis-gadis muda selalu melirik Tuan Muda Arka, namun mereka tidak berani mendekat karena ekpersi galaknya itu , dan yang berani mendekati Tuan Muda Arka biasanya gadis-gadis dengan kepribadian aneh...."
Arka langsung menatap Viola, Viola yang sadar lalu meralat ucapannya,
"Ah, Maksudku, Arka. Ini sedikit terbawa kebiasaan lama, hehe," kata Viola canggung.
Kyla terlihat tidak mempermasalahkannya dan mengiyakan, sedangkan Louise tertawa ringan, sampai Arka mencubit pipi Louise, sampai akhirnya Louise menjalankan mobilnya.
Perjalan berjalan dengan keheningan dalam pikiran masing-masing, perjalan ini cukup panjang karena Hotel Y berada di Pinggiran Kota.
Ketika mobil mereka sampai, sudah banyak mobil yang berada di parkiran.
"Ah, ya Louise nanti kamu pulang duluan saja, aku dan Viola akan menginap di hotel ini, terlalu lelah untuk pulang,"
"Hah, dasar Pengantin Baru," respon Louise dengan santai.
Lalu mereka segera berpisah, membiarkan Louise masuk dulu, dan setelahnya baru Arka dan Viola masuk.
Saat ini ketika Arka dan Viola masuk, sudah banyak tamu disana, ada juga beberapa wajah familiar.
"Tuan Muda bagaimana kalau mulai menyapa orang-orang itu?" Kata Viola sambil menunjuk ke salah satu kumpulan beberapa Pria Parubaya.
Walaupun terlihat kumpulan orang-orang tua, namun mereka adalah orang-orang yang cukup berpengaruh.
Ada juga Pak Direktur disana yang Arka cukup kenal.
Ini adalah kesempatan bagus,
"Selamat Malam, Pak Direktur, dan Bapak-bapak semua,"
Mendengar sapaan Arka, mereka menatap Arka dan Wanita di sampingnya.
Pak Direktur yang mengerti itu, lalu langsung memperkenalkan Arka,
"Ini adalah Tuan Muda Arka William, dan wanita di sampingnya ini...."
Arka langsung menjawab,
__ADS_1
"Ini Istriku, Viola Anggaraini,"
Salah satu Pria Parubaya disana lalu membalas dengan antusias.
"Ah, jadi ini Cucu Tertua Tuan Abraham, dulu dia masih begitu kecil sekarang sudah sebesar ini. Tuan Muda Arka apakah mengigat aku?"
Arka menatap pria parubaya itu dengan ekpersi binggung, namun Viola disampingnya menjawab,
"Tentu saja, Arka ingat, dia Bapak Geovanni,"
Arka yang pura-pura mengerti, hanya mengaguk,
"Ah, benar Bapak Geovanni,"
Mendengar Arka masih ingat dirinya, Pak Geovanni itu terlihat senang, lalu mulai bercakap-cakap dengan tenang.
Sebenarnya, ketika mereka menatap Istri Arka, dan melihat wajah Viola yang ada lukanya itu, mereka cukup kaget dan teteguh.
Namun orang-orang itu tidak berkomentar, lagipula mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di Dunia orang kaya sejak lama, mungkin mendapatkan wanita Cantik itu mudah, namun yang benar-benar Tulus itu susah, mereka yang sudah mengalami manis pahitnya hidup, tidak begitu merespon negatif keberadaan Viola.
Mereka mengagap, mungkin Tuan Muda Arka ini menemukan yang benar-benar tulus dan sangat dia cintai?
Ternyata semua rumor buruk Tuan Muda itu mungkin salah, Tuan Muda ini terlihat sangat baik dan ramah, lihat bagaimana dia memperlakukan Istrinya dengan serius dan tulus, bahkan tidak merasa malu dengan itu.
Dengan sedikit kagum, percakapan itu berjalan dengan mudah, mereka bercakap-cakap cukup lama membicarakan banyak hal. Arka mencoba mengikuti, ini benar-benar tepat seperti yang Viola tulis di catatan barusan!!
Apakah Viola memiliki Indra keenam?
Dia benar-benar sangat akurat!
Sungguh sangat bisa di andalkan.
Sampai waktu cepat berlalu, mereka lalu berpisah dan Arka mulai mencoba menyapa yang lainnya.
Melihat sekeliling, Arka sekarang binggung mau dimana, jadi dia memilih untuk duduk dulu di pojok mencari minuman dulu, karena terlalu lelah berbicara dari tadi.
"Itu cukup melegakan, aku akhirnya bisa bernafas,"
"Tuan Muda tadi sungguh hebat, bisa membuat mereka senang,"
Mendapatkan pujian itu, jelas Arka merasa senang.
Disisi lainnya, tanpa Arka sadari ada mata yang menatap mereka.
Itu adalah Galvin, dia sedang berbicara pada salah satu Pelayan,
"Kamu lihat orang yang duduk itu? Pastikan dia meminum obat yang aku berikan padamu,"
"Baik, Tuan Muda. Sebelumnya Asisten anda sudah memberikan rinciannya," kata pelayanan itu, lalu pergi memenuhi tugasnya.
Disamping Galvin ada seorang wanita cantik, Galvin lalu berkata pada wanita itu,
"Itu adalah targetmu, coba dekati dia entah bagaimana, nanti aku yang akan mengurus wanita di samping Arka itu,"
"Baik, Tuan Muda,"
"Bagus, kamu paham tugasmu bukan?"
"Ya, ya saya sudah paham,"
####
__ADS_1
Bersambung