
Melihat Viola menutup kamar mandi dengan buru-buru, ini membuat Arka merasa kecewa.
Yah, dirinya mengira Viola juga akan mau menikmati perawatan mandi spesial yang akan dirinya lakukan untuk Viola.
Lumayan kan, bisa menyentuh-nyetuh kulit lembut dan halus Viola itu?
Sayang sekali kesempatan bagus hilang.
Karena sepertinya Viola akan lama di kamar mandi, berhubung Arka haus, dia kembali ke dapur.
Arka hampir lupa, masih ada sisa Jus yang dirinya buat di dalam kulkas.
Segera, Arka membuka kulkas itu dan mengambil segelas jus berwarna merah itu.
Cukup penasaran dengan Jus buatannya sendiri, Arka lalu mencicipinya.
Namun tidak lama dia langsung muntah di wastafel.
"Bagaimana bisa ini begitu asin? Apakah aku salah memasukan garam? Dan bukan gula? Tapi tadi, Viola bilang itu enak, dia bahkan menghabiskan Jus itu...."
Arka ingat ekpersi Viola yang tersenyum padanya, terlihat penuh ketulusan, dan bahkan memuji Jus buatannya.
Padahal rasa Jus ini sangat mengerikan, namun Viola berhasil meminumnya sampai habis.
Arka tidak mengerti, kenapa Viola tidak jujur padanya?
Kenapa musti menahan perasaannya seperti itu?
Kenapa Viola musti berbohong segala, bahkan dihadapannya?
Memikirkan ini, perasaan Arka yang awalnya senang itu tiba-tiba menjadi tidak nyaman.
Seharusnya jika itu tidak enak, Viola harus bilang kalau itu tidak enak.
Apakah dia takut kalau dirinya akan marah?
Apakah hubungan mereka sedangkal itu?
Memikirkan ini membuat perasaan Arka semakin rumit.
Jadi dia segera membung sisa jus itu ke wastafel, lalu mengabil air putih untuk diminum.
Lalu dengan wajah lesu, Arka kembali ke kamar, dan duduk dengan lesu ditempat tidur cukup lama.
Sampai-sampai tidak menyadari kalau Viola sudah keluar dari kamar mandi.
Viola saat ini hanya memakai baju handuk, karena Tuan Mudanya lupa membawakannya baju ganti.
Viola hendak mengambil baju ganti dan kembali ke kamar mandi, namun tiba-tiba melihat wajah lesu Tuan Mudanya itu di samping tempat tidur.
Bukankah sebelumnya Tuan Mudanya terlihat cukup ceria dan bersemangat?
Kenapa tiba-tiba dia terlihat begitu lesu seperti ini?
Melihat wajah Tuan Mudanya yang seperti itu selalu membuat Viola tidak tahan.
Itu juga alasan ketika dirinya menerima ide konyol Tuan Mudanya untuk Pernikahan Kontrak ini.
Memikirkan tindakannya yang cukup Impulsif itu, membuat Viola sendiri binggung dengan dirinya sendiri.
Kemudian Viola kembali melihat ekpersi Tuan Mudanya itu yang terlihat sedih, tentu saja Viola menjadi penasaran dan bertanya,
"Ada apa Tuan Muda? Kenapa Tuan Muda sedih?"
Arka yang dari tadi melamun lalu menatap kaget kearah Viola.
Melihat Viola hanya mengenakan baju handuk yang cukup tipis itu membuat wajahnya memerah, Arka segera memalingkan wajahnya.
"Apa... Apa-apa... Kenapa kamu belum memakai bajumu?"
"Aku hanya baru ingin mengambil baju ganti."
"Begitu, sama-sama segera pakai bajumu,"
'Aku tidak bisa menahan diri jika kamu berpenampilan seperti itu....' guma Arka dalam hati.
__ADS_1
"Tentu saja. Hanya saja, saya melihat Tuan Muda terlihat sedih? Sebenarnya ada apa?"
Mendengar pertanyaan Viola, akhirnya Arka kembali ingat tentang kesedihannya itu.
"Bukan apa-apa,"
Melihat nada sedih itu, Viola kembali bertanya,
"Ada apa Tuan Muda? Tidak apa-apa, Tuan Muda bisa mengatakan apapun padaku jika ada sesuatu yang menggagu Tuan Muda,"
Arka berpikir bahwa bahkan Viola ini tidak mau jujur padanya, kenapa sekarang Viola malah ingin tahu urusan dirinya dan mulai bertanya dan meminta dirinya untuk jujur?
Viola selalu tidak masuk akal!!
"Sudah aku bilang tidak ada apa-apa! Hphm,"
"Saya tahu pasti ada yang mengaggu Tuan Muda,"
"Itu bukan urusanmu. Kamu sendiri bahkan tidak jujur padaku, hpmh,"
Viola menatap kaget Arka lalu kembali bertanya,
"Tidak jujur apa?"
"Soal Jus itu... Kenapa tidak jujur kalau itu tidak enak?"
"Ah itu... Saya hanya..."
"Apakah takut aku marah?"
"Tidak seperti itu, Tuan Muda..."
"Lalu kenapa?"
"Saya hanya tidak ingin Tuan Muda kecewa,"
"Jadi itu hanya untuk menjaga perasaanku? Kamu tidak perlu seperti itu, itu malah membuatku tergangu."
"Sebenarnya tidak seperti itu, hanya saja..."
"Lalu kenapa?"
"Apakah kamu tergangu jika aku sedih?"
"Tentu saja, saya tidak suka melihat Tuan Muda sedih,"
"Kenapa?"
"Karena Tuan Muda adalah sesuatu yang sangat berharga untukku, jadi tidak suka melihat Tuan Muda sedih, ingin selalu melihat Tuan Muda tersenyum senang dan ceria,"
Mendengar itu, telinga Arka tiba-tiba memerah.
Viola mengagap dirinya sesuatu yang berharga?
Apakah itu artinya dirinya memiliki kesempatan di hati Viola?
Tapi...
Sesuatu yang berharga maksud Viola itu seperti apa?
Seorang Kekasih?
Seorang Kakak?
Seorang Teman?
"Sesuatu yang berharga seperti apa?" Tanya Arka lagi.
Viola terdiam sebentar, lalu menjawab dengan jujur,
"Saya juga kurang mengerti, hanya selalu memgagap Tuan Muda adalah sesuatu yang sangat berharga untukku, sangat, sangat berharga,"
Sebuah senyuman muncul,
"Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja, jangan meragukan perasaan saya, itulah kenapa saya juga selalu mematuhi Keinginan dan Perintah Tuan Muda,"
"Kamu akan selalu mematuhi perintah dan keinginanku?"
"Itu benar, Tuan Muda,"
"Apapun itu?"
"Tentu saja,"
"Bagaimana dengan sebuah pelukan?"
Tidak lama, Arka menerima pelukan hangat.
"Apakah Tuan Muda sudah percaya?"
Arka lalu balik memeluk Viola dengan manja.
"Aku sesuatu yang berharga untuk mu?"
"Ya,"
"Ciuman di kening,"
Viola lalu melepaskan pelukannya itu, dan memberikan ciuman di kening Tuan Mudanya.
Arka memiliki sebuah ide tiba-tiba, lalu berkata,
"Bagaimana kalau disini?" Sambil menunjuk ke arah bibirnya.
Dan tidak lama sampai Arka menerima ciuman lembut yang hanya dua detik itu.
Namun entah kenapa melihat Viola begitu patuh, membuat Arka merasa terganggu.
Apakah ini hanya kepatuhan antara pelayan dan majikannya?
Sesuatu yang berharga...
Apakah itu Tuan Mudanya Viola yang berharga?
Tiba-tiba perasaan Arka menjadi rumit.
"Apakah Tuan Muda sudah senang?"
"Belum.... Bagaimana kalau kamu membuka bajumu handukmu disini?"
Dihadapankan oleh permintaan aneh tiba-tiba, ekpersi Viola sedikit memerah, lalu segera menetralkan kembali ekpersinya dalam beberapa detik.
Tangan Viola lalu mengarah pada sebuah tali yang mengikat baju handuk itu.
Hanya dengan menariknya sedikit saja, itu akan terlepas dengan mudah dan....
Arka menatap Viola dengan tidak percaya, wajahnya memerah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi...
Sesuatu dibalik handuk itu....
Akhhhh....
Wajah Arka yang memanas tidak tahan lagi, lalu memalingkan wajahnya,
"Cukup-cukup, aku hanya bercanda,"
Sebuah senyuman muncul di wajah Viola tanpa Arka tahu.
"Aku tahu, Tuan Muda akan mengatakan itu,"
"Viola.... Kamu...."
Melihat ekspresi wajah Tuan Mudanya sudah tidak lagi sedih, Viola segera mengambil baju ganti dan menuju ke kamar mandi lagi.
Meninggalkan Arka yang jantungnya hampir copot itu.
'Akhhh.... Viola.... Bagaimana kalau aku tadi tidak mengehetikanmu! Apakah kamu benar-benar.... Apakah karena aku sesuatu yang sangat berharga untukmu sehingga kamu begitu percaya padaku? Sungguh beban ini terlalu berat, berpa banyak pikiran kotor yang aku pikirkan tentang mu?'
Memikirkannya membuat Arka merasa frustasi sendiri.
__ADS_1
#####
Bersambung