
Arka dan Louise saat ini sedang melakukan percakapan serius.
Terutama Arka setelah mendengar kabar dari Louise itu, mulai memikirkan beberapa hal.
Arka mulai berkata dengan serius pada adiknya itu,
"Biasanya, untuk mengetahui kelemahan Musuh, seseorang akan menyelidiki masa lalu mereka. Aku memikirkannya, kemungkinan tidak hanya aku yang di incar dan diselidiki oleh mereka, namun Viola juga,"
Setelah mendengar kata-kata kakaknya itu, Louise juga merasa hal-hal ini cukup masuk akal.
Memang dirinya juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Keluarga Cavel, dan jelas mereka pasti mungkin akan menyelidiki soal musuh mereka.
Ini sepertinya mengingatkan dirinya pada sesuatu.
Bukankah dirinya juga menyelidiki Keluarga Cavel sebelumnya?
Owh, benar, karena terlalu banyak hal yang harus dirinya urus dirinya sampai lupa dengan hal-hal ini.
Dirinya juga menyelidiki soal Keluarga Cavel, namun belum membaca lebih lengkap tentang apa yang anak buahnya temukan karena dirinya terlalu sibuk mengurusi banyak hal lain.
Mungkin lain kali dirinya akan membaca hal-hal itu setelah ini.
"Entahlah, Kak. aku juga tidak tahu yang jelas Sampai sekarang aku belum menemukan jejak apapun soal masalalu Viola. Memangnya Kakak tidak punya petunjuk lain soal ini?"
Arka lalu teringat sesuatu dan mengambil ponselnya.
Disana segera Arka menunjukan berapa foto yang ada di ponselnya.
Ini adalah foto dari Kalung Liontin milik Viola, dan ada juga foto dari isi liontin itu.
Louise menatap gambar itu dengan ekspresi binggung,
"Ini apa Kak?"
"Ini adalah foto dari barang-barang satu-satunya milik Viola yang menghubungkan dia dengan keluarganya. Mungkin dengan liontin ini kita akan menemukan sesuatu soal keluarganya terutama foto orang dalam liontin ini,"
Louise lalu terdiam sebentar, dan menatap foto itu.
"Baiklah, nanti kirim saja fotonya ke ponselku. lagi pula Kenapa Kakak melupakan hal sepenting ini dan tidak memberitahuku dari kemarin? Jika ada petunjuk ini mungkin aku bisa menemukan petunjuk lebih cepat,"
"Bagaimana caranya?"
"Sekarang zaman sudah begitu canggih, dengan foto lama ini, mungkin aku bisa menganalisis foto ini, seperti bagaimana bocah laki-laki ini ketika Dewasa, juga dengan foto yang sepertinya Ibu Viola ini, aku juga bisa menyelidikinya di catatan kependudukan,"
Arka menatap adiknya dengan ekspresi tidak percaya.
"Kamu benar-benar bisa melakukan itu?"
"Tentu saja aku bisa. Aku memiliki beberapa kenalan yang bisa mengurus hal-hal seperti ini,"
"Sungguh, kalau melakukan hal-hal ilegal sepertinya kamu cukup hebat, beruntung kamu bukan musuhku,"
Louise lalu tertawa,
"Itu benar, aku juga sangat senang jika aku harus menjadi musuh Kak Arka,"
"Ayolah, musuhku sudah banyak. Kamu tidak lihat itu Galvin dan Robert?"
__ADS_1
Louise lalu ingat sesuatu, soal penyelidikan yang dirinya lakukan tentang insiden yang menimpa Kakaknya saat acara bulan madunya itu.
Itu ternyata adalah ulah dari dua orang itu. Namun ada baiknya jika tidak perlu memberi tahu hal ini, jadinya takut kakaknya malah akan bertambah emosi dan melakukan perbuatan nekat sebaiknya katakan separuhnya saja.
"Ah benar juga, apa sebaiknya kita memberi pelajaran pada mereka berdua?"
"Ah benar juga, aku ingat sekarang, si Galvin sialan itu yang memberikan projek mencurigakan ini padaku, hingga aku harus berurusan dengan Keluarga Cavel,"
Louise yang tidak tahu soal hal ini jelas memiliki ekspresi terkejut,
"Itu ulah Kak Galvin?"
"Memang, orang kurang ajar itu harus diberi pelajaran,"
Louise lalu terdiam, dan berpikir sebentar, apa yang kakaknya katakan itu benar.
"Baik, lain waktu kita akan memberi mereka pelajaran namun saat ini masih banyak hal yang harus kita urus daripada mengurusi dua orang menyebalkan itu,"
"Itu benar, masih ada banyak hal lain yang mesti diurus. Namun Apakah ini tidak apa-apa untukmu membantuku mengurus semua ini?"
Louise lalu tersenyum dan berkata,
"Tentu saja Ini tidak masalah. Aku malah sangat senang bisa membantu Kakak. Jadi sekarang Kakak kembali saja ke Kamar Kakak,"
"Apakah tidak apa kamu aku tinggal?"
"Tentu saja tidak masalah. Memangnya kakak pikir aku ini anak kecil? Sana, lanjutkan hal-hal panas yang Kak Arka dan Kan Viola lakukan itu,"
"Berhenti bicara omong kosong Aku sama sekali tidak melakukan hal-hal itu dengan Viola, tidaknya untuk malam ini,"
"Hah, Kak Arka ini bagaimana? Kak Arka harus mengejarnya dengan begitu agresif sana-sana rayu Kak Viola ke kamarnya,"
"Kak Akra tidak percaya padaku? Ini sangat mudah untuk melakukannya,"
Arka lalu memikirkan kata-kata adiknya itu dan merasa itu cukup masuk akal.
Sebelumnya dirinya bertindak pasif dengan memberikan beberapa kode kepada Viola, bahkan jilbab membuatnya cemburu Namun semua hal itu benar-benar tidak mempan.
Dan dirinya rasa dengan cara frontal seperti apa yang adiknya katakan ini ini akan menjadi lebih mudah.
Dan begitulah akhirnya Arka keluar dari kamar Louise, kembali ke kamarnya sendiri.
Namun jelas di kamarnya tidak ada Viola.
Arka segera kembali keluar dari kamarnya, dan menuju ke kamar disebelah kamarnya, yang juga merupakan kamar untuk Viola.
Arka pertama mencoba memegang gagang pintu dan ternyata itu tidak dikunci dan bisa dibuka dengan mudah.
Hal pertama yang Arka lihat didalam adalah, Viola yang tidak mengenakan apapun karena sepertinya dia baru saja selesai mandi, dan sedang berniat ganti baju di sana.
Tatapan mereka Kemudian bertemu.
Viola yang pertama merespon, segera memakai handuknya di tempat tidur kemudian, dengan refleks melemparkan bantal ke wajah Arka.
Arka juga terteguh setelah melihat pemandangan indah yang tidak akan dirinya kira.
Cukup menikmati pemandangan indah itu, walaupun itu hanya sesaat.
__ADS_1
Wow, Viola memang memiliki tubuh yang bagus.
Namun sayangnya, Arka kera sadar dari lamunannya itu berkat lemparan bantal dari Viola.
Jelas, Viola awalnya pergi mandi dan berendam untuk menenangkan pikirannya.
Dirinya cukup lengah untuk lupa mengunci pintu kamarnya, dirinya tidak mengira jika akan ada serangan tiba-tiba dari Tuan Mudanya.
Dirinya kira Tuan mudanya itu masih akan asik dengan adiknya sampai pagi.
Viola sekarang tiba-tiba merasa sangat malu sekali.
Ya, kenapa dirinya berubah menjukan seperti ini hanya setelah kata-kata Tuan Mudanya sebelumnya?
Sekarang soal apapun yang Tuan Mudanya lakukan, itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan, dan dirinya entah bagaimana merasa sangat malu menatap Tuan Mudanya.
Akhhh....
"Tuan Muda... Apa yang anda lakukan?"
Arka tentu saja segera menyingkirkan bantal dari wajahnya, masuk kedalam kamar itu dan menutup pintu kamar itu.
Dia berkata dengan setengah bercanda,
"Aku kesini tentu saja berniat untuk tidur denganmu,"
Arka jelas berjalan mendekat ke arah Viola yang malah semakin mundur itu.
"Tuan Muda, Bukankah Anda seharusnya memberi saya waktu?"
"Tentu saja aku memberimu waktu. Namun aku tiba-tiba merasa tidak terbiasa untuk tidur sendirian, kamar rasanya terasa sangat sepi tanpa kamu di sana, aku benar-benar merasa kesepian tiba-tiba,"
"Bukankah ada Tuan Muda Louise? Saya kira anda akan tidur malam ini dengannya atau begadang basmain game dengan Tuan Muda Louise,"
"Omong kosong apa? Adikku itu terlalu lelah, dan kami udah terlalu dewasa untuk tidur bersama seperti itu,"
Arka semakin memperpendek jarak antara dirinya dan Viola, hingga kurang dari setengah meter.
Viola yang didekati dan ditatap seperti itu oleh Tuan Mudanya, merasa jantungnya hampir copot, dirinya segera menggunakan tangannya untuk menjaga jarak antara mereka.
Namun, tangan Viola malah ditangkap oleh Arka, dengan sentuhan itu saja sudah membuat Viola semakin berdebar-debar.
"Tuan Muda... Ini... Ini terlalu tiba-tiba.... Jangan mendekat... Saya belum bisa beradaptasi,"
Melihat ekpersi memerah pada Viola itu, Arka benar-benar merasa sangat senang.
Astaga, Violanya benar-benar sangat imut.
Arka lalu mencium tangan yang ada di genggamannya itu.
Membuat Viola sekali lagi merasakan begitu berdebar sekaligus perasaan senang.
"Tuan Muda jangan menyentuhku seperti itu. Ini membuat aku tiba-tiba tidak nyaman, jantungku rasanya tidak kuat,"
Lalu Arka segera tertawa melihat respon manis dan polos itu,
"Itu artinya, kamu juga menyukaiku, juga menyukai sentuhanku, Viola kamu jangan menyangkalnya, coba rasakan ini, dimana jantungku juga berdebar-debar sama seperti kamu," kata Arka sambil meletakan tangan Viola ke jantungnya.
__ADS_1
Arka juga merasakan tangan Viola yang sedikit berkeringat.
"Juga, aku tahu, kamu juga sama sepertiku, ada aku di hatimu, coba rasakanlah, dan jangan mengingkarinya jika kamu sebenarnya juga mencintaiku.... Hanya saja kamu tidak menyadarinya,"