
Di waktu yang sama ketika Viola pergi berbelanja, Arka masih heboh sendiri sejak menemukan tespek misterius itu.
Apalagi, keyakinannya jika itu milik Viola menjadi meningkat mengecek kotak obat di kamarnya, sudah tidak ada alat Tes itu lagi.
Sungguh, Violanya tengah hamil?
Arka juga sudah membaca berbagai hal di internet soal seseorang yang hamil.
"Nanti bagaimana ketika Viola ngidam? Kira-kira apa yang dia minta ya?" Kata Arka dengan antusias sambil masih melihat beberapa video lucu di Internet soal ngidam aneh-aneh.
Lalu, apakah nanti bayi mereka laki-laki atau perempuan?
Ahh....
Kalau itu Perempuan, tidakkah itu akan menjadi mirip Viola?
Itu pasti akan menjadi bayi yang lucu dan menggemaskan, dirinya tau Viola tanpa lukanya itu sangat cantik, namun tidak apa-apa sekarang, Viola tetap cantik dimatanya.
Bagaimanapun juga, dirinya tidak mau memaksa Viola untuk Operasi Plastik.
Sekarang Arka mulai melihat gambar-gambar bayi di Internet.
"Astaga, ini sangat mengemaskan," kata Arka yang begitu gemas, dia juga sudah membayangkan bayi lucu yang mirip Viola.
Dirinya ingin segera memeluk Viola, ingin mengelus perutnya yang ada calon anak mereka.
Ini benar-benar hal yang bagus!!
Arka juga mulai memikirkan untuk membeli beberapa susu untuk Ibu Hamil, dan mencari beberapa referensi di Internet.
"Hmm, aku tidak begitu tahu hal-hal ini, di Internet juga terlalu banyak pilihan,"
Terlalu banyak berpikir membuat Arka pusing, dirinya segera sekali lagi menelepon Louise adiknya itu.
'Ada apa lagi, Kak Arka?'
"Louise kamu tahu susu Ibu Hamil yang bagus apa?"
'Astaga, Kak, kenapa Kakak tanya hal seperti itu padaku?'
"Ya, kan barangkali kamu tahu, kan pengetahuanmu sangat luas," kata Arka dengan penuh keyakinan.
'Aku bahkan masih bujangan dan belum menikah, mana tahu hal-hal seperti itu,'
"Itu cukup masuk akal juga, ah sepertinya aku salah bertanya padamu,"
'Kenapa Kakak tidak cari di Internet saja?'
"Di Internet terlalu banyak rekomendasi, aku binggung terllau banyak merek, tidak tahu mana yang bagus,"
'Nanti biar Kak Viola saja yang pilih,'
"Tapi aku ingin memberikan dia beberapa kejutan,"
'Hah, sudah Kakak itu di Rumah saja, Istirahat yang banyak, biar cepat sembuh nanti bagaimana jika jahitan di kepala Kakak sobek gara-gara Kakak banyak bergerak?'
"Louise, kamu jangan menakut-nakutiku. Jadi bagaimana jika kamu saja yang membelikanku Susu Ibu Hamil? Aku yakin seleramu cukup bagus,"
'Ukhh.... Kak Arka jangan meminta aku hal yang aneh-aneh,'
"Ya sudah lah, besok saja aku pikirkan, nanti Viola malah marah kalau di belikan aneh-aneh, seperti tempo hari,"
'Kak Arka kan memang berlebihan, aku masih ingat ada gosip sebelumnya dimana Kak Arka membelikan Kak Viola buket 99 Mawar Putih, dan berbagai hadiah, hal itu sempat menjadi perbincangan di Rumah Keluarga William untuk beberapa lama,'
"Tapi ini romantis bukan?"
'Ini terlalu klise, wanita jaman sekarang lebih suka di beri mentah langsung, misalnya langsung beri saja Kartu Kredit tanpa Limit,'
"Itu mah wanitamu saja yang Matre semua. Viola tidak begitu,"
__ADS_1
'Ya sudah, beli saja yang wajar-wajar saja. Tapi ngomong-ngomong, Kak Arka yakin Kak Viola hamil?'
"Yakin, aku menemukan Tespek di kamar sebelumnya,"
'Bukan Kak Viola yang bilang sendiri?'
"Mungkin dia ingin memberikan kejutan setelah aku Keluar dari Rumah Sakit?"
Louise di ujung telepon tiba-tiba memiliki firasat buruk.
'Apakah itu benar milik Kak Viola?'
"Ini ada di kamar, milik siapa lagi kalau bukan dia? Sudahlah, aku mau mematikan telepon,"
'Hey, tunggu dulu....'
Namun yang Louise lihat adalah layar panggilan telepon sudah berakhir.
Louise lalu berpikir, sepertinya Kak Viola bukan tipe yang akan merahasiakan sesuatu atau membuat kejutan?
Apakah Kak Viola ini benar-benar hamil?
Atau hanya Kak Arka saja yang salah kira?
Kakaknya Arka ini memang dari dulu suka membuat heboh untuk hal-hal yang tidak perlu.
Semoga kabar ini tidak segera sampai ke Nenek atau Kakek, kalau sampai iya dan ini hanya salah paham ini akan menjadi merepotkan.
Namun yang namanya Arka, dia bukan orang yang bisa menjaga rahasia terlalu lama.
Tidak berapa lama, Neneknya berkunjung ke Kamar Arka.
"Akhirnya kamu pulang juga di Rumah," kata Nenek Arka itu.
"Hehe, tentu saja Nenek. Arka juga sudah begitu lelah ada di Rumah Sakit,"
Apalagi juga melihat kalau cucunya itu terlihat bahagia sekali, ekpersi wajahnya terlihat sekali ekspresi bahagia, dengan penasaran dia bertanya,
"Kenapa Cucu Nenek ini terlihat bahagia sekali, hmm?"
"Ahh... Apakah terlihat sekali?" Kata Arka sedikit malu.
Apakah ini saatnya mengatakan kabar baik ini pada Neneknya?
Ah, tentu saja bukan?
Neneknya pasti juga akan senang dengan kabar baik sekali ini.
Ini kabar baik jadi pasti
"Sebenarnya.... Sebenarnya....."
Namun sebelum Arka bisa menjawab pertanyaan Neneknya.
Ada seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar Arka.
"Nyonya Besar, maaf mengaggu namun di depan ada Tamu, salah satu Teman anda berkunjung,"
"Ah? Benarkah? Ya ampun, Arka Nenek permisi pergi dulu ya, lain kali saja kita ngobrol-ngobrolnya, teman Nenek ini, dia benar-benar suka sekali datang tiba-tiba seperti ini,"
Dan begitulah, Nenek Arka akhirnya pergi.
####
Di tempat lainnya, sore itu Viola akhirnya selesai dengan urusanya di Rumah Lamanya, dan segara kembali ke Rumah Keluarga William.
Kebetulan, Louise juga tiba di sana tepat waktu setelah pulang dari kantor lebih awal..
Tentu saja, dirinya langsung menyapa Viola dengan ramah,
__ADS_1
"Selamat Sore Kak Viola,"
"Selamat Sore Tuan Muda Louise, ah maksudku Louise," kata Viola sedikit salah sebut.
Louise sedikit tertawa mendengar itu,
"Pfffff.... Kak Viola masih kebiasaan,"
"Begitulah, aku sedikit belum terbiasa memasuki Keluarga William,"
"Nanti Kakak juga pasti akan terbiasa. Owh iya, ngomong-ngomong, aku ucapan selamat ya Kak,"
Viola tentu menjadi binggung mendegar ucapan Louise itu.
"Selamat Apa?"
Ekspresi Louise juga menjadi kaget,
"Selamat atas Kehamilan Kakak,"
Sekarang Viola benar-benar merubah ekpersinya,
"Dari mana kamu dengar kabar ini?"
"Dari Kak Arka. Memang dari siapa lagi?"
Viola langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Ini... Arka itu kenapa dia mulai menyebarkan berita tidak benar seperti ini?"
"Lah? Kak Viola tidak hamil? Kata Kak Arka, dia menemukan Tespek di kamar kalian, yang berisi positif hamil,"
"Tespek apa? Aku jelas sudah membuang itu Minggu lalu,"
"Lalu yang di lihat Kak Arka itu? Itu Tespek siapa?"
Ekpersi Viola menjadi gelap.
"Aku juga tidak tahu, itu bukan milikku,"
"Ah.... Ini sepertinya gawat,"
Viola juga menjadi panik.
Memang.
Bagaimana jika omong kosong ini sampai pada Nenek atau Kakek Tuan Mudanya itu?
Ini akan menjadi masalah besar!!
Dengan buru-buru, Viola langsung menuju ke kamar Arka bersama dengan Louise yang mengikutinya.
Sampai di kamar, Viola langsung mendapatkan sambutan senyuman yang begitu hangat, dan Arka yang langsung memeluk Viola itu.
"Viola, kenapa kamu tidak bilang jika kami sedang hamil? Apakah kamu ingin memberikan kejutan padaku? Sungguh, aku benar-benar terkejut dan sangat senang soal ini,"
Mendengar kata-kata kegembiraan itu, sekarang Viola menjadi binggung.
Ini...
Tuan Mudanya terlihat terlalu bahagia...
Bagaimana dirinya harus memberi tahunya sekarang?
Apakah terlambat untuk bilang tidak?
Astaga, harusnya dirinya segera mengatakan hal-hal ini jika dirinya tidak hamil saat setelah Tuan Mudanya sadar, jadi tidak akan ada masalah seperti ini....
Sekarang harus bagaimana?
__ADS_1