
Baru penjelasan dari Tuan Muda nya itu, Viola mengaguk cukup setuju.
Alasan yang dimiliki Tuan Mudahnya cukup masuk akal.
Memang, jika terus berada di rumah ini, dan bertemu dengan musuh-musuh Tuan Mudanya setiap hari, sangat tidak baik untuk kesehatan mental dan jiwa.
Apalagi, mereka bisa bertemu dimana saja seperti tempat parkir, halaman, ruang utama, taman dan lainnya yang masih ada di Sekitar Rumah ini, belum juga bertemu di Kantor.
Sangat menyebalkan jika harus bertemu dengan orang itu itu saja padahal orang itu itu saja adalah orang-orang yang paling dibenci.
"Saya tidak mengerti apa yang Tuan Muda Arka maksud,"
"Iya kan? Kamu juga mengerti, aku ingin kita berdua segera pindah di rumah atau apartemen yang bagus,"
"Tapi Tuan Muda, apakah Nenek dan Kakek Tuan Muda akan mengijinkan?"
Arka terdiam lalu berpikir sebentar,
"Tentu saja aku memiliki cara untuk membujuk mereka. Lihat, sekarang bukakankah aku sudah menikah? Jadi aku memiliki alasan untuk pergi dari rumah ini atas dasar aku sudah menikah dan ingin memiliki rumah sendiri,"
Viola terdiam dan memikirkan kata-kata dari Tuan Mudanya ini cukup masuk akal.
"Ya, saya rasa itu ide yang cukup bagus ini juga bisa menjadi kesempatan agar kita setidaknya bisa hadap memiliki kedamaian di luar sana,"
"Memang, hidup disini benar-benar tidak damai,"
"Untuk tempat yang akan kita tinggali nanti.... Saya akan mencoba memeriksa Rumah-rumah atau Apartemen Milik Keluarga William, Tuan Muda ingin yang mana? Apartemen atau Rumah?"
"Bagaimana denganmu, Viola? Kamu ingin tinggal dimana?"
"Ini terserah Tuan Muda, kemanapun Tuan Muda ingin, saya akan selalu mengikutinya,"
"Aku senang ketika kamu mengatakan itu. Namun yang akan tinggal tidak hanya aku, namun juga kamu ini adalah calon rumah masa depan kita,"
Viola sedikit binggung dengan kata-kata Tuan Mudanya.
"Sungguh, ini benar-benar terserah Tuan Muda,"
Arka melihat, sepertinya Viola tidak begitu mengerti apa yang dirinya maksud itu.
Padahal dirinya cukup memikirkan banyak hal rencana pindah rumah ini.
Rumah yang akan menjadi tempat dirinya nanti pulang, tempat dirinya kembali bersama Keluarga Kecil mereka yang akan mereka nanti.
Ini benar-benar masalah serius ini adalah sebuah rumah yang akan mereka tinggali untuk waktu yang lama di masa depan.
Namun sepertinya Viola tidak terlihat benar-benar peduli.
Memikirkan ini saja Arka sudah merasa sedih.
"Tuan Muda? Jadi bagaimana?" Tanya Viola lagi.
"Aku bertanya padamu dulu, kamu ingin tinggal di tempat seperti apa?"
Melihat Tuan Mudanya terlihat memaksa, Viola akhirnya mencoba menjawab,
"Tempat yang cukup tenang,"
Arka lalu berpikir sebentar, memikirkan tempat yang cocok.
"Apakah semacam Villa diagak pinggiran kota?"
"Itu terlalu jauh dari Kantor, saya lebih suka itu dekat dengan Kantor,"
"Tapi di dekat Kantor semua ramai, emm tapi tunggu, dulu, bagaimana jika tinggal di Apartemen? Kita bisa tinggal di Apartemen lantai paling atas dimana hanya ada 1 Apartemen di satu lantai, disana pasti cukup tenang," kata Arka dengan semangat itu.
"Saya rasa itu tidak masalah,"
"Bagus, aku akan bilang pada Nenek nanti kalau kita akan pindah ke Apartemen,"
"Ya,"
"Sebentar, aku akan mencoba menghubungi agen properti untuk mencari tempat yang cocok, nanti kamu bantu aku untuk memilihnya,"
"Tuan Muda tidak perlu terburu-buru kita toh masih belum mendapatkan ijin dari Nenek Tuan Muda,"
"Soal ijin ini urusan yang mudah aku pasti akan mendapatkannya,"
"Hah, baiklah terserah Tuan Muda,"
Jadi pagi itu, Arka dengan penuh semangat melihat-lihat Apartemen di Internet yang dekat dengan Kantor.
Memang dirinya juga tidak tahu Apartemen mana yang kosong, namun yang penting lihat-lihat saja dulu.
Ada berbagai model Apartemen, salah satunya adalah Kompleks Apartemen milik Keluarga William.
"Wow, ruangan di Apartemen ini cukup besar juga," kata Raka dengan semangat sambil menatap salah satu foto Apartemen disana.
"Lihat ini, Viola," kata Arka lagi sambil menunjukkan Foto salah satu Apartemen pada Viola.
Viola menatapnya sekilaslalu mulai berkomentar,
__ADS_1
"Iya ini bagus,"
"Kamu mah dari tadi bilang semuanya bagus-bagus semua,"
"Tapi ini memang bagus,"
Melihat ekspresi biasa Viola itu, Arka segera melihat-lihat Apartemen yang lainnya.
Mari temukan yang benar-benar bagus, sampai Viola bilang itu sangat bagus.
Viola yang berada disampingnya itu hanya bisa menatap Tuan Mudanya dengan heran.
Sepertinya Tuan Mudanya benar-benar ingin segera pindah dari ini.
Viola segera melihat kearah jam tangannya.
"Tuan Muda, Ini sudah waktunya sarapan Mari kita pergi ke meja makan dan bertemu dengan kakek dan nenek tuan muda agar segera bisa membacakan hal ini dengan mereka,"
Arka lalu menatap ke arah Viola, rasa jika ide Viola ini cukup bagus.
Semakin cepat semakin baik untuk memberitahu Kakek dan Neneknya soal keinginannya ini.
Dengan tidak sabar, Arka segera ingin berlari ke arah meja makan di Rumah Utama.
Viola tentu mengikuti Tuan Mudanya itu.
Ketika sampai di meja makan ternyata sudah ada Kakek dan Nenek Arka disana.
Nenek Arka menatap cucunya dengan ekspresi cukup heran lalu bertanya,
"Tumben, kamu makan di meja makan pasti ada sesuatu yang kamu inginkan,"
Nenek Arka sudah sangat hafal dengan tingkah cucunya yang satu ini, apalagi ekpersinya yang terlihat jelas itu, ingin meminta sesuatu.
Sama ketika cucunya itu tiba-tiba ingin menikah dengan Viola.
Ekpersinya terlihat begitu lucu.
Arka hanya sedikit tertawa lihat neneknya itu benar-benar bisa menebak apa yang dirinya ingin katakan.
"Nenek bisa saja,"
Nenek Arka tersemyum lalu berkata,
"Baik, mari duduk dan dengar apa yang kamu inginkan sekarang,"
Arka segera duduk di samping Neneknya itu.
"Aku ingin pindah dari Rumah ini,"
Mendengar permintaan yang tiba-tiba itu Nenek Arka jelas kaget, termasuk Kakek Arka yang menikmati sarapannya dengan tenang, langsung berkomentar,
"Apa-apaan pakai acara pindah segala,"
Arka yang terlihat tidak mendapatkan tanggapan yang baik dari Kakeknya itu, segera berkata,
"Ini penting, Kakek. Sekarang Arka sudah menikah, dan ingin hidup mandiri berbuah saja dengan Istri Arka,"
Arka terlihat serius ketika mengatakan hal ini.
Nenek Arka juga mulai berkomentar,
"Astaga, namun ini terlalu tiba-tiba, Apakah kamu tidak tahu jika Nenek dan Kakekmu ini sudah tua? Jika kamu pergi kami akan tinggal dengan siapa?"
"Nenek dan Kakek memiliki banyak Cucu kenapa tidak menyuruh mereka dari tinggal disini? Aku rasa adikku Louise dia akan mau tinggal disini,"
"Tapi tetap saja itu bukan kamu, Arka, rumah ini akan sedikit sepi jika tidak ada kamu," Kata Nenek Arka.
"Hah, benar Rumah ini selalu ramai karena ada aku yang selalu membuat masalah di mana-mana tentu saja menjadi ramai dan meriah sekali,"
"Arka, jangan begitu,"
"Nenek, aku mohon.... Aku benar-benar ingin pindah dan mencoba hidup mandiri dengan Istriku, kamikan baru saja menikah, jadi Kami ingin berdua saja tinggal di rumah kami sendiri ini terlihat sangat romantis,"
"Astaga, anak ini," kata Nenek Arka yang terlihat tidak berdaya dengan permintaan cucunya itu lalu dia mulai menatap ke arah Suaminya.
Kakek Arka itu, terlihat sedang berpikir memikirkan apakah baik mengizinkan cucunya ini untuk pindah atau tetap membiarkannya tinggal di rumah ini.
Namun Sebenarnya cukup bagus jika cucunya ini pindah.
Bukan karena dirinya membenci cucunya, dirinya juga hanya ingin agar cucunya ini bisa hidup mandiri di luar sana.
Apalagi sekarang cucunya ini sudah menikah, harus memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan dengan memiliki rumah sendiri dirinya juga akan mengharapkan jika cucunya ini bisa lebih bertambah dewasa.
Sepertinya lebih banyak keuntungan daripada kerugian.
"Baik, aku akan menyetujuinya. Arka sebaiknya kamu coba ambil kesempatan ini dengan baik, dan belajarlah hidup mandiri mulai sekarang, belajar bertanggung jawab pada Istrimu,"
Mendengar pernyataan dari Kakeknya itu, Arka terlihat senang.
"Terimakasih banyak, Kakek. Tentu saja Arka akan menjaga Istri Arka dengan baik,"
__ADS_1
"Bagus, soal kamu ingin pindah kemana, bilang pada Kakek mah mana yang ingin kamu tinggalin nanti akan Kakek urus pembeliannya, dan anggap itu sebagai hadiah untuk Pernikahanmu,"
Wajah Arka menjadi lebih berseri-seri telah mendengar apa yang dikatakan Kakeknya itu.
Sayang sekali, tiba-tiba ada orang yang datang ke ruang Keluarga itu, itu adalah Ibu Tirinya Arka dan Ayah Arka.
Ayah Arka yang mendengar Putranya ini ingin pindah, tentu saja menjadi terkejut, juga marah, karena anak itu tidak pernah bilang apa-apa adanya.
And soal keputusan pernikahan dulu, Putranya ini benar-benar pernah meminta izin dari dirinya.
Memikirkannya sekarang, ini benar-benar mengesalkan, melihat Putranya ini sekolah tidak menganggap dirinya sebagai Ayahnya.
"Arka, kenapa kamu pakai mau pindah segala?"
Arka menatap Ayahnya itu, lalu segera berkata,
"Apakah aku mau berubah atau tetap di sini itu jelas bukan urusan Ayah. aku muak bernada di rumah ini karena harus setiap hari bertemu denganmu Ayah, apakah ayah tidak mengerti?"
"Arka kamu ini semakin kesini kenapa menjadi semakin berani pada Ayahmu Hah? Aku yakin ini pasti hasutan dari Istrimu itu!!"
Arka lalu bangun dari tempat duduknya, merasa lelah hanya untuk berbedat dengan Ayahnya di pagi hari.
Dan percuma juga berdebat dengan nya.
"Kakek, Nenek, Arka permisi dulu ya, kami akan segera kembali ke kamar, anti soal sarapan ya para pelayan yang mengantar ke kamarku,"
Melihat Putranya mengabaikannya, tentu saja Anderass menjadi marah.
"Arka!!"
Kakek Arka jika tidak tahan dengan kekacauan di pagi hari ini segera melerai mereka.
"Anderass, biarkan saja itu Arka. Sudah duduk dan Sarapan saja, tidak usah penambah keributan di pagi hari ini,"
"Tapi Ayah, kenapa Ayah lalu membela anak itu? Ayah terlalu memanjakannya hingga dia menjadi anak pembangkang seperti itu!!"
"Cukup, jangan mulai berdebat dipagi hari," kata Abraham William dengan ekspresi marah.
Melihat kemarahan Ayahnya itu, Anderass lalu diam dan duduk di meja makan.
Hah, Arka itu mau pindah segala?
Ini jelas hasutan Pelayan Jelek itu!!
Sekarang, setelah menikah dengan Putranya, dia menjadi berani dan banyak tingkah, pasti dia yang ingin Arka membelikan dia sebuah Rumah Mewah.
Dan dirinya masih tidak mengerti, kenapa Putranya itu benar-benar memiliki suara yang buruk bisa-bisanya dia menikahi wanita jelek seperti itu.
Hah...
Laura sisi lain yang mendengar Kakek Arka itu, ingin membelikan Arka sebuah Rumah, tentu saja merasa sangat marah.
Arka itu!!
Kakeknya benar-benar memanjakannya, bagaimana jika nanti Perusahaan benar-benar diberikan pada Arka?
Lalu bagaimana dengan nasip Putranya Louise?
Sial, Arka semakin lama tidak bisa dibiarkan, apalagi Arka yang sempat memenangkan Proyek sebelumnya di Perusahaan.
Harusnya dia tidak usah bangun segelas dari Rumah Sakit.
Sial....
Namun Laura hanya bisa mengatakan itu dalam hati, karena tak bisa berbuat apa-apa juga saat ini.
####
Kali ini, Arka begitu sampai di kamarnya, langsung berbaring di tempat tidur karena begitu lelah masih pagi namun harus bertemu dengan banyak orang menyebalkan.
Hah...
"Viola, mari kita segera pindah besok,"
"Tuan Muda bicara apa? Kita bahkan belum menemukan Apartemen yang cocok,"
"Pokoknya, seharian ini, kita harus segera menemukan apartemen yang cocok aku tidak mau tahu,"
"Tapi Tuan Muda...."
"Ayolah, mencari Apartemen tidak sesusah itu, di dekat Kantor hanya ada sedikit Apartemen, pasti kita akan menemukannya dengan cepat,"
"Baiklah jika itu memang permintaan, Tuan Muda. Saya akan segera menghubungi agen properti untuk mengurusnya,"
"Ya, semakin cepat semakin baik,"
"Namun kondisi tuan muda saat ini tidak begitu sehat Apakah tidak apa-apa jika kita pergi keluar dan melihat-lihat Apartemen?"
"Ayolah, Viola, ini tidak seperti aku tidak bisa bergerak atau sesuatu, sungguh Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu terlalu cemas terhadapku,"
"Baiklah kalau Tuan Muda bilang begitu,"
__ADS_1